
Rangga sudah beberapa kali meminta Laura mengubah nama panggilan untuknya, tapi Laura selalu menolak dengan segala alasan.
"Iya nanti" ucap Laura sambil menatap Deni dengan tajam.
"Hahaha... Ra jangan lihatin Kakak begitu, yang aku bilang itu benar" Ucap Deni yang membela diri.
"Apa yang Deni bilang benar itu. Kamu harus memanggil Colon suamimu dengan panggilan lain" jelas Henda. Yang masih enggan menyebut nama Rangga.
"Iya kak. Kak kami mau ke atas dulu ya. Dan tenang aja kami tidak akan macam macam" Jelas Laura sebelum di ledekin oleh para sepupunya.
"Iya kami hanya akan satu macam aja" balas Riski
"Benar, paling cuma pelukan aja hahahah" tambah Brian sambil tertawa
"Cemburu bilanga aja. Makanya jangan ngejomlo terus" balas Laura yang berhasil membuat para sepupunya terdiam.
Mereka yang mendengar hanya tersenyum.
Rangga mengikuti Laura ke atas. Laura masuk ke dalam kamarnya.
Rangga ikut masuk dan langsung menutup pintu.
Rangga menarik Laura kedalam pelukanya.
"Aku hampir gila tadi. Biarkan kita seperti ini sebentar, jangan membantah" pinta Rangga sambil memeluk erat Laura.
Aku juga sangat merindukanmu, hangat, dan damai. Aku suka saat ini, aku bahagia. Aroma maskulin ini...Batin Laura sambil meresapi hangatnya pelukan sang kekasih.
Setelah cukup lama mendekap Laura dalam pelukanya, Rangga menurunkan wajahnya ke lehar dan mengirup sebanyak mungkin aroma yang sangat di rindukan.
"Kak geli" ucap Laura sambil mengeliat ingin melepas diri.
"Sebentar sayang. Aku sangat merinduka aroma tubuhmu. Aroma ini jadi morfin bagiku, sungguh menengakan" ucap Rangga yang terus mengendus
"Aneh. Atau jangan jangan waktu pertama kita bertemu dulu kakak juga mengendusku" tanya Laura yang masih membiarkan Rangga.
"Heemeh" jawab rangga dengan dehemanya.
Laura mengelus pelan punggung Rangga dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Saya boleh minta lebih" tanya Rangga yang ingin mengecup bibir merah tunanganya.
"Jangan kak, aku tidak mau" tolak\ Laura tegas.
Rangga sangat menghargai penolakan Laura. Perlahan Rangga melepas pelukanya dan mentapa Laura penuh cinta dan.
CUP... CUP..CUP
Rangga mencium Laura di kening dan di kedua pipinya.
Laura tersentak dan reflek mundur satu langkah ke belakang. Matanya mentapa tajam ke arah Rangga.
__ADS_1
"Itu hukuman karena kamu masih memanggil aku kakak. Panggil aku dengan panggilan lain" bela Rangga
Laura hanya bisa diam, tidak membela diri. Karena dirinya juga menyukai kecupan sekilas yang Rangga berikan.
Rasanya basah, lembut dan hangat. Rasa hangatnya bahkan sampai ke keseluruh tubuhnya.
Tidak mau larut dalam perasaannya, Laura sudah tidak sabar lagi ingin tau apa yang ayahnya katakan.
"Ayah bilang apa?" tanya Laura to the point.
Bukanya menjawab Rangga malah berjalan mengitari seluruh kamar, dan mempehatikan suasana kamar Laura.
"Kak" panggil Laura.
Tapi Rangga tidak memperdulikan panggil Laura. Ia terus saja melihat seluruh ruagan bahkan sampai ke kamar ganti Laura serta membuka semua lemari yang ada di sana.
Kamarnya cukup nyaman, besarnya hampir sama dengan kamarku. Tapi kamarku tidak banyak jendela seperti disini. Ini lemari di rumah atau butik, kanapa banyak banget baju yang masih ada lebelnya. Batin Rangga sambil melihat semuanya.
"Kak" panggil Laura lagi.
Rangga malah masuk ke kamar mandi dan lagi lagi mengamati suasa di kamar mandi.
"Mas" teriak Laura kesal.
"Iya sayang" saut Rangga sambil berjalan cepat ke arah suara dan cup... Mencium pucuk kepala Laura. "Istri sholeha" ucap Rangga sambil ngegir.
Laura benar benar kesel dengan sikap Rangga, tapi tidak bisa berbuat apa apa untuk memaksa. Sampai akhirnya laura memanggilnya Rangga dengan kata mas.
Rangga sangat bahagia dengan panggilan barunya.
Hati Rangga benar benar meleleh.
"Ayah mengizinkan mas melamarmu disini dengan syarat nanti kita akad nikah di desa" jawab Rangga
"Apa!!. Terus mas bilang apa ya?"
"Mas bilang aja iya. Itu gak masalah buat mas. Deni juga sudah janji akan nemenin nanti. Dan kita nikah bulan depan. Ayah dan ibu di desa sedang mempersiapkan semuanya untuk kita nanti" tambah Rangga santai.
Laura mengambil ponsel dan menghubungi Elia dan Kak Amel agar ke kamarnya.
"Kenapa mas gak nanya dulu sama Aku!" protes Laura setengah berteriak
"Sayang, itu bukan hal besar. Aku gak masalah. Aku setuju menikah di mana aja asal bersama kamu" ucap Rangga serius.
Laura tidak menanggapi omongan Rangga. Sampai akhirnya.
Tok... Tok..
"Masuk" jawab Laura.
Rangga sedang duduk tenang di samping tempat tidur. Laura duduk di bangku meja riasnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Kak Amel
Rangga menggelang
Laura terlihat sangat panik.
Elia melihat ke arah Rangga. Yang di lihat diam saja.
"Ini pasti masalah Om Ahmad" tebak Elia. dan di anggunggukkan oleh Rangga.
"Kak Amel tau" tanya Laura.
"Kakak tau. Nenek yang cerita sama kakak" jelas Amelia.
Saat itu posel Laura berbunyi dan panggilan videocall dari Mona.
"Ya hallo assalamualaikum" ucap Laura setelah menggeser tanda hijau sambil melambai ke kamera
"Waalaikumsalam kak. Apa apa benar kakak tunangan malam ini? Mana colon suami kakak, apa secakep Kak Deni" tanya mona to the point. Yang bahkan tidak menyakan kabar kakaknya dulu.
Auuuwww
Teriak Mona. Terlihat di lanyar ponsel kalau kepalanya baru saja di pukul oleh adiknya.
"Bukanya nanya kabar kakak dulu, malah langsung tanya rupa calon suami kakak. Kak.... Sehat kan?. Rahmat kangen Kakak. Semoga malam ini Kakak bahagia ya. Salam buat calon Kakak ipar" ucap Ramhat sambil tersenyum
Rangga yang mendengar itu mendekat pada Laura dan memperlihatkan dirinya di kamera.
"Hallo assalamualaikum...Adik adik ipar. Salam kenal buat kalian. Aku Rangga calon suami kakak kalian" ucap Rangga sambil melambai dan memberikan senyuman terbaiknya.
Laura hanya diam saja. Ia sudah jenggah dengan sikap Rangga.
Mona dan Adiknya awalnya kaget karena calon suami kakaknya ada di kamar kakaknya. Tapi setelah Rangga mengarahkan kamera ke arah Elia dan Amelia baru mereka lega.
Mereka berbicara banyak hal. Rangga sangat antusias berbicara dengan adik calon istrinya.
Cukupa lama mereka berbincang, banyak hal yang mereka bahas. Dan tentunya saja seputar pernikahan Rangga dan Laura.
Rangga sangat bahagia karena di terima oleh adik iparnya. Walau panggilan sudah berakhir Rangga masih juga tertawa sendiri.
"Senang" tanya Laura
"Tentu saja sayang. Mas kan tidak punya saudara, jadi Mas sangat senang saat membayakan akan punya empat adik" jawab Rangga jujur.
"Ya ya karena belum ngalamim. Yang ada nanti Mas akan di buat stres ama mereka" balas Laura.
"Sayang... kamu jangan kerja lagi. Karena nanti kamu pasti akan sibuk mempersiapkan pernikahan kita" pinta Rangga.
Laura menatap ke arah Elia dan Kak Amel. Mereka berdua mengangguk membenarkan omongan Rangga.
"Aku belum bisa bilang iya Mas. Aku pikir pikir dulu ya" balas Laura tanpa menghiraukan pendapat dua wanita yang sangat menyanyaginya.
__ADS_1
"Siap siap ya. Keras kepalanya sama dengan kecantikannya" Ucap Kak Amelia sambil menepuk pundak Rangga, dan berlalu keluar dari kamar
"Tapi kalau kakak sangat mencintainya, Lia yakin itu bukan masalah. Yang penting sabar dan sabar" ucap Elia sambil ikut keluar kamar.