
Siluman ular putihpun masih beradu mulut dengan Eyang Raga Runting.
"Bagiku kau hanya seekor lalat kecil orang tua, liatlah tubuhmu itu tinggal tulang belulang saja masih membual mau membinasakan aku, dengan ekorku saja kau akan binasa kakek peot,hhhhaaa,,,,, " ucap Siluman Ular Putih.
"Tubuhmu memang waow sekali siluman, tapi otakmu begitu dungu, jangan banyak cakap makanlah aku kalau kau mampu," teriak pengemis tua itu dengan penuh kewaspadaan.
"Rasakan ekorku ini tua bangka peot,"
wwwwuuuussss,,,,
wwwuuusss,,,,,,
Siluman ular itupun mengibaskan ekornya dengan kerasnya, eyang Raga Runting dari awal sudah siap dan waspada, kakek pengemis itu dengan cepat bersalto ke udara menghindari ekor siluman ular putih itu dengan gesit dan lincah.
"Punya kemampuan juga kau ternyata tua bangka bau tanah, tapi itu tak mengubah apapun, kau akan tetap ku makan mentah mentah kakek tua," ucap siluman ular itu srdikit menambah kibasan ekornya lebih cepat.
"Dari tadi kau banyak bacot saja, sudah berapa kibasan ekormu itu ha, mengenaiku saja belum bisa mau makan mentah mentah, emang aku buat lalapan apa, huhhh,,,, dasar kebanyakan bacot kau siluman ular, kalau begitu baiklah sebelum aku pergi, kita bermain main sampai kau puad, tapi jangan berharap kau bisa memakanku dengan mudah," balas pengemis tua itu dengan senyum sinis.
Eyang Raga Runting terus menghindari dari kibasan ekor dari siluman ular, siluman ular kini bertambah ganas, dari awal sudah memperkirakan kalau sekali mengibaskan ekornya kakek pengemis itu sudah tewas, jadi sedikit bertambah geram.
Setiap seranganya tak dapat mengenai orang tua yang di hadapinya, sekarang ia mulai menyerang dengan beringad, mulutnya mulai menyemburkan cairan hitam,
Cairan hitam itu efeknya begitu mematikan karena yang di keluarkan adalah racunya, semburan itu juga meleset mengenai eyang raga runting al hasil mengenai daun daun dan rumput rumput di tanah, seketika langsung layu dan kering.
"Untuk makan tua bangka ini sampai kau mengeluarkan racunmu itu ular bodoh, hhhhaaaa,,,, badanmu yang gede itu ternyata cuma pengecut, hhhaaa,,,, Rasakan tongkatku ini siluman busuk, hhhhiiiaaatttt,"
"Pukulan Tongkat Membelah Samudra tingkat pertama"
__ADS_1
Wwwuuusss,,
wwwuuusss,,,
Jeeeeddduuuummmm,,,,
Jeeedduuummm,,,,
Tongkat kuning eyang Raga Runting terlihat mengeluarkan angin yang menyerupai ombak yang begitu besar menggulung dengan sangat cepat, suara itu menghatam tubuh dari siluman ular itu.
"Hhhhaaaaa,,,, ternyata hebat juga kau tua bangka, tapi sayang tubuhku tak berpengaruh dengan mainan seperti itu, hhhhaaaa,,,," teriak siluman itu yang tetus menyerang.
Kakek pengemis sedikit terkecut melihat jurusnya tak berpengaruh pada tubuh siluman ular itu.
"Hhhheeee,,,, ternyata kau juga punya kemampuan siluman busuk, Itu hanya pemanasan dan belum seberapa, kau jangan terlalu meremehkanku siluman busuk, akan kuberikan yang kau mau, jangan pernah bangga dengan tubuh besarmu itu siluman bangsat, itu hanya petmulaan tanda kita bermain main," ucap eyang raga runting yang raut wajahnya selalu berubah ubah.
"Naga Kuning Membelah Bumi"
Ssswwwuuutttt
wwwuuusss
Angin seperti datang begitu besar aura tongkat pengemis tua itu mengeluarkan cahaya kekuning kuningan keemasan, dan menggulung keluar dari angin itu seperti seekor naga berukuran lebih besar menghatam ke tubuh siluman ular itu,
jeduuummmm,,,,
Jeduuuummmm,,,
__ADS_1
Duaaaarrrrr,,,
dddduuuaaarrr,,,
Terlhat suara keras seperti menghatam benda yang sangat keras sekali, tubuh siluman itupun terhempas beberapa puluh meter ke belakang menabrak pepohonan yang di sekitar tubuh siluman itu terhempas.
"Hhhhaaaa,,,, mampus kau siluman bodoh, mau betlagak sok di hadapan tua bangka ini ha, hhhhaaaa,,,, ayo kita bermain main,,, aku suka,,,, aku suka,,,, hhhhiiii,,, hhhiiii,,,," ucap eyang raga runting melihat siluman itu terkena jurus tongkat kuningnya.
Tubuh Siluman ular putih itu sudah berdarah darah terkena jurus dari eyang Raga Runting.
"Bangs4t kau tua bangka, tak mengira aku bisa kau lukai, aku terlalu meremehkanmu tua bangka, sekarang jangan berharap kau bisa bernafas hari ini," teriak siluman ular itu yang mulai mendekati eyang Raga Runting.
"Hhhhiiii,,,,, masih mampu bermain main kau ular busuk, ayo kita lanjutkan lagi kalau kau masih ingin memakan daging tua bangka ini, hhhhiii,,,,hhhiii,,," teriak pengemis tua itu yang sudah siap dengan kuda kuda tarung menunggu kedatangan siluman ular putih itu.
Sssssssssssshhhhh,,,,
ssssssssshhhhhh,,,,
Siluman ular itu langsung terjun kesungai itu, kini ia menghilang, eyang raga runting tetap waspada melihat siluman ular itu masuk kesungai,,,,
Tiba tiba ular siluman putih itu sudah berada di pinggir sungai dengan menyemburkan cairan hitam dalam mulutnya, eyang Raga Runting yang sudah siap menunggu kalau ada serangan langsung menghindar dengan bersalto ke belakang.
Ular Siluman itu terus menyemburkan cairan hitam itu, eyang raga runting tetap gesit dan lincah menghindari cairan yang di tujukan pada drinya itu.
Semoga terhibur dengan cerita ini, dan kalau suka ya author ikut bersukur, jangan lupa vote atau like itu sudah membuat author bersemangat untuk melanjutkan cerita ini
Terima kasih semoga sehat selalu my sobt
__ADS_1