Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
55. Dia terlihat bahagia


__ADS_3

Laura Deni terlihat sangat serasi, dari pakaian yang mereka gunakan sampai sikap mereka yang terlihat mesra. untuk orang yang tidak tau akan mengira kalau mereka adalah pasangan kekasih. Walau sebenarnya itulah harapan keluarga Deni.


"Kalian terlihat sangat cantik dan tampan, cepat betangkat nanti kalian terlambat" ucap Oma sedih karena mereka berdua tidak berjodoh. Oma akan semakin sedih bila melihat mereka mesra seperti itu tapi Laura tetap tidakenjadi keluarga mereka.


"Ibu jangan tunjukkan wajah itu di depan Elia, dia pasti akan sangat marah bila tau kita masih berharap agar Laura bersama dengan Deni" ucap bu Andine, Oma hanya diam tidak menjawab apa apa.


Deni dan Laura sedang dalam perjalanan. Laura terlihat sangat gugup, kedua telapak tanganya menjadi sangat dingin. Deni yang melihat kegugupan Laura mengambil tangan Laura dan menggenggam dengan satu tanganya.


"Tenang saja, aku akan selalu di sisimu. Di sana kita hanya akan bersantai jadi jangan terlalu tegang ya" Deni berusaha untuk membuat Laura tenang.


Setelah berkendara kurang lebih tiga puluh menit akhirnya sampai di sebuah kafe yang di hias bagian luarnya seperti sebuah kastil. Laura takjub melihat dekorasi yang begitu indah. pantas saja Elia membuat gaun yang seindah ini untuk dirinya, karena Elia sudah tau tema pesta hari ini.


"Kak ini sangat indah" Laura berucap saat sudah beridiri di samping mobil dengan di ganteng oleh Deni.


"Kamu mau acara pernikahan seperti ini?" tanya Deni selidik karena melihat wajah kagum Laura terhadap dekorasi di depan mereka.


"Hahahah.... Ya gak lah kak. Emang Laura anak kecil" jawab Lura sambil tertawa, karena hal itu sangat tidak di sukainya.


Mereka masuk ke dalam sambil bergandengan mesra, di dalam sudah banyak orang yang datang padahal acara baru akan di mulai tiga puluh menit lagi.


Laura begitu kagum dengan dekorasi pasta, mereka seperti berada di negri dogeng. Belum lagi para tamu undang yang sangat memukau dengan gaun indah mereka. Tadinya Laura sempat berpikir kalau gaunya terlalu berlebihan tapi ternyata dia salah. Gaunnya simpel dan indah bila di bandingkan dengan gaun orang lain yang terlihat mewah dan galmor.


"Kak pegantinya di mana?" tanya Laura sambil matanya mengitari seluruh ruangan mencari kedua mempelai. "Gak ada kak, apa mereka masih bersiap" Laura masih terus menatap ke setiap sudut sampai akhirnya matanya menatap sosok yang pernah membuat pikiranya resah.

__ADS_1


Deni melihat ke arah pandang Laura dan tersenyum licik seakan sedang mengejek orang yang di tatapnya.


"Ayo kita cari tempat duduk" ucap Deni sambil merangkul mesra bahu Laura.


"K-ka-kak sepertinya pria itu ada di sini" ucap Laura terbata bata sambil memegang dadanya karena debaran jantungnya sangat cepat dan kuat.


Deni yang melihat sikap Laura langsung merlihat ke arah Rangga dan ternyata Rangga sudah tidak ada di tempat duduknya. "Hei tenang dulu pria mana maksudmu, coba tunjukin sama Kakak" ucap Deni yang seakan tidak tau apa yang di maksud Laura.


Laura kembali melihat ke arah tempat tadi dirinya melihat pria yang sempat mengisi pikiranya. Laura kaget karena pria yang di lihat tadi sudah tidak ada, yang sedang duduk di bangku yang dia lihatnya adalah pria lain bukan pria yang dia maksud.


"Gak kak, seperti aku salah lihat" Apa iya aku salah lihat, kalau memang iya. Apa sebegitu ingin bertemu dengannya hingga aku bisa melihat hal yang tidak . Batin Laura. Yang terdiam seperti orang bingung.


Di sisi lain


Rangga sedang di toilet sambil menjambak rambutnya sendiri "Kenapa aku begitu emosi melihat Deni dengan kekasihnya, mereka terlihat bahagia dan sangat cocok. Ada apa dengan diriku?" gumam Rangga pada diri sendiri sambil melihat pantulan wajahnya di cermin. Matanya merah, rahang mengeras sampai urat di dilehernya terlihat karena sedang menahan amarah dan cemburu.


Karena tidak ingin sahabatnya kecewa akhirnya Deni melilih untuk tetep tinggal dengan bersembunyi dari gadis itu. Rangga kelura dari kamat toilet setelah membasuh kepalanya dengan air dingin.


Rangga memilih duduk di pojokan paling belakang sambil meminta pelayan untuk mematikan lampu yang ada di atas meja yang di duduki. Rangga mengirim pesan pada dua sahabat kalau dirinya pindah tempat duduk dan mengajak mereka untuk bergabung.


Semua lampu tiba tiba di matikan dan pembawa acarapun memulai pembukaan acara dengan santai. Laura tidak begitu tau apa yang di ucapakan pembawa acara karena pikiran telah terbagi setelah melihat pria itu dengan tidak sengaja. Entah itu bayangan atau nyata.


Laura baru sadar saat kedua mempelai berjalan di karpet merah seperti seorang raja dan ratu sambil di ikuti lampu sorot. Semua para undangan bertepuk tangan saat itulah pikiran Laura kembalikan ke tubuhnya.

__ADS_1


"Wau... Mereka sangat serasi, benar benar seperti raja dan ratu" ucap Laura dengan kagum


"Yang perempuan namanya Regina teman dekat kakak, dan yang laki laki agus teman kakak saat kuliah dulu" Jelas Deni.


"Ohh... sekarang kakak gak berteman lagi lagi kak Agus?" tanya Laura yang hanya ngasal


Deni diam sebentar, dia tidak mungkin bilang sama Laura kalau mereka sekarang tidak pernah bertemu, tau mungkin tidak berteman lagi. "Berteman pasti masih, tapi kami jarang bertemu karena kesibukan masing masing" Laura percaya karena Deni waktu itu juga lama di Kota L sehingga lama tidak bertemu sahabatnya.


"Sekarang akan sering bertemu lagi, apa lagi kak Agus sudah jadi suami teman dekat Kak Deni" Deni tercekat memdengar omongan Laura, karena dirinya tidak berpikir sampai kesitu.


"Iya itu sudah pasti" ucap Deni


Pembawa acara masih sibuk mengarahkan pengantin dengan berbagi kegiatan yang sudah mereka susun. Setengah jam kemedian baru acara santai, di mana para undangan di persilakan untuk menikmati makan yang di sediakan.


Mata Laura dan Deni membulat saat melihat dua orang yang bergandengan mesra berdiri di hapadan mereka. Yang perempuan terlihat sangat cantik dan anggun sedangkan yang lali laki terlihat sangat gagah dengan dengan balutan jasnya.


"Kak kenalkan ini kekasih Elia" ucap Elia yakin. Deni dan Laura masih terduduk diam di bangku meraka sampai akhirnya


"Laura kenalin ini wanita yang Kakak kencani sekarang" Ucap Hendra memperkenalkan Elia pada Laura.


"Hahahahaha..... Ini gak lucu tau" ucap Laura sambil manarik tangan Elia. Deni masih mencerna kejadian di depan matanya.


"Kami tidak bercanda" Ucap Handra berbarengan dengan Elia. Deni dan Laura dapat melihat kesunguhan di mata bereka berdua.

__ADS_1


Walau terkejut Deni dan Laura menerima perkenalan mereka berdua. Akhirnya mereka ber empat duduk di meja yang sama. masih ada satu bangku kosong di meja mereka, Sampai akhirnya seorang wanita datang dan bertanya.


"Apa bangku ini kosong? boleh saya duduk disini?" Mereka berempat melihat ke arah perempuan itu dan mereka tertawa bersama sama. Hal tidak lepas dari perhatian seorang pria yang sedang duduk di dalam gelap bersama sahabatnya.


__ADS_2