
Eyang Raga Runting berkeliling ke tempat para warga yang terkena penyakit dari Wisa ular siluman yang sudah dibunuhnya.
Beberapa jam setelah memakan daging siluman ular itu mereka berangsur angsur mulai menunjukan perubahan, Eyang Raga Runting juga merasa senang karena bisa mengobati para warga desa itu.
Kini dalam beberapa jam mereka yang terkena wabah penyakit sudah banyak yang sembuh, para penduduk desa begitu senang dan gembira dan banyak dari warga desa mengucapkan terimaksih pada Eyang Raga Runting.
"Nak Raga, kami selaku kepala dusun ini mengucapkan banyak terima kasih, apa jadinya kalau nak Raga tidak ke tempat desa kami ini, maaf kami tidak bisa memberikan apa apa kepada nak Raga, hanya ini yang bisa kita berikan kepada nak Raga sebagai ucapan terima kasih untuk kesembuhan para warga," ucap kepala kampung sambil menyerahkan sekantong uang emas dari para warga.
"Kebetulan saja aku sedikit tau ilmu pengobatan, tapi kalau wabah ini memang itulah penyembuhnya,hhhheeee,,,, untuk sekantong uang ini, aku tak menerima ki, aku menolong mereka itu iklas, biarlah uang ini di kembalikan pada warga, maaf aku tidak bisa menerimanya, tapi berikan aku sedikit makanan saja, itu sudah lebih baik ki, hhhheeee," jawab eyang Raga Runting dengan menggaruk kepalanya yang sedikit gatal.
"Ini hanya sekedar rasa terimakasih karena warga sudah banyak yang sembuh nak Raga, terimalah, kami semua juga iklas kalau nak raga tidak mau menerima itu sama saja nak Raga jadi sedikit menyinggung dikiranya malah pemberian ini kurang banyak nak, kami mohon terimalah ini nak biar para warga merasa senanh" ucap kepala dusun itu sedikit menjelaskanya pada eyang Raga Runting.
__ADS_1
"Aaaaiiihhhh,,,,, aduh,,,, aaahhh,,,, kalian selalu sedikit memaksa, baiklah akan aku terima pemberian ini, aku mengobati itu sungguh sungguh iklas sebenarnya, aku juga mengucapkan terima kasih pada kalian para warga disini," balas eyang Raga Runting dengan menerima sekantong uang dari kepala dusun.
Setelah menerima pemberian dari warga desa eyang Raga Runting sebenarnya ingin melanjutkan perjalanan lagi, tapi hari sudah mulai petang, ia di ajak oleh salah satu warga untuk menginap di rumahnya dengan sedikit memaksa, iapun akhirnya dengan terpaksa menginap di salah satu warga desa.
Hari semakin petang, terlihat keceriaan di keluarga yang sudah sembuh dari penyakitnya, banyak warga berkumpul untuk mengucapkan rasa sukurnya dengan sedikit makan bersama sama, acara sukuran itu berlangsung sampai larut malam.
Melihat itu eyang Raga Runting juga merasa gembira, kini mereka larut dalam canda tawa.
Eyang Raga Runtingpun sudah berada di kamar yanh telah disediakan oleh salah satu warga desa, iapun merebahkan tubuhnya di balai bambu yang sederhana.
Malam semakin larut, kini yang terdengar hanya suara binatang malam, malam itu sudah terasa sunyi dan sepi.
__ADS_1
Tak terasa suara ayam kampung atau ayam hutan sudah memecah kesunyian, tanda hari menjelang pagi,
Eyang Raga Runtingpun sudah terbangun dari tidurnya, ia kemudian keluar kamar untuk membersihkan tubuhnya, dan ingin melanjutkan perjalanan lagi, karena eyang Raga Runting sebelum turun dari puncak gunung merapi sudah berpesan pada murid satu satunya sebelum ia kembali penjemput muridnya yang sedang bertapa tetap harus melanjutkan tapa bratanya.
Begitu juga dengan tuan rumah mereka sudah terbangun.
"Paman, terima kasih untuk tempat untuk mengistirahatkan tubuh ini, sampaikan kepada para warga dan kepala dusun, pagi ini juga saya akan melanjutkan perjalanan lagi, karena ada sesuatu hal yang sangat penting, sekali lagi terima kasih paman untuk semuanya," ucap eyang Raga Runting pada tuan rumah,
"Apa tidak terlalu pagi nak Raga, sepertinya pagi ini masih terlihat petang, sekali lagi kami sekeluarga mengecupakan banyak terima kasih nak Raga, sudah menyembuhkan penyakit di desa ini, kami tidak bisa membalas budi kepada nak Raga, dan kalau nak Raga tak menunggu nanti kami hanya mendoakan semoga perjalan nak Raga sampai ke tempat tujuan dengan lancar tanpa halangan apapun," balas seorang laki laki setengah baya dengan senyum.
"Kalau begitu saya pamit melanjutkan perjalanan lagi paman," ucap Eyang Raga Runting sambil melangkah keluar dari rumah pria setengah baya itu.
__ADS_1
Eyang Raga Runtingpun mulai melanjutkan perjalanan lagi, memang ia sengaja berangkat pagi biar lekas sampai ke tempat muridnya bertapa, karena ia tau munkin besuk kalau tidak ada halangan akan sampai di puncak gunung merapi.