
Pagi hari ini sarapan terasa berdeda seperti hari biasanya, karena mulai hari ini mereka sedang mempersiapkan diri dengan perpisahan.
Hari ini Deni tidak masuk ke kantor karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, lebih tepatnya bersama Laura, tapi karena tau kalau itu tidak akan mungkin makanya Deni mengajak mereka semua hari ini untuk jalan jalan.
"Hari ini aku libur kerja, jadi kita keluar ya" ajak Deni sambil menatap Oma, bu Andine, Elia dan Laura secara bergantian sebagai tanda ajakan itu untuk mereka semua.
"Bukannya di kantor lagi bayak urusan, kan bsok kamu berangkat ke kota J" tanya bu Andine yang heran karena di kontor lagi banyak masalah, dan mereka juga mau balik ke kota J Deni malah libur.
"Gak apa Mah, masalah di kontor biar papa yang beresin, Deni ingin menghabiskan waktu dengan kalian semua" jelas tuan Alvin sambil mengedipkan mata ke arah istrinya.
Untung saja bu Andine mengerti maksud dari suaminya. Hari itu mereka semua pergi jalan jalan, makan, dan belanja. Laura bahkan di beliin handphone oleh Deni, dan pastinya Laura memilih handphone yang hanya bisa untuk telfon dan sms saja, dia merasa tidak enak untuk membeli yang mahal, kalaupun Deni memaksa tidak akan bisa, karena kalau di paksa Laura tidak akan mau menerima.
Saat menjelang sore mereka pergi untuk mencari suasana di pinggir pantai, setelah berkeliling akhirnya mereka memilih restoran yang menjual segala macam makanan laut dan yang ada tempat duduk di pinggir pantai.
"Aku mau pesan kepeting telor saos padang, kerang dara saos tiram, cumi goreng tepung, udang goreng mentega, cah kangkung dan ikan kuek bakar" pesan Deni sama pelayan.
"Kakak pesananya banyak banget, habis itu kakak makan sendiri" tanya Elia heran
"Itu bukan buat aku sendiri, tapi buat aku sama Laura, kamu pesan sendiri. Oma dan Mama juga pesan sendiri ya" jelas Deni cuek walau tahu semua mata menatap ke arahnya.
Apa lagi Laura yang meresa sangat tidak enak dengan sikap Deni seperti itu.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Semua makan dengan sangat lahap, sambil sesekali mereka bercanda, tak terasa semua makanan yang mereka pesan sudah habis. Laura izin mau ke pinggir pantai bermain air, karena menurutnya tidak lengkap rasanya kalau ke pantai tapi tidak kena air laut. Tak lama Elia juga menyusul dan mereka bermain kejar kejaran sehingga membuat Oma, bu Andine dan Deni yang melihat ikut tertawa.
"Den, kamu kesaja aja main sama mereka, lihatlah mereka sangat bahagia dan senang, kamu juga pasti ingin bermain dengan Laura kan?" tanya bu Andine, tapi begitu bu Andine melihat ke arah tempat duduk Deni sudah kosong.
__ADS_1
Deni sendiri sudah berlari ke arah adiknya dan wanita yang disukainya. Mereka bertiga main lepar pasir, lari larian hingga hingga tejatuh dan basah. Deni menikmati semua ini, karena ia tau entah kapan semua ini akan terjadi lagi, apa lagi nanti dirinya Laura akan berjauhan.
Setelah matahari terbenam baru mereka pulang, dan tidak lupa membeli beberapa makann untuk tuan Alvin.
Setelah tuan Alvin makan malam mereka semua berkumpul di ruang tamu sambil ngobrol dan bercanda.
"Laura keluarga kamu jadi lusa kesini" tanya tuan Alvin
"Kata ayah jadi Om, dan mereka setuju nginap disini, adik Laura juga minta ikut semua kesini padahal sudah ayah larang, tapi mereka tetep kekeh mau ikut, sekalian mau jalan jalan katanya. Maaf ya Oma, Tante, Om karena mereka semua ikut pasti sangat merepotkan" ucap Laura karena merasa tidak enak, karena keempat adiknya mau hadir di acara wisudanya nanti.
Karena juah kalau harus pulang pergi makanya keluarga Laura menginpa dirumah tuan Alvin, begitu tau kalau kedua orang tua mereka menginap maka ke empat biang kerok itu pun tak mau tinggal diam, mereka mamaksa ikut dan izin ke guru sekolahnya dengan alasan sang kakak wisuda. Padahal tujuan utama mereka adalah jalan jalan dan bermain di kota L
*****
"Kak Deni hati hati disana ya, jangan lupa makan, sholat dan jadilah pria yang baik hati dan juga mimpinan yang bertanggung jawab nanti" nasehat Laura untuk Deni, dan membuat yang lain jadi tersenyum
"Iya itu pasti. Kamu juga jaga diri ya, hati hati terhapap pria karena tidak semua pria baik seperti Kakak" kata Deni sembil membangakan dirinya sendiri.
"Pengumuman dari kampus bukanya hari ini?" tanta tuan Alvin
"Bukan Om, itu besok, semoga aja Laura lulus ya, Laura sangat ingin kuliah dan saat lulus nanti Laura ingin buka usaha di desa dan memajuka desa, membantu wanita wanita di desa agar mereka bisa mandiri dan punya pengahsilan sendir" jelas Laura
"Kamu tidak ingin kerja di perusahaan besar, atau mungkin pergi ke kota J nyari pengalaman kerja dulu disana" tanya Oma penasaran
"Tidak Oma Laura ngak mau ke kota J, karena kalau lulus kuliah kesana walau cuma liburan Laura pasti tidak akan balik lagi ke desa, karena keluarga ibu yang ada disana gak bakalan ngizinin balik ke desa lagi, dengan seribu satu alasan mereka agar Laura tetap tinggal disana" jawab Laura.
__ADS_1
"Lhoh emangnya keluarga Laura ada yang tinggal di kota J" tanya tuan Alvin penasaran
"Ada Om, bahkan kelurga besar ibu di sana semua. Nenek Laura dari kota B, ke kota J ikut suami, dan semua keluarga ibu lahir dan besar di sana, ibu juga, dulu saat liburan ibu ke kota B ketemu ayah dan menikah, padahal disana ibu mau di nikahkan dengan teman om yang dokter tapi ibu gak mau" jelas Laura tentang ibunya.
"Disana enak Laura mau apa aja ada, mall, bioskop, tempat wisata smua ada di sana" jelas Deni berharap agar Laura nanti lulus kuliah mau ke sana.
"Aku tau Kak, dulu setelah lulus SD kita sekeluarga liburan kesana, di ajak ke semua tempat oleh Om, bahkan hampir tiap hari kami jalan jalan terus, tapi capek tinggal disana karena kemana mana itu maceeet banget. Laura di bujuk nenek akan dibelikan apa aja asal mau masuk SLTA disana, tapi Laura gak mau" jelas Laura yang memang tidak suka tinggal di kota besar J
Padahal aku sangat berharap kamu ke sana Laura, biar aku bisa memulai lagi dari awal saat kamu sudah dewasa, aku ingin menunjukkan padamu nanti kalau aku mencintaimu. batin Deni.
"Tapi kan takdir gak ada yang tau, kali aja nanti kamu akan jadi warga kota J" jawab Elia ngasal.
Kita tidak tau takdir itu akan membawa kita ke mana, dan apa saja yang akan terjadi pada nanti, dengan siapa kita bertemu dan bagaimana prosesnya tidak ada yang tau. Karena semua itu rahasia Ilahi.
Tanpa terasa bayak yang mereka bicarakan hari ini dan sudah hampir jam 11 siang. Deni dan tuan Alvin sudah bersiap siap ke bandara tentu saja diantar olah semua keluarga.
Tidak banyak yang bicara di dalam mobil, mereka semua asyik dengan pikiran masing masing, tanpa terasa sudah sampai di bandara.
Sebelum masuk ke ruang tunggu mereka saling menucapkan salam perpisahan, yang menurut Elia tidak perlua karena nanti juga dirinya akan menyusul, paling lama juga 2 bulan lagi, setalah salaman dan saling berpelukan dengan keluarganya, Deni berjalan ke arah Laura dan memeluknya dengan sangat erat dan membisikkan 'Aku akan menunggumu' sambil menngacak ngacak rambut Laura, Laura hanya diam aja tidak mengerti maksud Deni. Tuan Alvin juga memeluk Laura sambil berkata ' jaga dirimu baik baik ya nak, kamu adalah keluarga Om sampai kapan pun' Laura menganguk sambil tersenyum teharu.
"Laura kita keluarga, kalau ada apa apa, dan perlu bantuan jangan sungkan telfon Om ya" kata tuang Alvin.
"Iya Om tentu, terima kasih banyak sudah menganggap Laura kelurga" jawab Laura dan tanpa terasa sudah ada air bening yang keluar dari matanya.
Setelah Deni dan tuan Alvin masuk ke ruang tunggu merekapun pulang kerumah, Laura dan Elia harus ke Sekolah lagi karena banyak yang harus mereka persiapan bersama teman teman untuk acara wisuda nanti.
__ADS_1