
Setelah makan siang mereka tidak langsung pulang. Kerena tempatnya sangat unik dan cantik merekapun berfoto bersama, walau semua mata melihat mereka tapi mereka tetap aja cuek. Ian agak sedikit risih karena banyak orang yang melihat mereka.
"Kak Ian malu karena mereka melihat kita?" tanya Elia yang melihat tingkah Ian yang agak kaku
"Kak, ini cara kami bahagia bersama, jadi kami tidak peduli dengan orang lain selama kami tidak merugikan mereka" jelas Laura
"Ini pengalaman pertama Kakak, jadi masih aneh rasanya berfoto di setiap tempat dengan bermacam gaya" ungkap Ian yang tidak terbiasa dengan sikap kekanak kanakan dua gadis ini.
"Kalau Kakak gak suka duduk aja Kak, kami mau foto lagi di luar" kata Elia sambil berjalan ketaman
"Gak masalah, bukankah selalu ada yang pertama untuk segala hal. Laura mana handphone kamu, sini biar aku fotoin" pinta Ian
"heheheh.... aku gak punya yang keren kaya Elia kak" jawab Laura sambil tersenyum canggung.
"Dia gak kak pake handphone mahal, katanya pemborosan" jelas Elia
"Biarin aja yang penting bisa buat telfon dan ngirim pesan" balas Laura cuek
"Kan lebih enak ngirim pesan WhatsApp, bisa ngirim foto dan video dan lebih hemat pulsa" jelas Ian
"Untuk saat ini aku belum butuh Kak, nanti kalau sudah butuh baru aku beli" jawab Laura
Ini gadis unik banget, hari gini dia belum pake smartphone bagai mana dia hidup. Aku hp mati habis batre bentar aja udah uring uringan bingung gak tau mesti ngapain. Tapi ini gadis katanya belum butuh disaat seperti ini, aneh tapi benar nyata adanya. Batin Ian.
"Jadi hasil foto ini nanti gimana kamu ngeliatnya" tanya Ian penasan.
"Kalau ada yang disuka nanti aku cetak Kak buat gadis zaman batu itu, yang lain tetap di aku dan Kak Deni" jawab Elia
"Oh..." Ian
"Laura pinjam KTP kamu dong" pinta Elia sambil melihat ke arah Ian dan memberi kode 'Kakak diam aja ya' Ian hanya menganggukkan kepala walau tidak mengerti maksud Elia
"Buat apaan sih pake KTP segala" jawab Laura sambil mengambil KTP didalam dompetnya
"Disini itu kalau mau bayar kita harus unjukin kartu identitas, cuma untuk kunjungan pertama aja untuk selanjutnya kalau kesini lagi tidak perlu" jawab Elia ngasal sambil pergi membawa kartu identitas Laura
Muka Ian sangat bingung dengan yang Elia katakan, karena emang semua itu tidak perlu, tapi Ian diam aja karena sudah diingatkan sama Elia tadi.
"Sudah lama kenal sama keluarga Elia" tanya Ian saat tinggal mereka berdua
"Sudah tiga tahun ini Kak, kami satu SMA dan tinggal bareng diasrama. Keluarga kami sudah saling kenal, Kak Deni dan Oma juga pernah nginap dirumahku. Jadi kami sangat dekat Kak" jelas Laura dengan jujur
Jadi benar kalau gadis lugu dan polos ini calon istri Kak Deni, batin Ian
"Kamu senang tinggal dengan keluarga Elia" Ian
"Pastilah Kak, mereka itu sangat baik, mereka memperlakukan aku dengan sangat baik, kadang Lia malah kesel karena Om, Tante, Oma dam Kak Deni sering belain aku. Aku sangat nyaman tinggal sama mereka, kadang mereka marah sih sama aku karena aku gak mau pake baju dan barang mahal kaya mereka" jelas Laura dengan semangat.
"Iya kamu benar keluarga mereka itu memang sangat baik terhadap siapapun, dan pasti mereka akan lebih baik lagi pada orang yang mereka suka" jawan Ian karena mengira Laura calon istri Deni
"Iya Kak itu benar, aku sangat beruntung ya" ungkap Elia tulus karena tau kalau keluarga Elia tulus padanya.
"Lia kemana sih, masa bayarin makanan aja lama banget, entar aku keburu lapar lagi ni" kata Laura yang di dengar Ian dan tersenyum
"Lama ya" tanya Elia yang baru sampai ditempat mareka duduk
__ADS_1
"Banget, lo ngapaian aja sih lama banget, aku hampir lapar lagi tau" jawab Laura
"Ini identitas kamu dan kartu member restoran ini jadi milikmu, kalau kamu lapar pesan aja lagi dan cukup gesek kartu ini tidak perlu bayar lagi" jelas Elia sambil melihat ke arah Ian dan mengedipkan mata
"Ini kartu member disini, pantes aja lama ternyata lo daftar member, cantik banget warna kartunya, ini ada logonya lagi, dan VIP" ucap Laura sambil melihat logo dan bacaan yang ada dikartu
Ian melihat ke arah Elia dengan tatapan yang aneh, dan hanya dibalas anggukan oleh Elia
"Kenapa kartu ini namaku dan buat apa juga aku punya kartu ini" tanya Laura bingung
"Laura kartu bisa kamu pake buat makan di semua restoran yang ada logo ini, termasuk disini. Dan kalau kamu masuk dan unjukin kartu ini kamu bisa duduk dimana aja yang kamu mau. Saat mau bayar kamu tinggal gesek kartu ini dan masukin pin aja kamu gak usah bayar lagi" jelas Ian
"Oh... boleh juga tuh, tapi ngeri juga kalau sering dipakai nanti pas di gesek saldonya habis lagi" jawab Laura
"Kamu tenang aja Saldo didalam sini tidak akan pernah habis, kecuali kelurgaku sudah jatuh miskin" jawab Elia kesel karena ini sahabat lambat kalau masalah menghabiskan uang.
Setelah menjelakan semuanya sama Laura merekapun pulang, Ian tadi kesini bareng temanya, karena temanya sudah pulang duluan akhirnya Ian pulang bareng Elia dan Laura.
Selama dimobil mereka cerita banyak hal, masalah mereka dulu, dan juga masalah kuliah. Laura sangat senang karena punya teman baru dan juga Kakak kelas dikampus. Ian berjanji sama Elia akan membatu dan menjaga Laura seperti dirinya menjaga adik sendiri, dan ini juga membuat Laura sangat senang.
"Akhinya sampai juga, turun yo mampir dulu" ajak Ian
"Gak Kak lain kali aja ya, salam rinda dan kagen aja buat Om dan tante" balas Elia
"Oke nanti aku sampaikan, dahh Laura" ucap Ian sambil berjalan masuk kerumahnya.
"Gede juga ya rumahnya" ucap Laura
"Iya pasti itu, kan mereka juga termasuk orang kaya di kota ini. Menurut lo Kak Ian bagaimana?" tanya Elia
"Pasti Kak Ian mau, kalau tampang atau mukanya bagaimana" tanya Elia lagi yang penasaran dengan pendapat Laura.
"menurut aku sih biasa aja, mukanya biasa dan penampilan juga biasa aja" jawab Laura jujur menurutny
"Kamu tau gak baju, celana, sepatu, tas dan handphone yang dipake Kak Ian" tanya Elia
"Ya taulah, baju dan celana serta sepatunya sama aja seperti yang orang lain pake, gak ada yang aneh, dan handphone sama seperti punya kamu dan Kak Deni, sama sama layar sentuh" jawab Laura yang heran dengan pertanyaan Elia
"Ya.. ya.. ya sama aja, ngapain juga aku tanya begitu sama orang buta mode dan masa bodoh dengan penampilan seperti kamu" kesel Elia karena yang dia maksud Laura malah gak ngerti.
Sampai dirumah hari sudah hampir magrip, karena minggu depan Elia sudah mau masuk kampus. Rencananya besok mereka mau ke kota B dan nginap bebarapa malam di rumah Laura, karena kalau sudah mulai kuliah nanti Laura tidak akan sempat pulang lagi kecuali saat libur kuliah.
Saat sedang asyik nonton drakor ponsel Elia berbunyi.
"Dari mama, videocall" jawab Elia
"Hallo Assalamualaikum ma" Elia
"Waalaikumsalam, apa kabar kalian, kami kangen", bu Andine
"Alhamdulillah kami sehat tante, kami juga kangen. Yang lain mana tente, Laura kangen Oma dan Om juga". Laura
"Sama Kakak kamu ngak kangen, siang malam Kakak rindu banget sama kamu tapi kamu malah ngak nanyain Kakak". Deni
"Ya ampun apa benar itu kak Deni, Kakak ganteng banget dengan rambut begitu, kakak terlihat seperti anak SMA Kak, gemes deh" Laura
__ADS_1
"Kamu jangan ngomong begitu, lihat tuh muka Kak Deni sudah merah kerena ke geeran" Elia
"Tapi yang aku bilang benar Lia, lihatlah" Laura sambil menunjuk dan menyentuh kuka Deni di layar ponsel.
"Kak itu emang selalu ganteng, kamu aja yang gak tau Laura" Deni
"Laura tau Kak, bahkan saat pertama bertemu Laura tau kalau Kakak itu sangat ganteng, tampan dan juga baik. Dan Laura sangat beruntung punya Kak Deni sebagai Kakak Laura" Laura
Semua tertawa mendengar omongan Luara, Elia mengejek sang Kakak dengan menjulurkan lidahnya. Di layar ponsel bu Andine mengelus punggung anaknya sambil tersenyum.
"Gimana kuliah kamu, lancar semuanya" tuan Alvin
"Alhamdulillah lancar Om, tadi kami sudah ke kampus, dan besok mau ke bank dulu buka rekening karena dana beasiswanya dikirim ke rekening. Dan semua berkas dan panduan untuk masuk kampus sudah Laura ambil semuanya tadi" Laura
"Oh.. Syurlah kalau begitu, nanti no rekeningnya kamu kirim buat kita ya. Kata Oma kalau krisis perusahaan selesai Oma mau ngasih sedikit sahamnya buat kamu, kamu dengar juga Lia" tuan Alvin.
"Iya Pa Lia ngerti banget itu, terima kasih kasih banyak ya Pa" Elia
"Om itu tidak perlu, Ayah juga ngasih duit buat Laura, Oma itu semua gak perlu ya" ucap Laura sambil melihat kearah oma di ponsel
"Gak sayang, kamu tenang aja kuliah yang rajin biar dapat banyak ilmu di kampus" jawab Oma
"Kata Lia besok kalian mau desa BL, salam ya buat ibu dan ayah juga buat adik adik kamu ya" bu Andine
"Laura kamu makan yang banyak ya biar kamu cepat gede, itu kartu kamu pake setiap makan ya, bila perlu tiga sehari kamu makan di restoran tadi ya, karena kata Elia makanya enak banget" Deni
" Ko Kak Deni tau, atau jangan jangan Lia" kata kata Laura terhenti dan melihat ke arah Elia. Laura mengambil guling dan terus saja memukul Elia, Elia mau lari tapi sudah terlambat. Petengkaran keduanya dilihat oleh kelurga Elia melalui ponsel yang masih tersabung.
Sepuluh menit berlalu mereka masih saling perang bantal hingga kamar terlihat sangat berantakan, dan mereka berdua terlihat sangat capek dengan nafas ngos ngosan dan rambut acak acakan.
"Ampun... Ampun gak lagi akau janji" ucap Elia sudah gak kuat lagi
"Kamu itu kabangetan Lia, Ka Deni juga curang. Hapusin semua foto dan video Laura ya" ucap Laura dengan nafas masih belum teratur
"Laura Om gak ikutan ya" tuan Alvin lepas tangan
"Jangan begitu sayang, Oma kan kangen dan rindu juga sama kamu, foto dan video itu pengobat rindu dan kangen Oma sama kamu sayang" ucap Oma
"Itu benar nak, jadi jangan dihapus ya" ucap bu Andine
"Tapi nanti coba Tante cek ya di ponsel Kak Deni, kalau ada yang anek anek Tante hapus ya" mohon Laura
"Hei.. kamu kira aku ini apaan, tenang aja yang aku kirim itu cuma foto dan video terbaik kamu kali" jawab Elia.
"Ya bener, terbaik menurut kamu tapi belum tentu buat aku" sentak Laura karena kesel Lia mengirim smua itu tanpa persetujuan dirinya.
"Iya sayang, kamu tenang aja ya nanti Tente cek ponsel Deni kalau ada yang aneh akan Tente hapus smuanya" jawab bu Andine menyakinkan Luara.
"Iya tante terima kasih banyak" jawab Laura
"Laura, Kak Deni serius dengan kartu member itu ya, Kakak mau kamu makan teratur, biar sehat dan kuliah kamu lancar. Dan Kakak kangen banget sama kamu, pengen meluk kamu" kata Deni yang tidak malu di depan keluarganya.
"Iya Kak, terima kasih banyak ya. Laura juga kangen sama Kak Deni" jawab Laura yang langsung membuat muka Deni merah bersemi.
"Ya udah kalian tidur ya. Assalamualaikum" ucap deni. dan sambungan telfonpun terputus.
__ADS_1