
Makan siang pertama sebagai keluarga besar berjalan lancar. Setelah makan semua orang sibuk dengan kegitatan masing masing. Yang tingal di rumah hanya Laura dan Nenek.
Kesempayan ini di pergunakan Laura untuk melihat lihat isi rumah dan juga seluruh sudut taman.
Walau Ibu jauh dari kelurganya tapi mereka semua tidak pernah melupakan ibu. Hal ini membuat Laura terharu. Bahkan Kamar untuk ibu masih di siapan dan ada sampai sekarang. Dan kamar itu masih seperti dalam ingatan Laura kecil. Benar sekali kamar Ririn ibu Laura masih sama seperti saat dahulu ibu Laura tinggalin.
Dirumah Nenek sanggat banyak kamar, sudah seperti hotel saja. Itu semua sengaja Nenek siapin agar saat anak dan cucunya datang mereka punya kamar sendiri dan bisa lebih nyaman. Hampir semua kamar ukuranya sama, yang beda hanya kamar kami para wanita.
Setelah melihat seluruh area di dalam rumah Laura berjalan ke taman belakang rumah. Ada kolam renang walau tidak begitu besar. Di setiap sisi kolam ada tempat santai dan bangku. Beberapa meter dari area kolam ada taman, lebih tepatnya tanaman sayur sayuran dan tersedia juga gazebo yang sangat besar di tengah tengah tanaman sayur.
Karena lelah berkeliling Laura duduk di gazebo sambil menikmati sore hari. Suasana disini seperti di kebun ibu, bedanya ada kolam dan gazebo aja.
" Bagaimana kamu suka " aku meloleh ka arah sember suara. Nenek berjalan kearahku dan duduk di sampingku di ikutan oleh seorang pelayan yang membawa nampan berisi teh dan kue
" Suka Nek, ini seperti kebun ibu. Bahkan sayur yang yang di tanam juga sama " Nenek mendekat padaku dan meraih pundakku memelukku.
" Ini memang sangaja nenek buat sama dengan kebun Ririn. Ini ide Nenek dan Amel yang menata semua ini. Ini sekarang jadi kegiatan yang paling Nenek suka " Aku dapat melihat air mata sudah ada di kolopak mata Nenek. Nenek melihat ke atas agar air matanya tidak jatuh.
" Laura Nenek senang banget kamu mau datang dan tinggal disini. Akhirnya satu dari sekian banyak doa Nenek selama ini Allah kabulkan "
" Iya Nek Laura juga senang bisa ketemu lagi dengan nenek. Tapi Laura tidak ingat dengat sepupu yang lain " Aku menang tidak punya ingatan tenyang mereka
" Kamu yakin sama Hendra dan Riski tidak kamu ingat? " Aku hanya mengeleng " dulu Hendra dan Riski pernah ngerjain kamu sampai kaki kamu harus di jahit kerena kena beling "
" Laura gak ingat bagaimana kejadianya, tapi kalau telapak kaki Laura yang sakit Laura ingat nek " aku memang tidak tau apa penyebab sampai telapak kakiku sakit dalam waktu yang lama.
Banyak hal yang aku dan Nenek bicarakan. Aku sangat nyaman saat bersama nenek. Tanpa terasa hari sudah hampir magrip, dan kami pun masuk kedalam rumah.
Baru persis selesai sholat magrip ponselku berbunyi. Panggilan videocall dari Kak Deni. Aku menggeser tanda biru
" Ya Halo Assalamu'alaikum Kak "
" Wa'alaikumsalam, baru selesai sholat ya? maaf ya kalau Kak menganggu magrip magrip " Kak Deni melihat aku masih memakai mukena
__ADS_1
" Iya Kak gak apa apa. Laura juga sudah selesai. Mana yang lain Kak? Aku kangen "
" Ada, tapi kita ngobrol berdua dulu ya. Kalau yang lain ikut nanti Kak Deni malah terabaikan " Aku tersenyum karena apa yang Kak Deni katakan memang benar
" Kak kapan main ke tempat Nenek?, Elia kapan balik ke sini? " Aku dapat melihat kalau senyum Kak Deni semakin lebar karena pertanyaan aku
" Maunya Kakak langsung sekarang, karena sudah kangen banget sama kamu" Aku hanya tersenyum " kamu jangan senyum begitu Ra, bikin Kakak gemes dan pengen nyubit itu pipi dan bibir kamu "
" Ih... Kak Deni aneh. Sudah lama kita gak ketemu sepertinya Kak Deni tambah genit aja. Laura juga kangen am Kak Deni. Oh ya nanti Kak Deni kenalin Laura ama pacar Kakak ya, pasti pacar Kakak cantik dan seksi kan? "
Wajah Kak Deni terlihat berubah tapi aku cuek aja. Aku sengaja ngomong begitu agar Kak Deni sadar kalau aku tidak akan pernah mencintai Kak Deni sebagai seorang pria.
" Iya nanti Kalau sudah ada akan Kak kenalin. Kamu sendiri sudah punya pacar " Aku hanya menggeleng " kenapa kamu belum punya pacar? "
" Kak sampai saat ini belum ada lelaki yang membuat jantung Laura berdebar debar dan mengusik pikiran Laura. Mungkin jodoh Laura belum lahir Kak, atau memang sudah meninggal " Kak Deni mengerutkan kedua alisnya dan menyipitkan kedua matanya mendengar omonganku.
" Ra, kalau emang jodoh kamu seperti yang kamu bilang tadi. Kakak mau ya jadi jodoh kamu" Aku tertawa mendengar omongan Kak Deni hingga membuat muka Kak Deni seperti orang yang kebingungan
" Kapan kamu sampai sayang? kenapa gak bilang sama kami, biar bisa kami jemput " kata Oma penuh semangat
" Tadi pagi Oma sekitar jam 10. Laura sekarang jadi mainan baru Kak Amel, jadi kemana mana atau mau ngapain harus melaluai persetujuan Kak Amel. Aau!!!.... sakit " teriakku karena tiba tiba ada yang memukul kepalaku.
" Oma, Om, Tante, Deni, apa kabar? . Ini anak kalau ngomong asal aja, jadi harus di beri pelajaran " kata Kak Amel sambil menjewer telingaku di balik mekuna yang aku pakai.
Aku menjerit jerit karena kesakitan. Keluarga Kak Deni hanya tertawa melihat tingkah Kak Amel. Keluarga Kak Deni sudah sangat dekat dengan kelurga Nenek, Mereka sudah saling kenal dari sebelum aku berteman dengan Elia.
Banyak hal yang kami obrolkan, tentang Elia baru saja membuka butik di salah satu mall terbesar dan masalah lainya. Karena sudah saatnya aku turun untuk makan malam bersama keluarga panggilanpun kami akhiri.
Sambil berjalan turun ke bawah Kak Amel memberi petuahnya untukku " Ra, kalau kamu tidak memcintai Deni kamu jangan memberi harapan untuknya "
" Kak, Kak Deni tidak pernah secara langsung mengatakan kalau mencintai Laura. Gimana Laura mau nenolak, tapi di setiap ada kesempatan Laura selalu mamberi petunjuk kalau Laura menganggap Kak Deni itu Kakak lalaki Laura! " tegasku sama Kak Amel. Kak Amel hanya meganguk entah apa yang di iyakan dan dibenarkan olehnya.
Makan malam berlangsung santai dan agak lucu. Karena aku dan Brian selalu berebut makanan, semua yang melihat tingkah kita hanya tersenyum dan geleng gelang kepala.
__ADS_1
Setelah makan malam kami semua duduk di ruang keluarga. Ada dua telivisi dengan ukuran sangat besar salah satunya di pasangin PS4.
" Ra kamu bisa game? " Aku menggeleng " terus yang kamu bisa apa? " tanya Riski penasaran
" Yang dia bisa dan jago itu cuma makan " ucap Brian sambil tertawa
" Aku bukan cuma bisa makan aja, tapi aku juga bisa masak. Tidak seperti seseorang yang hanya bisa makan aja " sindirku yang di ikuti tawa semua orang yang ada di ruangan
" Hahaha... Kena lo, rasain emang enak si sindir am adik cewe " ucap Rian sambil menjulurkan lidahnya ka adik yang beda lima menit lahir setelan dirinya.
Aku bisa melihat semua orang sangat bahagia, mereka tertawa dengan lepas tanpa beban. Aku sangat penasaran apakah setiap malam mereka melalui hal ini.
" Sungguh sangat menyenangkan seandainya setiap malam kita lalui seperti ini " ucapku. semua terdiam dan melihat ke araku, Aku jadi bingung sendiri takutnya ucapkanku barusan salah
" Seandainya setiap malam kita lalui seperti ini. Kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia " kata Kak Hendra sambil terus memainkan game online di ponselnya.
Aku hanya diam karena tidak mengerti maksud dari perkataan Kak Hendra. Nenek bangun dari tempat duduknya dan duduk di sampingku sambil menggenggam kedua tanganku
" Sayang.... Apa kamu selalu berkumpul seperti ini dengan keluargamu di desa " Aku mengangguk sambil tersenyum " tapi di sini kita tidak bisa melakukan hal ini tiap malam, tapi Nenek akan berusaha agar hal ini akan sering kita alami mulai sekarang " Aku hanya tersenyum karena memang belum tau maksud dari kata kata Nenek.
" Ra, kehidupan di kota itu beda dengan di desa. disini kita semua punya jadwal yang sengat padat. Momen ini hanya baru kali ini terjadi di rumah besar ini. Inipun sudah kami persiapakn dua minggu yang lalu, karena ini dadakan semua jadwal lain di tempat kerja kami berantakan. Tapi kami sangat bahagia dan senang karena dengan adanya kamu hal ini bisa terjadi "
Jelas Kak Amel sambil mentapku dengan penuh kasih sayang. Aku tersenyum karena masih bingung harus menanggapi seperti apa ucapan Kak Amel barusan. Karena memang aku belum tau dan mengerti bagaimana orang kota besar itu hidup.
" Ra, santai aja jangan di pikirin, nanti juga kamu ngerti bagaimana kami hidup selama ini. Tapi semoga kamu tidak sesibuk kami ya" ucap Brian sambil terus dengan permainan gamenya.
Suasana yang tadinya tiba tiba dingin, kini terasa hangat lagi saat semua anggota keluarga mulai bercerita dan ngobrol dengan sambil santai dan menikmati cemilan.
Malam ini aku jadi banyak tahu kegiatan mereka. Semua sudah berkerja kecuali Riski yang masih kuliah. Hendra yang tidak lama lagi akan menikah sedangkan yang lain masih asyik pacaran dan belum ada yang di kenalkan ke keluarga yang berati memang belum ada yang serius.
Kak Amel sendiri adalah seorang janda. Suaminya kecelakaan dan meninggal setelah satu tahun mereka menikah.
Ini adalah pengalaman baru bagiku. Aku sangat bersyukur karena di manapun aku tinggal semua orang menyukaiku. Semoga aja hal ini akan terus tejadi di manapun aku tinggal nanti.
__ADS_1