
Karena hari ini sabtu Laura sangat malas untuk turun dari ranjang padahal hari sudah jam delapan pagi. Sarapan pagi tadi sengaja di lewatkan.
Apa begini rasanya libur kerja, maunya di tempat tidur aja sangat males untuk beraktifitas. Gumam Laura pada diri sendiri.
Tok, tok, tok
"Kakak masuk ya? " tanya Amelia di luar pintu. Tanpa menunggu jawaban Laura sudah langsung masuk aja.
Amelia melihat Laura masih meringkuk dalam selimutnya langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Laura
"Kak jangan, aku masih mau tidur" jawab Laura sambil berusaha mengambil selimut dari Amelia.
"Dasar ya tukang tidur, cepetan bangun. Kamu belum sarapan, bentar lagi Elia datang"
Laura kaget dan langsung lari ke kamar mandinya. Bisa bisanya dia lupa kalau hari ini ada janji sama Elia dan Kak Deni. Kalau Elia datang dia masih tidur gadis itu pasti akan ngamuk.
Selesai Laura mandi mereka turun ke bawah menuju ruang makan.
"Seperti aroma steak" ucap Laura sambil berjalan ke dapur. Dan benar saja nenek sedang memenggang steak di atas kompor.
" Baunya sangat enak Nek. Tapi tumbem jam segini Nenek masak steak?"
"Ini Nenek buat khusus buat kamu. Tadi kamu tidak sarapan kan? "
Laura sangat senang karena nenek membuat makanan kesukaan dirinya. "Ini sangat banyak Nek, paling Laura makanya tiga potong doang" ucap Laura yang melihat ada banyak potongan daging yang hampir mateng
Para ART yang mendengar kaget karena Laura bisa menghabiskan tiga potong steak tapi hanya mengatakan doang.
"Ini juga buat yang lainya. Kita makan bareng bareng" jelas nenek
"Bukanya tadi udah pada sarapan ya" tanya Laura bingung.
"Emang lo aja yang suka daging aku juga kali!" Ucap Brian yang tiba datang.
__ADS_1
Laura heran dengan sepupunya itu, padahal dia gak tinggal dirumah ini, tapi sekarang dia sangat sering melihat Brian di sini.
"Sejak kapan kamu disini?"
"Aku nginap semalam" ucap Brian sambil tanganya mengambil satu potong daging dan memakanya.
Ting tong ting tong suara bel pintu
"Coba buka kali aja Elia" perintah Nenek
Brian dan Laura ke depan. Benar saja Elia yang datang dan sudah masuk karena di bukain pintu sama Kak Amel.
Mereka semua menikmati makanan, di jam yang salah. Ini sarapan pagi bukan, makan siang juga masih lama. Kena jam baru menunjukkan jam sembilan tiga puluh pagi.
Walau tadi sudah sarapan di rumahnya Elia tetap makan bersama mereka. Saat sedang makan baik Elia maupun Hendra mereka saling mencuri pandang.
Elia datang menjemput Laura karena nanti malam Laura akan pergi bersama Deni ke pasta temanya Deni. Elia bercerita kalau pengantin wanita teman Kak Deni, dan pengantin pria juga teman Kak Deni saat kuliah dulu. Jadi nanti mereka di sana akan bertemu banyak orang yang mengenal Kak Deni.
Laura merasa di tidak nyman kalau harus bertemu dengan teman Deni, ia yakin kalau teman Deni semuanya pasti orang hebat dan berkelas. Sedangkan dirinya hanya wanita desa yang tidak mengerti apa apa.
Mereka sampai dirumah Elia dan sambut oleh Oma dan tante Andine sedangkan Deni dan papanya sedang berada di taman belakang rumah.
Merekan duduk sebentar dan ngobrol, Mereka juga bertanya tentang kerjaan Laura.
"Semaunya baik baik aja,Laura senang kerja di sana" jawab Laura yang memang begitu adanya.
Banyak hal yang mereka obrolkan dari masalah keluarga dan juga pekerjaan. Deni dan papanya juga ikut bergabung dengan mereka, mereka terlihat sangat bahagia dan seperti keluarga sesungguhnya.
Deni mentap Laura teruslah tersenyum dan tertawa seperti ini, karena bahagiamu juga bahagiaku wahai adik kecilku. Batin Deni sambil tersenyum bahagia.
"Kak aku takut, aku belum pernah datang ke acara seperti itu, yang ada nanti aku malu maluin lagi" ucap Laura yang masih saja kepikiran tentang acara orang kota yang belum pernah di datanginya.
"Sayang" ucap bu Andine sambil mengelus punggung Laura "dimana mana acara pesta itu sama saja, kita datang salamam sama pengantin, duduk sambil makan terus pulang" jelas bu Andine karena tau kalau gadis di depanya benar benar khawatir.
__ADS_1
Laura tidak setuju dengan omongan bu Andine "Tante acaranya party anak muda gitu, dan kata Elia pengantinya gak duduk dipelamina" jawab Laura hingga membuat yang lain tertawa semuanya.
Akhirnya Deni menjelaskan kalau acara ini santai, mereka hanya duduk santai dan ngobrol dengan pengantin seperti ngumpul bareng seperti biasa. Tamu yang di undang hanya teman dari kedua pengantin baik sudah berkelurga atau belum. Jadi ini bukan pesta muda mudi.
Walau sudah mendengar penjelasan tapi Laura masih saja khawatir. Ya mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya berkumpul dengan orang yang tinggal di Ibu Kota
Setelah makan siang bersama Elia langsung mengajak Laura ke kamarnya. Mereka harus istirahat sebentar sebelum akan di make up nanti, agar wajah mereka terlihat fress. Elia benar tertidur tapi tidak dengan Laura.
Jam sudah tiga sore lebih, Laura membangukan Elia dan dirinya langsung membersihkan diri di kamar mandi. Elia kaget karena sudah sore ia pun langsung bergegas dengan peralatan tempurnya untuk membuat sahabat yang sangat di sayangi menjadi cantik bak seorang putri.
Laura keluar dari kamar mandi kaget dengan semua peralatan yang ada diatas tempat tidur. Namun keterkejutannya hilang dan berganti dengan senyum saat melihat satu gaun dengan warna uanggu muda yang sangat cantik.
"Wau.... sangat cantik" ucap Laura dengan mulut mengangga karena kagum "Ini terlalu indah sayang kalau dikenakan, karena nantin akan kusut dan kotor"
Elia yang tadi sangat bahagia karena karyanya di sukai sahabatnya. Namun begitu mendengar omongan Laura sayang di kenakan karena akan kusut dan kotor ingin rasanya Elia membuka kepala Laura mencuci otaknya agar bersih dan tidak berpikiran salah lagi.
"Karena indah makanya harus di pakai biar bertambah indah" Dengan kesel Elia melepas jubah mandi Laura dan menyerahkan pakai dalam yang harus di pake oleh Laura.
Laura dengan bingung tetepa memakai pakaian itu sampai akhirnya "Lia ini talinya manan? aku takut nanti dia jatuh karena gak ada talinya" Mendengar omongan Laura ingin rasanya Elia membejek bejek itu cawe.
Ampun ini anak norak banget, walau di bilang norak atau kampungan Laura tetep kekeh tidak mau memkai apabila itu tidak ada talinya.
Karena tidak mu berdebat akhirnya Elia memasang tali bening agar tidak terlalu kelihata. Gaun yang di pakai Laura di bagian dada dan lengan di gunakan bahan brukat sutra yang tidak di lapisi jadi warna kulit Laura akan terlihat, akan sangat aneh bila wara tali branya terlihat jelas.
Setelah hampir dua jam Mereka akhirnya rapi juga. Elia kesel ini jadi lama karena Laura yang selalu protes padanya. Jangan warna ini, eh ini aja, ini terlalu tebal bla bla bla dan semuanya selalu di protes. Kalau tidak benar benar sayang ingin rasanya Elia menyerah. Bu Andine dan Oma yang melihat mereka hanya tertawa saja, walau sebenarnya mereka merasa kasihan sama Elia.
"Sudah rapi, sana turun. Aku mau mengatur emosi dulu" ucap Elia yang mengusir Laura dengan halus. Walau terlihat capek tapi ada rasa bahagia di senyumnya setelah melihat hasil karnya.
Sebelum turun Elia menyuruh Laura berpose dengan bermacam maca gaya. Laura hanya menurut karena tidak berani protes lagi "Ini jadi bayaran aku ya" Laura hanya mengangguk tidak mengerti. Elia tersenyum paus sambil mencium cameranya
Elia turun dari tangga dengan di gandeng bu Andine, Deni yang melihat dari bawah mulutnya mengangga terbuka karena kagum dengan kecantikan Laura yang seperti seorang putri.
Deni mendekat sambil menyerahkan satu tanganya degan anggun agar di sambut Laura sambil mengatakan "mari tuan putri" Dengan malu Laura malah memukul tangan Deni hingga jatuh lagi ke tubuhnya. Mereka yang melihat tertawa
__ADS_1
"Ra kamu sungguh sangaaat cantik. Seperti seorang putri" ucap Deni sungguh sungguh
"Iyalah aku memang sorang putri. Putri Pak Ahmad Sholeh" jawab Laura dengan muka merah karena malu dari tadi terus di puji.