Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
32. Sebelum Berpisah


__ADS_3

"Aku gak habis pikir ya, ada pria seperti itu di kota kecil yang dengan populasi masusia tidak sebanyak ibu kota" ucap Elia yang emosi jiwa dengan tingkah Rusdi. Saat mereka di dalam mobil menuju ke rumah Laura


"Namanya aja orang, manusia itu bermacam karakter dan sifat. Mau itu di pelosok desa atau di Ibu Kota pasti akan ada saja orang seperti itu" jelas Laura cuek, karena sudah terbiasa dengan sikap pria seperti Rusdi.


"Tumbe itu di depan rumah rame, apa mereka tau kalau kita datang hari ini" tanya Elia yang heran melihat di depan rumah Laura seluruh keluarganya sedang berkumpul.


"Iya juga ya, padahal biasanya jam segini itu mereka lagi pada main" ucap Laura


Mobil berjalan pelan memasuki halaman rumah yang luas, begitu mobil berhenti langsung di kerumunin empat para biang kerok. Mereka tau itu mobil sedan milik Deni, mereka melihatnya saat menginap waktu sang Kakak wisuda.


Begitu pintu terbuka dan Elia keluar dari mobil, Paisal langsung masuk dan duduk di bangku pengemudi


"Akhirnya aku bisa juga nyoba mobil keren ini" katanya sangat antusias


"Hei!! kamu jangan macam macam ya, nyetir mobil aja belum bisa kamu udah mau ngoba mobil orang" teriak Laura yang masih duduk di dalam mobil


"Kakak mah telat, Kak Isal sudah bisa nyetir kak, bahkan Kak Dani dan Kak mona juga sudah bisa. Aku aja yang belum" jawab Rahmad sedih.


"Apa? mereka bisa nyetir, kok bisa? siapa yang ajarin" tanya Laura yang syok karena adiknya sudah bisa nyetir mobil padahal umur mereka masih sangat muka.


"Kakak cemburu, bilang dong" ejek Mona pada sanga kakak.


"Ayah... Ayah siapa yang ajarin mereka?, umur ini bocah belum cukup untuk nyetir ayah" teriak Laura sambil berjalan ke arah sanga ayah, Ayah sendiri yang bahkan tidak tau sama siapa anaknya belajar dan kapan.


"Ayah juga tidak tau kapan, dimana dan dengan siapa mereka belajar. Kamu tenang aja ayah masih waras sehingga tidak akan memberikan konci mobil untuk mereka" jawab sang Ayah biar anak sulungnya tidak khawatir lagi.


"Kamu itu Laura ya, apa aja kamu ributin, mereka bisa nyetir ya baguslah, kenapa kamu jadi heboh begitu sih. Hei!.. semua ayo ke sini bantu Kakak bawa masuk ini ke dalam" teriak Elia


Mereka semua mendekat ke mobil setelah tadi pergi ngikutin sanga Kakak yang mengadu sama ayah, sedangkan Paisal masih di dalam mobil


"Wau.. Banyak banget, apa ini kakak. Inikan tas belanjaan di toko yang terkenal itu, Kakak belanja disitu? buat kita" tanya Dani sama Elia dengan wajah kagum dan gembira

__ADS_1


"Iya dong ini untuk kalian semua, ayo cepat bawa masuk. Dan di bagasi belakang masih ada juga ya" kata Elia sama mereka agar mengambil semuanya


Dengan semangat seratus persen ke empat bersaudara itu mengambil semua barang yang ada di dalam mobil dan membawa ke dalam rumah


Bu Ririn yang melihat sangat kaget dengan semua barang yang sudah dibawa masuk sama anak anaknya. "Masya Allah... Apa ini nak Lia, kenapa banyak banget. Ini baju, sepatu, tas, dan ini"


Belum sempat bu Ririn melanjutkan katanya Laura sudah menjawab. "Itu di ember ikan dan daging bu, biar air ikan gak rembes di mobil tadi kita beli ember. Kita tidak usah belanja lauk selama satu minggu kedepan, Karena si tuan putri Elia sudah membeli semuanya" jelas Laura panjang lebar sama sang ibu


"Lia.. Kamu tidak perlu seperti ini kepada kami, kami jadi tidak enak, ini terlalu berlebihan untuk kami" ucap pak Ahmad yang juga kaget dengan semua barang yang di beli Elia.


"Lia senang Om, bahkan sangat senang karena bisa memberikan ini semua untuk keluarga Om, Lia harap kalian tidak keberatan menerima ini semua. agar Lia tambah senang" jawab Elia tulus


"Tenang Kak kami sama sekali tidak keberatan, malah kami sangat senang, terima kasih bayak ya Kakak" ucapa mereka hampir bersamaan sangking senangnya sambil berjalan mendekat dan bergantiin memeluk Elia sebagai tanda terima kasih.


Elia yang mendapat pelukan dari mereka malah menangis dan membuat mereka bingung.


"Maaf Kakak kami terlalu bahagia sampai memeluk Kakak, kami kelewatan ya, kami bau ya" ucap mona yang gak tau kenapa Elia menangis.


Pak Ahmad dan Bu Ririn yang melihat itu tidak dapat berkata apa apalagi. Mereka saling melihat dan tersenyum sambil mengangguk kecil.


Semua hadiah di bagikan dengan rata, semua dapat tiga pasang masing masing. Karena sangat bahagia mereka mencoba semua baju, sapatu yang baru dan berjalan di depan Elia sambil bergaya seperti para model. Elia sangat bahagia dan mengabadikan momen ini dengan ponselnya.


Aku sangat bahagia, canda, tawa pertengkaran ini aku pasti akan sangat merindukanya nanti. Kalian adalah kelurgaku, ini akan jadi penyemangat untukku saat jauh dari kalian. Batin Elia


"Hei... Bengong aja, mikirin apaan sih" Tanya Laura


"Aku hanya bahagia dengan tingkah mereka, saat aku jauh dari mereka aku pasti akan merindukan mereka" jawab Elia


"Tenang aja, kalau kamu libur nanti kamu bisa datang ke sini, kami selalu ada di sini untukmu, pergilah mencari ilmu ke seluruh dunia dan sukseslah di sana, saat kamu capek dan lelah datanglah kesini. Kita kelurga dan kami ada untukmu" ungkap Laura sembil memeluk Elia


Yang bukanya tenang malah terus menangis sejadi jadinya. Hwa... Hiks.... Hiks membuat yang lain kaget dan mendekat, padahal mereka sedang berlengak lenggok dengan baju baru.

__ADS_1


"Kak Elia kenapa? " tanya mona


"Elia nanti mau kuliah di luar Negri, jadi sedih karena nanti akan sangat merindukan kalian" jelas Laura.


Setelah mendengar omongan Laura adik adik Laura malah ikutan nangis karena mereka akan berpisah dengan Elia.


Setelah hampir tiga puluh menit drama menangis dengan kata kata perisahan pun berakhir. Mata kelimanya sudah merah dan bengkak, Bu Ririn dan pak Ahmad yang melihat hanya tersenyum.


"Kalau sudah nangisnya ayo pada ganti baju dulu, terus bantuin ibu masak di dapur ya" kata bu Ririn agar mereka berhenti menangis.


Di dapur Laura sedang membersikan ikan dan daging yang mereka beli tadi.


"Ibu ini banyak banget, apa muat semuanya di kulkas kita" tanya Laura


"Kalau es batu di turunin semua pasti muat" kata bu Ririn.


"Tante..." panggil Elia sambil memeluk bu Ririn dari belakang.


"Sudah berapa kali tante bilang untuk memanggil ibu aja, kamu itu masih aja Tante terus" ucap bu Ririn yang memang sudah berulang kali mengatakan sama Elia untuk mamanggil dirinya ibu sama seperti Luara. Sambil memagang kedua tangan Elia yang memeluknya


"Iya ibu" ucap Elia sambil tersenyum


Mereka berempat memasak di dapur sambil bercanda dan bercerita. Tak terasa hari hampir magrip dan acara memasaknya juga selesai.


"Kita mandi dan sholat dulu baru nanti ini semua kita sajikan di meja makan" bu Ririn


Selesai mandi dan sholat mereka kedapur dan menyajikan semua masakan yang sudah mereka masak.


Mereka menikmati makan malam dengan hari haru, Elia sendiri sangat senang karena sebelum dirinya ke kota J masih sempat berkumpul dengan mereka semua. Adu mulut, bercanda dan berebut makanan saat sedang makan menjadi hal yang menyenangkan bagi Elia.


Setelah makan malam dan bersantai di ruang keluarga Elia videocal sama orang tuanya. Kedua keluarga terlihat mengobral dengan santai, Oma dengan bahagia ngobrol sama adik adik Laura seakan tidak ada jarak diantara mereka

__ADS_1


__ADS_2