Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
60. Pacaran


__ADS_3

Laura berusaha melepas diri dalam peluka Rangga, tapi hal itu sia sia. Laura berusaha meresapi hangatnya pelukan Rangga, sampai akhirnya Ia melingkarkan kedua lenganya di pinggang Rangga.


Rasanya sangat nyaman, aku bahagia, aroma ini. Akhirnya aku bisa mencium aroma ini lagi dan merasakan hangat pelukan ini. Elusan tanganya sungguh menengkan. Aku menyukai rasa ini, aku ingin selalu begini. Batin Laura dan tanpa sadar air mata sudah mengalir dengan sendirinya. Laura semakin mengeratkan cengkraman tanganya di pinggang Rangga.


Rangga hanya tersenyum bahagia saat merasaan kalau tangan Laura semakin erat meleluknya. Tanpa sengaja Rangga melihat sosok Deni yang berjalan menjauh dari mereka.


Mereka berpelukan cukup lama. Bangku yang tadi cuma muat untuk dua orang sekarang terlihat muat untuk satu orang lagi. Begitu menyatunya mereka berpelukan sampai membuat iri orang yang melihat.


Laura baru sadar kalau mereka berada di tengah taman, dan mulai melonggorkan lenganya dari pinggang Rangga dan melepaskanya.


"Aku malu" ucap Laura sambil melepaskan diri dari pelukan Rangga dan wajah merah karena malu.


Rangga pun melepaskan pelukanya dan menggeser sedikit tempat duduknya.


"kamu suka aku peluk" goda Rangga dengan senyum jahil di bibirnya


"gak, apaan sih" elak Laura malu


Rangga tertawa bahagia melihat tingkah Laura yang masih sangat lagu. Benarkan aku yang pertama baginya, sungguh aku laki laki yang beruntung. Batin Rangga.


"Ra mulai hari ini kita pacaran ya"


"Hah... Pacaran?, kita."


"Kamu gak mau"


Dengan wajah menunduk malu Laura menjawab. "Ma-mau. Tapi aku ngerti orang pacaran itu bagaimana, dan ngapain aja" ucap Laura.


"Hahahah.... Tenang aja nanti akan aku ajarin. Dan kita akan melakukan apa pun yang kamu mau" ucap Rangga


"Benarkah?, melakukan apa pun yang aku mau? " tanya Laura dengan semangat


Rangga terkejut dengan pertanyaan Laura. Dengan bingunga Rangga tetep mengiyakan pertanyaan Laura.


"Kamu mau kita pacaran seperti apa"


"Aku mau kita kencan seperti di drama Korea"


"Apa? Seperti di drama Korea. Bagaimana itu" tanya Rangga bingung. Karena dirinya tidak mengerti kencang yang di maksud Laura.


"Kalau Kak Rangga gak ngerti ya udah kita pacaran aja gak usah kencan" ucap Laura kesel


Rangga terdiam. Pacaran aja tapi gak kencan. Apa maksudnya ini. Apa karena aku sudah lama gak dekat dengan wanita, jadi aku gak tahu istilah anak muda sekarang pacaran. batin Rangga bingung sendiri.


"Kenapa kakak diam aja. Kak dari waktu kuliah dulu, aku ingin nanti kalau punya pacar. Aku ingin pergi berkencan seperti yang biasa aku lihat di Drakor. apa itu berlebihan ya kak" ucap Laura menghiba.


Drakor, apa lagi itu. Kencan seperti apa itu. itu bukan berlebihan tapi aku gak ngerti istilah yang kamu ucapkan sayang. Bantin Rangga frustasi dengan istilah kencan yang di sebut Laura.

__ADS_1


"Gak, kakak sama sekali tidak kebaratan. Nanti hari minggu kita kencan ala di Drakor. Sekarang kita kencan ala indonesia dulu. Kamu lapar? mau makan?"


Laura diam, Ia agak bingung dengan kencan ala indonesia yang di maksud Rangga. Tapi Laura tidak bertanya apa apa. "Lapar banget malah" jawab Laura.


Hari hampir senja saat mereka meninggalkan taman. Saat berjalan Rangga memeluk pundak laura. Apa ini kencan ala indonesia, berpelukan begini. ini ngak nyaman dan bikin malu. Mending ala Korea aja (berpengangan tangan) untuk melangkah lebih leluasa dan tidak malu maluin. Batin Laura.


Sebelum melajukan mobilnya Rangga mengirim pesan pada Deni memberi tau kalau Laura sedang bersamanya.


Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sampai mereka berhenti di sebuah restoran yang sangat mewah.


"Kak apa gak aneh kita masuk ke sini dengan pakaian seperti ini" tanya Laura pada Rangga.


Yang saat ini Laura masih dengan setelan kerja. Sedangkan ini jam makan malam, dan di dalam dirinya akan jadi beda sendiri.


"Kamu malu"


"Gak kak, kalau aku sangat cuek terhadap penampilan. Aku takutnya malah Kakak yang malu karena aku tidak memakai gaun seperti orang lain" jelas Laura.


"Aku juga tidak begitu peduli tentang hal itu. Tapi bila ada yang mengusikmu itu baru menggangguku" ucap Rangga serius


Mereka masuk, karena belum reservasi dulu mereka hanya bisa duduk di tempat biasa. Tanpa bertanya Rangga langsung memesan makanan yang di suka Laura.


Pelayan datang membawa pesanan Rangga.


"Wau... ini semua makan yang aku suka"


"Sebenarnya aku sih suka semuaa jenis makan asal enak" ucap Laura santai


Mereka menikmati makan malam dengan rasa bahagia. Apa lagi melihat cara Laura makan, benar benar membuat Rangga bahagia.


"Kak maaf ya bila makanku banyak. Kalau Elia tahu aku makan begini di depan kakak dia pasti akan mengomel" ucap Laura sambil menikmati makanan. Laura meminum jus strawberry, matanya langsung menatap Rangga.


"Kenapa?"


"Aneh, ini jus...Gak apa apa" saut Laura yang tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Sudah kenyang?" tanya Rangga


Sambil tersenyum "Sudah, bahkan sangat kenyang" jawab Laura


"Mau langsung pulang?"


Laura mengeleng


"Kenapa?"


"Lagi males aja"

__ADS_1


"Mau pulang kerumahku, dan kita tidur bersama" goda Rangg.


"Hah... Ng-ngak" Lura tercekat sambil menyilangkan kedua tanganya ke dada.


Melihat sikap Laura membuat Rangga tertawa.


"Bercanda. Kamu sungguh manis" ucap Rangga sambil mentoel pipi Laura.


Muka Laura merah merona karena pujian Rangga.


Apakah begini rasanya bahagia bersama dengan orang yang kita suka?. Atau ini hanya rasa senang biasa. Karena lama tersakiti aku tidak bisa membedakan perasaan yang aku rasakan sekarang. Aku suka perasaan ini. Batin Rangga.


Karena belum mau pulang, Rangga mengajak Laura ke tempat dirinya dan sahabat sering santai dulu.


"Di mana ini" tanya Laura heran.


Ini adalah tanah lapang yang sangat luas, remang remang. Banyak orang yang duduk lesahan di atas rumput, ada yang bersama pasangan, ada juga yang bersama keluarga. Serta banyak gerobak yang menjajakan berbagai jenis jajanan dan makanan.


"gak suka"


"Suka banget, apa lagi banyak jajanan" jawab Laura sambil duduk di atas rumput. "Lebih enak di sini dari di restoran tadi" ucap Laura sambil melihat ke arah anak kecil yang sedang berlarian


Benarkah kamu suka tempat sepeti ini, manta aku dulu sangat tidak suka bila aku ajak ke sini. Katanya ini tempat kumuh. Batin Rangga yang mulai membandingkan sikap Laura dan pacarnya dulu.


Banyak hal yang mereka bicarkan, kadang mereka serius dan kadang juga tertawa bahagia. Sampai tiba tiba


"Laura" ucap suara yang sangat di kenal Laura.


Laura menoleh ke arah suara "Riski" ucap Laura kaget.


"Ngapain lo di sini. Dan ini siapa?" tanya Riski dengan wajah yang sangat serius.


Rangga yang dapat membaca keadaan bagun dari duduknya. "Kenalkan saya Rangga pacarnya Laura" ucap Rangga tegas


"Pacar!" teriah Riski kaget. Karena setahu dirinya Laura tidak pernah kenal dengan laki laki di luar keluarga mereka selain Deni.


"Iya saya kekasih Laura. Dan baru tadi sore kami jadian" jelas Rangga.


Riski melihat ke Laura yang masih duduk di rumput. Riski mendekat dan jongkok. "Apa benar ?" tanya Riski, Laura mengangguk.


Laura berdiri dari duduknya. "Iya Ki ni pacarku" ucap Laura sambil tersenyum ke Riski.


Riski mendekatkan wajahnya ke Rangga. "Ternya loe, akhirnya loe berani juga ya. Dari kejadian kalian waktu itu, Laura sudah penasaran siapa loe sebenarnya. Dan akhirnya nongol juga dan kalian langsung pecaran" ucap Riski panjang lebar.


Rangga yang sudah tau dari Deni hal itu bersikap biasa aja.


Laura malah sangat malu di depan Rangga. Ngapain juga itu sepupu tidak berakhlak harus ngomong begitu di depan Rangga.

__ADS_1


"Selamat untuk kalian berdua" ucap Riski tulus


__ADS_2