Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
38. Aku punya Kakak


__ADS_3

Berpisah dengan Elia meninggal kesedihan di hati semua anggota keluarga Laura.


Namun semua itu mereka lalui bersama. Kelurga Laura datang ke kota L memang untuk mengantar Elia balik ke kota J. Setelah Elia berangkat mereka tidak segera balik ke desa.


" Ibu yakin gak mau langsung balik" aku melihat wajah ibu yang gelisah dan khawatir


" Iya sayang ibu yakin, Ibu ingin menyambuat kakak sepupumu " Aku dapat melihat raut wajah Ibu yang sangat berdeda saat ini.


Aku tau yang Ibu khawatirkan. Antara bahagia karena akan bertemu dengan salah satu kelurga yang sudah lama di tinggalkan. Dan juga merasa khawatir takutnya keluarga tidak menyukai dengan kehidupan yang Ibu jalani selama ini.


" Ibu tidak perlu khawatir, Kak Amel tidak akan mengatakan apa apa pada Nenek. Ibu hanya perlu bersikap seperti biasa, seperti yang selama ini Ibu lakukan. Tidak apa kita terlihat hidup sederhana yang penting kita bahagia Ibu " Aku berusaha menyakinkan Ibu.


" Iya benar sayang. Ibu harus bersikap apa adanya, tidak perlu khawatir. Karena Ibu yakin selama Ibu bahagia Nenekmu akan tetep senang dan ikut bahagia juga " Aku dapat melihat kalau ibu mulai yakin dan wajahnya juga terlihat sedikit lega.


" Ibu sudah melakukan yang terbaik selama ini. Laura yakin kalau keluarga kita di kota J akan bangga dengan Ibu" Ibu tersenyum dan mengangguk pelan.


Setelah kemaren seharian masih sedih dengan kepergian Elia. Hari ini Laura terlihat lebih baik. Bagaimana tidak terlihat lebih baik? Karena tugas kampus sangat banyak sehingga tidak punya waktu untuk bersedih.


" Tugasnya kita kerjain di rumahku aja ya " aku sengaja mengajak mereka ke rumah biar mereka bisa berkenalan dengan kelurgaku. Dan juga akan lebih nyaman bila tugas kami kerjakan dirumah karena bisa lebih santai, tentunya akan ada makanan juga.


" Kalau kamu bolehin kami sangat senang " kata Desi yang terlihat bersemangat.


" Kamu kayin mau ngajak kita " tanya Tuti yang terlihat agak ragu karena tau di rumah ada keluargaku. Mungkin takut mereka terganggu.


" Iya gak apa apa. Aku yakin, asal kalian nanti tidak merasa terganggu dengam adik adikku yang suka usil dan bercnada kelewatan " jelasku pada mereka agar nanti bisa menyusuaikan diri dengan para biang kerok


Untuk hari ini kita mengerjakan tugas di rumahku. Ibu Ayah dan Adikku senang karena punya kenalan baru. Kami duduk di ruang tamu. Tugas sangat banyak sehingga kita tidak punya waktu untuk ngobrol dengan orang lain di rumah.


Tak terasa hari sudah magrip dan tugas kamipun selesai.


" Lega banget akhirnya selesai juga " Tuti sambil berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang terlalu lama duduk.


" Kalau kita kerjain pasti akan selesai. Selama tidak malas semuanya akan beres " Laura berdisi dan berjalan ke dapur


Ibu melihat Laura datang " Tugasnya sudah selesai? Bilang sama temanmu makan malam dulu baru pulang " ibu sedang sibuk di dapur sama Mona menyiapan makan malam untuk kita semua.


" Maaf ya Bu, Laura gak ikut bantu. Tapi kenapa ini banyak banget Bu " Melihat bayak jenis makanan yang sedang dalam proses dimasak di atas kompor.


" Ini sekalian Ibu siapin buat Kakak kamu besok " Ibu terlihat sangat bahagia dan semangat. Wajah Ibu hari ini lebih baik dari pada kemaren.


Aku balik ke temanku untuk bilang agar mereka tidak pulang dulu. Karena Ibu sudah memasak untuk kami. Mereka senang karena setelah capek dengan tugas bisa langsung makan dan istirahat sebentar sebelum pulang.


Pagi hari ini ibu lebih terlihat lebih sibuk lagi di dapur. Entah apa aja yang ibu masak. Aku tidak bantuin karena harus segera ke kampus. Siang nanti aku akan izin dari kampus untuk ikut Ibu dan Ayah ke Bandara jemput Kak Amelia.


" Hei! bengong aja. Kalian ngapain sih " Aku heren karena melihat mereka diam aja saat melihatku dari jauh sedang berjalan ke arah mereka. Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dariku.


" Gak, tidak apa apa kok " jawab Desi dengan tergagap. Aku tau ada yang mereka sembunyikan. Tapi aku tidak bertanya.

__ADS_1


" Ya udah Kalau begitu. Aku cabut dulu ya. Jangan lupa tolong isiin absenku izin " Aku baru berjalan setelah mereka menjawab.


"Uuh... Untung aja Laura tidak nanya ya " Kata Tuti dengan gugup


" Iya kamu benar. Tapi aku yakin Laura pasti tau kalau ada yang kita sembunyikan " Desi


"Iya. Nanti kita akan bilangin dan tanya ama Laura apa semua isu yang beredar itu benar " Titi


Saat sampai di rumah Laura tidak sempat mandi atau ganti baju. Karena Ibu Dan Ayah sudah di dalam mobil menunggunya


Saat dalam perjalanan aku banyak banget bertanya tentang Kak Amelia. Karena memang aku tidak begitu ingat. Ibu hanya menjawab seadanya saja karena memang Ibu juga tidak begitu tau tentang Kak Amelia.


" Ayah juga ikut ya " kata ibu yang tidak mau Ayah hanya menunggu di dalam mobil.


Sekitar 15 menit kami menunggu baru terlihat banyak orang yang keluar dari pintu kedatangan


" Bu, Kak Amel yang mana " sambil mataku mencari orang yang tidak aku kenal.


" Katanya Amel pake baju putih celana hitam " Aku langsung melihat ke semua orang yang memakai pakaian yang ibu sebutkan


Dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang sangat cantik memakai baju blus putih celana bahan warna hitam dengan sepatu hak tinggi dan kacamata hitam sambi menarik satu koper berukuran sedang dan satu tas selempang menempel di badanya langsingnya.


" Bu Apakah itu Kak Amel, cantik banget dan sangat keren " Aku melihat ibu melambaikan tangan dan di balas oleh wanita cantik itu sambil tersenyum dan mendekat ke arah kita


" Tante Ririn.... " sambil bersalaman dan memelul ibu dengan sangat erat. Bahkan ibu sampai menagis. Cukup lama mereka berpelukan


" Om Ahmad " sambil bersalaman dan menciup punggung tangan Ayah penuh hormat.


Aku kanget karena tiba tiba di peluk " Kak Aku bau dari kampus aku langsung kesini tidak mandi dulu "


Kak Amel tidak peduli dan terus memelukku " Gak. Kamu gak bau kok " terus memelukku dan sepertinya sambil menangis


Ibu yang melihat kami " Udah. Udah ayo ke mobil. Malu di lihat orang kalau nangis di sini " mengajak kami semua ke mobil. Aku hanya diam saja.


Walau dulu pernah bertemu saat aku liburan, kurang lebih enam atau tujuh tahun lalu. Tapi Aku tidak ingat sosok Kak Amel. Tapi pelukan kami barusan membuat aku nyaman dan senang. Mungkin ini adalah rasa senang karena sekarang aku punya seorang Kakak.


" Tante masih sangat cantik aja ya" Aku melihat Kak Amel terus memperhatikan Ibu saat kami berjalan menuju tempat parkir.


" Kamu juga sudah besar dan sangat cantik, hampir saja Tante tidak mengenali. Laura dari jauh tadi sangat kagum melihat kamu" Kak Amel melihatku tersenyum dan merangkulku dalam pelukanya. Sampai tersengar suara ckreeek


" Buat dimedsos katanya" sambil mengayukan ponselnya yang dipakai buat mengambil gambar kami tadi. " Om, Rante lihat sini dong " ckreek. Ibu dan Ayah kaget dan tersenyum sambil geleng gelang kepala.


" Pasti mau kamu kirim buat Nenekkan? " Tanya ibu yakin dan di aggukkan oleh Kak Amel


" Buat aku pamer juga tante. Gak Apa apakan? " Ibu hanya mengangguk den tersenyum, karena gak ngerti apa maksud Kak Amel


" Om terima kasih ya mau bantuin bawa koper dan jemput " kata Kak Amel saat melihat ayah memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil.

__ADS_1


" Iya sama sama. Selama di sini berati kamu jadi gadis anak Om juga. Jadi tidak perlu sungkan ya" Kak Amel sepertinya sangat terharu dengan dengan ucapan Ayah. Air matanya hampir saja lolos jatuh.


Saat kami dalam mobilpun Kak Amel selalu duduknya nempel sama aku. Dan lagi lagi mengambil beberapa gambar kami dengan ponselnya.


" Kamu cantik banget sih! Tante hamilnya makan apa sih. Ni anak cantik dan tinggi lagi" iya sepertinya dari waktu masuk SMA waktu itu, sekarang aku bertambah tinggi lagi. Itu aku tau karena celana lamaku banyak yang sudah ngantung.


" Kamu juga cantik Mel. tante juga bingung entah kenapa anak tanten pada tingginya semua"


" Seperti Ayahnya dong " Kata Ayah bangga karena kami memang seperti keluarga besar ayah yang tinggi tinggi.


Selama di perjalanan Kak Amel sempat main ponsel sebentar. Entah apa yang di lakukan dengan ponsel, mungkin mengirim gambar kami baut keluarga di kota J. Setalahnya kembali bertanya ini itu sama Ibu dan Ayah.


Aku pusing mendengar setiap jawaban dari Ayah dan Ibu. Karena semua jawaban itu tentang kelakuan kami berempat anaknya. Dan tanpa sadar akupun tertidur dengan sendirinya di mobil.


" Laura ayo bangun, kita sudah sampai " Kak Amel membabagunkan aku dengan lembut sambil mengoyangkan sedikit bahuku.


" Hah... Sudah sampai dirumah? " Aku kanget karena tau tau sudah dirumah aja. Aku langsung meraba sudut bibirku takut ada iler yang keluar.


Kak Amel yang memperhatikan aku tersenyum " Tenang aja kamu tidur gak ileran kok, malah cantik banget. Dan Kakak tadi juga mengambil beberapa gambar kamu" Aku hanya bingung tanpa mengerti kenapa gambar orang tertidur harus diambil


Kami masuk kedalam rumah, tentu saja dari depan rumah tadi sudah di sambut oleh tiga biang riweh dan ricuh. Mereka sangat senang ada orang baru lagi di antara kami, apa lagi orang ini adalah kelurga kami sendiri.


Kak Amel masuk kedadam rumah dan matanya menatap ke seluruh penjuru rumah sambil tersenyum.


Kak Amel tidak mau tidur di kamar yang kami sediskan. Maunya tidur satu kamar dengaku.


" Kak yakin mau tidur bareng di kamarku? Aku sudah biasa tidur dengan orang lain. Aku takutnya Kakak tidak nymanan"


" Gak masalah, Kakak sudah lama banget pengen punya adik perempuan. Akhirnya baru sekarang kesampaian " Terlihat Kak Amel sangat bersemangat dan aku gak ngerti kenapa. Setau aku punya adek cewe itu ribet banget banyak maunya. Seprti Mona yang selama selalu saja adu argumen dengaku.


Setelah ngobrol sebentar Kak Amel dan aku mandi. Kak Amel membereskan semua baju bajunya ke lemariku.


" Dek ini baju seperti masih baru semua, kanapa tidak kamu pakai? " Iya semua baju yang di belikan Oleh Elia belum ada yang aku pakai. Aku belum terbiasa dengan baju mahal, walau semua baju itu modelnya sama seperti baju yang biasa aku pakai.


" Iya Kak belum sempat aja " jawabku asal dan di balas dengan tatapan aneh dari Kak Amel.


Setelah berberes di kamar kami keluar untuk makan bareng.


" Wah... makananya bayak banget, ini semua makanan kesukaanku" Aku melihat Kak Amel bersemangat saat melihat hidangan di meja. " Tapi tante aku takut memakan ini semua, aku takut gamuk"


Aku dan adik adikku kaget mendengar perkataan Kak Amel


" Masak iya takut sama makanan yang kita suka " kata Mona sambil tersenyum dan geleng geleng kepala


" Berat Badan Kakak naiknya cepat banget kalau tidak di kontrol makan. Jadi walau itu makanan kesukaan Kakak tetep juga akan Kakak jaga " Sangat aneh dan di sayangkan kalau mau makan aja mesti mikir mikir menurutku.


" Kakak yakin tidak akan memakan ini semua" karena kalau Kakak tidak mau, aku dan adik adikku akan sangat senang menghabiskan semuanya

__ADS_1


" Laura nanya begitu, karena ini semua akan mereka habiskan " kami berempat sangat bersemangat saat ibu berkata begitu.


Makan siang hari ini terasa beda dari biasanya. Agak aneh karena ada orang yang menahan diri untuk makan. Sedangkan untuk kita, semua makanan yang di sediakan memang untuk di makan dan di habiskan.


__ADS_2