
Ular siluman itu terus tak beberikan kesempatan pengemis tua itu untuk dapat menyerang, siluman ular terus meliuk liuk menerjang, mengibaskan ekornya juga mengeluarlan racun dari semburanya.
"Apa kau juga merasa senang bermain main siluman ular bodoh, ayo terus aku suka,,,, aku suka,,,,, hhhhaaaa,,,, sudah lama aku tak berolah raga seperti ini, hhhhiiii,,,," teriak eyang Raga Runting sambil menghindari berbagai serangan yang di lancarkan siluman ular putih itu.
"Sekarang kau takan ku biarkan melukai ku tua bangka, hhhhaaaa,,,, terus tangkis dan hindari seranganku ini kakek tua, hhhaaa,,,, sebentar lagi kau takan bisa bertahan dengan semua srranganku ini kakek tua," teriak balasan dari ular siluman itu dengan masih meliuk liuk menerjang ke arah eyang Raga Runting.
Eyang Raga Runtingpun masih dengan gesit dapat menghindari serangan ular siluman itu, gerakanya seperti ia semasa di waktu muda dulu, kini kakek tua itu melayang di udara, melihat celah dari pertarungan itu eyang Raga Runting tidak menyia nyiakanya.
"Tongkat Naga Kuning Penghancur Semsta"
Kini tongkat kuning seperti mengeluarkan aura se ekor naga, aura itu terbentuk dari udara yang memadat, Naga itu terlihat lebih besar berkali kali lipat dibandingkan dengan siluman ular putih itu
sssswwwuusss,,,
bbbuuukkk,,,
hhhiaaatttt,,,,
__ADS_1
bbbuuukkk,,,,
Ciaaatttt,,,,
Jedummmm,,,,
jedummmm,,,,
Bruuuukkkkk,,,,
Tongkat Pengemis tua itu mengenai celah yang dilihatnya, benturan aura energi dari tongkat eyang Raga Runting melesat membentur tubuh siluman ular putih itu begitu kerasnya.
Dengan serangan jurus tongkat kuningnya akhirnya Siluman ular tewas mengenaskan. Bau daging gosong tercium lekat menusuk hiding.
"Huuhhh,,,,, segitu saja kemampuanmu siluman bodoh, sungguh besar omongmu, huuhhh,,, baru akan mulai bermain sudah mati, dasar,,," ucap eyang Raga Runting yang melesat terbang menghampiri siluman ular yang sudah tewas itu,,,
Terlihat tubuh Siluman Ular itu kepalanya pecah, dan tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian,
__ADS_1
Eyang Raga Runtingpun setelah turun dari ilmu meringankan tubuhnya menghampiri tubuh siluman ular putih itu.
"Hhhheee,,,, tak menyangka hari ini aku bisa mencicipi daging ular siluman ini, akan bisa menambah dan memulihkan tenaga dalamku ni, hhhhiiii,,,, asyeeekkk,,,, bisa sarapan enak hari ini,,, sebaiknya aku masukan daging ini setengah ke Cincin Ruang saja, biar di perjalanan tidak kelaparan, sebaiknya aku periksa kristal roh siluman ini, buat oleh oleh muridku yang gemblung itu,hhhheee,, dan untuk sisa tubuh siluman ini sebaiknya aku sisakan untuk para hewan, biar ikut merasakan lesatnya daging diluman ular putih ini," ucap eyang Raga Runting sambil mengambil kristal roh dalam tubuhnya yang terbelah itu.
"Sebelum melakukan perjalanan lagi sebaiknya mencicipi daging Siluman Ular ini, biar lebih matang dan enak harus dibakar lagi dan di kasih rempah rempah," ucap lirih eyang Raga Runting yang mulai mencri ranting kecil sisa sisa dari pepohonan yang sudah tumbang.
Setelah mengumpulkan ranting kayu pengemis tua itu lekas membuat perapian.Tak menunggu lama perapian itupun sudah jadi.
Kakek tua itu mengambil daging secukupnya, iapun lekas membakar daging siluman itu,
"Ini sudah bisa mengganjal perutku untuk beberapa waktu, semoga tenaga dalamku akan kembali lagi setelah mengeluarkankan hampir setengahnya," bhatin eyqng Raga Runting sambil membolak balikan daging siluman yang di bqkarnya itu.
Setelah agak lama menunggu daging yang dibajarnya, tetlihat aroma harum terasa di srkitar hutan itu, harumnya begitu menyengat.
Mwrasakqn kalau dagingnya sudah matang kakel pengems itu mulai menyantapnya.
"Hhhmmm,,,, enak juga daging siluman ini, hhheee,,,, cuma kasih rempah rempah sdikit harum baunya saya begitu sedapnya," ucap eyang ragarunting..
__ADS_1
jangan lupa vote atau like biar makin semqngat melanjutkqn cerita ini
thanks