
"Ternyata desa ini sangat indah ya, entah kapan lagi kita bisa menikmati suasana desa seperti ini" ungkap Deni.
"Tenang aja Kak, kalau pengen kesini Kak Deni bisa datang kapan aja, oh ya Kak masalah salah paham itu kapan kita akan jelasin sama Om Ahmad" tanya Elia
Bu Ririn dan Oma yang baru keluar setelah mendengar mereka pulang, tanpa sengaja mendengar ucapan Elia. Dan langsung menjelaskan kalau semuanya sudah beres dan sudah selesai, karena semalam Deni sudah menjelaskan smuanya. Jadi Oma, Lia dan kamu juga Laura tidak usah khawatir lagi.
"Emang iya, Kak Deni sudah jelasin ke ayah?" tanya Laura penasaran.
"Iya, semua sudah beres, dan walaupun Om marah, tapi sebenarnya masih percaya sama kamu. Tapi karena emosi mendengar cerita sebelah pihak makanya jadi marah marah" jeles Deni
"Syukurlah kalau semuanya sudah selesai, Oma jadi tenang. Pantes saja ya dari tadi pagi pak Ahmad tidak meminta penjelasan masalah Laura" uangkap Oma mengerti.
"Sudah hampir jam makan siang, ayo kita masak bersama" ajak bu Ririn.
Mereka masak bersama, dengan banyak macam menu, saat semua sudah berkumpul merekapun makan siang bersama. Selesai makan Elia dan Laura membereskan meja makan dan mencuci piring, Deni dan pak Ahmad ngobrol di teras, sedangkan adik adik Laura dikamarnya istirahat karena capek baru pulang sekolah.
"Om saya dengar di waduk ada banyak ikan, apa saya bisa ikut mancing disana" taya Deni
"Bisa, siap saja boleh mancing, paling bayar tiket masuk 20 ribu, kalau mau memancing nanti sore ajak aja paisal dan Dani" jawab pak Ahmad.
Menjelang sore, yang janjian mau mancing sudah siap siap. Deni sangat bersemangat dan berharap dapat banyak ikan, karena akan dibakar nantinya untuk makan malam.
Saat tiba waduk, suasana masih sepi sehingga mereka bisa pilih mau duduk dimana aja. Pancingpun dilempar, tidak butuh waktu lama ikan mengigit umpan mereka, Deni sangat senang karena tidak harus menunggu lama untuk dapat ikan, dan ikanya juga besar.
Di rumah para wanita sudah menyiapkan bumbu untuk ikan bakar, karena mereka yakin kalau yang mancing akan mendapat hasil.
__ADS_1
Setelah 2 jam lebih, yang memancing sudah pulang, dari jauh terlihat wajah bahagia mereka yang menandakan kalau mereka dapat hasil.
"Siapa yang dapat paling banyak? "tanya Elia penasaran
"Aku" ucap dani
"Tapi, ikan besar aku yang dapat. Seru banget, ini baru namanya liburan" ucap Deni tidak mau kalah.
"Sudah sana pada mandi, kalian semua bau amis" kata Oma sambil mengibaskan tangan biar mereka cepat mandi.
Para wanita pun bergegas membersihkan ikan dan membakarnya, setelah smuanya siap mereka pun sholat magrip berjamaah baru kemudian makan malam bersama.
"Kalau begini menu makannya, bisa khilaf sehingga lupa kalau sudah kenyang, dan akhirnya nambah terus" ucap Deni senang.
"Bagai mana rasanya makan ikan hasil pancingan sendiri" tanya pak Ahmad
"Ayah tanya sama Deni, bukan kamu" ketus ayah
"Rasanya luaar biasa Om, sangat menyenangkan dan nikmat, apa lagi ini pengalaman pertama saya Om" jawab Deni bahagia.
Selesai makan malam, seperti biasa mereka santai diruang tamu sambil ngobrol dan bercanda. Apa lagi Elia pasti akan meributkan apa pun dengan adik adik Laura, sehingga membuat yang lain tertawa.
"Om besok siang kami izin pulang, kasihan papa kalau Deni kelamaan libur, kemaren juga sedikit masalah diperusaan, semoga tidak bertambah buruk" jelas Deni sambil curhat tentang perusahaan
"Baiklah, hati hati dijalan. Dan semoga masalah perusahaan cepat selesai ya" jawab pak Ahmad yang memang tidak tau persis masalah apa yg terjadi pada perusahaan mereka.
__ADS_1
menjelang siang mereka semua siap untuk balik ke kota L, Laura juga ikut, karena urusan sekolahnya juga belum selesai semua. Ibu Ririn juga memberika banyak oleh oleh hasil kebun untuk di bawa, semua sudah siap mereka pun berangkat ke kota L.
"Liburan telah selesai, sangat banyak kenangan yang tercipta, semoga dilain waktu kita bisa kesini lagi" ucap Deni berharap
"Insya Allah saat liburan nanti kita kesini, tapi nginapnya satu atau dua minggu biar Oma puas bermain dengan Mona dan Rahmad" kata Oma bersemangat.
Banyak hal yang mereka bahas saat diperjalan, semua terlihat bahagia. Tanpa terasa mereka sudah sampai di kota L, di rumah hanya ada bu Andine karena tuan Alvin sedang bekerja.
Mereka menceritakan kalau masalah kemaren sudah beres, disana mereka bersenang senang. Ternyata tinggal di desa tidak seburuk yang mereka pikirkan. Di desa orangnya ramah, sopan dan baik, saling menolong dan membantu, sungguh menyenangkan.
Untuk makan malam bibi memasak hasil kebun yang mereka bawa dari kota B, selesai makan Deni ke kamar kerja ayahnya. Deni menceritan smua yang terjadi, termasuk pembicaraanya dengan pak Ahmad masalah Laura.
"terus kamu akan menyerah begitu saja, sedangkan Laura masih sendiri" tanya tuan Alvin penasaran.
"Tentu saja tidak ayah, Deni akan menyerah saat Laura mencintai orang lain, selama itu belum terjadi, Deni tetap akan berjuang" ucap Deni tanpa putus asa.
" Bagus kalau begitu".
"Oh ya, masalah perusahaan bagaimana, apa papa sudah tau apa penyebab produk kita tidak bisa di ekspor?" tanya Deni Khawatir
"Untuk saat ini produk kita lulus uji klinik disini, tapi untuk produk yang dikirim ke negara lain kita harus lulus uji klinik di negara itu dulu, baru produk bisa dikirim. masalahnya setiap negara standarnya beda beda, semoga tidak akan ada masalah, apa lagi bahan utama produk kita selama ini sangat berkualitas" jelas tuan Alvin.
"Semoga aja ya pah, tapi Deni masih kepikiran dimana yang salah, sampai sampai produk kita harus di uji ulang, padahal sebelumnya tidak ada masalah" ungkap Deni heran
Hari semakin malam, mereka beriap siap tidur. Deni masuk ke kamarnya, sambil tidur Deni terus teringat ucapan pak Ahmad, bahwa wanita dari kelurga istrinya itu unik, dan mereka mengenali dari tulang rusuk siapa mereka Allah ciptakan, karena mereka percaya bahwa isrti itu bagian dari tulang rusuk suaminya, apa iya seperti itu, apa aku benar bukan jodoh Laura, makanya dia tidak mengenalku sebagai seorang pria?. Kalau bukan aku, tapi kenapa jantungku selalu berdebar saat bersamanya.
__ADS_1
Sangat banyak pertanyaan yang timbul dalam pikiran Deni, tanpa sadar akhirnya dia tertidur dengan sendirinya.