
Hari seninya Laura tetep masuk kerja seperti biasa. Saat kerja Laura melepas cicin tunangannya dan mengantungnya di kalung yang di pakai.
Lain lagi dengan Rangga yang sengaja mengumbar pada siapa saja yang di temui bahwa dirinya sudah bertunangan.
Bahkan tanpa di bilang pun orang akan tau. Kerena hampir setiap saat Rangga melihat jemarinya dan mencium cicin yang ada di jari manisnya. Sungguh sangat norak.
Berita tentang bertunangannya bos mereka langsung di dengar oleh semua karyawan, tak terkecuali tim Laura.
"Laura apa benar kabar itu?" tanya bu Ine
Laura menghembuskan nafas "Iya bu" balas Laura
"Kenapa kamu gak cerita" tanya bu Ine kaget.
"Tanpa aku cerita juga semua karyawan sudah tau bu" balas Laura sambil tersenyum kecut.
"Heheheh.... iya juga ya" balas bu Ine sambil tertawa.
"Begitulah bu. Satu sisi aku senang, satu sisi malu dan sedih bu"
"Kamu tidak perlu merasa malu, apa lagi sampai sedih. Kamu tidak merebut suami atau kekasih orang lain. Kami karyawan yang sudah lama kerja di sini cukup tau kisah tuan Rangga. Ibu sangat berharap agar kalian selalu bahagia." ucap Bu Ine tulus.
"Iya bu, terima kasih. Bu mungkin aku akan segera berhenti kerja".
"Iya itu sudah pasti. Ibu sudah bisa menduga itu. Tapi kami harap agar kamu tidak melupakan kami"
"Gak bu, itu tidak akan" ucap Laura pasti.
Saat akan pulang dari kantor Laura kembali memakai cicin di jari manisnya. Ini di lakukan karena Ia akan ke ruangan Rangga, dan pualang bersama.
Kedatangan Laura sudah di sambut oleh sekretaris Rangga.
"Silakan Nona, tuan Rangga sudah menunggu"
"Panggil Laura aja ya" pinta Laura
Sekretaris hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Begitu Laura masuk Rangga menutup dan mengunci pintu, hal itu membuat sekretarisnya tersenyum.
"Mas kenapa di konci?" tanya Laura heran
Bukanya menjawab Rangga malah langsung menarik Laura ke dalam pelukanya. Rangga mendekap Laura, seolah tidak mau berpisah walau sejengkal.
"Mas aku bau" keluh Laura, berharap Rangga melepaskan pelukanya.
"Gak sayang, kamu malah sangat harum. Jangan minta aku lepas, aku butuh morfinku" tegas Rangga.
__ADS_1
Ya, itu memang benar. Saat berdekatan dengan Laura Rangga bener benar merasa tenang, damai dan semua rasa sakit dan kecewanya di masa lalu seakan hilang tak tersisa.
Laura diam tidak meronta lagi, sambil tanganya mengelus lembut punggung pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya.
Cukup lama mereka dalam posisi berpelukan, bahkan seperti biasa Rangga akan menghirup aroma tubuh calon istrinya, setelah merasa cukup baru dia melepaskan.
"Mas sudah siap"
"Udah sayang, pekerjaan sih masih banyak. Nanti di lanjutan ams paman" jelas Rangga.
"Mas saat turun nanti jangan pengangan tangan atau yang lainya ya. Aku malu, dan kita juga belum sah. Aku gak mau orang berpikir jelek tentang kita"
Telak. Padahal niat awal Rangga memang ingin bergandengan tangan dengan mesra. Rangga ingin menunjukkan pada seluruh bawahanya. Bahwa ini adalah calon istrinya.
"Iya gak akan sayang" ucap Rangga lesu. Laura tersenyum mendengar kata Rangga yang terpaksa
Iya. Rangga selalu menghargai apa aja yang Laura katakan.
Setelah pamit pada Paman Edi. Mereka berjalan beriringan. Hal itu tentu saja mebuat siapa aja yang menatap menjadi iri.
Banyak desas desus para karyawan tentang mereka. 'Mereka sangat cocok tampan dan cantik, semoga mereka bahagia'
Ada juga 'Aku lebih cantik darinya, tapi kenapa tuan Rangga suka padanya, semoga aja mereka bahagia. Dia pake pelet apa sih, sampai pak Rangga mau' dan masih sangat banyak omongan lainya.
Baik Rangga maupun Laura tidak peduli dengan semua itu.
Rangga mengemudi dengan kecepatan sedang, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah pintu gerbang yang menjulang tinggi.
"Mas ini"
"Iya sayang, ini rumahku, dan nanti akan jadi rumah kamu juga" ucap Rangga.
Laura melihat suasana rumah yang sangat besar. Mungkin besarnya sama seperti rumah keluraga Elia. Tentu saja dengan desain yang berbeda.
Laura turun dari mobil setelah di bukakan pintu oleh Rangga.
"Ayoe silahkan permainsuriku" ucap Rangga sambil mempersilakan Laura masuk
"Apaan sih lebay" balas Laura sambil tersenyum.
"Assalamualaikum" ucap Laura sambil berjalan masuk
"Waalaikumsalam....silahkan masuk sayang" jawab bu Aisyah sambil mendekat dan memeluk Laura dengan penuh kasih sayang.
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
Mata Laura mengitari seluruh area ruang tamu. Dan matanya menatap lama foto keluarga Rangga.
__ADS_1
Hanya mereka bertiga yang ada di foto itu. Rangga adalah anak tunggal dari pasanga Riwdan Tapa dan Bu Aisyah Zivilia Parta.
"Kamu masih kerja, apa itu gak terlalu repot" tanya bu Aisyah.
"Iya bu, saya hanya kerja sampai minggu ini aja bu" jawab Laura
"Benarkah sayang. Aku senang banget" ucap Rangga yang sangat senang bila Laura tidak bekerja lagi
"Iya mas, tadi juga sudah ngomong sama bu Ine" balas Laura.
"Iya nak, itu memang yang terbaik. Apa lagi setelah nikah nanti, lebih baik kalau istri di rumah aja. Tapi kalau kamu tetep mau kerja ibu juga tidak melarang" jelas bu Aisyah
"Iya bu" jawab Laura.
Kepala ART (Asisten Rumah Tangga) membawa minum untuk mereka.
"Sayang, ini bi Ipah. Bi ipah sudah sangat lama tinggal di sini, bahkan dari aku kecil ya bu" ucap Rangga, meminta pemebenaran ucapanya pada sang ibu.
"Iya Laura bi Ipah sudah seperti keluarga bagi kita" lajut bu Aisyah.
Laura bangkin dari duduknya dan bersalaman. "Laura" ucap Laura ramah dengan senyuman Terbaiknya.
"Saya Ipah non" jawab bi Ipah.
"Iya Bi. Terima kasih untuk minumnya" balas Laura.
Setelah menyajikan minum bu Ipah kembali ke dapur. Apa lagi para bawahanya sudah menunggu dirinya. Mereka penasaran bagaimana rupa dan sikap dari calon istri tuan mereka.
"Ibu sudah ngomong sama ibumu, dan katanya kalian harus menyiapkan baju untuk akad, karena saat resepsi di sana nanti kalian akan memakai baju daerah" jelas bu Aisyah
Laura hanya mengiyakan saja. Karena semua itu pasti akan di siapkan oleh Elia.
Mereka ngobrol dengan santai. Tanpa terasa hari sudah magrip. Bu Aisyah memberikan perlengkapan sholat untuk Laura.
"Di kamar mas aja ya" tawar Rangga dengan senyum jahilnya.
Laura mengikuti langkah Rangga dari belakang. Saat melihat ke bu Aisyah, Bu Aisyah mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu gak usah gugup sayang, kita tidak akan kenapa napa kok. Ya...Paling satu aja hahaha" Ucap Rangga sambil tertawa.
Rangga membuka pintu. Laura menatap seluruh penjuru kamar.
"Cukup Luas, dan agak tertutup" jawab Laura sambil berdiri di depan jendela
Rangga memeluk Laura dari belakang.
"Nanti suasanya akan mas ubah. Atau kamu punya ide" tanya Rangga.
__ADS_1
"Mas saat nanti aku sudah jadi istri, aku akan senang di manapu, walau bagaimana pun tempat yang mas sediakan untukku. Asal kita tetap bersama " balas Laura.