
Karena sudah capek dengan tertawa dan berteriak mereka bertigapun berhenti. Elia Dan Laura kembali berpelukan, Deni yang iseng sendirian langsung ikut memeluk mereka bertiga.
" Ikutan, bair hangat " ucapnya santai. Dan mendapat tatapan tajam dari keduanya Deni pun melepaskan pelukanya.
" Ra lo tega ya nyiram gua, ini dandanan butuh waktu dua jam biar bisa sepurna seperti tadi, tapi lihat sekarang " ucap Elia yang kesel sambil menunjukan wajahnya sendiri, karena riasan mukanya jadi luntur dan berantakan
" Mau itu riasan dua jam atau dua puluh empat jam, aku gak peduli. Itu serema Lia siapa saja yang lihat pasti akan kanget, kalau yang lihat anak kecil pasti akan nangis kejer karena ketakutan. Kamu itu benar benar kurang kerjaan ya " ucap Laura sambil kedua tanganya menghapus semua sisa riasan yang masih ada di muka Elia.
" Kalian ini seperti balita aja " kata Oma sambil mendekat ke arah mereka
" Oma... Laura kangen " ucap Laura dengan kedua tangan di rentangkan akan memeluk Oma
" No... No, tidak boleh. Oma tidak mau ikutan basah seperti kalian. Nanti Oma masuk angin " ucap Oma sambil mundur beberapa langkah saat Lura akan mendekat dan memeluknya.
" Oma ini gara gara Elia "
" Enak aja nyalahin aku! yang mulai duluan siapa? " Elia
" Lagian kamu itu tega banget tampil dengan wajah yang aku gak suka "Laura
" Sengaja, kan mau ngerjain karena kita sudah lama tidak bertemu "
" Sudah...Sudah! Sana masuk dulu kalian mandi dan ganti baju. Setelah itu langsung turun ke ruang kelaurga " bu Andine berusaha menghentikan saling menyalahkan di antara mereka.
" Kamu sama aja ya " tuan Alvin tersenyum melihat Deni yang basah kuyup sambil geleng geleng kepala.
Di Tempat Lain
Rangga sampai di rumahnya dengan muka memerah dan tegang. Masuk kedalam rumahpun tidak memberi salam, bahkan ibunya di ruang tamupun tidak di sapa, mungkin di lihat juga tidak.
" Ada terjadi sesuatu pada Rangga ? " tanya ibu pada Adiknya, ibu khawatir karena sudah hampir dua minggu ini sikap rangga agak berbeda dari biasanya.
" Ngak ada apa apa Kak " jawab Paman Edi yang berbohong pada kakaknya.
" Tapi kenapa sikapnya jadi begitu. Masuk kerumah tidak memberi salam, ada orang tua di rumah tapi, jangankan di sapa di lihat aja gak.
" Sudah Kak jangan di ambil hati. Di kantor lagi banyak urusan, banyak hal yang harus di urus jadi Rangga lagi banyak pikiran aja " bela paman.
Di kamarnya Rangga sedang duduk di sofa sambil melihat dan menggeser benda pipih di tanganya. Semakin lama melihat benda itu wajah Rangga semakin mengeras, rahangnya kaku menahan emosi.
" Wanita itu harus menjadi milikku, saat kamu sudah bekerja di kontorku saat itulah semuanya akan ku mulai. Aku tidak peduli bagaimana caranya, yang pasti kamu harus menjadi milikku " gumam Rangga di sela gemerutuk suara giginya
Ya Tuhan kenapa aroma tubuhnya sungguh memabukkan, aku sangat mengiginkanya. Tatapan mata itu, bibirnya, aku mau semua yang ada di tubuhknya. Batin Rangga yang sangat mengingikan Laura dan juniornya mulai berekasi padahal dia hanya membayangkanya saja tapi hasratnya sudah mengebu gebu.
" Arrrrgghhhhhg! " teriak Rangga sambil menjabkak rambutnya sendiri
" Aku pasti sudah gila, sudah sekian lama tubuhku tidak bereaksi terhadap wanita. Tapi setelah melihat dan bersentuhan dengan wanita itu kini sijunior sangat sering terjaga. Hanya membayangkan wanita itu saya aku sudah menagang begini, bagaimana mana bila bertemu nanti " ucap Rangga pada dirinya sendiri
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan lagi dengan hasratnya Rangga memutuskan untuk berendam air dingin. Rangga tau kalau pikiranya itu salah. Sungguh dia merasa dirinya lelaki yang sangat menjijikkan karena memandang seorang wanita dengan hasratnya. Tapi antara otak, hati dan tubuknya sudah tidak singkron lagi.
Hatinya mengatakan itu salah, tapi otaknya terus membayangkan Laura dan badanya juga bereaksi terutama sijunior yang akan langsung berdiri dengan gagahnya. Padahal dulu saat bersama Melisa dirinya tidak seperti ini.
Rangga turun ke bawah untuk makan malam, tidak ada pembicaraan saat sedang makan. Rangga sibuk dengan pikiranya sendiri, ibu yang berfikir anakknya sedang pusing dengan urusan kantor tidak bertanya apa apa. Sang paman hanya melihat kedua ibu dan anak itu tanpa bertanya dan mengatakan apa apa.
Setelah selesai makan Rangga ingin langsung ke kamarnya. Saat hendak menaiki anak tangga sang ibu memanggilnya
" Rangga sini dulu nak, ada yang mau ibu omangin " Bu Aisyah menepuk nepuk sofa di sampingnya agar anaknya duduk di sampingnya.
Rangga mendekat dengan langkah perlahan, Ia ragu untuk duduk di samping ibunya, karena kalau itu di lakukan dan ibunya bertanya maka dia pasti akan menceritakan semuanya. Dan Rangga akan malu kalau hal itu sampai terjadi
" Iya bu " ucap Rangga pelan dan duduk di samping ibunya. Karena tidak tega menolak
Bu Aisyah berbalik menghadap anak semata wayangnya dengan kedua tanganya menangkup wajah Rangga seakan kedua tanganya sedang menahan agar wajah anaknya tidak jatuh
" Kamu kenapa sayang? lihat mata ibu! dan cerita semuanya " Bu Aisyah sambil menatap manik mata anaknya. Ibu tau kalau anaknya sedang tidak baik baiknya
Rangga terdiam di tatap seperti oleh wanita yang melahirkannya. Hatinya menghangat dengan sendirinya dan tanpa di sadari air matanya mulai mengalir dengan sendirinya.
Melihat hal itu bu Aisyah langsung menarik anaknya ke dalam pelukanya. Ibu mengelus ngelu punggung Rangga tanpa mengatakan apa apa.
Beberapa saat berlalu Rangga melepaskan pelukanya " Rasanya sangat nyaman, sudah sangaat lama " katanya terhenti karena ucapan sang ibu
" Terkahir kamu seperti ini saat ayahmu meninggal, sudah sangat lama ya. Mau cerita pada ibu apa yang kamu rasakan saat ini " mata bu Aisyah menatap Rangga dengan penuh kasih sayang berharap agar anaknya mau mengatakan semuanya padanya sama seperti yang di lakukan dulu. Agar bu Aisyah tau apa yang di rasakan anaknya
" Perusahaan baik baik aja? "
" Perusahaan baik bu, bahkan sudah sangat berkembang sekarang. Bahkan Rangga sudah membuat menjadi sebuah grup yang lebih besar " jawab Rangga semangat dan bangga ada dirinya sendiri
Dari jawaban Rangga barusan. Ibu dapat mengambil kesimpulan bahwa hal yang membuat Rangga berubah itu adalah hatinya. Ada sesuatu yang sedang mengusik hati dan persaanya. Buka urusan perusahaan.
" Ibu akan selalu mendoakan yang terbiak untukmu. itu pasti masalah ini kan? " ibu memengang dada Rangga tepat di posisi jatungnya. Rangga mengangguk membenarkan ucapan ibunya.
" Kalau itu masalahnya jangan terburu buru, pikirkankah dengan bijak. Satu hal yang pasti kalau jodoh itu tidak akan tertukar. Jadi jangan terlalu di bawa perasaan ya " kata Bu Aisyah sambil mengengkam kedua tangan anaknya.
" Tapi tetap harus di perjuangkan juga bu. Kalau tidak nanti malah di ambil orang " Rangga melihat ibunya tertawa mendengar kata katanya. " Apa omongan Rangga salah bu?
" Sangat salah. Jodoh itu akan hadir dengan sendirinya dalam hidup kita tanpa bisa kita tolak. Namun kalau bukan jodoh kita, sekuat apapun kita berjuang dan berusaha tetap tidak akan menjadi milik kita. Karena jodoh, rezeki, lahir, dan meningalnya kita sudah ada garis takdirnya masing masing "
Ucapkan Ibu yang ini membuat Rangga semakin gelisah. Tapi Rangga sudah bertekad akan merebut Laura dari Rangga, tidak peduli bagaimana prosesnya.
Deni hanya tersenyum mendegar ucapan bu Aisyah walau itu berbeda dengan pendapatnya.
Akhirnya Rangga banyak mengobrol dengan ibunya malam ini. Hal yang sudah lama tidak di lakukan. Paman Edi juga bergabung bersama mereka. Banyak hal yang mereka bicarakan, kadang mereka tertawa dan kadang serius.
Di malam yang sama
__ADS_1
Selesai menikmati makan malam bersama kelaurga Deni berkumpul di ruang keluarga sambil ngobrol dan bercerita banyak hal
" Ra tadi kamu benar benar takut ya " Elia bertanya karena menurutnya reaksi Laura tadi sore itu berlebihan
" Bukan takut tapi kaget aja. Saat dalam berpelukan aku tau itu kamu, tapi saat melihat wajahnya kenapa sangat menyeramkan "
" Itu namanya make up halloween, di sana kita sering merayakanya dengan berdandan seperti tadi "
" Itu kalau kamu disana. Di sini tidak ada acara begituan. Lagian kenapa harus halloween?. Kalau tadi make up kamu karakter, misalnya Elsa, atau para putri lainya aku pasti akan mengmabil gambar tadi " Elia dapat melihat wajah kesel Laura.
" Namanya juga mau ngerjain ya harus yang menyeramkanlah " ucap Elia ketus tidak mau dianggap berlebihan.
Yang lain hanya melihat tingkah kedua gadis muda mereka dan tersenyum.
Laura yang awalnya merasa aneh dengan tempat mewah ini sekarang malah terlihat sangat nyaman. Ya Laura selalu merasa nyaman saat bersama kelaurga Elia.
Setelah cukup lama berdebat dengan Elia Laura bangkit dan duduk di antara Oma dan Bu Andine.
" Kangen " kata Laura sambil bergantian memeluk Oma dan bu Andine. Elia dapat melihat ada yang aneh dengan sikap Laura sekarang, matanya Langsung menatap ke arah sang Kakak. Deni hanya mengangkat bahunya dan tersenyum getir
Hal itu tidak luput dari perhatian tuan Alvin.
" Deni ayo ikut papa " Deni heran karena tiba tiba papanya mengajak keruang kerja, tanpa membantah Deni mengikuti dari belakang.
Laura, Elia, Oma dan Bu Andine masih bercengkerama bersama saling melepas rindu setelah cukup lama tidak bertemu.
Tuan Alvin duduk di sofa di samping Deni, hal ini makin membuat Deni bingung. Karena biasanya papanya akan duduk di bangku kerjanya.
" Ceritakan pada papa semuanya. Apa yang terjadi antara kamu dan Laura? " tuntut Tuan Alvin
" Apa perlu Pa? ini kan urusa kami berdua "
" Deni, Laura sudah lama papa anggap anak sendiri. Papa tidak mau karena masalah kalian berdua laura jadi menjauh dengan kita. Terutama dari Elia "
Deni melihat Papanya dengan tatapan sangat yakin " Papa tenang aja Laura itu wanita yang sangat pintar, dia bisa menempatkan dirinya dengan nyaman di manapun. Dan yang pasti Laura tidak akan menjadi menantu papa "
Ucapan Deni membuat Taun Alvin kaget " Apa kamu bilang! Tidak akan menjadi menantu papa, maksud kamu apa? "
Deni akhirnya mencerita semuanya pada papanya. Dari video gosip yang menuduh Laura menjadi selingkuhan Hendra yang ternyata kakak sepupunya, dan pria yang membuat Laura ketakutan hingga memeluk Handra yang adalah Rangga.
Karena kontak badan dan tatapan mata mereka bedua itu telah mengusik Laura dan mebuat jantung Laura berdebar bedar, walau dia tidak tau kalau dirinya menyukai Rangga tapi Deni sangat yakin akan hal itu
Deni juga bercerita tentang rasa bersalah Laura yang tidak bisa membalas cintanya, bagaimana Laura menagis dan memohon maaf padanya dan itu benar benar sangat menyakiti hatinya.
" Laura tau kalau Deni menyukainya pa! dan itu jadi beban buatnya " ucap Deni dengam muka yang sulit diartikan
Tuan Alvin memeluk anaknya dan menepuk nepuk bahunya " Jodoh itu sudah ada yang atur, anggap dia adikmu sendiri temani dia sampai dia bertemu dengan jodohnya dan bahagia. Karena dengan begitu kamu juga bisa bahagia "
__ADS_1