Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
53. Meja Kerja


__ADS_3

Laura sampai di rumah sekitar jam sembilan malam, mereka di sambut Nenek dan Hendra. Karena kelehan Laura langsung pamit ke kamarnya.


Di kamar Laura membersihkan diri dan langsung naik ke ranjang bersiap siap tidur.


Di bawah Riski menceritakan apa yang dia lihat saat menjemput Laura. Hendra terlihat sangat marah dengan sikap Rangga yang sangat pengecut. Nenek hanya tersenyum mendegar cerita Riski, menurut Nenek itu hal wajar untuk anak muda.


"Dia pengecut Nek, kalau memang dia suka kenapa dia masih bersembunyi sampai sekarang. Aku malah takut nanti Laura akan di apa apain sama dia. " ucap Hendra tidak suka.


"Dia pasti punya alasan sendiri kenapa tidak menampakkan dirinya. Jangan berburuk sangka dulu" Ucap nenek sebelum beranjak dari duduknya. "Nenek ke kamar dulu ya" Hendra dan Riski mengiyakan.


Setelah nenek berlalu mereka kembali membahas masalah antar jemput Laura. Mereka sungguh tidak rela sepupu mereka harus dekat dengan pria yang selalu mencaci maki wanita, itulah gosip yang mereka dengar tentang pemilik perusahaan itu.


Tiba tiba Hendra punya ide. Dari pada mereka menjadwalkan siapa yang mengantar atau jemput akan lebih baik bila mereka membuat grup WA. Setelah ada kesepakatan mereka masuk ke kamar masing masinh.


Pagi hari mereka sarapan bersama.


" Yang lain mana Nek? " tanya Laura karena di meja makan hanya ada mereka berempat.


" Yang lain belum pulang, Amelia baru saja naik ke kamarnya. Semalam ada operasi " jawab tante sambil menyiapkan roti untuk Nenek.


" Ra berangkat sama Kakak ya " ucap Hendra


" Iya Kak " jawab Laura sambil mengambil bekal. Setelah bersalaman dengan Nenek dan Tante Lura pamit dan berangkat.


Di dalam perjalan Hendra selalu bertanya tentang suasan di tempat kerjanya. Walau Laura sudah mengatakan kalau semuanya baik baik aja tapi Hendra tetap tidak percaya. Henda malah meminta Laura pindah ke kantornya.


" Kak aku suka dengan tempat kerjaku sekarang, Aku baik baik aja. Jadi kakak tidak perlu khawatir ya " ucap Laura menyakinkan.


" Ra kamu kenal siapa pemelik perusahaan itu " tanya Rangga selidik


" Gak kak, gak mungkinlah karyawan biasa sepertinya kenal dengan pemilik perusahaan. Kalau gak salah namanya Rangga Wahyudi Tapa. Kata karyawan orangnya masih muda dan belum punya istri kak " jelas Laura sesuai dengan informasi yang di dengarnya

__ADS_1


" Kamu mau jadi istrinya "


" Ukkhhh...Ya gak mungkinlah kak " jawab Laura yang keselek ludahnya sendiri karena kaget dengan pertanyaan kakak sepupunya.


" Kan jodoh tidak ada yang tau "


Laura pura pura tidak mendengar omongan Hendra, ia terlalu malas untuk membahas hal yang tidak mungkin di pagi hari.


Saat sampai di depan kantor Hendra bisa melihat kalau Rangga juga baru saja datang. Karena melihat Rangga ia memutuskan untuk turun.


Hendra mendekati Laura memeluknya sambil mengecup kepala Laura " Kerja yang rajin, kalau ada apa apa hubungi kakak ya " Laura hanya mengangguk bigung dengan sikap Kakaknya. Mata Hendra bertemu dengan Rangga yang sedang memperhatikan mereka.


Laura yang melihat sikap aneh Hendra mengikuti arah pandang Hendra. Saat itu Rangga bersembunyi di balik punggung paman sambil melihat ke arah lain. " Ada yang kakak kenal? " tanya Laura penasaran.


" Ada. Si pria pengecut " ucap Hendra


Laura yang tidak mengerti maksudnya " Ohh.. Ya udah Aku masuk ya kak " setelah di iyakan oleh Hendra Laura masuk ke dalam dengan semangat.


Laura masuk ke ruang kerjanya dengan semangat "Pagi semuanya sapanya dengan ramah" namun tidak ada yang menjawab. Laura tidak sedih karena hal ini bukan yang pertama dia alami


Laura duduk di mejanya yang kosong. Ya meja kerjanya memang beda dengan rekan kerjanya yang lain. Tidak ada komputer di meja kerjanya, karena memang dia hanya di anggap perusuh yang tidak perlu mengerjakan berkas kantor. Namun Laura tetap mengerjakan tugas seniornya bila di suruh.


Saat mereka semua sibuk datang sekretaris direktur ke ruangan mereka, hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Ternyata kepala tim mereka di panggil direktur.


Suasana ruangan langsung heboh begitu bu Ane dan sekretaris direktur keluar, mereka penasaran kenapa bu Ane di panggil, apakah tim mereka membuat kesalahan atau malah mereka akan mendapat bonus. Laura hanya diam aja karena dirinya masih baru jadi belum begitu mengerti


Setelah satu jam lebih bu Ane baru kembali, saat masuk bu Ane tersenyum ramah pada Laura, hal yang tidak pernah di lakukan sebelumnya. Hal itu menarik perhatian yang lain hingga membuat mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya jam makan siang datang. Saat yang lain janjian saman temanya untuk makan di luar Laura malah tinggal sendiri sambil menikmati makan siangnya.


Ternyata timnya yang lain sedang berkumpul dan membahas alasan bu Ane di panggil ke lantai enam.

__ADS_1


Bu Ane menceritakan kalau dirinya di tegur direktur karena ada diskriminasi dalam kelompok yang di pimpin.


" Apa ada yang mau mengaku apa aja yang kalian lakukan pada anak baru itu? " tanya Bu Ane tegas


Semua terdiam tidak ada yang menjawab, karena memang semua dari mereka memang pernah menyuruh si anak baru untuk melakukan tugas mereka, malah mereka dengan sengaja mengerjain si anak baru.


"aku tidak menyangka jalau kalian menyuruhnya melakukan pekerjaanmu yang seharusnya di kerjakan oleh laki laki. Tolong ya ke depanya kalian kerjakan tugas kalian masing masing" pintanya dengan tegas. Yang lain hanya diam karena mereka belum sepenuhnya sadar apa yang di maksud bu Ane.


Pulang kerja hari ini Laura pulang bereng bersama yang lain, karena hari ini tidak ada kerjaan tambahan untuknya. Hari ini dia janjian sama Elia, Saat keluar sopir keluarga Elia sudah ada di depan menjemputnya. Hal ini jadi perhatian teman setimnya.


Saat tiba di mall x Laura langsung ke lantai tiga, tepatnya ke butik Elia. Begitu masuk Laura sudah di tinggu oleh sahabatnya, mereka berpelukan cipika cipiki setelah itu mereka ke ruangan Elia.


"Li apa harus ya bikin gaun, kan gaunku yang di lemari masih banyak dan belum pernah aku pake" ucap Laura yang terlihat males malesan.


"Harus dong, ini acara teman Kak Deni. Karena nanti kalain pergi berdua jadi bajunya juga harus cocok" Jelas Elia sambil mengukur badan Laura untuk ukuran gaunya nanti.


"Katanya acaranya nanti acara party gitu ya "


"Yap benar banget. Itu acara pesta party khusus anak muda, semoga kamu dapat jodoh ya di sana" Elia tersenyum sendiri setelah berkata begitu.


"Bagaimana mau dapat pasangan. Orang pasti akan berpikir kalau kak Deni pesanganku" jawab Laura


"Emang itu tujuan kita hehehe.... tenang aja aku juga nanti datang dan kita berdua bisa menikmati makanan bersama " Laura hanya tersenyum.


Pagi ini Laura ke kantor di antar sama nenek, kebetulan Nenek sekalian mau keluar.


Begitu sampai di ruanganya Laura kaget karena meja yang biasanya dia pakai sudah tidak ada. Ada satu meja tambahan lengkap dengan komputer di atasnya. Laura sempat berpikir kalau itu mejanya, tapi dia berpikir lagi kalau itu tidak mungkin.


Tiba tiba Bu Ane masuk "Kenapa berdiri? itu meja kerja kamu duduk aja " Laura bingung, tapi hatinya senang kerena meja kerjnya sama dengan yang lain


"Iy-Iya bu terima kasih bayak karena saya sudah dapat merja yang sama dengan yang lain" ucapanya terbata karena sangking senangnya. Bu Ane hanya tertawa melihat sikap Laura

__ADS_1


__ADS_2