Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
59. Berpelukan


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Deni


"Aku tidak mengatakan apa apa. Emang kenapa?" tegas Rangga. Wajah Rangga dan Deni sama sama khawatir.


Deni memperlihatkan grub chat pada Rangga. Kening Rangga berkerut membaca isi chat dari Laura.


"Ini maksudnya apa?, apa yang dia tanyakan dan apa yang kalian sembunyikan?. Dia pasti masih di ruanganya" walau terlihat khawatir tapi Rangga tidak panik, karena ini belum jam pulang kantor.


"Setelah pertemuan kalian yang jadi viral itu. Laura sering bertanya siapa kamu?. Tapi tidak ada dari kita yang menjawab, Aku tidak menjawab berharap kalau kamu berkenalan sendiri dengan dia" Jelas Deni. Walau ada niat buat ngerjain Rangga.


Rangga memanggil sekretaris dan memintanya untuk menghubungi Bu Ane. Dan tanyakan apakah Laura masih di kontor atau sudah pualang, kalau sudah pulang suruh Bu Ane ke ruanganku sekarang.


Rangga membuka laptop dan memperlihatkan percakapan dirinya denga Laura tadi. Deni perhatikan dengan seksama.


"Dia pasti sedang sedih sekarang. Kamu benar benar sangat bodoh ya" ucap Deni.


Rangga tercekat mendengar ucapan Deni. Ia mulai mencerna ulang semua pertemuan dan reaksi Laura saat bertemu dengannya. Mata Rangga menatap Deni dengan tajam. Deni seakan tau arti tatapan Rangga dan mengnggukkan kepalanya.


"Dia itu kekasih kamu. Karena itulah aku menghindari dia" ucap Rangga yang mulai frustrasi.


"Aku memang sangat menyukainya bahkan dari lima tahun lalu. Tapi dia hanya menganggap aku kakak lelakinya, tidak lebih dari itu" jelas Deni.


Tidak lama pintu di ketuk dan Bu Ane masuk. Saat melihat Bu Ane, Deni dan Rangga tahu bahwa Laura sudah tidak ada di kantornya lagi sekarang.


Bu Ane menceritakan niatnya mempertemukan Laura dan Rangga makanya dia menyuruh Laura untuk mengantar berkas tadi. Karena menurutnya aneh jika Laura tidak tau kalau Rangga adalah bos mereka. Kalau memang tindakanya salah Bu Ane meminta maaf.


Rangga mengatakan kalau memang benar Laura tidak tau kalau dirinya adalah pemilik perusahaan ini. Rangga tidak menyalahkan Bu Ane. Setelah Bu aneh memceritakan semua yang Laura katanya padanya sebelum ijin pulang. Rangga menyuruh Bu Ane kembali ke ruaganya.


Deni yang sudah mengerti semua permasalahan langsung pergi untuk mecari Laura. Namun sebelum pergi Deni meminta Rangga untuk mengirim rekaman Laura yang tadi.


"Kirim ke ponselku. Ke nomor yang dulu ya, kalau kamu gak sibuk bantuin kita cariin" ucap Deni sambil berlalu.


Rangga tersenyum sendiri di ruanganya. Ia langsung menghubungi paman Edi dan meminta paman untuk segera balik ke kantor kalau urusanya sudah selesai. Rangga juga menjelaskan pada paman tentang Laura, dan dirinya akan keluar untuk mencari.


Laura sedang duduk di bangku sebuah taman. Pandangan matanya menatap lurus ke kolam ikan di hadapanya.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi begini? Kenapa aku jadi sedih begini? Dia bukan siapa siapa dalam hidupku, kenal juga baru. Tapi kenapa rasanya sedih banget. Hak dia bila tidak suka berada di dekatku, itu sesuatu yang tidak dapat di paksa. Tapi kenapa aku tidak bisa menerimanya" gumam Laura sendiri


Laura terus saja berpikir tentang perasaan yang dia rasakan saat ini. Dia masih bingung dengan apa yang di rasakan saat ini.


Sudah hampir satu jam Deni,Rangga dan keluarga mencari Laura tapi belum ketemu juga. Bahkan setiap teman sudah di tanyain kali aja ada yang melihat, tapi tetap tidak ada yang tahu.


Rangga di dalam mobilnya terus melaju dengan kecepatan sedang, matanya tetep melihat kiri kanan mencari, berharap dirinya yang akan menemukan Laura. Tiba tiba saja Rangga teringat degan taman yang pernah di kunjungi Laura dan Deni. Rangga pun melaju menuju ke taman.


Karena sore suasana taman sudah ramai, banyak keluarga bermain bersama, atau hanya sekadar jalan jalan sore. Deni turun dari mobil, sambil berjalan matanya terus mengitari area taman.


"Di mana kamu?" tanya Rangga pada diri sendiri. Sampai akhirnya matanya melihat sosok yang sangat di inginkanya sedang duduk termenung sambil menatap ke kolam ikan yang ada air mancurnya.


Rangga mendekat. "Kamu suka ikan hias?" Tanya suara berat seorang pria


"Hem... " jawab Laura sambil mengadah ke arah suara. "Tu-tuan" ucap Laura terbata


"Boleh aku duduk?" Tanya Rangga sambil menujuk tempat duduk kosong di samping Laura. Laura mengangguk dan tersenyum, mulutnya tersenyum tapi bebaran jatungnya sudah takkaruan lagi.


Kenapa bisa ia ada di sini, dari mana Ia tau kalau aku disini. Kalau Ia duduk disini pasti suara debaran jantungku akan ke dengeran. bagaimana ini?. Batin Laura.


Aku harus mulai dari mana? apa yang harus aku tanyakan dulu?. Mengapa aku jadi bingung beginin hanya untuk memulai obrolan. Batin Rangga.


"Tiba tiba saya tidak enak badan tuan" jawab Laura bohong. Yang sedang tidak enak itu perasaanya bukan badanya.


"Jangan panggil tuan. Ini bukan di kantor"


"Terus saya harus panggil apa?"


"Terserah kamu, senyaman kamu aja. Atau panggil mas aja gimana?"


"Hah... Mas" ucap Laura kaget. Dengan raut wajah bingung menatap Rangga


"Heheheh.... terserah kamu aja ya. Asal jangan tuan. Dan aku lebih tua dari kamu" ucap Rangga sambil tertawa.


Dia sangat tampan saat tertawa. Batin Laura sambil tersenyum

__ADS_1


"Saya panggil kak aja ya. Kakak"


"Untuk saat ini boleh, tapi untuk selajutnya harus di ganti ya"


"hah.. " ucap Lara yang gak ngerti maksud dari Rangga.


"Boleh aku ngobrol santai" tanya Rangga serius sambil menatap mata Laura. "Kamu punya hubungan apa dengan Deni?"


"Ini bukan ngobrol santai. Apa kita perlu membahas ini. Kita tidak terlalu dekat"


"Kamu harus menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan. Dengan begitu nanti kita bisa dekat, bahkan sangat dekat" jawab Rangga


Rangga dapat melihat wajah bingung Laura dan itu sangat menggemaskan, ingin rasanya Rangga menarik wajah itu ke dalam pelukanya.


"Oke baik. Tanyakan aja semuanya" jawab Laura dengan yakin, walau wajahnya bingung


"Deni siapa kamu? berapa lama kamu kenl Deni?


"Kak Deni sudah seperti kakaku sendiri, kami kenal sekitar lima tahun lalu di kota L"


"Kenapa saat bertemu dengaku kamu terlihat sangat senang"


"Benerkah aku terlihat senang" tanya balik Laura dengan muka merah karena malu. "Aku sendiri gak tahu kenapa, hanya senang aja dan sangat suka bila kita bersama" jawab Laura jujur.


Rangga tersenyum puas dengan jawaban Laura. "Apa kamu mencintiku"


Luaura tercekat mendengar pertanyaan Rangga. Ia bingung harus menjawab apa. Karena Ia memang tidak ngerti apa itu cinta.


"Cinta?. Aku ngak ngerti. Karena aku belum pernah pacaran" jawab Laura


Rangga tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Laura.


"Benarkah kamu belum pernah pacaran" tanya Rangga sambil tertawa


"Apa tidak pacaran itu aneh, sampai harus di tertawai seperti itu" ucap Laura cemberut

__ADS_1


GREPPP


Rangga menarik Laura dalam pelukannya dan mengelus punggungnya dengan lembut "ini hal yang selalu aku bayangkan, memeluk dirimu. Sudah sangat lama aku menahan diri. Maafkan aku karena terlambat berkenalan denganmu" ucap Rangga lembut di telinga Laura sambil terus mengelus punggungnya.


__ADS_2