Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
36. Rumah Kejutan


__ADS_3

Saat pulang kuliah Laura tidak menunggu jemputan Elia. Laura dan dua temanya langung ke Resto Bintang tempat yang biasa dirinya dan Elia makan, nongkrong dan Laura juga punya kartu member.


" Kamu sudah hubungin Elia, takutnya dia nanti malah ke kampus " tanya Tuti peduli


" Sudah tadi sudah aku kabarin " jawab Laura


Saat sampai di Resto Laura melihat kalau mobil Elia sudah ada di parkiran. Yang artinya Elia sudah duluan sampai.


" Serius kita makan disini! Resto ini lagi viral karena tempatnya sangat bagus dan makanan juga mahal. Aku belum pernah kesini " kata Desi semangat.


" Aku juga belum, ayo kita masuk aja " ajak Tuti


Saat mereka masuk langusung di sapa pelayan. Karena Elia sudah duluan datang jadi mereka mengatakan kalau teman mereka sudah datang. Laura juga menunjukan kartunya. Dan merekapun di antar ke tempat Elia.


Begitu meraka duduk " Kalian kenapa tidak mau aku jemput " tanya Elia. Padahal dirinya berada di dekat kampus. lebih tepatnya di rumah yang di kontrak untuk Laura


" Gak apa, lagian kami selesai kelas beda dari jam yang di tetapkan. Kenalin ini temanku Tuti dan Desi. Kalian kenalin ini sahabat dan juga keluargaku Elia " kata Laura memperkenalkan mereka bergita.


Elia beranjak dari duduknya untuk berekanal dengan teman baru Laura sambil berjabat tangan dan menyebutkan namanya. Begitu juga sebaliknya.


" Ayo silahkan duduk. ini ada daftar menu kalian lihat dan tulislah apa yang kalian mau " kata Elia sembil menyedorkan daftar menu pada mereka berdua.


" Laura kamu mau pesan apa? " tanya Tuti


" Aku gak usah karena pasti sudah di pesan sama Elia " jawab Laura sambil melihat ke arah Elia. Dan dibalas angukkan oleh Elia.


" Gimana kalian sudah dapat rumah " tanya Elia


Dengan raut muka lesu mereka bertiga menjawab hampir berbarengan " Belum "


" Susah banget nyari rumah yang cocok. Ada rumah yang kami suka tapi dana kami tidak cukup. Yang cukup dengan dana kami tapi rumahnya tidak kami suka. Pusing ". Jelas Tuti


Tak lama mereka ngobrol pesananpun datang. Tuti dan Desi kaget melihat makanan di meja mereka sangat banyak. Tapi mereka hanya diam saja tidak berani bertanya.


Setelah makan merekapun pulang kerumah masing masing. Elia dan Laura juga pulang.

__ADS_1


"Ra kamu gak usah cari rumah lagi ya. "


" Kenapa? Aku gak mau tinggal dirumah kalau kamu gak ada "


Mereka ngobrol saat perjalanan pulang.


" Aku mau ngajak Kamu ke suatu tempat, tapi Kamu jangan marah ya. Sebenarnya Aku sudah izin sama Ibu dan Ayah. Makanya kamu harus terima"


" Emang kita mau ke mana? Kamu berbelit belit ngomongnya Aku gak ngerti " kata Laura


" Ya udah kita kesana. Biar kamu gak penasaran lagi "


" Bukankah ini arah balik ke kampus? Ngapain lagi kita kesini " pertanyaan Laura di abaikan Elia yang terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Laura yang duduk di samping hanya melihat kalau Elia masuk ke sebuah kompleks perumahan yang sangat asri dan nyaman. Hingga akhirnya mobil meraka berhenti di sebuah rumah yang tidak jauh dari pintu gerbang kompleks


" Ayo turun kita sudah sampai " ajak Elia


Laura yang heran hanya mengikuti perintah Elia " Rumah siapa ini? Kenapa kita kesini? " Tanya Laura


" Masuk aja dulu, nanti juga kamu tau ini rumah siapa. "


" Ini sangat indah " kata Laura


Begitu pintu rumah terbuka, Mata Laura membulat melihat isi rumah " Ini rumah "


Belum selesai Laura ngomong Elia sudah menjelaskan. " Iya ini rumah untuk Kamu. Kamu tinggal disini selama kuliah. Semuanya sudah aku urus sampai empat tahun kedepan. Ibu dan Ayah sudah tau. "


Jelas Elia agar Laura tenang dan tidak ada alasan untuk menolak.


" Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa baru bilang sekarang. Aku udah stres banget mikiran tempat tinggal. " Tangis Laura pecah karena rasa haru dan juga kesel karema Elia gk bilang dari awal, sedangkan Laura sudah capek keliling nyari rumah


Laura terus menagis di ruang tamu. Elia hanya diam saja melihatnya.


Bagai mana Aku mau bilang kalau sudah beli tiket untuk hari minggu. Ini aja nangisnya begitu banget. Batin Elia

__ADS_1


" Laura dirumah ini kamu boleh tinggal dengan teman yang Kamu suka. Untuk bayaran terserah mau Kamu ambil atau gak. Dan Aku minggu pagi akan balik ke kota J "


Suasana hening


" APA! Kamu minggu ini. Tega kamu ya " teriak Laura sambil terus menangis Huahiks.... Hiks


" Kenapa baru bilang sekarang, kenapa gak nanya dulu "


Laura terus menangis. Elia hanya diam saja.


Satu jam berlalu. Mata Laura sudah bengkak dan merah kepalanya juga sudah pusing.


" Aku lapar " kata Laura yang sudah tidak menangis lagi


Elia tersenyum dan memeluk Laura. " Aku tau, dan aku sudah siapakan semuanya di kulkas. Kamu lihat lihat? " tanya Elia dengan hati hati takut sahabatnya nangis lagi


Sambil tersenyum Laura mengangguk pelan dan mengikuti Elia


" Ini jadi kamar kamu, tempat tidurnya aku pesan sendiri dan baru datang beberapa hari yang lalu. Di lemari juga sudah ada baju dan lainya lengkap. Kamu tidak perlu merasa gak enak ini semua bukan pake uang Aku, tapi uang Ibu"


Jelas Elia agar Laura tidak perlu merasa gak enak. Karena ini memang uang dari Bu Ririn. Elia hanya melakukan apa yang Bu Ririn minta.


" Ibu? " Tanya Elia bingung.


" Iya. Kata Ibu bulan depan Kakak sepupu kamu ada acara di kota ini. Lebih tepatnya di Rumah Sakit kota ini, aku gak tau acara apa. Makanya aku mencari rumah ini dan mengisi semua perabotan. Karena selama disini Kakak Kamu akan tinggal disini.


" Kak Amelia kesini? "


" Ini kartu punya Ibu, Buat kamu katanya"


" Hm.. Ini kartu dari Nenek buat ibu. Kata ibu semua uang hasil saham rumah sakit ada disini. Tapi ibu tidak pernah memakainya. Kenapa sekarang ibu kasih Aku? "


Sangat banyak pertanyaan yang ada di pikiran Laura. Tapi Laura yakin kalau ini semua karena Kakak sepupunya akan ke kota ini. Ibu tidak ingin Nenek mengetahui kalau cucunya hidup pas pasan dan terlihat kumal. Karena selama ini Neneknya selalu mengirim uang setiap bulan ke rekening lama sang ibu. Dan itu hanya Laura dan Ibunya yang tau.


" Hei... kenapa kamu menangis lagi " tanya Elia heran karena tiba tiba air mata laura keluar tapi tidak ada suara tangis. Elia mendekat dan memeluk Laura yang sudah terisak dalam tangisnya

__ADS_1


" Aku gak tau harus bagaimana, Ibu hidup bahagia dengan ayah walau sederhana. Tapi kalau Nenek tau ibu hidup seperti itu Nenek akan sangat marah. Makanya Ibu menyuruh kamu buat beliin aku baju mahal agar Kakak sepupuku nanti tidak melihat aku dengan pakaian begeni" kata Laura sambil melihat pakaiannya. Yang hanya memakai celana jeans yang warnaya sudah lusuh dan kaos lengan pendek.


Elia mengerti apa yang di maksud Elia. Bu Ririn selama ini hidup sederhana karena mengikuti suaminya yang memang hanya orang Desa. Kalau untuk uangnya sendiri sangat banyak tapi tidak pernah dipergunkan untuk menghargai suaminya. Kalau Bu Ririn mau menggunakan uang dari keluarganya, Dia bisa menjadi orang ke tiga terkaya di kota B. Dan itu hanya di ketahui oleh Laura.


__ADS_2