
" Lia nanti aku akan sendiri. Kenapa kamu baru bilang sekarang " tanya Laura sambil menyantap cake yang ada di depanya.
Elia sudah menyipakan berbagai macam makanan di dalam kulkas. Karena yakin kalau Laura akan selalu lapar.
" Maafin aku ya. karena baru bilang sekarang " kata Elia dengan wajah bersalah
Laura sangat mengerti kenapa Elia bersikap begitu. Tapi begitu ini di alami rasanya aneh, sedih, dan sangat kesepian.
" Nanti aku ngapain aja di rumah ini " tanya Laura sambil matanya mengitari seluruh ruangan.
" Kamu bisa nonton Darkor semalam, karokean, atau bahkan menanam bunga di depan " jelas Elia yang merasa semua hal itu akan menyenangkan buat Laura
" Gak. Aku gak mau. Semuanya gak seru kalau kita tidak bersama " jawab Laura.
" Ya udah terserah kamu mau ngapain aja. Malam ini mau menginap disini atau pulang "
" Emang kalau kita nginap disini semua keperluan kita ada? " tanya Laura yang seakan masih ragu dengan ajakan Lia.
Sambil menarik tangan Laura menuntun ke kamarnya lagi dan menunjukan kalau semua yang mereka butuhkan sudah ada.
Untuk makan malam kita bisa masak bareng. Semua bahan ada di kulkas. Malam ini mereka menginap di rumah baru, menghabiskan waktu bersama sangat menyenangkan.
Laura sudah sangat senang dan bahagia. Waktu bersama sahabat yang menyukainya apa adanya. Sungguh persahabatan yang sangat indah.
Pagi hari yang mereka lalui seperti biasanya.
" Ibu besok jadi ke sini" Laura mengangguk. "Aku senang karena sebelum berangkat bisa ketemu sama mereka semua" Laura terseyum karena tau kalau Elia sangat menyayagi kelurganya.
" Kita akan habiskan beberapi hari ini dengan kenangan yang indah. Biar nanti menjadi pengobat rindu untuk kita sendiri " Elia tersenyum karena Laura sudah siap dengan kepergianya.
Jarak dari rumah ke kampus hanya waktu 10 menit jalan kaki. Laura sangat bersyukur. Untuk teman yang mau di ajak tinggal bareng belum kepikiran untuk mengajak siapa. Apa lagi sebentar lagi Kakaknya akan tinggal bersama untuk sementara.
" Ra kamu jalan kaki kampus " tanya Tuti yang bertemu Laura di jalan depan pintu gerbang kampus.
" Iya, Elia punya rumah di kompleks di sana. Jadi untuk sementara aku tinggal disana sama Elia " jelas Laura.
Temanya sedikit heran dengan penjelasn Laura, apa lagi kemarin Laura ikut nyari rumah bareng am mereka. Tapi mereka tidak bertanya. Karena itu rumah Elia.
Mereka masuk bersama sambil ngobrol.
Hari ini Laura dan Elia agak sibuk. Apa lagi nanti siang keluarga Laura akan adatang.
Elia sudah menyarankan agar mereka tingga di rumahnya aja, tapi mereka menolak. Pak Ahmad dan Bu Ririn ingat melihat tempat yang akan anaknya tempati selama kuliah.
__ADS_1
Laura tetep ke kampus dan urusan rumah semuanya di atur oleh Elia.
Saat pulang siang keluarga Laura sudah sampai. Mereka makan siang bareng dengan lauk yang di bawa Bu Ririn.
" Lia makan yang banyak ya nak " Bu Ririn sambil menatap Elia dengan sedih. Karena setelah berpisah nanti tidak tau kapan mareka akan bertemu lagi. " Nanti kamu pasti akan kangen masakan Ibu "
Sambil menikmati makan siangnya dengan lahap " Iya Bu benar, nanti Lia pasti akan sangat kangen masakan ibu. Apa lagi sambelnya " bukan cuma masakanya tapi Lia juga akan kangen sama Ibu dan semuanya.
" Kak.. kapan Kakak akan kembali? " Elia bingung harus memberi jawaban apa untuk Mona. " Kalau kuliahnya sudah selesai dan Kakak jadi sukses. Apa Kakak akan lupa sama kita" Tanya Mona dengan muka sedih
Sambil tersenyum dengan senyum terbaiknya " Tentu saja Kakak tidak akan lupa. Kakak akan ingat semua ini, semua yang kita laluai bersama" janji Elia.
Mona yakin akan hal itu karena Elia sangat menyayagi mereka.
" Udah cepatan habiskan makananya dulu, nanti kita ngobral lagi " kata Bu Ririn yang gak ingin nanti sedang makan malah nangsi sedih karena mau berpisah.
Selesai makan mereka santai di ruang tamu.
Bu Ririn mengatakan pada Elia kalau selasa nanti Amelia Kakak sepupu Laura akan kesini. Tapi sayang karena mereka tidak bisa bertemu.
Menurut Elia tidak masalah bila mereka tidak bertemu disini karena nanti di kota J mereka akan bertemu.
Bu Ririn memberikan kontak Amelia pada Elia agar mereka bisa saling kenal ngobrol walau lewat udara.
Saat makan malam selesai Elia mengajak adik Laura jalan jalan. Lia tau momen ini belum tentu akan terulang lagi.
Pagi harinya saat pak Pak Ahmad keluar kaget melihat mereka tidur di luar semua. Posisi tidur mereka sunggu lucu. Mereka tidur dengan gaya bebas. Antara satu lain salaing menindih bahka kaki Paisal tepat di depan muka Elia.
" Laura kesini dulu " Laura yang di dalam kamar segera keluar karena mendengar panggilan Ayah.
Begitu di luar Laura tersenyum melihat mereka berempat " Ayah aku ambil ponsel Lia dulu " Laura berjalan mendekati Elia dan mengambil ponsel yang di dalam tasa selempang kecil yang masih di badan.
Kreeek...Kreeek.... Kreekk
Beberapa gambar berhasil Laura ambil dan mengembalikan ponsel ke tempat semula.
" Ayah biarkan saja mereka, jangan di bagunin. Sepertinya mereka semalam pulang sekitar jam 01. Dini hari " Jelas Laura sama Ayah.
Laura sibuk membantu sang ibu di dapur membuat sarapan untuk mereka semua.
Ayah lebih memilih keliling kompleks sambil berjalan kaki, dan ngobrol dengan petugas di pintu gerbang yang tidak jauh dari rumah yang mereka tempati.
Laura hari ini tetap masuk kampus seperti biasa. Saat sarapan sudah siap ke empatnya belum juga bangun.
__ADS_1
Saat jam istirahat siang Laura pulang kerumah. Dirumah hanya ada ayah dan ibu saja.
" Ayah mereka kemana" tanya Laura yang herena karena rumah sepi banget.
" Mereka tadi bangun jam 10 mandi makan dan pergi lagi. Kalau tidak salah katanya mau ke pantai " jawab ayah
" Benar ya, mereka itu gak ada capeknya. Ayah Laura pulang sebentar nanti bali lagi " jelas Laura
" Ayah senang kamu tinggal disini, dan sangat dekat dengan kampus. Elia sangat peduli dengan kita" Syukur Ayah
Saat sore haru Laura pulang kampus, ke empat tukang ngayap( jalan) belum juga pulang. Laura khawatir karena bsok Elia mau berangkat. Apa semua barangnya sudah disiapkan.
Laura tidak mengerti apa aja yang akan Elia bawa, apa lagi dirinya tidak pernah pergi jauh dari daerahnya.
Saat mereka sedang santai sore mobil yang membawa Elia dan Adik Laura masuk ke pekarangan rumah.
" Akhirnya pulang juga itu bocah " gerutu Laura
Malam harinya setelah makan malam Elia memanggil mona ke kamar yang dirinyan dan Laura tempati.
" Kamu pilih saja semua baju yang kamu sukan dan muat buat kamu" Mona sangat bahagia dengan kegirangan membuka lemari dan mencoba baju yang di suka. Kalau pas di badanya langsung di ambil.
" Terima kasih banyak kak " sambil terus mencoba bajau baju
" Kalau muat dan suka sepatu dan tas Kakak juga boleh kamu ambil"
" Serius Kak ini boleh ku ambil " Sambil menenteng satu tas kecil yang sangat di sukainya.
" Ya ambilah yang manapun kamu suka, ngambil semua juga boleh " Mona tidak mungkin mengambil semuanya dia hanya mengambil apa yang dia suka aja.
Elia hanya membawa sedikit baju. Yang lainya di berikan ke Mona, Bu Andin dan juga Laura.
Pagi hari mereka semua bangun sangat pagi, dan dengan muka yang sangat sedih karena akan berpisah dengan Elia.
Elia mengatakan pada Laura dan Bu Ririn kalau mobil Kak Deni di parkir disini, dan boleh di pake sama Kak Amelia selama tinggal disini. Dan Elia berharap agar Laura nanti mau belajar nyetir biar kalau mau ke mana mana tinggal pake mobil.
Bu Ririn sangat berterima kasih pada Elia untuk semuanya.
Mereka semua di antar ke bandara oleh supir Tuan Alvin dengan mobil kantor. Di dalam mobil semua menangis. Tapi mereka tau hari ini akan terjadi. Karena setiap pertemua pasti akan ada perpisahan, dan saat berpisahpun bila ada umur, sehat, insya Allah kita akan bertemu lagi.
Keluarga Luara semua ikut turun dari mobil dan mengantar Elia sampai ke depan pintu ruang tunggu.
Mereka saliang mengucapkan kata perpisahan. Berpelukan dengan deraian air mata.
__ADS_1
Pak Ahmad ikut meneteskan air mata, merasa seperti mengantar kepergian anak sendiri.
Itu juga yang di rasakan oleh Bu Ririn dan seluruh anaknya.