
Kalau di meje Deni dan Laura mereka tertawa bahagia, lain dengan di meja Rangga. Mereka terlihat sangat bosan apa lagi di meja itu hanya mereka bertiga. Evan dan Rio berulang kali mengajak Rangga pindah meja tapi tetep saja Rangga tidak mau.
"Kenapa kamu gak mau pindah? apa kamu gak nyaman ketemu sama Deni?. Ayolah, itu sudah sangat lama, lupakan saja." Evan terlihat kesal karena Rangga tidak mau pindah.
"Kalau mau pindah, ya udah sana pergi. Dari lo berisik aja" ucap Rangga yang kesel karena dari tadi Evan terus ngoceh nyuruh dirinya pindah.
Evan nyerah, ia pergi dari meja dengan alasan mau ngambil makanan. Benar saja tak begitu lama Evan kembali dengan makanan di tanganya, dan dua orang wanita yang sangat cantik ikut denganya. Rangga Rio hanya tersenyum melihat tingakah sahabatnya.
Meja Deni penuh dengan makanan, Henda dan Deni bolak balik mengambil makanan untuk wanita mereka.
"Hai semuanya, selamat menikmati ya" ucap Agus dan Regina hampir berbarengan.
Agus mendekat ke arah Deni bersalam dan berpelukan "Terima kasih ya sobat sudah mau datang" Deni membalas pelukan Agus dengan erat ada rasa haru dalam hati Deni begitu juga dengan Agus.
"Sudah ah pelukanya" ucap Regina sambil menarik lengan suaminya "Ini pasti Laura kan? ya ampun kamu cantik banget sayang, pantes saja ya Deni gak mau jauh dari kamu" sambung Rengia sambil memeluk Laura. "Elia, dokter amel" sapa Regina sambil memeluk mereka bergantian.
Laura menatap Deni dengan tajam, Deni yang melihat tatapan Laura hanya tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya. Agus memperhatikan interaksi mereka berdua dan tersenyum ke arah Deni.
Setelah menyapa mereka semua kedua pengantin pamit untuk menyapa tamu yang lain.
Deni bertanya pada Kak Amel siapa yang mengundang, karena kalau tau lebih dulu mereka bisa berangkat bareng. Regina pasien Amelia, bahkan mereka sudah seperti sahabat.
Puas menikmati makanan Laura pamit mau ke toilet, Deni ingin menemani tapi di larang oleh Laura.
Laura berjalan dengan pelan ke arah toilet sambil matanya melihat betapa indahnya tempat ini sambil tersenyum senang. Laura masuk ke dalam, setelah melakukan ke inginanya Laura mencuci tangan sambil melihat penampakan gaunya. Merasa semuanya beres Laura keluar.
Bukankah itu dia. Sangat gagah dan tampan. Batin Laura yang tanpa sadar dirinya sudah mendekat pada Rangga. "Tuan" pangil Laura yang berdiri di samping Rangga.
Rangga berbalik
DEGGG
Jantung keduanya berdebar seakan ingin melompat keluar.
"Tuan yang waktu itu kan?" tanya Laura sambil tersenyum ramah
Rangga hanya diam di tempatnya dengan muka yang datar karena terkejut. Dari tadi dia menghindar tapi sekarang gadis itu malah memangil dan sedang tersenyum cantik padanya. Ini di luar perkiraanya.
"Iya saya yang waktu itu. ada masalah?" Laura tercekat mendengar kata kata Rangga. Melihat keterkejutan di wajah Laura, baru Rangga sadar kalau katanya barusan terlalu ketus.
__ADS_1
"Gak ada masalah, saya cuma senang akhirnya kita bertemu lagi" ucap Laura ramah sambil terus tersenyum karena bertemu dengan pria yang sempat mengusik pikiranya.
Tanpa mereka sadari dari jauh ada yang memperhatikan mereka berdua.
"Maaf kalau tadi saya agak ketus. Kesini sama siapa?" Laura dapat melihat raut wajah menyesal Rangga, Laura mengangguk dan tersenyum.
"Saya kesini bersama keluarga, kalau tuan?" ucap Laura sambil terus menatap intens wajah Rangga. Yang di tatap jadi salah tingkah.
"Saya sama teman. Kalau begitu saya permisi" ucap Rangga sambil berlalu meninggalkan Laura sendiri.
Di meja Deni
"Lhoh Laura mana?" Tanya Amelia sama Deni. Karena katanya tadi mau nyari Laura tapi kok malah balik sendiri.
Deni hanya diam saja tidak menjawab, mereka ber tiga tau pasti ada yang terjadi di belakang. Tak lama Laura datang dengan wajah bersemu dan senyum cerah.
"Lo ketemu pengeran di toilet?" Tanya Elia asal
"Lah kok kamu tau" jawab Laura dengan muka merah karena malu
Mereka ber tiga bingung dengan sikap Laura, Deni yang sudah tau penyebabnya hanya diam saja. Elia dapat melihat rekasi Deni dan sudah bisa menebak kalau ini pasti ada hunganya deang Kak Rangga.
Dengan wajah berseri seri "Aku tadi bertemu pria itu" ucap Laura sambil mengenggam tangan Elia. Elia tau Laura gugup karena tanganya sangat dingin. "Dia sangat tampan dan gagah"
Hendra ingin menyela tapi di halang oleh Elia dengan menutup mulut hendra dengan telapak tangnya.
"Terus kalian kenalan" tanya Kak Amel yang sangat penasaran
"Gak kak, kita gak sempat kenalan. Seperti pria itu buru buru" ucap Laura sambil matanya mengitari seluruh ruangan tapi yang di cari tidak ada juga. Wajahnya terlihat kecewa.
"Ra kamu kecewa karena tidak sempat berekenalan?" tanya hendar dengan sangat kesel.
Elia berusaha Menenangkan Hendra.
Sadangkan Rangga hanya diam saja di tempat duduknya sambil terus menatap ke arah Laura.
"Kenapa wajahnya terlihat sangat senang saat melihat aku, tatapanya yang selalu melihat wajahku. Kalau tadi aku tidak segera pergi, bisa bisa aku akan menggila dan memeluk tubuhnya. Hari ini dia sangat cantik bahkan dia adalah gadis tercantik di pesta ini" Arrrggh Rangga marah sama dirinya sendiri karena menyukai wanita temanya.
"Kamu kenapa?" tanya rio yang melihat sikap Rangga yang lebih aneh lagi dari tadi.
__ADS_1
Acara berlangsung dengan lancar. karena sudah jam sepuluh lebih, para tamu sudah mulai pamit begitu juga kelompok Deni. Laura malam ini nginap di rumah Elia.
Esok paginya di rumah Deni sudah heboh, Bu Siti (Oma) begitu penasaran tentang acara para cucunya semalam.
Laura menceritakan semua kemewahan acara dan juga makananya yang sangat enak. Dan Laura juga mengatakan Kalau Elia pergi dengan Kak Hendra. Dan mereka bilang Kalau mereka pacaran.
Keluarga Deni tidak ada yang terkejut dengan omongan Laura karena memang mereka sudah tau.
Menjelang siang Laura ikut ke butik Elia yang berada di mll x. Laura ikut karena memang ada yang ingin di beli.
Saat di mall mereka ke butik sebentar baru ke mudian Laura pamit mau ke Gramedia sebentar karena ada yang ingin di beli. Laura berkeliling sambil mencari barang di butuhkan, setelah mendapat apa yang di cari Laura duduk di lorong novel sambil membaca salah satunya.
Saat sedang asyik membaca tanpa sengaja Laura melihat seorang ibu dengan kerudung yang menutupi seluruh tubuhnya sedang kesusahan mengambil buku yang agak tinggi. Laura mendekat "Siang bu, apa bisa saya bantu" sapa Laura dengan ramah sambil tersenyum.
Ibu itu juga tersenyum ramah dan membalas saapan Laura. Setelah Laura mengambil buku untuknya. "Kenalkan nak nama saya Aisyah" ucap ibu sambil mengulurkan tangannya
"Nama saya Laura Shinta bu" ucap Laura ramah sambil menerima uluran tangan bu aisyah.
Laura menemani bu aisyah melihat buku bacaan dan juga buku resep masakan, mereka tertawa bersama saat melihat judul buku atau gambar sampul buku yang menurut mereka lucu.
Tak terasa ternyata sudah siang, bu Aisyah bertanya apa Laura sholat? Laura menjawab iya dan ia juga membawa meukena dalam tas ranselnya.
Mereka ke kasir dan membayar belanjaan mereka masing masing. Bu aisyah ingin membayar belanjaan Laura tapi Laura menolak dengan tegas.
Mereka berjalan beriringan seperti ibu dan anak, bu Aisyah sangat senang karena bertemu gadis yang baik. Sampai di mushola mereka sholat berjamah dengan pengunjunga lain.
Selesai salam dan berdoa Laura mendekat dan menyalami serta mencium tangan bu aisyah.
Tiba tiba kruuuuuk... Kruuuuuk
mereka saling melihat dan tersenyum.
"Ayoe kita cari makan siang" ajak bu Aisyah.
"Ayo bu, tapi saya yang bayar ya" Laura.
"Kenapa?" tanya bu Aisyah penasaran
"Bu saya itu makanya banyak banget, jadi saya meresa gak enak kalau di bayarin" jawab Laura jujur.
__ADS_1