Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
49. Siapa Kamu


__ADS_3

Sudah cukup lama Deni dan papanya ngobrol.Tiba tiba posel Deni berbunyi.


" Ya Hllo Kak "


" Iya ada Kak "


" Nemang ada apa? "


" Oh... Iya kak gak apa apa kami malah senang"


" Iya kak baik"


" Tenang aja "


" Iya oke, nanti Deni bilangin, karena nanti pasti minta di antar "


" Siapa tanya " tuan Alvin terlihat bingung


" Kak Amel pa, ngabarin kalau Laura suruh nginap di sini aja "


" Apa kamu gak salah dengar? Kata Laura tadi sore gak boleh nginap karena Neneknya gak ngebolehin "


" Tapi barusan Kak Amel bilang kalau Luara jangan pulang dulu "


" Ini pasti ada sesuatu " Deni hanya tersenyum melihat papanya yang sok tau.


Deni dan Tuan Alvin kembali bergabung bersama para perempuan di ruang keluarga


" Laura kamu yakin mau kerja di Grup Tapa Industri? "


" Gak Om, Laura gak ngelamar di situ. Laura melamar kerja di PT. Tapa Industri " Jawab Laura serius, karena nama perusahaan yang di sebut tuan Alvin beda dengan tempatnya melamar kerja.


" Itu sama aja dodol " ucapa Elia yang kesel melihat sikap sahabatnya yang sebra kurang tau semuanya.


" Iya Om, tapi ada yang aneh. Kenapa semua orang selalu mengajukan pertanyan yang sama?, di rumah nenek juga pada bertanya begitu, divsini juga " dengan muka bingung Laura terlihat sangat menggemaskan.


" Gak kenapa napa Ra. Papa cuma bertanya kali aja kamu mau kerja di perusahaan kita "


Lura hanya menjawab " oooh, Kak bentar lagi anterin Laura pulang ya " pinta Laura


" Kamu nginap aja, barusan Kakak sudah telpon Kak Amel minta ijin kamu nginap. Dan katanya boleh, seminggu juga boleh " ucap Deni ngasal dan membuat tuan Alvin bingung. Karena setaunya tadi Amelia yang menelpon Deni, bukan sebaliknya. Deni melihat kearah papanya dan mengedipkan satu matanya.


Laura terlihat bingung " Kalau gak percaya coba aja cek ponsel kamu, pasti Kak Amel sudah ngabarin " kata Deni sangat yakin.


Laura bergegas mengambil ponsel dan ternyata mati.

__ADS_1


" Itu kebiasaan yang dari dulu tidak berubah. Ponsel itu penting untuk sekarang, tapi kamu itu ya..." Elia sanget kesel dengan sifat Laura yang satu ini. Punya ponsel tapi saat kita hubungi dia sendiri tidak tau di mana ponselnya. Itu ponsel juga lebih sering mati dari pada nyala.


Laura hanya nyegir tanpa dosa dan rasa bersalah. " Apa iya Nenek ngebebolihin dirinya nginap. Kalau emang iya berati di rumah pasti ada sesuatu yang Laura tidak tau" gumam Laura sendiri yang bisa di dengar oleh semua orang.


Elia mengambil ponsel Laura dan menchargenya. " Ra padahal lo itu sudah sangat terkenal tapi, lo masih tidak tau apa apa ya " Elia sudah emosi tentang gosip yang selama ini beredar tentang sahabatnya, apalagi kalau membaca komentar para netizen benar benar menbuat darahnya mendidih.


Deni kaget mendengar omongan adiknya. " Lia kamu jangan macam macam ya!? "


" Biar aja kak, biar gadis ini tau apa yang terjadi di luar sana " ucap Elia sambil mengambil smartphonya dan duduk di samping Laura sambil membuka dan mengeser geserkan benda pipih di tanganya.


" Lia, sebaiknya jangan sayang " peringatan dari bu Andine di abaikan Elia.


" Kamu yakin ini saat yang tepat Lia? Kalian baru saja bertemu seharusnya bersenang senang dulu jangan membahas hal yang serius" Tanya Tuan Alvin menyakikan anaknya.


" Ini saat yang tepat. Gadis bodoh ini harus tau semuanya agar dia bisa mempersiapkan dirinya " jawab Elia yakin.


" Ada apa? Laura berbuat salah ya " Tanya Laura pada semuanya.


Tidak ada yang menjawab, semuanya terdiam untuk beberapa saat.


" Kamu tidak salah sayang, tapi orang yang tidak tau yang mengangap kamu salah " jawab Oma Siti sambil duduk di samping Laura dan merangkul kedalam pelukanya.


Mata Laura membulat saat melihat video dirinya berada dalam pelukan pria itu. Spontan Laura menarik ponsel dari tangan Elia dan mengambilnya. Laura bahkan mengulang menonton postingan dirinya berulang ulang dengan muka sendu dan tatapan mata yang sulit di artikan.


Tindakan Laura ini membuat yang lain kaget, tapi tidak untuk Deni dan tuan Alvin. Elia melihat ke arah sang kakak yang seolah bertanya ' Laure kenal Kak Rangga? ' Deni menggeleng ' Apa dia menyukainya? ' Deni memgangguk dengan sedih. Tuan Alvin menepuk bahu anaknya, Bu Andine bangun dan memeluk anaknya dan duduk di sampingnya.


" Kamu gila ya! video ini tidak penting " ucap Elia sambil merebut ponselnya dari tangan Laura, Laura ingin merebut kembali tapi tidak berhasil. Elia memperlihatkan judul postingan itu dan bebarapa komentar.


" Aakhh... Mereka salah itu. Kan Kak Hendra memang Kakak sepupuku. Tapi siapa yang memposting itu? " tanya Laura bingung. Siapa kira kira orang yang tidak percaya pada apa yang di katakan Kak Hendra.


Elia kembali menunjukan akun orang yang membuatnya Laura jadi terkenal


" Hah... kok bisa, diakan orang itu, tunanganya Kak Hendra " Laura tercekat dengan yang di lihat sekarang. Dengan serius tanganya menggeser benda itu dari atas sampai ke bawah.


" Ya Allah, ini gak benar, ini salah. Aku harus jelasin semuanya sama Kak Susi " Laura terlihat gelisah


" Sudah sadar lo. Itu bukan urusan lo, itu urusan Kakak lo sama wanita itu. Wanita itu terlalu cemburuan, kebenaran aja gak dia percayai apa lagi yang harus di jelaskan " emosi Elia. Entah kenapa Elia jadi emosi sendiri dengan sikap wanita itu.


Laura terdiam di tempatnya. Setelah membaca banyak komentar membuat Laura sedih dan bingung. Dia gak tau harus menyikapi seperti apa di saat seperti ini.


Elia kembali menyodorkan ponselnya ke wajah Laura. Laura tersenyum melihat ponsel dan menatap ke arah Deni yang sedang duduk bersama Bu Andine


" Ini juga tulisannya salah, kita bukan pasangan. Mereka di luar sana tidak tau apa apa " Ucap Laura sambil melihat ke arah Deni dengan wajah sedih seperti orang yang sedang meminta maaf.


Deni yang melihat wajah sedih Laura jadi tidak tega " Biarkan mereka menulis apa aja yang ada dalam pikiran mereka. Kamu gadis yang baik dan adikku yang paling kusayang, bahkan lebih dari Elia " ucap Deni sambil berdiri dan di ikuti oleh Laura. Mereka saling berpelukan dan Laura kembali menagis

__ADS_1


Elia yang bisa membaca situasi langsung meraih ponsel yang tadi di letakakan Lura di atas meja.


Beberapa saat berlalu Laura dan Deni masih berpelukan dan membuat haru semua yang melihat. Walau tanpa kata yang terucap dari keduanya tapi semua tau apa yang sedang terjadi.


Begitu melihat Laura melespaskan pelukanya Elia langsung menarik Laura untuk duduk di sampingnya serta memutar lagi video Laura dan pria itu.


Lagi lagi Laura mengambil ponsel dari tangan Elia dan kembali serius menatap setiap moment di dalamnya dan tanpa sadar jari jempolnya seolah menyentuh wajah pria aneh yang memeluknya. Laura seakan bisa mencium orama pria itu, bahkan hembusan nafasnya masih terasa hangat di wajahnya, tapi tatapan itu sungguh membuatnya penasaran.


Yang Laura lakukan di perhatikan oleh semua orang, Elia tersenyum melihat reaksi Laura saat menyentuh wajah Rangga di ponsel


" Kamu kenal pria ini? " tidak jawab Laura


" Kamu mengenalnya Lia " tanya Laura penuh harap


" Kamu tenang aja nanti juga kamu akan mengenalnya " benarkah? jawab Laura berseri seri sambil tersenyum


" Ya bila sudah saatnya kalian bertemu lagi " ucap Elia ambigu


Akhirnya tanpa di sadari oleh dirinya, Laura suka pada pria yang tidak dikenalnya. Dan semua orang tau akan hal itu. Keluarga Deni hanya tersenyum melihat tingkah Laura.


Karena sudah malam merekapun masuk ke kamar sendiri untuk istirahat. Deni semalam tidak bisa tidur, Ia gak habis pikir bagaimana Laura menyukai Rangga yang bahkan belum dikenalnya.


Sedangkan di kamar Elia Laura terus saja menepel pada Elia dan bertanya tentang pria anehnya. Padahal Laura punya kamar sendiri yang di sediakan keluarga Elia tapi dia memilih tidur bersama Elia.


Pagi hari


Hari ini bu Aisyah meminta bantuan Rangga untuk menemaninya berbelanja kebutuhan mingguan bebutuhan rumah. Setelan kejadian malam itu Rangga jadi lebih dekat sama ibunya dan lebih terbuka.


Walau hari ini hari kerja Rangga tetap mau menemani sang ibu berbelanja, hal sudah sangat lama tidak mereka lakukan bersama.


Setelah sarapan yang telat dari biasanya merekapun berangkat. Bu Aisyah mengajak Deni ke supermarket yang baru buka sekitar satu bulan lalu. Karena dari berita yang di dengar, di tempat baru itu banyak diskon.


" Bu tidak di diskonpun kita akan tetep membelinya karena memang kita butuh " Rangga heran dengan para wanita yang sangat tertarik dengan yang namanya Diskon


" Iya ibu tau, tapi ibu mau kesana karena penasaran dengan diskon yang mereka tawarkan "


Karena malas berdebat akhirnya Rangga mengikuti ke inginan sang ibu, walau letak supermarket itu lumayan jauh dari rumahnya


Karena ini hari kerja parkiran masih sepi, hanya ada beberapa mobil yang di arena parkir yang tersedia. Rangga lega setidaknya saat di kasir nanti mereka tidak perlu mengantri untuk waktu yang lama, seperti dulu yang sering mereka alami


Ibu memilih semua belanjaan yang di lihatnya agak murah dari yang biasa di beli. Rangga hanya tersenyum melihat ibunya yang mengambil barang yang tidak ada di dalam daftar belajaan yang di berikam ART mereka.


Keranjang yang dorong Rangga sudah penuh tapi ibu masih aja mengajak keliling lagi sampai akhirnya


" Rangga! Kamu Rangga Wahyudi kan? " Tanya seorang wanita yang sedang hamil

__ADS_1


DEGG!


Nina. Batin Rangga


__ADS_2