Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
51. Sadar diri


__ADS_3

Empat hari berlalu setelah bertemu dengan Nina. Hal yang ingin di lupakan di masa lalu kembali menghantui Rangga, dirinya yang sangat membenci Deni saat itu kini berbalik menjadi menyesal. Sungguh hal yang sangat di sayangkan, karena seorang wanita petemanan bertahun tahun kandas begitu saja.


Karena hal itulah Rangga berjanji pada dirinya sendiri tidak akan merebut Laura dari Deni. Karena pikiran dan tubuhnya pasti tidak akan bisa di kontrol saat bertemu dengan Laura. Jadi Rangga memutuskan untuk menghindar dari Laura. Walau itu sangat sulit apalagi nanti senin Laura sudah mulai berekerja di perusahaanya, tapi Rangga harus bisa. Ini di lakukan sebagai ucapan terima kasih darinya untuk Deni, karena dulu sudah menyelamatkan dirinya dari wanita yang akan menyakitinya.


Di tempat lain


" Bri kamu serius kalau Kak Hendra sudah putus dengan tunanganya, apa itu karena aku? " Tanya Laura yang baru tau masalah Hendra dari Brian.


" Ya iyalah, siapa juga yang betah di samping wanita dengan kelakuan begitu. Itu bukan gara gara kamu, jadi jangan meresa bersalah. Aku malah senang Kak Hendra putus dengannya " jawab Brian santai.


Laura heran kenapa masalah ini tidak ada yang cerita padanya. Apa memang mereka sengaja menyembuyikan darinya. Apa mereka khawatir kalau dirinya akan merasa bersalah.


"Bri pinjam ponsel kamu bentar ya "


" Mau ngapaian? "


" Mau ngeliat postingan waktu itu masih ada ? "


"Haaah... Emang kamu tau tentang itu? "


" Aku tau semuanya, Elia yang nunjukin ke aku. Kalian kenapa tidak bilang sama aku?! "


Karena dirinya tidak punya akun media sosial, jadi menurut mereka Laura tidak perlu tau. Apa lagi postingan itu tidak benar, dan mereka juga takut kalau dirinya akan terluka karena hal itu. Apa lagi dengan sikap keras kelapa Susi yang begitu benci sama dirinya.


Akhirnya Brian cerita kenapa mereka tidak mau mengatakan masalah itu padanya.


" Postinganya sudah di hapus " Laura tidak menemukan video dirinya di akun Susi.


" Sudah pasti dihapuslah, dari pada urusan jadi gege " ucapan Brian di abaikan Laura, yang memang tidak tau kenapa di hapus.


" Tapi itu salah, itu menyangkut aku. Apapun itu aku berhak tau walau hal itu akan kenyakitiku. Apapun alasan keluarga menyembunyikan hal ini dariku. Itu salah, aku gak suka, aku merasa seperti orang asing disini. " Ucap Laura sambil pergi dari sana dan pergi ke kamarnya.


" Kenapa malah marahnya sama aku " Heran Brian. Karena dia merasa tidak bersalah tapi kenapa Laura malah marah padanya " gadis aneh ".


" Wanita memang seperti itu " ucap Nenek sambil tersenyum pada Brian.


" Nenek dengar semuanya? Bri setuju dengan Laura Nek. Tega ya semuanya yang ada di sini tidak bercerita sama Laura " Brian tidak habis pikir kenapa hal ini di tutupi.


Dua jam berlalu Laura masih di kamarnya. Di Luar rumah ada suara mobil berhenti, tidak lama terdengat suara pintu di ketuk


Assalamua'alaikum....

__ADS_1


"Wa'aliakumsalam...." ucap Brian sambil membuka pintu dan Ia sangat kaget saat tau siapa yang berdiri di hadapannya


" Saya mau ketemu Laura " ucap Elia sopan


" La-Laura? kenapa? " Brian seolah tidak percaya seorang desainer terkenal kerumahnya ingin bertemu dengan sepupunya. Itu tidak mungkin.


" Siapa Bri " tanya nenek


" pe- Eh...Elia yang perancang itu Nek! " teriak Brian yang terbata bata karena neneknya ada di sofa yang agak jauh dari pintu depan


" Oh... Nak Elia. Suruh masuk dong, pasti mau ketemu Laura itu " jawab nenek sambil berjalan ke arah pintu.


Elia dan nenek cipika cipiki saling berpelukan dan bertanya kabar. Hal ini membuat Brian tambah kaget. Setelah duduk sebentar Nenek menyuruh Elia langsung ke kamar Laura aja setelah menjelaskan dimana letak kamar Laura.


" Nenek kenal Elia di mana? kenapa Elia nyari Laura? kenapa harus langsung ke kamar Laura? emang mereka saling kenal dan bla bla bla " Nenek jadi kesel karena Brian terlalu banyak bertanya


" Kalau penasaran tanya aja langsung pada orangnya " jawab nenek sambil pergi dari hadapan Brian


Di lantai atas Elia jadi bingung yang mana kamar Laura karena saat nenek jelaskan tadi Elia sedang memperhatikan wajah Brian yang kaget seakan tidak percaya kalau dirinya Elia dan mencari sepupunya.


Elia memilih masuk ke kamar paling ujung di lorang. Karena Laura suka kamar dengan bayak jendela jadi kamarnya pasti yang paling ujung dan jendelanya menghadap ke depan rumah, begitu pikir Elia


Tok..Tok... Tok...


Di saat bersama Hendra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di ikat ngasal di pinggangnya dan kedua tanganya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil mengelap air di rembutnya sampai akhirnya


Aaaaauuuuu.....


Teriak Elia dan hendra bersamaan, karena kaget Hendra berpengan di bangku karena handuknya cuma di lilit asal terlepas dari pinggannya dan mendarat di lantai.


Elia membulatkan matanya melihat pemandangan di depanya. Dengan reflek Hendra malah menutup dadanya dengan kedua tanganya, karena memang belum sadar kalau handuk di pinggingangya sudah lepas. Handuk di tanganya tadi malah di lempar ke samping malah memiluj tangannya menutup dada.


Karena melihat tatapan mata Elia ke perutnya Hendra ikut melihat kebawah dan mereka kembali berteriak bersama sama. Elia mebalikan badanya dan Hendra berlari masuk ke kamar mandi lagi


Hal itu terjadi sangat cepat. Karena pintu tidak di tutup saat Elia masuk tadi suara terikan mereka berdua terdengat ke seluruh isi rumah. Dan semua orang yang mendengar menuju ke sumber suara. Karena Brian dari tadi masih di ruang tamu jadi dialah yang duluan mendengar suara dan berlari ke sumber suara.


Brian membuka mulutnya karena kaget. Dia melihat Elia di dalam kamar Kakak sepupunya dengan badan menghadap ke pintu dan di belakangnya ada hunduk yang tergeletak di lantai.


Tak begitu lama Nenek dan para ART datang, Brian yang dapat membaca keadaan langsung masuk dan menendang handuk di lantai ke belakang pintu. Seolah olah tidak terjadi apa apa sebelumnya.


" Suara siapa barusan " tanya nenek yang heran kenapa Elia ada di kamar Hendra

__ADS_1


Elia bingung harus menjawab apa. " Nek tadi Elia salah masuk kamar, dan tadi ada cicak jatuh Elia kaget dan berteriak " Jelas Brian yang ngasal. Karena memang hanya itu yang ada di pikiranya saat ini.


" Tadi terdenga seperti dua orang berteriak bersamaan, apa Nenek salah dengar? terus Hendra dimana? "


" Yang teriak satu orang tapi karena gema terdengar seperti dua orang. Sepertinya Kak Hendra sudah keluar Nek " Brian mencoba berbohong. Itu di lakukan karena Bria gak mau sang idolanya menjadi malu di harapan semuanya.


Hendra yang di dalam kamar mandi merasa sangat lega karena Brian membantunya. " Bocah itu nanti pasti akan meminta bayaran yang sangat mahal. Elia, aku sangat familiar dengan nama dan wajah itu. Aku melihatnya diana ya?! Sial wanita sudah melihat aku terlanjang seperti bayi, sunggu memalukan " guman Hendra pada diri sendiri sambil menutup mukanya yang merah karena malu dengan kedua tanganya.


" Nak Elia ayo nenek antar ke kamar Laura " ucap Nenek yang merangkul bahu Elia yang terlihat syok.


" Iya Nek " jawab Elia pelan sambil berjalan beriringan Dengan nenek.


Tanpa mengetuk pintu Nenek langsung membuka pintu dan melihat cucunya sedang tiduran di ranjang.


" Elia " Laura langsung turun dari ranjangnya karena sahabatnya berada di kamarnya.


Laura langsung memeluk Elia, mereka saling berpelukan dan Laura dapat merasakan debaran jatung Elia yang sangat berdeda dari biasanya.


" Kamu sakit" Elia mengeleng


Setelah melepaskan pekukanya Laura memperhatikan Elia dari ujuang kaki sampai kepala. Nenek yang melihat itu heran sendiri dan akhirnya pamit mau ke kamarnya.


" Kamu gak demam " ucapa Laura setelah meraba dahi Elia "tapi kenapa muka kamu merah seperti udang rebus "


Elia hanya tersenyum mendengar omongan Laura.


Laura bertanya kenapa Elia bisa disini. Karena dari kemaren Laura minta di jemput tapi Elia gak bisa karena lagi sibuk sampai hari minggu besok. Tapi kenapa hari ini ada disini.


" Aku juga gak tau kenapa hari ini punya waktu untuk ke sini. mungkin ini sudah takdirku " Laura bingung dengan jawaban Elia tapi tidak bertanya lagi.


" Sekarang kita ngapain? " tanya Laura bingung karena kedatangan Elia yang tiba tiba jadi mereka tidak punya rencana mau ngapain aja.


" Kita keluar aja yok, sekalian nyari baju kerja buat kamu" Elia ingin segera pergi dari sini biar tidak bertemu dengan Hendra.


" Li kamu coba cek dulu lemari bajuku, bajuku sangat banyak. Begitu aku tiba di sini itu lemari sudah penuh semuanya " Laura mengajak Elia ke ruangan ganti. Elia tersenyum senang dan puas melihat semua baju, tas, dan sepatu Laura yang tersusun rapi di lemari.


" Kak Amelia memang terbaik " karena semua isi lemari itu dalah barang bagus dan cocok dengan selera Laura


" itu semua tidak akan habis aku pakai "


" Dimana mama orang itu memakai isi lemari bukan sampai habis tapi di pakai bergiliran " Laura tau kalau Elia masih sebel dengan dirinya yang hanya akan memakai terus terusan baju yang disuka.

__ADS_1


Laura berganti baju dan mereka pergi dari rumah. Entah kemana tujuan mereka, merekapun tidak tau.


__ADS_2