
Badar Geni masih belum mau mengalah walaupun mereka saling menekan dengan kekuatanya masing masing, ia tetap bersikeras untuk terus berjalan mendekati Pedang yang tertancap di batu yang terlihat tinggal setengahnya,
"Kemampuanmu memang sudah tak di ragukan lagi semoga kau mampu untuk mengambilku sebagai senjata pusakamu bocah, tapi bagaimanapun juga aku ingin tahu kalau kau memang pantas menjadi tuanku,hhhhaaa," ucap pedang yang masih menancap di batu itu yang sudah di selimuti cahaya ke emasan.
"Kau hanya sebuah pedang karatan bagiku, hhhhiiii,,,,, kalau tak bisa menaklukanmu jangan sebut aku Badar Geni pedang bodoh, hhhheeee,,,,, tak lama lagi kau harus mengakuiku sebagai tuanmu, kalau kau berani berbohong jangan berharap kau keluar dari sini pedang bodoh, xxxxiiiiii," teriak Badar Geni pada pedang yang di anggap pedang karatan itu.
"Apa kau bilang,,,,, Pedang Karatan,, Matamu,,,,
"Hhhhaaaa,,,,, emang begitu kan, ternyata kau bisa marah juga pedang karatan, kau yang pedang karatan matamu,,,, hhhhiiii,,, eeehhh,,, kau kan tak punya mata, tapi pedang bodoh, xxxxiiii,,,,," ucap Badar Geni yang terus berusaha mendekati pedang itu sambil terkekeh sendiri.
"Jangan banyak bacot kau bocah, dari tadi aku menunggumu tapi mengapa kau begitu lama, apa kau tak bisa berjalan bocah gemblung," teriak pedang itu dengan keras.
"Aaaiiihhh,,,, kau juga yang banyak bacot pedang bodoh,hhhheee,,,, aaahhh,,,, apa kau sudah kangen pada calon tuanmu ini pedang bodoh,,, hhhhhaaaa,,,, sabar yaaa,,, pedang karatan yang bodoh, xxxxxiiii,,,," balas Badar geni sambil terus melangkah,,,
"Cuuuiihhh,,,, siapa yang kangen pada bocah gemblung seperti kau, amit amittt,,, aaahhh,,,, aku jadi tak yakin kalau kau nanti jadi tuanku, sungguh sial, dapat tuan agak sinting, apa uratmu sudah sedikit kendor bocah, apes apes hu," ucap pedang yang masih tertancap di batu.
__ADS_1
"Bilang saja kangen pedang bodoh,,,, hhhhaaa,,,, sedikit lagi rasa kangenmu mempunyai tuan akan segera terlaksana pedang karatan bodoh,hhhhiii,,,, apa kau bilang aku sinting, kalau aku sinting kau nanti juga akan ikut sinting hhhheeee,,,, jangan kuatir akan ku bagi sintingku ini padamu nanti pedang karatan,hhhhaaaa," jawb Badar Geni dengan terkekeh mendengar perkataan dari pedang karatan.
"Kangen Cangkemu,,,, itu,,, bocah gemblung,,,, tak ada habisnya menanggapi bacotmu itu bocah, banyak cakap saja kau ini, hu dasar sinting, otakmu itu terbuat dari bocah," teriak pedang yang masih mengeluarkan cahaya ke emasan.
"Xxxxiiiixxxxiiii,,,, kalau itu maumu baiklah Badar geni akan lebih serius, hhhheeee,,,, kau akan tau siapa calon tuanmu ini pedang karatan," teriak Badar Geni dengan sedikit membusungkan dadanya.
Kini badar geni menambah aura berkali kali lipat kekuatanya, tubuhnya kini di selimuti api merah, melihat itu pedang yang masih memancap di batu itu tak mau kalah, ia juga mengeluarkan api biru, auranya juga terasa berkali kali lipat.
"Wahhhh,,,, memang pedang karatan itu kekuatanya sungguh luar biasa, setiap aku menambah aura petarung, pedang itu selalu mengikutinya kekuatanya juga semakin bertambah, jadi sangat penasaran dengan kekuatanmu sesungguhnya pedang karatan, sinarmu tak akan berpengaruh dengan Mata Matahariku ini,,, hhhhiiiiii, " bhatin Badar Geni dengan maju untuk mendekati pedang yang masih menancap di batu.
Kini Badar Geni sudah berada di depan pedang yang sangat menyilaukan mata itu, bagi orang biasa memandang cahaya ke emasan dari pedang itu munkin sudah langsung buta, tapi tidak untuk murid dari pengemis tongkat naga itu.
Setelah terasa dekat dan mau mencabut Pedang itu, pedang di hadapanya mendahului keluar dari batu itu dan menyerang Badar Geni,
"Kau masih mau bermain main dengan calon tuanmu ini, kau itu,,,, dari tadi cuma mempermainkanku pedang karatan, sungguh apes ternyata aku kena tipu, bangsat kau pedang bodoh," teriak Badar Geni dengan sedikit geram, karena saat mau di cabut pedang itu sudah mendahului mencabut sendiri.
__ADS_1
"Hhhhaaaa,,,, kau kira dengan langsung mencabutku kau sudah jadi tuanku, kalahkan aku dulu kalau kau mampu bocah," balas pedang itu yang kini menjadi dua, dan menyerang Badar Geni seperti musuhnya
"Kauuu,,,, beraninya kau menipuku lagi, sekarang kau malah menjadi dua, hu,,,, pedang apa kau ini sukanya menpermainkanku, apa lagi nanti yang akan kau perlihatkan tipuanmu lagi pedang karatan," ucap Badar geni bertambah murka karena beberapa kali pedang itu menipunya.
"Itu belum seberapa bocah gemblung, hhhheee,,, rasakan jurus jurus ku ini kalau kau mampu bocah sinting," teriak pedang itu dengan menyerang Badar Geni dengan kekuatanya.
Badar Genipun selalu berkelit dan bisa menghindari setiap tebasan ataupun tusukan dari kedua pedang itu dengan kemampuanya, sudah berpuluh jurus mereka keluarkan, tapi mereka masih tetap tak mau mengalah.
Mereka saling silih berganti menyerang ataupun bertahan, kedua pedang itu terus melancarkan serangan dengan jurus jurus yang sulit di tebak, karena serangan kedua pedang itu tak terlihat celah, kedua pedang itu saling menutupi kekuranganya masing masing.
Badar Geni jadi sedikit kualahan untuk menaklukan kedua pedang yang menyerang dengan sangat mematikan,
"Kedua pedang itu tak memiliki celah sedikitpun, mereka saling menutupi, benar benar pusaka yang hebat, bagaimanapun aku harus bisa menaklukan kedua pedang itu," bathin Badar Geni yang sedang di buat untuk bertahan tanpa dapat menyerang.
*Bagaimana kelanjutanya ikuti terus ya cerita ini, jangan lupa like atau vote itu sudah buat author sangat senang*
__ADS_1
Semoga selalu terhibur my sobt,,,