
Setelah makan malam mereka semua duduk di ruang tamu, padahal bu Ririn sudah menyurh Oma untuk langsung istirahat karena pasti lelah setelah perjalann jauh. Tapi Oma menolak, karena suasana disini rame Oma suka, dan juga karena harus segera menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi. Bu Ririn datang membawa pisang rebus dan singkong, ada teh rempah dan kopi juga untuk para laki laki.
"Oma, nak Deni ini ada rebus rebusan dan teh ala kelurga kami, dicoba semoga suka" ucap bu Ririn sambil meletakan makanan dan minuman di meja dengan asap yang mengembul ke atas.
"Terima kasih banyak, dan maaf sudah merepotkan karena kami datang tampa memberi kabar dahulu" ucap Oma merasa tidak enak.
"Tida apa apa Oma, kami malah senang karena sudah mau datang kerumah kita, dan ini tidak ada apa apa nya, bila dibandingkan dengan yang telah keluarga Oma lakukan untuk Laura selama ini" ucap bu Ririn tulus.
"Tidak, kami tidak melakukan apa pun untuk Laura, malah dialah yang telah membawa kebahagian untuk kami smua, kami sudah menggangap Laura keluarga sendiri" jelas Oma biar kelurga Laura tidak sungkan lagi.
Tanpe mareka sadari dari tadi pak Ahmad terus memperhatikan Deni yang kadang melihat ke arah Laura dengan penuh kasih sayang, karena pak Ahmad pernah muda jadi pak Ahmad mengerti arti tatapan Deni untuk Laura.
__ADS_1
"Bu siti sebaiknya ibu masuk aja istirahat dikamar Laura, saya dan Nak Deni akan keluar untuk sholat insya di masjid, ibu tidur aja dulu tidak perlu menunggu Deni pulang" ucap pak Ahmad sehingga membuat yang lain jadi penasaran, apa lagi Deni yang sudah sangat gelisah saat mendangar kata pak Ahmad.
"Kalau begitu saya izin ganti baju Om, kan tidak sopan ke mesjid dengan penampilan begini" jelas Deni sambil melihat tubuhnya yang memakai kaos dan celana levi's.
Deni memberi kode pada Paisal untuk ikut denganya ke kamar paisal, karena Deni akan tidur sekamar dengan Paisal.
"Dek mesjid jauh tidak dari sini? "tanya Deni sambil menganti baju kaosnya dengan kemeja, karena memang tidak membawa baju koko, dan celana diganti dengan kain sarung.
setelah ganti baju Deni keluar, dan semua mata melihatnya" Kak Deni ganteng, dan gagah banget" ungkap mona apa adanya.
"Bukan cuma itu aja, tapi kak Deni juga sangat baik, dan tentunya bertanggung jawab juga, itu adalah hal yang paling penting untuk seorang laki laki" jelas Laura yang tanpa sadar mengakui ketampanan dan kebaika Deni, yang di puji mukanya sudah merah sambail tersenyum malu malu.
__ADS_1
"Wah pasti beruntung banget ya, wanita yang akan jadi istri kak Deni" jelas Mona
"Itu pasti, dan diluar sana sedang ada satu wanita sholehah yang sedang menjaga dirinya untuk kak Deni kelak" ucap Laura biasa saja.
Ucapan Lauta setika membuat senyum diwajah Deni langsung hilang, begitu juga dengan Oma dan, Elia sendiri biasa saja. Dan semua itu tidak luput dari perhatian pak Ahmad, dan Akhirnya walau tidak saratus persen yakin dengan penilaianya. Yang pasti pak Ahmad tau kalau saat ini Deni suka sama anaknya, tapi tidak untuk akanya, atau mungkin belum.
"Kalau sudah rapi ayo kita berangkat" ajak pak Ahmad sambil berjalan ke motornya. Deni ikut dari belakang dengan patuh, sampai akhinya naik motor bersama pak Ahmad.
Sesampai di msejid semua yang masih ada diluar melihat kearah Deni, meraka takjub karena Deni sangat tampan, gagah dan punya kharisma tersendiri. Pak Ahmad berjalan mendekati kepala desa sekalian mau melapor kalau dirumahnya ada tamu, dan memperkenalkan Deni sebagai Kakak kandung Elia, karena semua warga desa sudah kenal dengan Elia, pak Ahmad juga bilang Deni bersarta adik dan Oamnya akan menginap beberapa malam. Kasak kusuk mulai terdengar dari warga yang penasaran tentang Deni, mereka berfikir kalau Deni calon suami Laura. Tanpa mereka sadari ada yang sedang cemburu di antara mereka.
Sholat berjamaah berlangsung lancar, walau Deni jarang sholat berjamaah, dan hanya satu kali seminggu di hari juam'at saja tapi Deni tau aturan sholat. Walau kelurganya kaya raya, dan hidup dikota besar, dan pernah tinggal di luar Negri walau tidak lama, tapi bu Andine tetep mengajarkan agama pada anak anaknya, bahkan sampai memanggil ustadz kerumah untuk mengajarkan anak dan suaminya agama. Karena suaminya adalah seorang mualaf yang harus banyak tahu dan memgerti tentang agama mereka, bahkan sekarang suaminya menjadi mualaf yang taat.
__ADS_1
Dan itu di lakukan karena mereka pecaya bahwa hidup dengan bekal ilmu agama akan membuat hidup menjadi lebih ter arah ke yang benar, dan dengan mengerti agama orang juga akan mempunyai rem dalam hidupnya. Karena tau mana yang benar dan salah, jadi akan takut juga bila berbuat dosa.