
Setelah merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi dengan Melisa, Rangga pergi dari sana
" Man... aku cabut dulu ya, lain kali kita kumpul kumpul lagi " izin Rangga
" Perlu aku antar " tawar Rio yang merasa kalau Rangga sedang tidak baik baik saja.
" Gak perlu, ini tidak sesakit di hari aku tau semua kebenaran ini " ucap Rangga yakin sambil melihat sinis ke arah Melisa yang masih di sana.
" Oke... Hati hati ya, kalau ada apa apa hubungin kita" kata Evan.
Bagi Rangga kejadian malam ini memang tidak seberapa, dari pada di hari akan bertemu kelurga Melisa. Melisa malah pingsan karena hamil, padahal dirinya tidak pernah menggauli Melisa
Setelah Rangga pergi ke tiga temanya masih diam. Sambil mencerna dalam pikiran mareka sendiri apa yang Rangga alami. Rio yang sudah lama tau kelakuan Melisa jadi meradang.
" Selamat ya atas kehamilan lo, semoga lo tau siapa ayahnya dan bisa segera menikah. Tapi aku yakin kalau lo sendiri tidak tau siapa ayah dari anak ini " sindir Rio dengan muka yang terlihat jij** melihat Melisa
" Itu bukan urusan kau " teriak Melisa yang emosi. Karena semua yang Rio katakan adalah benar. Dia bahkan tidak kenal dan ingat dengan semua pria yang pernah Ia tiduri
"Aku gak nyangka, tega kamu nyakitin Rangga seperti ini. Kalian sudah lama pacaran. Rangga sangat mencintaimu " kata Evan
Agus hanya diam saja tidak mengatakan apapun. Agus meresa kalau Rangga pasti sangat terluka Walau tau Melisa keterlaluan tapi mulutnya tidak sanggup mengatakan apapun.
Melisa yang sedang sangat kacau tidak mau berlama lama disini bersama mereka. Karena dia tau kalau dirinya salah, tapi tidak ingin semua sabahat Rangga ikut menyerangnya.
" Aku permisai ya " pamit Melisa begitu aja
*****
Paginya di kota L
Sambil turun dari tangga Laura mencium harum wangi nasi goreng. " Tumben Bi pagi ini kita sarapan nasi goreng, wah cuminya banyak banget. Ini selera aku banget Bi" ungkap Laura saat melihat nasi goreng di meja makan
" Iya semalam Elia minta Bibi untuk memasak nasi goreng pagi ini " jelas Bibi
" Lia! Lia!...Cepetan, aku laper banget. Sarapan hari ini sangat enak " teriak Laura memangil Elia biar cepat turun sarapan bareng karena dirinya sangat lapar
Elia turun sambil tersenyum mendengar Laura memangilnya dengan suara yang sangat keras. " Kamu itu kalau melihat makanan enak pasti akan selalu lapar, walaupun baru selesai makan " kata Elia sambil duduk di meja makan. "Kamu udah rapi, emang masuk kuliah pagi hari ini? " Tanya Elia heran, karena semalam katanya jam 11 baru ada mata kuliah. Tapi sekarang malah sudah siap mau ke kampus.
" Masuk kuliah tetap jam 11 siang. Aku janjian ama teman kampus mau cari rumah kontrakan buat tinggal bareng " jelas Laura yang bikin Elia kaget
" Bukanya niat nyari kost? Rumah? Kenapa harus bareng teman" heran Elia
__ADS_1
" Kalau rumah kan pasti ada kamarnya, jadi kami bisa berbagi dan biaya kontrakan juga di bagi. Jadinya tidak berat. Dan aku milih rumah biar sekalian aku bisa belajar masak. Aku tukang makan kalau gak masak aku pasti akan sering kelaparan " jelas Laura yang panjang lebar, dan ujungnya takut lapar
Elia hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum. " Kapan ya kamu itu akan tidak suka sama makanan "
" Kayaknya aku akan selalu suka sama makanan deh " jawab Laura santai sambil terus menikmati nasi gorengnya.
" Syukurlah walau jago makan tapi Barat Badan kamu tidak gampang naik. Dan aku yakin kalau kamu cacingan "
" Aku gak peduli kemana semua perginya makanan yang aku makan. Selama mulut dan perutku puas akan ku isi terus "
Lia hanya tersenyum " Ayoe cepetan biar aku antar, aku juga mau keluar "
" Aneh rasanya kamu selalu sibuk sendiri belakangan ini. Emang kamu ngapain aja sih? " Taanya Laura yang penasaran. Karena bisanya Lia akan selalu mengekori diri.
" Entar juga kamu akan tau aku kemaja aja selama ini " jawab Lia santai
Saat di dalam mobil. " Kalian janjian dimana? "
"Di pombensin dekat kampus. Kita akan mencari rumah yang paling dekat dengan kampus dulu. Biar nanti hemat ongkos "
Saat sudah sampai Laura dapat melihat dua temanya sudah menggu. " Itu mereka, aku turun di sini aja. Kamu hati hati ya "
" Iya, nanti pulang kampus aku jemput ya kita nongkrong dulu. Kedua teman kamu itu kamu ajak juga ya "
" Iya. Mereka teman kamu jadi aku juga mau kenal sama mereka. Kamu keberatan? " tanya balik Elia
" Gak. Aku cuma nanya aja "
" Sampai nanti ya " kata Elia sambil melajukan mobilnya.
Laura melihat ke arah temanya sambil melambailan tangan dan berjalan mendekat
" Itu teman yang cerita kemaren, gila mobilnya keren bangat ya, pasti orang Kayakan? " Tanya Desi yang penasaran sama Elia. Yang di tanya diam aja
" Ayo cepetan entar keburu siang dan kita ke kampus " ajak Tuti yang gak mau nanti telat masuk kampus karena mencari kontrakan.
Akhirnya mereka berangkat. Ada satu rumah yang mereka lihat. Rumahnya bagus, besrih, nyaman. Tapi hanya dua kamar jadi tidak cocok untuk mereka
Mereka pergi lagi dan masuk ke kampung warga. Ada satu rumah kosong yang sudah lama di tinggalin pemiliknya, tapi terlihat angker.
" Capek juga ya nyari rumah, mana panas lagi " kata Desi yang terlihat kesel karena kelelahan.
__ADS_1
" Kita mampir dulu di warung ya, aku haus dan lapar " kata Laura
" Emang tadi pagi kamu gak makan. Baru jam segini kamu sudah lapar " tanya Tuti sambil melihat jam di tanganya 09.30
Sambil tersenyum Laura berkata " Sudah, tapi aku lapar lagi "
Akhrinya mereka mampir di warung sambil membeli minum. Laura juga membeli seplastik gorengan dan duduk di bangku sambil mengisi perutnya yang lapar.
" Habis ini coba kita di sekitar kampus. Semoga aja ada cocok, ternyata mencari kontrakan itu gampang ya " ungkap Tuti yang juga lelah.
Mereka Mulai jalan lagi sambil bertanya pada orang yang berjualan di pinggi jalan. Namun hampir semua orang mereka tanyai tidak tau dimana ada rumah yang akan di kontrakan.
" Untuk hari sudah dulu ya, besok kita cari lagi. Aku udah gak sanggup lagi " kata Desi
" Nanti coba kita tanya sama tukang kebun kampus kali aja bapak itu di mana rumah yang di kontrakin " Tuti
Saat mereka masuk dan kebetulan Pak Yana sedang menyiram tanaman.
" Permisi Pak Yana " Laura
" Iya ada apa Neng, ada yang bisa saya bantu " jawab Pak Yana ramah
" Gini pak, kami sedang mencari rumah satu untuk kami tempati bersama. Apa Bapak tau di mana ada rumah yang akan di kontrakin di dekat sini " tanya Desi
" Oh.. kalau rumah begitu di belakang kampus banyak Neng. Rame yang kuliah di sini mereka ngontrak disana rame rane " jelas Pak Yana.
Akhirnya mereka diantar Pak Yana melihat rumah yang di katakan tadi. Rumahnya cukup bagus, ada empat kamar, ruang tamu dapur, teras dan juga garasi mobil. Mereka sangat suka.
" Bagus Pak rumahnya dan besar lagi " kata Desi
" Iya benar Pak. Dan semua perabotannya juga lengkap. Kita tinggal bawa baju aja " jawab Laura
" Iya benar neng, rumah di kawasan ini memang di rata rata seperti ini. Karena di khususkan untuk mahasiswa sehingga perabotanya langsung di isi " jelas Pak Yana lagi
" Setahunya berapa Pak " tanya Laura.
" Kalau yang ini setahunya dua puluh lima juta " Pak Yana.
"APA! dua puluh lima juta! mahal banget pak " teriak Laura kaget.
" Emang segitu neng rata rata rumah di daerah ini. Mahal karena oleh warga sekitar di jadikan bisnis. Dan banyak peminatnya " Pak Yana
__ADS_1
" Iya Pak. Mahal banget menurut saya. Kami pikirkan dulu ya Pak. Mari Pak kita balik ke kampus lagi " ajak Laura yang langsung mundur dengan hormat begitu tau harga rumah pertahun. Walau mereka bagi tiga untuk Laura tetap juga mahal.