
Mereka masih bertukar serangan jurus jurus tingkat tinggi di keluarkan semua, walaupun begitu Kolo weling dan Surodempo belum bisa membuat luka sedikitpun kepada Badar Geni,
Walaupun Badar Geni masih menggunakan jurus jurus tangan kosong ia bisa membuat kedua lawanya tetap tersudut,
Aura pertarungan semakin menjadi, terlihat Kolo Weling dan Surodempo menggertakan giginya dengan sangat geram, ternyata yang di sebut lalat kecil masih lincah dan gesit dengan jurus jurus yang sangat mematikan, keringat mereka berdua sudah membanjiri raut wajahnya juga badanya.
Keduanya dibuat mengeluarkan hampir seluruh kekuatan dan tenaga dalamnya, itu saja belum bisa membuat badar geni berasa tersedut,
"Hhhheeee,,,,, ternyata kalian berdua juga masih bertahan ya,,, aku sangat terkesan dengan ilmu kanuragan kalian, tapi sayang ilmu kanuragan kalian digunakan untuk mencelakai orang, sebelum terlambat sebaiknya kalian berdua menyerah saja, itu kalau kalian masih sayang dengan nyawamu, hhhheeee,,,, tapi sepertinya itu tak munkin kan," ucap Badar Geni yang hanya menggunakan jurus jarak jauh, karena mereka berdua selalu menjaga jarak.
"Jangan berharap kami akan menyerah begitu saja bocah, kau sudah mencampuri urusanku, walaupun kemmampuanmu di atas kami, aku Kolo Weling pantang menyerah sebelum membawa buruanku," jawab Kolo weling yang tersenyum kecut dan di buat selalu menghindar dari jurus Badar Geni berikan.
"Aku sudah berbaik hati kepada kalian, tapi rupanya kalian masih tetap keras kepala, sekarang aku akan serius, berhati hatilah, manusia bodoh," teriak Badar Geni yang kini menambah aura pembunuhnya beberapa persen.
Mereka berdua saling pandang sedikit tersentak, aura yang di keluarkan Badar Geni membuat udara menjadi sedikit berat, kini konsentrasi mereka jadi terpecah, di lain sisi ia mengeluarkan tenaga dalamya untuk mengurangi rasa sakit di tubuhnya yang terkena jurus badar geni, dan mereka juga harus mengeluarkan tenaga dalam yang besar agar tekanan Aura yang di keluarkan Badar Geni bisa sedikit ringan.
Karena Mereka sepertinya sudah sedikit terukas tenaga dalamnya badar genipun juga menekan dan menghilangkan Api Abadinya yang menyelimuti tubuhnya, kini tubuh Badar Geni sudah seperti semula.
Iapun mengeluarkan tongkat kuning yang di bawanya di pundaknya, aura tekananpun semakin bertambah besar, membuat kedua lawanya itu sedikit meringis kesakitan.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya bocah itu, aaahhh mengapa dari tadi aku tak menyadarinya, aku pernah mendengar seorang pendekar yang membawa tongkat kuning, tapi munkin sekarang umurnya sudah begitu tua, tapi bocah ini terlihat masih muda, semoga saja pikirinku ini salah, ternyata aku salah memilih lawan, tapi semuanya sudah tetrambat, bagaimanapun aku harus tetap bertahan," bhatin Kolo Weling yang masih tersiksa lahir bhatinya, ia hanya menghela nafas panjang.
Belum sempat mencerna lebih dalam pikiranya tentang pendekar tongkat kuning di masa dulu, adik seperguruan yang tak lain Surodempo sudah tak berada di sampingnya ia sudah terpukul mundur entah dimana ia sekarang, hanya teriakan yang penuh kesakitan yang keluar dari mulut Surodempo, dan tak terdengar lagi bersamaan hilangnya adik seperguruan dari Kolo Weling itu, begitu juga dengan Badar Geni ia sempat menghilang tanpa di ketahui dan di rasakan oleh keduanya.
Kolo Weling baru menyadari saat aura yang lebih menekan datang dari bawah di saat ia melirik ke bawah tubuhnya sudah melayang tinggi di udara dan juga terdengar teriakan yang menyayat hati, tubuhnya masih melayang semakin jauh menembus awan,
Perasaan takutpun kini melanda hati Kolo Weling, baru kali ini ia di terbangkan ke atas awan dan yang paling memalukan yang membuat itu seorang bocah yang jauh umurnya di bawahnya.
Mata Kolo weling jadi terbelalak karena tiba tiba Badar Geni sudah mencengram lehernya, bernafaspun semakin susah, belum sempat untuk melepaskan cengkraman dari Badar Geni, tubuhnya seperti di hantam benda tumpul yang begitu kuat dari belakang,
Kini tubuh Kolo Weling jadi meluncur kebawah dengan kecepatan yang tak bisa di lihat mata biasa, hanya teriakan ketakutan dengan wajah pucat yang terlihat darinya.
Dan itulah akhir dari pimpinan padepokan Srigala Hitam, sebenarnya Badar Geni sudah memecah raganya, ia tak mau berlama lama dan ingin mengakhiri pertempuran itu, dengan ilmu pecah Raganya Gadar Geni juga menggunakan jurus tongkat kuningnya yang kekuatanya sungguh luar biasa.
Terlihat di angkasa ada dua Badar Geni, ia memicingkan matanya ke bawah, melihat dampak dari pertarungan, setelah itu satu badar geni menghilang masuk ke tubuh yang asli, iapun langsung turun kebawah.
"Huhhh,,,,,kalian memaksaku untuk melakukan semua ini, ternyata kalian semua cuma bisanya omong kosong saja, hanya segitu saja sudah bertingkah sok jagoan, sekarang maspuslah kalian semua,," ucap lirih Badar sambil melirik mayat Kolo Weling yang tergeletak sangat mengenaskan,
Setelah itu Badar Geni berjalan menghampiri pemuda yang di tolongnya itu, pemuda itu sebenarnya sedikit merasa takut, ia juga melihat pertempuran yang terlihat begitu kejam.
__ADS_1
"Kisanak,,, apa sekarang kamu sudah merasa baikan, sebenarnya kisanak ini darimana dan mau kemana, kok bisa bertemu dengan gerombolan manusia aliran hitam itu, ooohh yaaa,,,, namaku Badar Geni, kebetulan saja kami tadi tak sengaja melintas di hutan ini,"ucap Badar Geni setelah berada di dekat pemuda itu sambil membuka segel pelindungnya.
"Sebenarnya tadi kami berdua dengan adiku Pendekar Badar, tapi semoga saja adiku tidak kenapa kenapa dan selamat dari kejaran manusia laknat itu, kami dari Pedepokan Singa Emas, kalau namaku Bagus Sujiwo, panggil saja Bagus, kami mencari tanaman obat untuk menyembuhkan kakak kami yang sedang sakit," balas Bagus Sujiwo dengan raut muka yang sedih.
Dari Arah belakang terlihat dua wanita yang berlari kecil menghampiri kedua pemuda yang sedang membicarakan sesuatu.
"Kakang Bagus,,,, bagaimana keadaanmu kakang, kamu tidak apa apa kan," ucap wanita itu dengan meneteskan air mata dan terhisak hisak,
"Arum,,,, kakang tidak apa apa, ternyata kamu juga baik baik saja adiku, untung saja pendekar ini menyelamatkan kakang, kalau tidak entah apa yang terjadi dengan nasib kita adiku," ucap Bagus Sujiwo pada adiknya itu yang saling berpelukakan.
"Arum juga selamat karena di selamatkan oleh wanita bercadar itu kakang," ucap Arum sari pada kakangnya yang terlihat masih sedih.
Keduanyapun langsung melepas pelukanya dan dengan duduk bersujud mengucapkan rasa terima kasih pada Badar Geni dan Kinasih yang kini sudah di samping kakaknya.
Setelah itu mereka berempat terlihat tersenyum riang, dan ke empatnya semakin akrap, setelah menceritakan masalah kakaknya yang sakit dan ada sesuatu yang ganjil di padepokan Singa Emas, Badar Geni dan Kinasihpun ingin berkunjung ke padepokan Singa Emas.
Mereka berempat berjalan ke arah padepokan Singa Emas,
**SEMOGA TETAP TERHIBUR DENGAN CERSIL INI PARA READERS SEMUA, JANGAN LUPA LIKE, VOTE, ATAU COMEN, DAN TETAP KASIH DUKUNGANYA TERUS YA**
__ADS_1
KALIAN SEMUA YANG TERBAIK