Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
40. Nasehat atau omelan


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan perlahan fitnah yang aku terima mereda dengan sendirinya.


Aku menjalani hariku yang indah bersama Kak Amel. Aku sudah berubah, kata temanku aku jadi semakin cantik. Dua bulan bersama Kak Amel banyak yang berubah pada diriku. Tapi tidak dengan porsi dan pola makanku.


Kak Amel baru pulang sekitar jam 23.15 saat aku sedang memasak mie instan rebus dangan 2 telor cabe rawit serta daun bawang.


" Ya ampun Ra! ini jam berapa? kenapa kamu makan beginian tengah malam" aku melihat wajah tidak percaya kak Amel melihat makanan di dalam mangkuk yang ada di hadapanku


" Kak Aku habis nonton Drama Korea dan mereka makan ramen. Aku jadi lapar dan ngiler Kak. Makanya aku masak ini" jawabku santai sambil munjuk makanan yang sangat menggoda. Dan sangat nikmat di nikmati saat tengah malam yang dingin.


" Kan di kulkas banyak bauh! Puding juga ada " Kak Amel sangat tidak suka karena aku makan mie instan yang menurut Kak Amel tidak sehat apalagi tengah malam begini.


" Iya Kak " Aku menjawab dengan muka cemberut. Sambil tetap melanjutkan makanku


" Itu mie dan dua telur kamu kira kallorinya berapa? " Aku heran kenapa jumlah kalori yang aku makan bikin Kak Amel ngomel


" Iya Kak tau. Emang kenapa kak? " Tanyaku polos yang memang aku tidak peduli berapa kallori makanan yang aku makan dan berapa kollori yang aku keluarkan dengan beraktifitas


" Ini tengah malah! Itu kallorinya banyak banget. Selesai makan kamu tidur. Itu gak baik buat pencernaan kamu dan juga Barat Badan kamu bisa naik. Kamu tau Ra... Cewe gemuk itu tidak menarik bagi kaum laki laki" ngomel Kak Amel yang seperti rel Kereta Api. Sangat panjang


" Kak Aku sudah biasa makan jam segini. Iya Aku tau tidak baik untuk pencernaan, tapi selama ini aku baik baik aja. Berat Badanku juga stabil malah sangat susah naik. Sepertinya makanan yang Aku makan di makan cacing semua, makanya Berat Barat Aku gak naik. Kak banyak lelaki di luar sana yang suka dengan cewe gemuk. Bahkan menurut mereka itu lebih seksi " Kak Amel menepuk jidatnya sendiri mendengar omonganku


Sambil berjalan masuk ke kamar Kak Amel ngedumel sendiri. Aku masih bisa mendengar " Aku benar benar lupa kalau sedang berhadapan dengan gadis barbar dari desa yang tidak peduli penampilan " Aku tersenyum sendiri mendegar Kak Amel.


Pagi hari ini aku bangun kesiangan. Saat aku bangun Kak Amel sudah berangkat. Karena kampus mulai siang, Aku santai aja dirumah.


Dua minggu sudah berlalu. Aku sudah sangat berubah. Tapi satu hal yang tidak ingin ku ubah. Itu adalah pola dan porsi makanku.


Setiap sabtu kami selalu pulang ke kota B dan desa BL.


Kak Amel tugas di sini cuma tiga bulan. Namun Kak Amel tidak langsung balik ke kota J. Katanya masih mau rehat disini sebentar.


" Amel kamu yakin gak mau langsung balik ? tadi tante sudah ngomong sama papa kamu. Katanya alangkah lebih baik bila kamu langsung balik dan menyerahkan sendiri laporan selama kamu disini"


Aku bisa melihat kesedihan di mata ibu karena tidak lama lagi akan berpisah dengan keponakanya.


" Iya tante, Aku yakin. Laporan gampang. Aku ingin menikmati suasana di sini sedikit lebih lama, karena nanti aku tidak atau kapan bisa kesini lagi" jawab Kak Amel yakin.


Adik Adikku sangat senang mendengar omongan Kak Amel. Karena kalau Kak Amel disini apapun kemauan dan keinginan mereka pasti akan di kabulkan oleh sang Kakak. Adanya seorang Kakak perempuan memang sangat menyenangkan.

__ADS_1


Senin pagi kami balik lagi ke kota L. Ini menjadi rutinitasku bersama Kak Amel. Saat dalam perjalanan kita selalu mengobrol banyak hal, banyak hal yang kami bicarakan. Sampai akhirnya Kak Amel bertanya tentang Aku dan Dak Deni.


" Ra... Bagaimana perasaan kamu terhadap Deni ?


" Biasa aja Kak. Aku sudah anggap kak Deni sebagai kakak lelakiku tidak lebih"


" Apa kamu tau kalau Deni menyukai kamu sabgai seorang wanita, bukan sebagai adik"


" Aku tau Kak. Tapi aku selalu bilang sama Kak Deni kalau aku menganggap kak Deni sebagai kakakku tidak lebih"


" Apa ada alasan tertentu kamu tidak bisa mencintai Deni? "


" Aku gak ngerti bagaimana rasanya jutuh cinta, karena memang aku belum mengalaminya "


Setelah mendengar kata kataku Kak Amel tertawa " Haha.... Haha.... benarkah kamu belum pernah jatuh cinta? berciuman ?. Ra... Kamu itu hidup di belahan bumi mana sih. Umur kamu hampir dua puluh tahun tapi kamu belum pernah pacaran? " Kata kata Kak Amel seperti tidak percaya dan melihatku dengan tatapan aneh.


" Kak aku tidak suka pada pria. bagaimana aku pacaran?. Apalagi ciuman, tentu saja aku belum pernah Kak " Jawabanku membuat Kak Amel terheran heran.


" Ya... Ya...Baguslah kalau begitu. Itulah lebih baik karena kamu tidak perlu merasakan sakitnya putus cinta. Dan juga bahagianya jatuh cinta" Aku diam aja karena memang belum sepenuhnya mengerti apa yang Kak Amel katakan.


Selama dalam perjalanan Kak Amel selalu menasehatiku untuk menjaga kesehatan, menjaga diri dari para pria yang tidak bertangung jawab, serta pola makanku yang aneh. Dan bla bla bla masih banyak yang lain lagi. Yang aku gak ingat apa aja karena aku sudah tertidur mendengar nyayian nasehat.


" Ra kamu itu asal Kakak nesehatin selalu saja tertidur. Apa kamu marah atau gak suka karena Kakak nasehatin? " Ya sekarang aku punya kebiasaan baru ' akan langsung tertidur saat Kak amel mulai nasehatin ' ( menurutku sih ngomel itu namanya)


" Gak Kak, Laura gak bukan marah. Karena Kakak udah sering banget ngasih nasehat. Dan itu terdengar sangat nyaman makanya Laura tertidur " kilahku yang memeng tidak berani membantah atau protes. Jadi lebih baik diam dan lama kelamaan akupun tertidur


" Kakak harap apa yang kakak omongin selama ini bisa kamu ingat selamanya. Itu Kakak lakukan setiap saat biar kamu tidak lupa. Apa lagi nanti Kakak akan jauh dari kamu " ada getar kesedihan dari omongam Kak Amel


" Iya Kak, semua nasehat Kakak akan Laura ingat sampai kapanpun. Laura senang karena ada yang peduli, nanti kalau Kakak sudah balik Laura pasti akan merasa sangat kehilangan "


Hari terus belalu. Aku sibuk dengan urusan kampus begitu juga dengan Kak Amel.


Aku belajar dengan sangat sungguh, karena aku mau lulus lebih cepat biar bisa segera mulai membina para wanita di desaku. Ya itulah harapan saat lulus nanti.


Bulan berganti. Setelah selesai dengan urusan kerjaanya Kak Amel masih tetep di disini, atau lebih tepatnya di desa bersama Ibu, Ayah serta adik adikku. Karena aku tidak libur jadi tidak bisa pulang ke desa bareng kak Amel.


Selama di desa banyak hal yang Kak Amel lalui dan tentu saja itu hal baru yang sangat menyenangkan.


Sekarang Aku sudah memakai handphone yang layar sentuh. Tentu saja Kak Amel yang membelikan untukku serta untuk keempat adikku juga. Mereka sangat senang dan bahagia karena banyak hal yang bisa mereka lakukan dengan hp baru.

__ADS_1


Aku sendiri merasa biasa saja. Karena aku hanya memakainya untuk alat komunikasi. Sedangkan sang adik memakainya untuk game dan sosial media lainya.


Setelah dua minggu tingal di desa, sekarang sudah saatnya Kak Amel untuk balik ke kota J. Tentu saja diantar oleh keluargaku.


Saat ini Ibu, Ayah serta adikku sudah berada di kota L untuk mengantar Kak Amel ke bandara. Karena di kota kami tinggal memang belum ada bandara.


" Kak...Hiks... Kapan kita akan ketemu lagi? " tanya Mona sambil menangis saat memeluk Kak Amel yang sedang tidur. Karena Kak Amel akan pulang besok jadi malam ini kami tidur bersama di kamarku.


" Insya Allah nanti kita akan segera bertemu lagi. Makanya kamu nanti kuliah di kota J biar kita tinggal bersama " jelas Kak Amel pada Mona


Mona hanya diam tanpa menanggapi omongan Kak Amel. Menurut kita itu hal tidak mungkin. Kami tidak ingin ninggalin keluarga kami. Bagi kami hidup bersama itu sangat membahagiakan, walau kadang kami berantem tapi kami tidak ingin saling berjauhan. Apalagi untuk tinggal di kota J yang sangaat jauh dari desa dan daerah tempat tinggal kami.


" Iya Kak kalau Allah berkehendak kita pasti akan segera bertemu " Aku memang sangat berharap agar bisa selalu dekat dengan Kak Amel.


Malamnya kami tidur sambil berpelukan. Tak terasa besok aku akan berpisah lagi dengan orang yang selama ini sudah dekat denganku. Berpisah dengan mereka yang sudah dekat dengan kita bukanlah hal mudah.


Pagi harinya setelah sarapan dan ngobrol sebentar, serta teleponan dengan keluarga di kota J. Kitapun mengantar Kak Amel ke bandara.


" Mel, sebaikya nanti saat sampai di sana kamu coba hubungin Deni dan minta terima kasih padanya. Dan tante juga titip salam buat Deni "


" Bu sepertinya kamaren ibu ngomong deh sama Kak Deni di handphone " Mona


" Emang iya? kok Aku gak tau? " tanyaku kaget yang memamg tidak tau kalau ibu punya kontak Kak Deni.


" Kakaj aja yang ketinggalan. Kita sering ngimong. Dan juga temenan disosial media sama Kak Deni, Kak Elia dan Kak Amel juga. Makanya Kakak itu punya hp di manfaatin buat yang lain.


Aku memang tidak punya sosial media apapun. Sehingga aku tidak tau seperti apa perubahan dan perbedaan orang kota dengan yang tinggal di desa.


" Iya Tante nanti sampai di sana akan menghubungi Deni dan mengucapkan banyak terima kasih padanya dan kelurganya atas segala bantuan untukku dan Laura juga selama ini "


" Ra kamu hati hati ya, kalau ada apapun segera kabarin Kakak ya. Dan Kakak akan sering hubungin kamu. Kamu dengar? " tagas Kak Amel padaku


" Iya Kak aku tau. Kakak tenang aja. Nanti saat Kak Amel telefon aku akan cerita semuanya"


Perpisahan terjadi dengan saling berpelukan, memberi nasehat dan menangis. Tapi kita semua tau setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.


Kak Amel berjalanan menuju ruang tunggu. Kamipun keparkiran dan pulang kerumah. Malam ini ibu dan ayah tidur di rumah kontrakan.


Setelah kelurgaku balik ke desa. Akupun sibuk dengan pendidikan di kampus. Desi dan Tuti sering mengipan di tempatku.

__ADS_1


Hari hari aku jalani dengan tenang dan sibuk dengan urusan kampus


__ADS_2