Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
44. Pria aneh


__ADS_3

Hari berlalu terasa sangat lambat. Di rumah semua orang sibuk dengan kegiatan masing masing. Setiap hari hanya Aku dan nenek yang tinggal di rumah berserta para pekerjaan.


Aku dan Nenek banyak menghabiskan hari dengan berkebun. Kadang kami juga memasak bersama. Aku juga senang dengan kegiatan baruku sekarang


" Sayang, kamu yakin mau kerja " tanya nenek saat kita sedang duduk setelah memanen banyak sayur.


" Iya Nek. Bahkan Laura melamar di salah satu perusahaan di sini " jawabku. Yang memang benar aku sudah mengirim lamaran kerja, dan berharap agar aku di terima.


" Kenapa gak kerja di rumah sakit kita aja "


" Gak seru Nek kerja di tempat sendiri. Laura juga kerja biar gak bosan aja di rumah. Rasanya aneh saat yang lain sibuk sedangkang Laura gak ngapa ngapain "


"Kata siapa kamu gak ngapa ngapain, kamu temenin Nenek dan ikut kerja di kebun bareng nenek" Aku tertawa mendengar kata kata Nenek


"Iya benar Nek, malah yang paling capek dirumah ini karena berpanas panas demi memetik sayur " Nenek ikut tertawa mendengar omonganku.


" Duh yang di rumah aja seru banget sampai ada orang di sini tidak kelihatan " Kata Kak Hendra yang sudah berada di depan kita. Entah sudah berapa lama Kak Hendra ada disini.


" Tumben kamu pulang jam segini. ada yang ketinggalan? " tanya Nenek


" Gak Nek. Aku sengaja pulang mau ngajak Laura ketemu ama Susi. Bolehkan Nek Hendra pinjam Laura sebentar "


"Pinjam! Kamu kira adik kamu barang " kata nenek sambil tersenyum


" Emang Susi itu siapa Kak? " tanyaku penasaran


" Itu calon istri kakakmu. Orangnya baik dan cantik " Aku tersenyum melihat kak Hendra dan Nenek.


" Ra cepetan siap siap. Aku mau ngasih kejutan buat Susi " Kak Hendra terlihat sangat bersemangat


Aku masuk ke dalam dan bersiap siap. Tiga puluh menit aku turun


"Kak Aku sudah siap "


" Cepat banget " Kak Hendra kaget karena aku rudah rapi. Mata Kak Hendra menatapku dari ujung kaki sampai kepala, aku sampai bingung sendiri di lihatin seperti itu " Tapi kamu tatap cantik sih, jadi tidak apa apa ayo " ajak Kak Hendra yakin setelah melihat penampilanku.


Aku bingung sendiri karena gak ngerti maksud Kak Hendra. " Penampilanku norak ya Kak " tanyaku saat kami sudah di dalam mobil


" Gak, pakaian yang kamu pake bagus dan berkelas. Kak cuma heran karena kamu tidak merias wajah kamu seperti kebayakan cewe "


" Ini semua sudah ada di lemariku Kak, aku cuma tingal pake aja yang aku suka. Apa kalau aku tidak memoles wajahku itu terlihat aneh? Aku bukanya gk mau kak, tapi aku gak punya alat rias dan ngak gerti gimana caranya "


mendengar jawabanku Kak Hendra malah tertawa terbahak bahak. " Kamu serius ? "


" Iya Kak aku sangat serius. Dulu Kak amel pernah beliin aku, karena gak pernah aku pake jadi ku kasih aja buat temanku "


" Menurut Kak sih gak masalah, karena kamu sudah cantik " Aku tersipu malu.


Aku gak tau kemana kak Hendra mebawa aku. Jalan yang kami lalui cukup ramai tapi tidak macet.

__ADS_1


Mobil masuk ke kawasan sebuah mall. Aku tau karena ada tulisan di dinding mall itu. Aku diam aja tidak bertanya apa apa.


" Ayo turun kita sudah sampai " terlihat agak sepi, Apa karena masih pagi. Aku berjalan ngikutin langkah KaK Hendar.


Kak Hendra mulai mengandeng tanganku. Aku menatap Kak Hendra dengan bingung tapi Kak Hendra diam aja. Kami terlihat sangat mesra, kalau orang lain melihat kami seperti pesangan kekasih.


Aku cukup bingung dengan sikap Kak Hendra. Kami hanya keliling aja tanpa mampir ke toko untuk melihat lihat atau mampir ke restoran untuk makan. Padahal Aku sudah lapar.


Ponsel Kak Hendar berbunyi dan mengangkatnya. Aku hanya Mendengar kalau Kak Hendra mengatakan sedang di kantor. Aku hanya menatap bingung Kak Henda tanpa bertanya apa apa.


Karena sudah hampir satu jam berkeliling aku jadi pingin ke toilet. Aku izin dan di antar Kak Hendra sampai depan toilet.


Setelah selesai dengan kegiatanku aku keluar sambil melihat ke bawah. Tanpa sengaja aku menabrak seorang


Brukk


Karena tubuh yang aku tabrak berdiri dengan tengap dan Badany kekar membuat badanku mental kebelakang. Aku hanya menunggu badanku jatuh kelantai sambil memejamkan mata. Tapi hal itu tidak terjadi.


Dalam waktu sekian detik ada yang menarik pinggangku dengan sangat kuat sehingga untuk kedua kalinya badanku bertabrakan dengan badan kekar itu. Mukaku pas banget dengan dagunya kalau di lihat dari jauh pemilik badan seperti sedang mencium kecingku.


Aku mengkat sedikit wajahku mata kami bertatapan dan jantung berdebar debar, aku sangat ketakutan karena hampir saja jatuh. Tangan itu terus manarik badanku hingga menempel padanya dan secara berlahan wajahnya mendekat ke arah leherku, seperti sedang mengendusku.


Aku yang baru tersadar dengan situasi langsung memberontak


"Akhh... Lepas " Aku mendorang dadanya dengan kedua tanganku tapi tidak berhasil, hidung itu terus mengendusku membuat aku sangat ketakutan. Tidak berhasil dengan mendorong dadanya kedua tanganku berusaha melepaskan tangangnya yang terus memeluk pinggangku.


" Lepaskan! Dasar pria aneh. Lepaskan! " Aku sedikit berteriak " Pak tolong aku " pintaku pada pria paruh baya yang berdiri di samping, jangankan menolongku menoleh saja ke arahku tidak.


" Aku tidak ngapa ngapain wanita ini! dia yang menabrakku duluan. Kalau aku tidak memengang pianggangnya mungkin dia sudah jatuh terlentang di lantai " ada penekanan di awal perkataanya. Aku melihat wajah pria itu mengeras dan memerah seperti orang yang sedang menahan amarah.


" Apa itu benar Ra? " Aku menganggung sambil menyembunyikan wajahku di dada Kak Hendra. Aku ketakutan melihat wajah pria itu.


" Ma... Maaf.... Aku gak sengaja " ucapku terbata bata karena takut masih dengan muka di dada Kak Hendra.


Pria itu pergi begitu saja tanpa mengindahakn permintaan maafku. Aku yang sedang ketakutan masih di dalam pelukan Kak Hendra.


" Kak Aku takut " Kak Hendra mengelus ngelus punggungku perlahan sambil terus menengkan Aku.


Begitu aku sudah agak tenang Kak hendra membawa aku sebuah restoran. Untung saja pengunjung tidak begitu rame sehingga kejadian tadi tidak menjadi tontonan gratis untuk orang ramai.


" Ra kamu gak apa apa? maafkan Kakak ya, tadi ada keperluan makanya Kak tinggal sebentar " terlihat wajah khawatir Kak Andre


" Iya Laura baik baik aja. Siapa kak pria tadi? Dia aneh Kak "


" Sepertinya Kakak pernah melihat pria itu tapi Kakak lupa dimana. Maksud kamu dia aneh bagaimana? " aku bingung harus menjawab apa karena aku tidak mungkin bilang kalau pria itu mengendusku.


" Gak Kak aneh aja. Dia tadi memengang pinggangku sangat kuat sehingga aku kesakitan " Alasanku


*****

__ADS_1


Disisi lain


" Akhk.... Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa dia begitu mengangguku. Paman cepat cari tau tentang dia dan siapa pria yang bersamanya " muka Rangga sangat merah karena menahan amarah, dadanya sangat sakit dan jatung terus berdebar debar


" Iya Paman sudah menyuruh orang kita mencari tentangnya dengan mengirim fotonya. Kamu itu kenapa Rangga ? sikap kamu itu tadi sangat aneh. Tidak biasanya kamu seperti ini "


" Aku sendiri tidak tau Paman. Wanita itu seperti magnet yang terus menariknya ke arahnya, dan aku sangat ingin menempel padanya " jawaban Rangga malah membuat Paman semakin bingung " Ayo kita balik ke kantor, kalau lama lama disini aku bisa gila " Ucap Rangga dan langsung pergi.


" Ra kamu beneran tidak apa apa? "


" Iya Kak. Aku baik baik aja. Tadi cuma takut aja karena orang asing memegang tubuhku " mendegar jawabanku Kak Hendra terlihat lebih tanang.


" Kak Emang kita ketemu sama Kak Susinya disini? " tanyaku heran. Karena menurutku biasanya orang berkenalan dengan keluarga itu di rumah.


" Kita disini aja, nanti dia juga akan kesini " jawab Kak hendra cuek. Dari jauh aku melihat seorang wanita cantik berjalan ke arah kami dengan sengat terburu buru


" Hei gadis tidak tau diri, beraninya ya kamu dekat dengan calon suamiku " wanita itu mencolek bahuku dengan muka terlihat jiji. Aku bingung dan menatap ke arah Kak Hendra, yang di tatap hanya mengangkat kedua bahunya seolah tidak tau apa apa..


" Maksudnya " tanya dengan wajah bingung


" Ini buktinya " jawabnya sambil memperlihtakan video kejadian tadi di depan toilet. Jantungku kembali berdebat debar karena takut.


" Kamu wanitanya! jangan mimpi ya! " ucapnya dengan emosi


" Yang bilang saya wanitanya itu dia " tunjuku pada Kak Hendra " kenapa anda bertanya pada saya. Kalau memang dia calon suami anda tanya aja sendiri Padanya. Saya tidak punya urusan dengan anda. Dan perlu anda tau kalau dia memang pria saya " wanita itu terlihat panik dan mendekat pada Kak Henda.


Kak Hendra tersenyum padaku sambil memberika jempolnya padaku, dan memberi kode padaku *Kakak tinggal sebentar, kamu pesan aja dulu makanyanya ya * Aku mengangguk dan tersenyum


Apakah itu Susi, calon kakak iparku? sepertinya tidak sebaik seperti yang nenek bilang. Cantik juga tidak terlalu sangat tidak cocok dengan Kak Hendra. Batin Laura sambil melihat mereka menjauh karena sepertinya ada hal serius yang harus mereka bicarakan.


Aku memesan makanan yang aku suka. Sampai pesananku datang bahkan sampai aku menghabiskan makananku Kak Hendra masih aja sibuk ngobrol dengan calon istrinya.


Hari ini hari yang sangat aneh bagi Laura. Niat bertemu dan berkenalan dengan Kakak ipar yang terjadi malah di omelin tanpa di kenalkan. Dan yang bikin kesel malah bertemu dengan pria aneh. Dan lebih aneh lagi pria itu berhasil membuat Laura tidak nyaman.


" Kak kenapa jadi begini? katanya mau di kenalin tapi yang ada aku malah di omelin dan terkesan seperti selingkuhan Kakak aja. Oh ya video tadi yang sama Kak Susi aku minta ya Kak " wajah Kak Hendra terlihat sangat kusut.


" Iya Kakak juga gak tau kenapa bisa jadi begini. Susi terlalu cemburu dan suka mengatur, itu membuat Kakak ragu untuk menikah denganya. Tadi aja Kakak sudah jelasin siapa kamu tapi Susi tidak percaya dan dia tetep dengan pemikiranya sendiri " terlihat keraguan di wajah Kak Hendra.


Posel Kak hendra berdering, saat Kak hendra mau mengangkat " Kak menepi dulu, jangan menerima panggilan saat menyetir " KakHenda menurut omonganku dan menepi. Melihat pesan yang masuk dan memandangku, lalu keluar untuk berbicara.


Aku bisa melihat Kalau Kak Hendra terlihat sangat frustasi, beberapa kali Kak Hendra menjabak rambutnya sendiri dan melihat ke arahku dengan wajah yang sulit di artikan


Lima belas menit berlalu. Aku masih duduk tenang di dalam mobil. Wajah Kak Hendra juga terlihat lebih tenang. Kak Hendra tersenyum ke arahku sambil berjalan masuk ke dalam mobil.


" Ada Kak? sepertinya serius banget "


" Ra ponsel kamu mana? " Aku bingung dengan pertanyaan Kak Hendra tapi tetep memberikan ponselku pada Kak Hendra


" Kok ngak nyala " Kak Hendra hendak membuka ponselku tapi gak bisa.

__ADS_1


" Mati kali Kak " jawabku santai. Karena itu sangat sering terjadi ponselku mati dengan sendirinya


__ADS_2