
Selesai sholat magrip berjamaah mereka masuk kamar masing untuk bersiap siap menyambut para tamu.
Hendra terlihat sangat tengang, Elia tau kenapa kekasihnya seperti itu.
"Kak lebih baik kakak tenang, aku yakin Laura sudah siap dengan keputusanya. Dan Kak Rangga itu tidak seburuk yang kakak pikirkan" jelas Elian
"Lia, sebaiknya kamu jangan membela pria itu di depan kakak" tegas Hendra.
Entah kenapa Hendra masih saja tidak menyukai Rangga, apalagi bila Ia mengingat tatapan Rangga untuk Laura waktu itu. Ingin rasanya ia menghajar wajah tampan pria itu.
"Kak aku ke atas dulu, aku mau merias wajah Laura sedikit. Karena malam ini adalah malam bahagianya" ungkap Elia. Itu juga alasan Elia agar bisa cepat pergi menjauh dari Hendra.
Elia sangat tidak suka bila ada orang yang meragukan Laura, apa lagi bila hal itu akan merusak kebahagiaan sahabatnya.
Di kamarnya Laura masih duduk temenung, banyak yang di pikirkan.
"Mikirin apa sih, sampai aku ketok ketok kamu ngak dengar" Tanya Elia.
"Aku lagi mikirin ayah dan ibu" ucap Laura sedih.
Seharusnya Ayah dan Ibu di sini yang akan menemani dirinya.
"Ra ini itu bukan acara akad nikah atau pesta. Jadi jangan terlalu sedih ya" bujuk Elia.
Elie masuk ke ruang ganti Laura dan memilih satu gaun yang sangat cantik, gaun sutra warna navy dengan lengan pendek.
"Kamu pake ini ya" perintah Elia.
"Apa ini gak berlebihan" tanya Laura.
"Gak sayang, ini akan sangat cocok dengan acara malam ini" jawab Elia yakin.
Elia dengan cekatan merias wajah Laura.
"Sempurna... kamu sangat cantik" puji Elia.
Pintu kamar di ketuk, masuk kedalam para sepupu Laura.
"Wau... lo seperti bidadari. Sangat cantik" puji Riski
Semua sepupunya memuji ke cantikan Laura. Sampai akhirnya
"Elia juga sangat cantik" ucap Brian
"Awas lo ya, jangan macam macam am kekasih Kakak" peringat Hendra.
"Kak aku itu ngefans sama Elia, aku penggemarnya. Hanya sebatas itu, jadi gak usah khawatir" jelas Brian yang memang mengagumi sosok Elia.
__ADS_1
Seorang perancang ternama yang ramah, baik hati dan lembut. Karena sifat itulah yang menjadikan Elia jadi idola para pria.
"Kalau kamu takut di ambil orang. Makanya cepetan nikah" Seru Amelia. Kakak tertua mereka semua.
Muka Elia menjadi merah karena malu.
"Ngapain jadi ngomongin kita sih" ketus Hendra sambil merangkul Elia.
"Oi... Jangan macam macam ya di depan anak kecil" ucap Riski
"Anak kecil" ucap mereka serempek smuanya.
Akhirnya mereka tertawa bahagia bersama. Dengan adanya para sepupu Laura dapat melupakan sedikit kerinduanya terhadap keluarga di kampung.
Saat yang lain sudah turun, Henda tetep di kamar. Elia mengeti sepertinya ada yang ingin Hendra katakan pada Laura. Elia ijin mau turun duluan.
"Ra kamu yakin tenyang ini semua" tanya" Hendra serius.
"Kakak Aku sangat yakin, bahkan saat pertama bertemu dulu, aku selalu kepikiran Kak Rangga. Aku kira itu hanya perasaan kesel, tapi ternyata tidak kak. Itu karena aku menyukainya, Aroma tubuhnya membuat aku nyaman bahagia. Walau tatapan matanya saat itu sangat tajam, dan dingin tapi aku tetep suka kak" jelas Laura.
"Itu juga yang membuat kakak tidak tenang. Tatapan matanya waktu itu melihat kamu, seakan dia ingin menguasai kamu, dan menelan kamu" jelas Hendra yang sangat tidak suka dengan tatapan mata Rangga saat itu.
"Kak tatapan itu sudah tidak ada lagi, coba saja nanti kakak perhatikan. Kakak belum kenal dengan kak Rangga, jadi jangan mengambil kesimpulan sendiri" balas Laura.
Tiba tiba Brian datang dan mengatakan kalau tamu yang mereka tunggu sudah datang.
Jantung Laura sudah dag dig dug tidak karuan. Hendra mengerti dan menenangkan Laura.
Hendra turun dengan mengandeng tangan Laura, itu di lakukan agar Laura tidak terlalu panik dan untuk melihat reaksi Rangga.
"Itu mereka turun" ucap Nenek melihat ke tangga.
Semua mata melihat ke tangga, begitu juga dengan Laura. Laura kaget karena di bawah begitu banyak orang.
"Tenang... itu hanya kelurga calon mertua Kakak" canda Hendra, dan di balas senyum oleh Laura.
"Dia sangat cantik" gumam Rangga sendiri dan bisa di dengar oleh orang lain.
"Baru tau. Kalau sepupu kita jelek, emang kamu mau" ucap Brian
Rangga sangat malu, dia baru sadar kalau omonganya barusan di dengar orang lain.
Semua mata melihat ke arah Brian dan mereka tersenyum.
Mereka semua duduk di ruang tamu.
Acara di mulai dengan perkenalan kedua kelurga.
__ADS_1
Keluarga Rangga di wakili oleh paman Edi, mereka memberitau niat mereka kesini ya itu untuk melamar.
Laura kaget mendengar perkataan paman Edi, tapi memilih diam.
Dari keluarga Laura di wakili oleh paman Ismail, dan mereka menerima niat baik dari keluarga Rangga.
Acara berlangsung lancar, sampai akhirnya dengan penyematan cicin. Bu Aisyah memakaikan cicin di jari manis Laura, dan paman Ismail memakaikan di jemari Rangga, di tambah dengen beberapa nasehat.
Deni turut bahagia untuk sahabat dan wanita yg sudah dianggap adik.
Mereka menikmati makan malam bersama. Saat mereka menikmati makan, hampir semua dari mereka memberikan makan untuk Laura.
"Kenapa pada ngasih semua, Laura bisa ambil sendiri" protes Laura.
"Sengaja kan disini lo am Brian yang paling banyak makan. Kalau kita gak ngasih lo nanti di habisin Brian semuanya" Jelas Riski.
Semua yang mengengar itu ikut tertawa.
Selesai makan mereka duduk di ruang tamu untuk melanjutkan ngobrol.
Nenek Fatimah, Oma Fadilah, bu Andine, bu Aisyah dan Amelia mereka ngobrol bersama.
Rangga, Deni, Hendra mereka terlihat canggung. Itu karena Hendra yang belum begitu percaya sama Rangga. Untung ada Deni di antara mereka.
Sedangkan Tuan Alvin, Om Ismail, Om Ikbal dan paman Edi mereka memilih duduk di teras. Entah apa aja yang mereka bicarakan. Yang pasti itu berhubungan dengan kerjaan.
Sedangkan Laura, Elia dan kedua tantenya sedang membicarakan masalah pernikahan nanti. Apalagi tante Putri yang sangat menyukai Elia, dan ingin agar Elia segera jadi menantunya.
Rangga selalu melihat kearah Laura, ingin rasnya Ia menarik Laura ke dalam pelukanya.
Laura juga selalu mencuri pandang pada Rangga, sambil tersenyum melihat cicin berlian di jari manisnya.
"Bahagia?" tanya tante Melani
"Iya tante, kalau ibu dan ayah di sini pasti akan lebih bahagia lagi" jawab Laura.
"Oh ya Ibu pasti lupa itu, bilangin syarat dari ayah kamu. Nanti coba kamu tanya aja ama nenek ya" kata Tante putri.
Laura menatap Rangga dengan penuh cinta.
Dengan memberikan diri Laura mendekat pada Rangga dkk
"Kak, aku perlu bicara sama Kak Rangga" ucap Laura
"Ra, kamu sudah tunangan. Masa Ia, kamu manggil calon suami kamu sama seperti memanggil kami" ucap Deni
Laura tercekat mendengar omongan Deni, ingin rasanya Ia mencubit itu bibir. Kalau ngomong bukanya lihat situasi dulu.
__ADS_1
"Iya benar itu sayang, aku gak mau kamu panggil Kakak lagi" balas rangga.
Rangga sudah beberapa kali meninta Laura mengubah nama panggilan untuknya, tapi Laura selalu menolak dengan segala alasanya.