Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
1.Pengemis Tua


__ADS_3

Di perkampungan yang jauh dari perkampungan lain berjalan pengemis tua dengan tongkat yang menopang tubuhnya, pakaianya compang camping dan begitu lusuh,


Ia berjalan dengan wajah keriputnya, rambutnya memanjang memutih, matanya begitu bening,


Ia mendengar pertarungan yang begitu menusuk pendengarnya, walaupun terlihat tua tapi ia tak seperti pengemis biasa,


"aaaiiihhh,,,, baru saja ingin menikmati makanan enak saja ada ada saja, huh,,,, dasar manusia manusia tak berotak, cuma bisanya menyakiti orang orang lemah," ucap kakek tua pengemis itu dengan berjalan santai sambil membawa tongkat bambu kuningnya.


Semakin lama kakek itu berjalan ia sudah melihat lima orang dengan pakaian merah dan hitam, yang berpakaian merah salah satu ketua dari yang berpakaian hitam.


Kampung yang di lewati kakek pengemis ini memang kampung yang rata rata sedikit lebih dari kampung lainya. Kampung Sido Dadi kampung para yang mempunyai harta yang lebih,


Tapi penjagaanya di pintu gapura di jaga dengan ketat para pendekar bayaran, untuk masuk saja ke kampung ini akan ada pemeriksaan,

__ADS_1


Kakek tua pengemis ini awalnya dengan mudah bisa masuk ke kampung sido dadi, para pendekar yang menjaga tak terlalu memperhatikan kakek tua pengemis itu karena penampilanya.


Di luar gapura para pendekar yang menjaga sedang menghalau para perampok atau penyamun, suara senjata tajam terdengar begitu nyaring, ke sepuluh para pendekar sudah banyak yang terluka parah.


Walaupun para perampok terlihat sangat mendominasi pertempuran itu, kelima perampok unggul di segi apapun,


Perampok perampok itu sudah sangat di kenal dan di takuti di kalangan saudagar saudagar kaya maupun dari kalangan rakyat, karena mereka sangat kejam, dan beringas dalam perampokan.


Perampok Kalajengking Berdarah julukan dari perampok perampok yang sangat kejam dan beringas dan tak segan segan membunuh setiap mangsanya yang mencoba untuk menghadangnya.


Dan rumah rumah pun kelihatan sepi dan tertutup rapat karena tak ada yang berani untuk melihat perampok perampok itu,


Sebagian penduduk yang sedikit mempunyai olah kanuragan ikut menghalau tapi banyak sudah yang meregang nyawa, demi mempertahankan biar tidak bisa masuk,

__ADS_1


Kepala kampungpun akhirnya juga ikut turun tangan untuk mempertahankab kampungnya dari perampok Kalajengking Berdarah itu.


"Huh sungguh biadap para perampok perampok itu, tidak kapok juga rupanya, mu di buntingin semua tangan dan kakinya itu." ucap kakek pengemis itu dengan mengerutu.


Kakek pengemis kini melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya ilmu kidang kuning, ilmu meringankan tubuh yang sudah begitu sempurna.


"Dunia ini seperti sempit saja selalu bertemu dengan Kamu lagi huh, tidak kapok juga kalian semua, sudah pengin aku buntungin itunya lagi anak buahmu itu hhhheeee," ucap kakek tua itu sambil memasang kuda kuda tarungnya.


"Dasar kakek gembel, selalu mencampuri urusanku saja, akan ku lenyapkan kau tua bangka," teriak pimpinan yang dari tadi cuma memperhatikan pertarungan anak buahnya dengan para pendekar dan para penduduk.


"Haaaahh,,, apaaaa,,,, kamu mau membunuh kakek peot seperti aku ini, aduuhhhh aku takuttt,,,, hhhheeee,,,, apa aku tak salah dengar apa yang kau bacotkan itu cecungguk,hhhiiii,,,,


setiap bertemu selalu ngomong mau membunuhku, dasar cecunguk busuk, mulut besarmu itu terlalu bau, tidak bisa membuktikanya,hhuuuu,,,," ucap kakek pengemis itu dengan senyam senyum sendiri.

__ADS_1


"Dasar pengemis, mengapa juga selalu bertemu dengan orang tua itu, dasar apes apes, setiap bertemu pasti anak buahku mati ataupun hilang alat kejantanya, untung saja setiap aku berhadapan denganya bisa meloloskan diri, apa jadinya kalau alatku ini habis tak tersisa," bhatin pimpinan itu sedikit kawatir dengan nasibnya.


__ADS_2