Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
46. Kamu Menyukainya


__ADS_3

Rangga baru saja kebali ke kantornya setelah bertemu dengan rekan kerjanya. Begitu Rangga masuk ke dalam kantornya tanpa sengaja matanya menatap ke lift karyawan.


Degg


Benarkah itu dia? Kenapa dia ada disini? Kenapa dengan jantungku? Dia mencari siapa? . Batin Rangga. Rangga sendiri tidak bisa lagi berkerja sama dengan kakinya. Kakinya tidak bisa di gerakkan lagi. Antara hati dan otaknya sudah tidak sejalan.


Mata Rangga menyisiri kemana Laura melangkah. Sampai akhirnya Laura tersenyum sangat indah kepada seorang pria yang mungkin dia kenal. Dadanya bergemuruh emosi, rahangnya menyeras menahan amarah yang dia sendiri tidak tau kenapa perasaanya seperti ini.


Dengan mata memerah Rangga melihat gadis yang selama ini mengusik pikiranya sedang berpelukan mesra dan lama dengan seorang lelaki yang merupakan rivalnya dari saat mereka kuliah.


Saat Rangga sedang melihat mereka tanpa sengaja matanya bertatapan dengan lelaki itu.


" Sial, kamu mengejekku Deni. Kamu belum menang, selama saksi belum mengucapkan kata sah aku masih punya kesempatan " guman Rangga saat melihat senyum mengejek Deni ke arahnya. Yang seolah dengan sikapnya terhadap wanita itu mengatakan ' ini wanitaku '.


Ingin rasanya Rangga menghampiri Deni dan memukuli wajah tampanya. Namun Ia sadar kalau itu tidak mungkin, wanita yang menganggu pikiranya bahkan tidak mengenalnya. Mungkin dia malah takut kepada Rangga setelah kejadian di mall saat itu.


Rangga hanya melihat Deni merangkul mesra Laura sambil kelaur dari kantornya. Paman Edi yang baru masuk heran melihat rangga masih di depan pintu masuk, padahal Rangga sudah masuk duluan tadi.


" Kenapa masih di sini? " Tanya Paman yang melihat Rangga diam saja, dengan rahang mengeras dan mata memerah melihat ke arah luar. " Rangga kamu kenapa? " tanya Paman sambil menyentuh bahu Rangga


" A-Ak-Aku gak apa apa, ayo paman " Ajak Rangga. Bukanya naik ke kantornya Rangga malah mampir ke meja resepsionis


" Wanita yang berpelukan disini. Mengapa dia ada disini? " Tanya Rangga tegas hingga membuat karjawanya gemetaran.


" I.. Itu yang tadi berpelukan denan pak Deni. Wanita itu melamar kerja disini, tadi datang untuk wawancara tuan " jelasnya sambil terbata bata.


Tanpa mengatakan apapun lagi Rangga langsung pergi ke ruangnya yang ada di lantai enam.


Di tempat lain


Suasana di dalam mobil hening tanpa ada pembicaraan. Laura merasa heran dengan sikap Deni, di tambah lagi raut muka Deni yang sekarang belum pernah di lihat oleh Laura.


Kak Deni kenapa ya? Suasana begini gak nyaman banget. Tadi aja meluk meluk sekarang diam, aku bingung harus ngapain. Aku yang mulai bicara atau diam aja ya. Batin Laura


" Kak kita kemana? " Laura memberanikan diri untuk bertanya


Arrrghhhhg kenapa aku jadi emosi begini, Laura pasti takut melihat sikapku begini. Ayo Deni tenang huffm... Huffm. Bati Deni sambil menarik nafas dalam dalam dari hidung dan melepaskanya


" Ehem...( untuk menetralkan suaranya agar tidak terlihat emosi) Kamu mau kita kemana?, makan atau mau jalan jalan " ucap Deni yang kini lebih tenang. Deni berharap agar Laura memilih untuk pergi makan.


" Gimana kalau kita jalan jalan aja?, "


" Oke baik. Kakak akan ajak kamu ke tempat tenang " Perkiraan Deni salah, namun Deni tetap menyanggupi ajakan Laura.


Setelah menyetir kira kira tiga puluh menit, mereka memasuki kawasan perumahan yang sangat mewah. Mobil terus melaju menuju ke arah taman yang terdapat di dalam kawasan perumahan tersebut.


Deni dan Laura turun dari mobil. Laura melihat sekeliling, sangat sejuk, adem dan sunyi. Itu yang terlihat olehnya. Kaki Laura berjalan masuk ke area taman sambil menikmati angin dan suara air gemericik dari kolam ikan yang ada air terjun buatan serta air mancurnya.

__ADS_1


" Kak tempatnya nyaman banget. Padahal siang, tapi disini rasanya adem dan dingin dan tenang "


" Karena siang makanya sepi, orang pada tidur siang. Ada karena banyak pohon rindang di sini. Mau duduk disani atau di perpustakaan di sana " tunjuk Deni di sudut pajok taman yang ada bagunan perpustakaan


" Disini aja Kak. Laura suka mendengar suara air " ucap Laura sambil matanya melihat ke kolam yang ada di depanya.


Laura tidak bisakah kamu mencintai aku? kenapa? Aku sangat merindukan kamu. Oromamu, senyuman itu dan mata teduh itu sangat ingin aku miliki. Batin Deni sembil menatap Laura dengan penuh cinta.


" Ra kamu di sini dulu ya, Kakak mau beli cemilan untuk kita " izin Deni dan berjalan ke depan taman. Di seberang jalan di depan pintu masuk banyak kafe tempat nongkrong dan bayak warung serta tukang jajan mangkal


Laura menatap Deni berjalan menjauh darinya yang terlihat hanya punggung Deni yang lebar dan gagah


Kak maafkan aku karena belum bisa mencintai Kakak. Kak Deni terlalu sempurna untuk aku miliki, sehingga tuhan tidak menumbukan cinta dari hatiku untuk Kakak. Aku sangat beruntung karena Kakak selalu ada untukku. Terima kasih karena sudah mau peduli padaku, Aku menyukai Kak Deni dangan caraku, sebagai Kakak lelakiku. Batin Laura, yang tanpa di sadari ada butiran bening keluar dari matanya.


Laura mengusap air yang keluar dari matanya " maafkan aku hiks... "


" Hei kenapa kamu menangis? " tiba tiba Deni sudah berdiri di samping Laura.


" Ng...Ngak kak, Laura gak kenapa napa " jawab Laura gugup karena dilihat oleh Deni menangis


Kenapa kamu menangis, kenapa hati ini sangat sakit saat melihatmu menangis. Apa yang harus di maafkan? apakah karena kamu belum bisa mencintai aku? apa itu yang membuatmu menangis. Apa rasa cintaku ini jadi beban untuku. Kalau memang iya maafkan aku, rasa ini hadir dengan sendirinya. Batin Deni sambil memerhatikan wajah Laura.


" Ini cemilanya, semuanya yang kamu suka " ucap Deni sambil meletakkan seplastik makanan kesuaa Laura.


" Hiks... Hiks... Ka Deni " ucap Laura sambil terus menangis


" Hei, kamu kenapa. Semuanya baik baik aja kamu tidak perlu menangis " ucap Deni sambil menarik Laura ke dalam pelukanya dan mengelus punggungnya untuk menenangkan.


Apa yang membuat kamu sampai menangis seperti ini? baru sekarang Kakak melihat kamu seperti ini, kamu terasa sangat berbeda dengan Laura yang kakak kenal tiga tahun yang lalu. Rasanya sangat menyakitkan. Batin Deni yang merasa ada yang berbeda dari Laura.


Sekitar sepuluh menit Laura menangis dalam pelukan Deni, Deni hanya diam dan mengelus ngelus punggungnya sampai akhirnya Laura berhenti dengan sendirinya.


" Sudah merasa lebih enak? " ucap Deni sambil membuka tas Laura mengambis tisu dan menyerhakanya pada apa Laura


Laura hanya mengangguk menerima tisu dan mengeluarkan ingus yang sudah penuh di hidungnya setelah menagis.


" Boleh Kakak bertanya kanapa kamu menangis? " ucap Deni sembil membuka dan menyerahkan botol air mineral untuk Laura


Laura mengangguk sambil menerima botol air yang di berikan Deni. setelah itu meminunya hampir habis


Deni tersenyum melihat tingah Laura. Sudah sangat lama Deni tidak melihat tingkah laku Laura yang menurut sangat lucu dan imut.


" Kak Kalau orang lagi jatuh cinta rasanya gimana sih " tanya laura tiba tiba


Degg


pertanyaan Laura membuat Deni sangat ketakutan. Sepertinya perkiraannya benar. Deni sudah melihat video saat Rangga memeluk Laura, walau terlihat ketakutan dengan sikap Rangga tapi Deni dapat melihat kalau mata Laura menatap Rangga dengan tatapan yang berbeda saat melihat dirinya.

__ADS_1


" Kanapa?, Apa kamu lagi jatuh cinta?, siapa orangnya? " banyaknya pertanyaan yang Deni ucapankan malah bikin Laura Kesel


" Kak! yang bertanya itu Laura, kenapa Kak Deni yang balik nanya " Sewot Laura sambil memajukan bibirnya karena kesel


Melihat muka Laura malah membuat Deni tertawa " Kamu cantik banget kalau lagi ngambek " ucap Deni sambil menarik bibir Laura dengan kelima jari tangannya dan melepaskan dengan tiba tiba


" Aaauuu...Sakit kak! " teriak Laura sambil memengang bibirnya yang tersa panas. Sikap Laura malah membuat Deni tertawa terbahak bahak


" Gak lucu kak! ini malah sakit " ketus Laura karena kesel.


" Ayo cerita ke Kak apa yang kamu rasakan?, biar Kakak tau kamu itu lagi jatuh cinta apa gak"


" Gak ada lelaki yang Laura kenal selain Kak Deni, gimana mau jatuh cinta?, kenal aja gak. Ada sih Kak yang membuat Laura kepikiran dan ketakutan. tapi Laura gak kenal sama orang itu"


" Katakutan? " tanya Deni penasaran


" Iya Kak beberapa hari yang lalu Laura ngalamin hal yang tidak terduga. Karena ketakutan jatung Laura berdetak sangat cepat, seakan itu jantung akan melompat dari dalam dada Laura. Sekarang ni saat bercerita jatung Laura berdebar debar karena takut "


Ucap Laura polos sambil mengambil tangan Deni dan meletakkan di atas dadanya, agar Deni dapat merasakan debaran jantung Laura.


Apa ini? Laura tidak berbohong aku bahkan bisa meresakan debaran jatungnya. Dan itu bukan untukku. Hanya dengan mengingatnya saja jatung Laura sudah seperti ini. Apakah Laura begitu menyukainya. Batin Deni sambil menarik tanganya dari dada Laura.


" Kamu yakin karena takut? "


" Kalau bukan karena ketakutan, emang jantung kita berdebar karena apa? " tanya Laura bingung


Sambil nenarik Laura agar berhadapan denganya" Sekarang Kakak tanya sama kamu. Apa yang kamu rasakan dan bayangkan sampai jantung kamu berdebar? " Laura diam mencerna maksud dari pertanyaan Deni.


Hemfff Laura sambil menatik nafas dan memejamkan matanya "Tatapan matanya seperti penuh dengan kesedihan, raut wajahnya yang ingin di sayangi. Itu sangat menungguku Kak, dan bila mengigatku wajahku jantungku langsung berdebar " jawab Laura polos


Aku benar. Kamu kenyukainya, ya dia memang memiliki banyak kesedihan dalam hidupnya. Tapi hal ini tidak akan mudah untuknya. Batin Deni.


" Kamu tau dari mana kalau dia kesedihan "


" Entahlah kak, aku hanya merasakanya saja " jawab Laura santai.


" Itu yang membuat kamu menangis? " Laura menggeleng " Terus kenapa tadi kamu menangis sampai sebegitunya? "


Laura menatap Deni dengan serius, Deni bergedik sendiri melihat tatapan Laura untuknya


" Laura merasa bersalah sama Kak Deni, hiks Laura tau kalau Kak Deni menyukai Laura tapi Lura tidak menyukai Kak Deni sebagai seorang pria. Hiks... Laura sudah berusaha untuk mengcintai Kak Deni, tapi Laura gak bisa Kak. Kak Deni terlalu sempurna untuk Laura, maafin Laura ya kak " ucap Laura sambil terus menangis


Deg


Deni diam di terpaku mendengar kata kata Laura. Itu seperti belati yang mengiris ngiris hatinya, sangat sakit tapi tidak berdarah. Melihat Laura menangis dan memohon seperti ini terasa sangat menyakitkan.


Deni mendekat dan memeluk Laura dengan erat. Pelukan Deni saat ini lebih ke rasa sayang yang tak terhingga terhadap Laura.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari kedekatan mereka sudah di abadikan oleh orang lain yang diam diam mengikuti mereka.


Laura juga merasakan kalau pelukan Deni saat ini berbeda. Dia merasa sangat nyaman dan terlindungi.


__ADS_2