Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
39. Gosip


__ADS_3

Kami sekeluarga sangat senang dengan adanya Kak Amel bersama kami. Tapi adikku tidak boleh lama izin dari sekolah, sehingga mereka harus cepat balik ke desa.


Kak Amel sempat bertanya tentang rumah dan juga mobil yang di pake. Ibu menceritakan semua pada Kak Amel. Tentang persahabatanku dengan Elia, tentang Kak Deni, Oma, tentang Om Alvin dan Tante Andine yang sangat menyayagiku. Juga tentang keluarga besar Elia yang memang kenal dan dekat dengan Om Ismail


Kak Amel mengerti semuanya. Sebelum ke berangkat ke kota L Kak Amel juga sudah pernah ngomong sama Elia walau lewat handphone. Dan mereka juga berteman di medsos.


Dua hari setelah Kak Amel datang. Ibu dan ayah serta para biang kerok baru balik ke desa.


" Tante nanti setiap sabtu, aku dan Laura akan ke desa. Senin paginya kami akan balik kesini lagi " apa Aku gak salah dengar. Kan capek kalau tiap minggu bolak balik dengan perjalan dua sampai tiga jam


" Gak usah Mel, yang ada kamu capek. Terlalu jauh kalau tiap minggu " Aku melihat kak Amel tersenyum seakan yang kami pikir jauh itu bagi Kak Amel tidak ada apa apanya.


" kalau cuma dua atau tiga jam setiap hari bolak balik aku juga sanggup Tante" hah... Apa iya itu gak apa apa. Itukan jauh banget. " Di kota J berkendara selama itu adalah hal biasa bagi kami " Kak Amel terlihat biasa saja.


" Ya udah terserah kamu aja " Ibu pasrah kalau memang Kak Amel maunya begitu.


Ibu juga sempat bertanya kenapa Kak Amel bisa sampai di kota L. Kak Amel bilang kalau Rumah Sakit mereka bekerja sama dengan Rumah Sakit pemerintah. Karena alasan itulah akhirnya Kak Amel di kirim ke Rumah sakit umum di kota L.


Setelah Ayah, Ibu dan saudaraku balik ke desa tinggalah aku dan Kak Amel dirumah. Setiap hari Kak Amel dengan kesibukanya begitu juga dengan Aku. Kami baru bertemu saat sore dan malam hari.


Aku baru tau Kalau Kak Amel pintar masak. Kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk memasak. Kak Amel yang suka memasak dan aku yang suka makan. Kami sangat cocok. Bahkan kadang teman juga Aku ajak untuk makan bareng bersama kita.


Semua baju lama yang biasa aku pakai di sortir semuanya oleh Kak Amel. Yang menurutnya jelek di buang semua, yang masih bagus di bagikan yang entah untuk siapa. Aku tidak berani protes atas apa aja yang Kak Amel lakukan padaku.


Selesai dengan bajuku yang di pilihin. Sekarang badanku juga mulai di permaks sama Kak Amel. Kalau aku pulang kuliah cepat pasti kami akan ke salon, kalau aku tidak mau Kak Amel tidak akan memasak dan ngajarin aku masak. Aku yang takut lapar pasti akan nurut aja. Apa lagi saat di salon aku bisa pesan makanan apa aja yang aku mau. Itu yang paling aku nantikan.


Sesibuk apapun Kak Amel, tapi setiap hari sabtu kami selalu pulang ke desa, Kak Amel sangat betah di desa. Baginya suasana di desa adalah pengalaman baru. Kadang ikut mennaam bersama ibu, dan juga ikut memanen.


Mempunyai Kakak perempuan itu sangat menyenangkan. Tapi kadang aku kesel juga karena tidak bisa membantah atau protes apa yang Kak Amel katakan dan lakukan padaku. Seribu satu alasan yang di berikan Kak Amel biar aku nurut, bla bla bla bla itulah alasanya. Dan semua itu demi kabikan aku.


Banyak perubahan yang terjadi padaku dan juga temanku. Karena kadang Kak Amel mengajak mereka juga untuk perawatn seperti aku. Hari ini saat kita sedang di salon temanku memberanikan diri untuk bertanya padaku.


" Ra, ada yang ingin kami sampaikan dan tanya juga " Aku dapat melihat wajah ragu dan juga khawatir mereka " Kita harap kamu tidak tersinggung. Kita bertanya sekarang karena menurut kita Kak Amel juga harus tau hal ini"

__ADS_1


Kak Amel sempat mengangkat kepalanya melihat ke arah mereka karena namnya disebut saat yang di sedang lulur.


" Iya gak apa apa tanya aja. kayaknya serius banget. Emang ada apa sih? " Aku sangat penasaran. Dari wajah mereka sepertinya hal ini sangat serius.


" Maaf sebelumnya ya, ada gosip tentang kamu di kampus. Katanya kamu simpanan pria darah campuran. Dan semua fasilitas yang kamu nikmati di kota ini pemberianya " Tuti mengatakan dengan sangat hati hati takut aku tersinggung


" Masih banyak lagi omongan gak tidak mengenakkan yang jadi pembicaraan seluruh orang di kampus untukmu " Desi mengatakan dengan wajah yang emosi. Ya, mungkin kesel dengan mereka yang menjekkan aku.


" Oh... Masalah itu. Aku sudah tau. Dan semua itu tidak benar. Jadi gak usah di pikirkan " jawabku cuek aja


" Kamu tau dari mana " tanya tuti penasaran


" Kak Ian yang cerita semua padaku " selama ini walau tidak terlihat sering bersama tapi hubunganku dengan Kak Ian sangat baik. Aku sengaja menjauh darinya biar tidak menimbulkan salah paham. Kak Ian jadi idola semua wanita di kampus, Aku gak mau para gadis itu membulyku hanya karena kami dekat.


" Kalau semua itu tidak benar tidak benar, terus dari mana semua gosip itu bermula? " Tuti terlihat bingung. Aku sendiri bodo amat, aku tidak peduli terhadap gosip murahan yang tidak mendasar.


Kak Amel hanya mendengar pembicaraan kami tanpa berkomentar dan bertanya apa apa.


Aku tau mereka sangat khawatir terhadapku. Aku yang merasa kalau itu semua tidak benar dan menurutku tidak perlu menjelaskan pada siapapun tentang hal itu.


Pagi ini saat aku sampai di kampus semua mata menatapku dengan tataapn jijik, tapi itu tidak mempegaruhiku. Namun saat aku masuk ke kelasku aku begitu kaget. Banyak coretan cacian, hinaan dan makian terhadapku.


Tuti dan Desi mendekat ke arahku dan mau mengajak aku keluar dari kelas, tapi aku tidak mau. Aku berfikir untuk apa menghindar atau menyelesaikan sesuatu yang tidak aku lakukan.


" Ra ayo kita keluar dulu " mereka manarik tanganku, tapi aku tetep gak mau. Hingga akhirnya seorang siswi paling populer di kelasku melempar aku dengan kertas buku yang sudah di remas jadi bola


" Pergi lo dari kelas ini, bukan. Tapi keluar dari kampus ini. Wanita sepertimu hanya membawa aib bagi kampus kita " Aku kaku di tempatku untuk beberapa saat karena otakku sedang memcerna apa yang baru saja aku dengar


Teman sekelas yang lainpun mengiyakan apa yang di katakan salah temannya. Mereka tidak mau aku belajar bersama denganku


Begitu otakku sudah paham dengan semua yang terjadi. Aku berjalan ke arah teman yang melempar kertas ke aku tadi


" Dari mana kamu dengar semua gosip itu! Apa kamu punya bukti?. Siapa orang yang memulai ini pertama kali? " Tanyaku sama Tatia

__ADS_1


Aku melihat Tatia gugup dan tidak dapat menjawab pertanyaanku.


" Jangan asal nuduh ya! Kalau tidak punya bukti lebih baik kamu diam!. Siapa yang bilang sama kamu!? " teriakku emosi


Saat aku menunggu jawaban dari Tatia. Tiba tiba di pintu dosen pembimbingku datang dan memanggillku ke kantor.


Aku mentapa tajam Tatia " urusan kita belum selesi" semua mata teman sekelas menatap ke arahku " kalian juga! jangan mudah percaya gosip sampah " mataku mengitari seluruh ruangan kelas.


Aku berjalan dengan langkah pasti ke ruangan dosen. Aku tidak peduli semua mata melirikku dengan tatapan sinis sambil mencemooh.


Tok... Tok.. Tok


" Permisi bu " Aku diam sebentar sambil menunggu di persilahkan masuk.


" Masuk, silahkan duduk " Bu Tina berkata dengan sopan. Aku langsung duduk di depan beliau sambil tersenyum. " Terima kasih bu "


" Kamu tau kenapa saya panggil kesini? " Aku bingung harus menjawab apa, karena memang aku gak tau kenapa aku ada disini


" Maaf bu, tapi saya memang tidak tau kenapa saya di panggil kesini " Bu Tina menyeritkan dahinya mendengar jawabanku


" Laura! apa kamu tau kalau di luar sana ada gosip tentangmu" Aku mengangguk " apa itu tidak mempengaruhimu" Aku menggeleng " Tapi kalau gosip itu sampai di dengar orang laur akan merusak nama baik kampus kita"


" Saya tidak tau Bu dari mana dan siapa yang memulai gosip itu. Serta apa tujuanya. Namun saya bisa menjamin kalau itu semua tidak benar" semoga kesungguhan omonganku bisa di terima


" Ibu percaya sama kamu, tapi masalah ini tetap harus jelas dan di selesaikan. Karena menyangkut nama baik kampus "


" Saya setuju dengan Ibu, saya juga mau tau siapa sebenarnya orang yang sangat benci pada saya. Hingga teganya menfitnah saya sampai begitu. Tolang ibu selesai masalah ini dengan bijak, saya akan membatu semampu saya"


Aku dan Bu Tina kembali ke kalas. Aku menceritakan semuanya sama Bu tina, termasuk sikap Tatia yang terkesan atau semuanya hingga mempengaruhi teman yang lain megusirku dari kelas.


Bu Tina bersikap tegas dengan memanggil Tatia ke ruanganya untuk di mintai keterangan. Aku tidak tau sejauh mana masalah sudah tersebar dan bagaimana penyelesaianya. Karena memang itu tidak benar dan bukan aku yang memulai.


Beberapa hari berlalu, karena sudah di tangani pihak kampus dan juga para senior. Dan tentu saja dengan bantuan Kak Ian juga.

__ADS_1


Gosip yang tadinya hangat memulai mereda. Sikap mereka terhadap aku juga biasa aja. Aku malah jadi lebih tenar dan semua mahasiswa mengenalku.


Itu membuatku sangat tidak nyanam. Aku berusaha untuk lulus secepatnya dari kampus. Setiap ada semester pendek aku selalu mengajukan diri. Dengan bantuan dari Kak Ian itu sangat membantu dan mempermudah semuanya.


__ADS_2