
" Sial, sial... Kenapa harus wanita Deni! " teriak Rangga frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
" Tidak, kali ini aku yang akan mendapatkanya. Wanita itu milikku " gumam Rangga pada diri sendiri
Kilas balik
Lima sekawan sedang berjalan di area sebuah kampus ternama di kota mereka. Ya mereka adalah Rangga, Deni, Evan, Rio dan Agus. Mereka berlima berteman, mereka merupakan teman satu kelompok saat Ospek dulu yang laki laki. Walau jurusan mereka berbeda tapi perteman mereka terus belanjanjut.
Dua tahun mereka berteman dan bahkan jadi sahabat. Mereka sangat akrab bahkan mereka mengenal kelurga masing masing. Selain dekat dengan Rangga Deni juga punya teman dekat yang satu jurusan denganya yaitu Arpat.
Saat di luar jam kampus mereka sering nongkrong berlima. Diantara mereka berlima yang wajahnya paling menonjol adalah Deni. Ya Deni memiliki wajah ayahnya yang merupakan wajah bule dengan mata biru tapi dengam warna rabut yang hitam.
Mereka berlima menjadi idola para mahasiswi karena ketampanan mereka, apa lagi Deni dan Rangga yang merupakan anak dari pengusaha terkaya yang membuat mereka semakin di gilai oleh kaum hawa.
Hingga suatu hari ada seorang gadis yang berhasil menarik perhatian Rangga dan hal itu di ketahui oleh para sahabatnya. Mereka semua mendukung Rangga karena memang gadis itu merupakan gadis tercantik di kampus mereka.
Namun entah apa yang terjadi pada akhirnya gadis itu memilih Deni untuk jadi kekasihnya. Saat Rangga bertanya gadis itu hanya menjawab Kalau Deni lebih kaya dan ganteng dari Rangga.
Karena hal inilah yang membuat persahabatan Deni dan Rangga jadi renggang dan pada akhirnya hubungan pertemenan berakhir begitu saja. Apa lagi mereka dari jurusan yang berbeda semakin membuat mereka jarang bertemu karena sibukan masing masing.
Sampai akhirnya kabar yang Rangga mendengar kalau Deni putus dengan gadis yang dulu di sukainya setelah tiga bulan kemudian. Setelah kejadian itu Deni terus saja bergonta ganti pacar. Namun setahun sebelum lulus Deni tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
Sedangkan Rangga menjalin cinta dengan seorang gadis untuk waktu yang cukup lama.
Kembali ke saat ini
Tok, tok, tok
" Masuk " ucap Deni yang baru sadar dari lamunnya karena suara ketokan pintu.
" Maaf tuan, ada teman anda di luar ingin bertemu " kata sekretaris Rangga
" Suruh masuk aja, saya memang sedang menunggunya " ucap Rangga penuh wibawa
Sekretaris mempersilahkan tamu untuk masuk dan dirinya ijin kembali ke meja kerjanya.
" Duh colon pengantin makin tampan saja " Ucap Rangga sambil berjalan dan berpelulan dengan sahabatnya, dan mereka duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja Rangga.
" Terima kasih ya. Kamu bahkan lebih tampan dari aku " jawab Agus.
" Iya benar tapi Deni segalanya lebih dari aku " ucap Rangga yang membuat Agus mengerutkan dahinya karena bingung.
" Kamu kenapa "
" Aku gak apa apa. Hanya keingat masa lalu aja" ucap Deni dengan pandangan mata kosong.
" Deni menganggu wanita kamu lagi. Pasti wanita yang di video itu kan!. Sudah lama sekali aku tidak melihat kamu tertarik pada wanita. Kalau kamu menyukainya berusahalah "
" Tidak. Wanita itu bukan wanitaku, tapi wanita Deni. Aku bahkan tidak menyenalnya tapi dia berhasil mengusik pikiranku. Bahkan aku baru tiga kali melihatnya, dan yang satu kali adalah kejadian di video itu "
__ADS_1
Hening sesaat. Rangga dengan pikiranya dan Agus sedang mencerna perkataan Rangga dalam otaknya.
" Tunggu! kamu menyukai wanita Deni yang bahkan belum kamu kenal " Rangga menganguk " itu gila man, tapi apa kamu yakin itu wanita Deni? "
Rangga memberikan benda pipih di mejanya ke Agus yang memperlihatkan gambar Deni dan Laura di sebuah taman dengan sangat mersa. Ya Deni dan Laura saling berpelukan, saling menatap dan terlihat mereka sangat serius.
Agus dapat melihat kalau Rangga sangat frustrasi melihat gambar itu. " Nga sebelum saksi mengatakan sah berati lo masih punya kesempatan. Kalau lo begitu menyukainya dekati aja, bila perlu rebut dari Deni. Seperti yang Deni lakukan am lo dulu " ucap Agus memberi semangat
" Tapi Deni lebih segalanya dari aku " ucap Rangga sendu dan terlihat tidak percaya diri bila berhadapan dengan Deni
" Nga, gak semuanya wanita menikah dengan pacarnya, coba aja dulu kenalan ama tuh cewe biar lo tau hati lo itu suka padanya atau tidak. Bisa aja persaan lo ini hanya perasaan tertarik biasa. Atau lo hanya merasa tertarik karena kesel sama Deni karena kejadian dulu "
" Kenapa gua jadi curhat sih, lo ke sini mau ngundangkan? " Rangga tertawa sendiri melihat kegilaannya yang menceritakan senuanya pada agus. Bercerita tentang wanita yang bahkan belum di kenalnya
Agus hanya tersenyum melihat tingkah Rangga. Dalam hatinya merasa senang karena Rangga masih mau membuka diri untuk wanita. Semoga wanita kali ini bisa membawa kebahagiaan untuk Rangga. Walau harus merebutnya dari orang lain.
" Iya aku mau ngundang dan juga mau minta lo jadi pendamping gua nanti. Ini acara yang di adakan keluarga jadi gua gak ngundang teman atau rekan kerja. Karena nanti aku am istri akan bikin aja party untuk kita yang muda muda tersendiri di sebuah kafe. Tapi gua butuh teman/pendamping saat acara akad dan acara keluarga nanti "
" Dan menurut Evan dan Rio gua cocok gitu? " tanya Rangga, Agus mangguk dan mereka tertawa bersama " Dasar mereka itu "
Di tempat lain
Deni dan Laura sedang makan siang yang hampir sore. Deni terus melihat ke arah Laura yang sedang dengan sangat lahap menikmati makananya.
" Ra sudah sangat lama Kakak tidak melihat kamu makan. Hanya dengan melihat kamu makan Kakak sudah kenyang "
"Aih... Kakak sudah seperti ibu aja yang selalu bilang begitu setiap kami makan. Ayo Kakak makan juga " Deni mengeleng, karena memang benar benar tidak mau makan, perasaan di tolak masih memenuhi pikiranya.
Laura tetep mamaksa Deni untuk makan, bahkan Laura menyuapi Deni dengan tanganya. Deni tidak bisa menolak suapan demi suapan yang Laura berikan. Sampai akhirnya semua makanan mereka habis.
Tanpa mereka sadari niat baik Laura menyuapi Deni di abadikan sebagian orang dan mempotingnya di media sosial.
Laura tau kalau Deni tidak baik baiknya makanya Laura melakuhan hal itu.
Selesai makan mereka ke rumah Deni. Sudah sangat lama Laura tidak bertemu dengan mereka.
" Kak, penampilan Laura giman? " Deni melihat Laura sedang tersenyum dengan mimik muka yang berbeda.
" Kamu itu mau ketemu papa dan mama, bukan ketemu mertua! kenapa kamu terlihat sangat grogi? "
" Kak Laura sudah sangat lama tidak bertemu mereka, Laura ingin memberikan kesan yang baik dan anggun. Sekarang kan Laura sudah jadi anak kota jadi harus gimana gituu... " Jawab Laura dengan sedikit genit
" Whahahaha....Iya ya, Kak Amel pasti sudah mengajari kamu banyak hal " ucap Deni sambil tertawa dan tanganya mengelus kepala Laura.
Kak walau Laura tidak bisa mencintai, Laura akan selalu membuat Kak Deni tertawa saat bersama Laura. Hanya ini yang bisa Laura lakukan untuk membelas semua kebaikan Kakak. Walau harus bersikap konyol sekalipun. Batin Laura yang sangat bahagia bila melihat Deni tertawa.
" Udah puas tertawanya? ada yang lucu? " tanya Laura sambil memajukan bibrinya. Deni yang melihat itu tanganya langsung terangkat untuk mencubit. Laura tau itu akan terjadi langsung saja menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Akhirnya mereka tertawa bersama
" Sudah sampai. Ini rumah kita disini " ucap Deni saat tiba di depan pintu gerbang sambil menunggu pintu di buka
__ADS_1
" Serius Kak gedee banget " dengan mulut melongo melihat luasnya tanah dan besarnya rumah kelurga Deni. Deni hanya tertawa melihat tingkah Laura, hal ini memang seperti yang dia bayangkan.
Dari dalam mobil Laura dapat melihat betapa wau nya rumah ini. " Ayo " Deni mengajak Laura turun dari mobil. Laura hanya diam saja.
" Kamu benar benar terlalu sepurna Kak, ganteng, kaya dan sangat baik" gumam Laura saat tinggal sendiri di dalam mobil
Tok, tok
Deni mengetuk kaca pintu mobil agar Laura kelaur. Laura membuka pintu dan keluar, matanya menatap ke arah pintu yang menjulang tinggi dengan mengah.
Deni mengandeng tangan Laura dan masuk bersama
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam " jawab kepala asisten rumah tangga yang memang sudah menunggu mereka di depan pintu.
" Mereka di mana Bi? "
" Ada di ruang makan tuan "
" Ruang makan? bukanya ini masih sore "
Deni terus berjalan dengan tetap mengandeng Laura.
Deni heran karena saat mereka di ruangan makan tidak ada orang, sepi. Sayup sayup mereka mendengar suara orang dari belakang rumah, merekapun berjalan ke halaman belakang
Baru satu langkah kaki mereka menapak halaman tangan Laura ada yang menarik. Laura kaget dalam waktu singkat tubuhnya sudah berada dalam pelukan orang lain.
Laura kaget tapi tidak memberontak karena Laura mengenal oroma tubuh ini, tubuh yang sangat di rindukan. Tanpa terasa Laura sudah menangis sendiri sambil terus mengeratkan pelukanya " Aku sangat rindu, kamu jahat gak datang kerumah Nenek jemput aku " ucap Laura sambil melepaskan pelukanya dan
Auuuuwww!!
Teriak Laura sambil mendorong tubuh yang tadi di peluk sampai terjatuh di rumput, dan Laura berlari ke arah Deni dan memeluknya dengan sangat erat karena ketakutan.
" Hai gadis jelek ini aku " ucap Elia sambil tertawa dan di ikuti oleh yang lain yang memang duduk tidak jauh dari mereka.
Laura mengintip ke arah suara yang di kenalnya. Dan benar itu suara sabahatnya tapi tidak dengan mukanya. Laura melihat sekitar dan tidak jauh dari sama ada kran air dan selang untuk menyiram tanaman. Akhirnya Laura punya punya niat jahat terhadap sahabat yang sudah mengerjainya
" Ini... Rasakan ya " ucap Laura sambil menyalakan kran dan mengarahkan air yang keluar ke arah Elia. Elia kaget dan menjerit jerit sambil melompat lompat sehingga membuat semua orang yang ada di dalam rumah keluar untuk melihat mereka.
Laura juga menyiram Deni yang berdiri tidak jauh darinya. Deni dan Elia juga tidak tinggal diam mereka berlari ke arah Laura sambil menghindar semburan air yang di arahkan ke arah mereka.
Deni dengan mudahnya merebut selang dan mengarahkan ke arah Laura. Jadilah mereka bertiga bermain perang perangan air sampai baju mereka basah kuyup.
Oma, tuan Alvin dan bu Andine hanya tertawa melihat mereka bertiga. Para pelayan kaget melihat tuan mudanya yang biasa pendiam dan dingin ikut bermain air seperti anak kecil.
Tuan Alvin memberi kode sama mereka untuk meninggalkan area taman. Merekapun pergi dari sana.
" Akhirnya rumah ini rame lagi " ucap Oma dengan muka sangat bahagia
__ADS_1
" Iya benar bu. Setelah sekian lama baru hari ini melihat Deni bersikap seperti anak kecil " ucap bu Andine
" Melihat mereka seperti itu membuat kita sangat bahagia " kata tuan Alvin