
Pengemis tua itu masih sangat gembira menikmati musuhnya yang sudah seperti monyet menari nari.
"Tua bangka bunuh saja aku, daripada kau siksa aku seperti ini, aaauuuu,,, aduuuhhh, aduuhhh,,,, ampunnnn,,,,, ampunnnn,,, kapok aku makkkk,,,, ampunnn,,, orang tua bunuh saja aku, maaakkk,,,, emakkkk,,,, aku kapok, huuuuu,,,, hhhuuuu,,,, hhhuuuu,,,," teriak pimpinan rampok itu yang sudah terkencing kencing, kakinyapun yang satu sudah tak bisa di gerakan.
"hhhhaaaaa,,,, inilah hukuman bagi rampok seperti kau kunyuk dungu, biar kau kapok tak merampok harta orang lain, lebih baik kau seperti itu, seperti kunyuk yang kehilangan emakmu, hhhhaaaa,,,, aku suka,,,, aku sukaaa,,, hhhaaaa,,,," ucap pengemis tua itu dengan melompat kekanan ke kiri dengan senangnya.
Penduduk desa itupun juga ikut tertawa, mereka sudah memenuhi di sekitar lokasi gapura desanya, mereka penasaran dengan jeritan keras dari luar gapura, walaupun takut tpi para warga ingin menyaksikan apa yang terjadi di lokasi gapura desa.
"Kau masih ingin bermain main kunyuk bodoh, hhheeee,,,, kalau kau tidak lelah kita akan bermain main kunyuk kunyuan, hhhhaaa,,,, aaahhh sepertinya kau sudah lelah kunyuk bodoh, pernainan jadi gak seru ni, hhhheee,,," ucap pengemis tua itu yang sudah tak menyerang pimpinan itu dengan tongkat bambu kuningnya.
Pimpinan rampok itu ternyata sudah pingsan, wajahnya sudah banyak luka lebam, menjolan bebjolan sebesar kelereng di wajahnyapun terlihat begitu banyak, kakinya sudah tak berfungsi sebelah, darahpun keluar dari hidung dan mulutnya.
"Sekarang kau malah tidur kunyuk bodoh, aahhh sudah gak seru lagi, dasar kunyuk dungu baru segitu main mainya sudah tertidur pulas," ucap pengemis tua yang mendekati pimpinan rampok itu sambil mengerakan tangan pimpinan itu yang sudah lemas.
"Aaahhh sudahlah sekarang aku mau makan enak dulu, bermain main denganmu malah aku jadi lupa mu makan," ucap pengemis tua itu yang mulai meninggalkan lokasi itu tanpa menghiraukan para warga.
Ia terus melangkah meninggalkan kerumunan orang yang mengelilingi tempat pertarungan tadi.
__ADS_1
Kepala kampungpun melihat itu langsung berlari mengejar pengemis tua itu, karena belum sempat mengucapkan terima kasih, sebelum mengejar pengemis tua itu kepala kampung itu menyuruh warganya mengurus pimpinan yang sudah pingsan itu.
"Kakek tua, kakek,,,," ucap kepala kampung itu sambil berlari menghampiri pengemis tua itu yang terus berjalan tak memperdulikan teriakan di belakangnya.
"Aku sudah sangat lapar, aduuuhhh perutku, aku harus cepat mencari warung makan, sudah tak tahan ini perut, hhheee," ucap lirih kakek tua yang terus berjalan.
Kepala kampungpun tetap berlari untuk menyusul langkah kaki pengemis tua itu, tak menunggu lama kepala kampung itu sudah berada di samping pengemis tua itu.
"Kakek,,,, Terima kasih sudah menyelamatkan kampung ini dari para perampok kalajengking berdarah, kakek,,, kek, kakek mau kemana, kek, aku kepala kampung desa ini, sekali lagi aku mewakili para warga untuk mengucapkan terima kasih," ucap kepala kampung itu yang berjalan disamping pengemis tua itu.
"Heehhheehheee,,, gak usah berterima kasih Ki, munkin memang perampok itu sudah begitu apes, kebetulan saja orang tua ini lagi lewat,aduuuhhh,,,, hhheeee,,," balas pengemis tua itu sambil sebentar sebentar memegang perutnya.
Krrrruuukkkk,,,,
kkkrrruuukkkk,,,,
aduhhhh
__ADS_1
sssss,,,,aduhhhh
hhhhiiiii,,,,
Mendengar itu semua kepala kampung itu jadi masalahnya.
"Maaf kakek, sebaiknya kakek ke tempatku kebetulan istriku sudah masak enak, bagaimana kek," ucap kepala kampung itu yang mengajak kakel pengemis itu ke diamanya.
"Aaaahhhh,,,, baiklah,,, kau bisa tahu ya, hhhhiii,,, maaf kalau aku tadi tak menghiraukanmu, perutku dari tadi sebenarnya sudah tak mau di ajak bicara kisanak," balas pengemis tua itu dengan terkekeh,
Semua orangpun sudah pada membubarkan diri, semua kembali kediamanya masing masing, sementara pimpinan perampok yang sudah tak bisa apa apa di rawat di salah satu rumah penduduk sesuai intruksi dari salah satu orang kepercayaan kepala kampung.
Kakek pengemis itu kini berjalan bersama Ki Darma kepala kampung desa itu menuju kediaman dari ki darma itu sendiri,
"Semoga cerita ini bisa menghibur, maaf kalau cerita yang lain tak bisa di teruskan lagi, kalau pengen tau kisahnya di aplikasi kuning, sudah ada dua judul,
Pedang Pebasmi Iblis dan Pendekar Pedang Biru Langit
__ADS_1