Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
31. Oleh Oleh


__ADS_3

Hari ini mereka akan ke kota B tapi sebelunya mereka mampir ke bank dulu, karena Laura mau buka rekening.


"Tas kamu sudah di mobil semua?" tanya Elia


"Udah, barusan sudah kumasukin semua. Kenapa kita gak naik kenderaan umum aja, kamu kan belum punya izin mengemudi" Laura


"Kamu tenang aja, walau aku tidak punya SIM tapi aku jago mengemudi. Kalau kamu gak ngomong orang juga gak ada yang tau, jadi diam aja ya" jawab Elia cuek


"Ya udahlah terserah, tapi tetep hati hati, nyawa kita gak ada cadangan dan tidak dapat diisi ulang" kata Laura yang meles jika harus berdebat dengan Elia


"Ayo buruan kalau telat nanti antrianya udah banyak" Elia


Di Bank


Setelah cukup lama menunggu akhirnya no antrian Laura tiba juga.


"Lo ngapain ikut, duduk aja disini" ucap Laura agar Elia gak usah ikutan, tapi buka Elia namanya kalau gak jadi ekor Laura.


"Disini dan disana sama aja, kan duduk juga, jadi aku mau dekat kamu terus" jawab Laura.


Semua data yang di butuhkan sudah selesai.


"Untuk saat ini berapa yang ingin disetor" tanya pegawai bank.


"Lima ratus ribu aja bisa?" tanya Laura


"Tentu saja, berapun bisa" jawab pegawai bank ramah sambil tersenyum.


"Ngak bu, sepuluh juta aja, ini uangnya" kata Elia dan dan mengeluarkan seikat uang dari dalam tasnya.


"Lo gila ya, buat apa aku uang sebanyak itu" ucap Laura setengah berbisik ama Elia


"Ya buat di simpan dan nati kamu belanjakan, gak mungkin buat langsung kamu makan kann?! kesel Elia karena ini gadis tidak pernah nurut, ada aja alasannya membantah


Pegawai bank yang melihat hanya tersenyum, tentu saja merasa aneh dengan sikap kedua gadis yang duduk dihapanya.


"Tidak, aku tidak mau uang sebanyak itu" tegas Laura.


"Harus, aku benci penolakan" ketus Elia yang semakin kesel karena baru ini ada teman yang menolak uangnya. Padahal dulu semua teman meninta uang padanya.


"Oke baik satu juta aja ya, dan tambah uangku lima ratus ribu" kata Laura mengalah


"No No... lima juta atau tetap sepuluh juta, hanya itu pilihanya" tegas Elia


"Ya udah lima juta aja" jawab Laura dengan lesu, Laura tau kalau dia menolak yang lima juta maka uang satu ikat itu akan masuk ke rekeningnya semua

__ADS_1


"Nah gitu dong, dari tadi kek jadi kita gak buang energi berdebat" jawab Elia yang senang akhirnya uangnya diambil oleh Laura. Dan ini adalah yang pertama kalinya Laura menerima uang langsung dari Elia.


Akhinya Uang lima juta itu masuk ke rekening Laura. Elia juga meminta pihak bank untuk membuat kartu ATM yang gold agar penarikan harian nanti bisa lebih banyak dari yang biasa.


Uang jajan Laura yang tidak jadi di simpan beserta uang Elia yang tidak di terima Laura akan mereka belanjakan nanti buat oleh oleh ayah dan ibu Laura berserta empat biang kerok.


Mobil melaju dengan mulus dijalan lintas propinsi menuju ke kota B, ya itulah tujuan mereka. Namun hari ini mereka tidak langsung ke desa, mereka akan berbelanja dulu untuk semua orang yang ada dirumah.


"Kita beli apa dulu ni?" tanya Elia semangat. Ya benar Elia akan sangat bersemangat menghabiskan uang keluarganya untuk orang yang disukai dan disayang


"Kita ke toko baju wanita dulu aja ya, tapi aku gak tau dimana tokonya ya" jawab Laura yang memang tidak pernah membeli sendiri baju yang dipakainya


"Kamu serius gak tau dimana? terus selama ini siapa yang beliin baju buat kamu" tanya Elia heran


"Iya beneran aku gak tau kerena yang beliin aku baju Ibu sama Mona, kalau mereka ajak aku gak pernah mau ikut" jawab Laura santai


"Ya... Ya.. pantes aja selama ini baju yang kamu pake selalu kebesaran tidak pas di badan" jawab Elia sambil mengangguk anguk. Tante sama Mona pasti milih baju yang agak besar, karena kalau ke kecillan akan repot harus ditukar, karena ini gadis buta mode dan bodoh ini akan memakai apapun yang di kasih


Setelah berkeliling akhirnya Elia mampir di sebuah butik yang terletak diantara toko besar dan mewah lainya. Mereka turun dan masuk ke dalam butik


"Selamat siang, selamat datang di butik kami, mencari apa? biar kami bantu" sapa pegawai butik rumah.


"Kami mau cari setelan untuk ibu ibu, gadis kelas satu sekolah menengah atas dan untuk dia juga. Tolong yang paling bagus ya" ucap Elia pada pegawai butik sambil menunjuk ke arah Laura yang sedang melihat lihat baju yang di pajang.


"Kenapa aku lagi, aku gak usah buat ibu sama Mona aja" ucap Laura


"Ra.. sini dulu, lo coba pasin dulu ya" perintah Elia sambil menerahkan satu tas plastik baju yang sudah di pilihnya


"Banyak banget ini, capek tau ngepasin baju sebanyak ini" ucap Laura dengan muka memalas


"Aku bilang cobain ya cobainya aja, lagian kan gak semuanya kita beli, kalau sudah rapi kamu keluar biar aku yang cek mana yang cocok untuk kamu" jelas Elia.


Di dalam kamar pas sambil ngedumel Laura tetap mencoba baju yang di berikan Elia.


"Ya ampun, ini baju kenapa mahal banget ya, padahal bajunya biasa aja" ucap Laura sambil mengganti bajunya dan melihat lebel harga


Setelah selesai langsung keluar dan bertanya sama Elia "gimana cocok gak? tapi ini baju biasa aja tapi kenapa mahal banget" tanya Laura heran


"Norak lo, ganti lagi yang lain" ucap Elia


Laura terus menganti baju yang di coba karena menurut Elia tidak ada yang bagus, Laura sampai kesel sendiri karena telalu capek. Baju yang terakhir dikasih sama Elia lagi tidak mau dicoba, terserah mau ada yang di ambil atau tidak. Laura udah gak peduli lagi.


"Yang tadi aku kasih kenapa gak lo coba" tanya Elia saat melihat Laura kelaur dengan bajunya sendiri.


"Gak mau capek, kamu aja yang coba sana. Kalau emang menurut kamu tidak ada yang cocok dengan baju yang aku coba tadi ya tidak usah diambil" jawab Laura kesel

__ADS_1


"Kamu itu aneh ya, gadis lain sangat senang mencoba banyak baju, walau mereka tidak membeli setidaknya sudah pernah mencoba" jelas Elia


"Itu kan gadis lain bukan aku" ketus Laura


"Emba tolong ini semua di bungkus, dan semua baju yang dicoba cewe ini tadi ya" minta Elia sama pegawai butik.


"Hei! itu banyak banget, kamu gila ya, tadi katanya norak. Mau kemana aku dengan baju baju itu" pekik Laura kesel.


"Yang norak itu bukan bajunya, tapi kamu, disuruh cobain baju malah bilang mahal" ketus Elia


Setelah di bungkus semuanya Elia membayar dengan kartunya, Laura sudah kesel dan capek langsung keluar duluan, sudah gak peduli sama Elia yang masih di dalam untuk membayar


Selesai belanja mereka ke mobil untuk penyimpan barang belanjaan. Mereka kembali keliling dengan berjalan kaki karena sepanjang jalan itu toko baju, tas juga sepatu.


"Itu seperti ada toko yang cukup besar dan khusus untuk pria, kita masuk kesana ya" ajak Elia


"Seperti jangan disana, disini aja" ajak Laura karena tau kalau harga baju disana sangat mahal, bahkan bisa satu juta lebih utuk satu baju


"Gak sepertinya lebih suka baju disana dari pada disini" jawab Elia yang memang sangat tau kualitas dan kuantitas jenis busana, baik untuk pria maupun wanita.


Dengan berat hati Laura menurut sama Elia, yang benar kalau untuk urusan busana dia tidak akan bisa membantah si calon perancang itu.


Elia melihat, memilih dan memasukkan semua yang dia suka kedalam plastik belanjaan. Semoga orang melihat ke arahnya kerena semua barang yang dipilih adalah produk terbaru dan harganya sangat mahal menurut mereka.


Sedangkan Laura sendiri hanya duduk di bangku disudut ruangan, karena terlalu lelah dan Laura males kalau harus menemani Elia memilih baju, lagi pula nanti baju yang Laura pilih pasti tidak disukai Elia. Saat Elia sudah ngantri di kasir baru Laura ikut nemanin.


"Gak kebanyakan itu" tanya Laura sambil menunjuk ke tas plastik yang dibawa Elia di kiri dan kanan tangannya


"Ya gak lah, ini malah dikit, para biang kerok hanya dapat tiga pasang masing masing" jawab Elia santai


"Hai... Laura kan?! apa kabar? aduh kamu tambah cantik aja ya" ucap seorang pria yang mendekati Laura dan Elia


"He... Iya benar kak, Alhamdulillah aku baik" jawab Laura yang dengan senyum yang dipaksakan


"Aku dengar dari adik kamu, kalau kamu kuliah di UNM ya? aku juga kuliah disitu, nanti kita akan sering bertemu ya" kata Rusdi dengan sangat yakin.


"Ini siapa? belanjaanya bayak banget, baju pria lagi, emang untuk siapa" tanya Rusdi kepo dan bikin Laura tambah risih aja sama ini cowi.


"Kak kenalin ini temankku Elia, Elia kenalin ini Kak Rusdi, Kakak kelasku saat Sekolah dasar" kata Elia memperkenalkan mereka berdua, dan merekapun saling bersalaman.


"Ini semua baju untuk Om Ahmad, Paisal, Dani dan Rahmad. Emang kenapa kamu tanya, apa kamu mau aku beliin juga" jawab Elia ketus karena menang tidak suka dengan tatapan Rusdi yang terus melihat Laura.


"Gak aku perlu, aku bisa beli sendiri, tapi kalau adik Laura pasti jarang beli baju di sini" jawab Rusdi sombong


"Oh... Benarkah! tapi yang aku lihat baju yang para biang kerok pake lebih bagus dari baju yang kamu kenakan sekarang" ucap Elia yang kesel karena para adiknya di ejak secara tak langsung.

__ADS_1


"Iya itu memang benar, tapi itu yang mereka pakai mereka tidak membelinya melainkan di kirim oleh nenek mereka dari kota J" jawab Rusdi meremehkan


"Intinya baju yang mereka pakai lebih bagus dan mahal dari lo" jawab Elia tidak mau kalah.


__ADS_2