
Beberapa Hari Berlalu
Berulang kali, dan sudah beberapa hati ini bu Ane bertanya apa benar kalau Laura tidak kenal dengan bos mereka. Dan lagi lagi jawabnya tidak. Teman setim antara percaya dan tidak, tapi begitu melihat kesungguhan di mata Laura mereka jadi percaya.
Karena rasa penasaran mereka tentang apa yang di katakan Laura, benar atau tidak. Mereka punya rencana ingin mempertemukan Laura dan Rangga, mereka menyusun rencana dengan sempurna.
"Laura tolong antarkan ini ke ruangan direktur, kalau ada sekretaris di mejanya titip aja, tapi kalau tidak ada kamu harus langsung kasih sendiri. Karena laporan ini sangat penting untuk meningkatkan penjualan produk baru kita. Kamu mengerti?!" tegas bu Ane.
"Iya bu saya mengerti"
Laura mengambil berkas dan langsung ke lantai enam, begitu keluar dari lift Laura sempat binging harus ke arah mana. "Lantai ini sangat sepi, lebih baik aku jalan lurus aja" gumam Laura sendiri
Laura terus berjalan sambil matanya mengitari seluruh ruangan. Benar ini ruangan direktur, bukankah seharusnya di depan ini ada sekretaris atau asistenya ya. Tapi ini kok sepi. Batin Laura.
Karena ingat pesan bu Ane tadi, berati Ia harus menyerah sendiri laporan ini
Tok... Tok... Tok
"Masuk" terdengar suara barito dari dalam
Laura membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam.
DEGGG
Laura terdiam di tempatnya sambil melihat pria di depanya yang sedang sibuk dengan berkasnya, yang bahkan tidak melihat dirinya.
Suasana hening sesat "Letakkan aja di meja" perintah Rangga tanpa melihat ke arah orang berdiri di hadapannya.
"I-iya baik tuan" jawab Laura yang terbata bata
Rangga seperti mengenal suara ini dan Ia pun menoleh.
DEGG
Kenapa dia ada di sini. Batin Rangga yang terdiam
"Maaf tuan bu Ane menyuruh saya mengantarkan berkas ini, karena sekretaris tuan tidak ada di mejanya makanya langsung saya yang menyerahkan pada tuan. Kata bu Ane ini penting" jelas Laura
__ADS_1
Rangga masih diam ti tempat duduknya. Ini sangat tiba tiba, ia belum siap dengan suasana ini. Bahkan saat dirinya memilih untuk menjauh tapi kenapa malah mereka jadi sering bertemu.
"Tuan, tuan... Anda kenapa?" tanya Laura, karena tiba tiba saja Rangga terlihat seperti orang bingung.
"Tidak, saya tidak apa apa. Baiklah, berkasnya sudah saya terima. Kamu boleh balik ke ruagam kamu" usir Rangga halus.
Laura yang dapat merasakan kalau Rangga ingin menghindarinya memutuskan untuk bertanya. "Maaf sebelumnya bila saya lancang. Apa tuan sangat membenci saya? saya seperti merasa kalau tuan menghindar dari saya" entah keberanian ini datang dari mana, sampai Ia berani berbicara seperti ini.
Rangga bingung harus menjawab apa. "Iya sayang memang menghidari kamu" Karena kalau aku dekat dengamu aku bisa hilang kendali. Batin Rangga
"Kenapa?" tanya Laura bingung
"Karena Deni itu temanku, aku tidak mau dia salah paham kalau aku dekat dengan kamu" Rangga baru sadar kalau dirinya salah berucap, tapi sudah terlambat Laura sudah mendengar semuanya
Begitu tau kalau Rangga teman Deni Laura langsung duduk di bangku yang ada di depan meja Rangga dengan penuh semangat, seakan dia lupa kalau Rangga adalah bosnya.
Hal ini benar benar membuat Rangga semakin bingung dan heran dengan perubahan sikap Laura yang tiba tiba.
"Benarkah tuan teman Kak Deni. Oh... Pantas aja kemarena kita ketemu di acara Kak Agus, berati tuan Kak Agus dan Deni temenan juga ya" ucap Laura sambil tersenyum
Aku mohon jangan tersenyum seperti itu di hadapanku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menarikmu dalam pelukanku. Seseorang tolong masuk ke sini dan selamatkan kami. Batin Rangga yang berharap ada orang yang akan masuk dan memisahkan dirinya dan Laura.
"Gak, Kak Deni ngak cerita apa apa" ucap Laura sedih. Rangga dapat menangkap raut sedih di wajah Laura, hal ini malah membuat dirinya jadi kesel sendiri. Kesel karena wanita yang di inginkannya jadi sedih.
"Kamu sedih Deni tidak cerita tentang aku" Laura mengiyakan. "Kamu selalu terlihat sangat senang saat melihat aku" tanya Rangg selidik.
"Apa gak boleh? apa tuan tidak senang bertemu dengan saya" tanya Laura. Rangga bingung harus menjawab apa.
Karena Rangga diam saja Laura pergi dari sana tanpa pamit. Untuk seorang karyawan Laura sangat tidak sopan. Tapi sebagai wanita yang ingin kenal dengan seorang pria, tapi pria itu menolak dengan halus. Sikap Laura itu sudah tepat. Sedih dan kecewa itulah yang di rasakan Laura saat meninggalkan ruangan Rangga.
Laura turun ke ruanganya dan langsung membuka aplikasi chat. Dan mulai obrolan grub yang biasa di pake untuk antar jemput dirinya.
📨 Pantas saja ya semua bertanya apa aku kenal dengan pimpinan tempat ku kerja. Tega ya semuanya bohong padaku.
📨Aku benci kak Deni, aku benci semuanya.
📨Hari ini jangan jemput aku, Aku mau pulang sendiri.
__ADS_1
Setelah mengirim chat di grub Laura mematikan data pada smartphonenya. Ia duduk termenung sendiri sambil mencerna semua yang terjadi padanya dari awal pertama bertemu Rangga.
Mereka semua kenal dengan pria itu, yang tak lain adalah pemilik perusahaan tempatku berkerja. Dan juga teman dari Kak Deni, pria yang sudah dianggap kakak tapi tega membohongi dan membodohi Aku. Elia juga sama saja. Aku benci mereka semua. Batin Laura dan tanpa di sadari air matanya sudah mengalir.
Hal ini jadi perhatian temanya, mereka heran melihat Laura menangis. Karena merasa bersalah bu Ane mendekat dan bertanya.
"Ada apa, kenapa menangis?" bukanya menjawab Laura malah menangis lebih kencang lagi.
"Hiks... Hiks bu mereka semua jahat, mereka berbohong, aku benci mereka. Bu ap boleh aku ijin pulang duluan, aku lagi gak enak badan" ucap Laura lirih dan wajahnya juga terlihat lesu.
Karena merasa bersalah bu Ane mengizinkan Laura pulang cepat hari ini. Laura keluar dari kantor dengar wajah lesu dan sedih. Tanpa tau harus kemana, pikiranya kacau. Yang terpikir sekarang adalah menjauh dulu untuk sesaat dan menenangkan diri dulu.
Laura memanggil salah satu taxi yang biasa mangkal di depan kantor.
"Bang keliling aja dulu ya, nanti kalau saya sudah punya tujuan saya bilangin" ucap Laura langsung setelah masuk ke dalam taxi tanpa menyapa terlebih dahulu. Taxi yang di naiki mulai melaju walau belum tahu harus kemana.
Kira kira tiga puluh menit setelah Laura pergi dari kontor Deni datang dengan tergesa gesa.
Di meja resepsionis Deni bertanya di lantai berapa ruagan direktur. Karena mengenal Deni sebagi direktur di perusahaan sinar intan, petugas resepsionis pun mengantar Deni keruangan Rangga.
Tanpa menunggu di persilahkan untuk masuk Deni langsung membuka pintu.
BRAK
"Deni!" ucap Rangga kaget
"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Deni to the point. Wajah binggung Rangga sangat jelas terlihat.
"Apa maksudmu? mengatakan apa? pada siapa?" mendengar ucapan Rangga Deni menarik nafasnya dan melepaskan perlahan.
Melihat ada air di meja Rangga, Deni mengambil dan meminumnya sampai habis. Melihat tingkah laku Deni seperti sekarang, Rangga memberi aba aba pada sekretaris dan resepsionis yang dari tadi masih berdiri di depan pintu untuk meninggalkan mereka.
Begitu pintu di tutup Rangga mendekat ke arah Deni "Ada apa? kamu terlihat sangat kacau"
"Tadi kamu ke temu dia kan?" tanya Deni selidik
"Kalau yang kamu maksud Laura. Iya benar tadi aku ketemu, dia ke sini ngantarin ini" jelas Rangga sambil tanganya memengang berkas yang tadi di antar Laura sambil mengipas ngipasnya di udara.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Deni