
Badar Geni pun langsung di antar ke tempat Sanjaya salah satu murid dari salah satu tetua padepokan itu.
Dalam perjalan ke tempat Sanjaya, Badar Geni merasa sangat takjub dengan bangunan padepokan Singa Emas.
Sambil berjalan tetua Wiratama menceritakan kalau padepokan Singa Emas memang sangat besar, dan muridnya mencapai lima ribu yang di bagi menjadi beberapa regu atau kelompok,
Setiap kelompok di ketuai oleh salah satu tetua dan dan setiap kelompok berisi kurang lebih seribu orang murid.
Kelompok pertama yang dikhususkan mempelajari jurus Pedang, kelompok kedua di kususkan mempelajari jurus tangan kosong, kelompok ke tiga yaitu khusus mempelajari jurus semua senjata, kelompok ke empat dikhususkan mempelajari pengobatan dan yang terakhir yaitu khusus mempelajari segel.
Badar Geni mendengar cerita dari tetua Wiratama itu sungguh sedikit kaget, walaupun ia sudah sedikit menduganya.
"Anak muda sebenarnya tujuanmu mau kemana, aku pribadi masih sangat penasaran denganmu, aku sudah menceritakan sedikit tentang padepokan kami, setidaknya kamu cerita sedikit tentang dirimu biar kami bisa membalas jasamu hhhheee," ucap tetua Wiratama yang berjalan di sampingnya.
Belum sempat menjawab pertanyaan dari tetua Wiratama tanpa sadar ketua Braja Musti sudah berhenti di depan pintu dan langsung membukanya dan memasukinya.
"Anak muda sekarang sudah sampai, kemarilah dan lihatlah sendiri kondisi muridku itu, maaf aku hanya mengantar di sini aku tidak tega melihatnya anak muda," ucap ketua Brajamusti yang berhenti di depan pintu.
__ADS_1
Badar Genipun masuk di ikuti dengan Kinasih dan Bagus Sajiwo dan Arum sari karena keduanya yang selalu merawat kakak pertamanya itu sejak ia terbaring lemah di kamarnya
Kini yang Badar Geni lihat seseorang terbaring tak berdaya, dan wajahnya sudah keriput seperti terlihat menua, tubuhnyapun sangat kurus, hanya di bungkus dengan kulit yang keriput.
Seketika Bagus Sajiwo dan Arum Sari langsung meneteskan air mata, di tinggal beberapa hari tubuh kakaknya sudah terlihat menua.
"Sudah tenang saja kalian berdua tidak usah sedih gitu, aku akan memeriksanya sebaiknya daun daun dan akar akar yang kalian cari dipersiapkan, dan untuk itu kalian tunggu saja di luar biar aku dan kinasih bisa fokus membuat ramuan ini," ucap Badar Geni yang memegang pundak Bagus Sajiwo.
"Beginilah keadaan kakaku saudara Badar, semoga kamu bisa menyembuhkan kakaku, kalau begitu daun daun dan akar akaran ini aku letakan di meja ini saudara Badar, dan bila ada hal yang lain nanti jangan sungkan untuk mengatakan pada kami, kami permisi dulu," ucap Bagus Sajiwo yang keluar di ikuti dengan Arum Sari.
Setelah mereka berdua keluar dan menutup pintu Badar Geni mulai mengecek keadaanya, ia menggunakan jiwanya untuk melihat aliran darahnya dan luka dalamnya yang terkena racun.
"Kinasih tolong daun daun dan akar akar itu kamu ambilkan, aku akan mengobati tahap awalnya, yaitu menghilangkan Racun dalam aliran darahnya dahulu, setelah stabil dan keluar baru organ dalam tubuhnya dan terakhir untuk pemulihan," ucap Badar kepada adiknya itu.
Kinasihpun mengambil apa yang di perintahkan Badar Geni setelah di letakan di depanya, iapun mengeluarkan api abadinya untuk membuat ramuan yang pertama yaitu mengeluarkan racun yang ada di darahnya yang sudah sedikit kental.
Pertama tama ia mengambil beberapa daun dan akar untuk mengeluarkan kotoran dalam daun ataupun akar itu di tanganya yang sudah mengeluarkan api abadi yang berwarna hijau kebiruan, setelah terlihat kotoran itu hilang iapun langsung mencampurkan semua bahan bahan yang sudah terlihat bersih.
__ADS_1
Ia sedikit memasukan air dari grojokan sewu yang ia bawa di sebuah botol beberapa tetes, air itu mengandung hawa murni dari elemen es, bila di campurkan dengan bahan bahan tadi akan efektif untuk membuat ramuan yang sempurna,
Badar Geni kini konsentrasi penuh biar ramuan itu menjadi sempurna, sudah hampir satu jam ia mengolah ramuan itu, setelah beberapa menit ramuan pertamapun kini telah selesai, baunyapun begitu harum, iapun kemudian menghilangkan api abadinya yang hijau kebiruan dari tanganya dan memasukan ramuan itu ke mangkok yang sudah di persiapkan.
"Akhirnya ramuan pertama ini sudah selesai dengan sempurna untung saja pakai api abadi kalau tidak baru besuk pagi baru selesai," bhatin Badar Geni dengan senyum.
"Kinasih sekarang ramuan pertama ini sudah jadi, sebaiknya kamu minumkan padanya, semoga saja aliran darahnya langsung mencair dan racunnya bisa keluar," ucap Badar Geni yang tersenyum pada adiknya itu.
"Baik, apakah ramuan ini harus di habiskan kakang Badar," balas Kinasih yang sudah memegang ramuan itu di mangkuk.
"Kalau bisa di minumkan semuanya biar aliran darahnya bisa cepat stabil dan racunya bisa cepat keluar," ucap Badar Geni.
Kinasihpun cuma mengangguk dan mulai mendudukan pemuda itu untuk memununkan ramuan itu, dengan sabar Kinasih pelan pelan meninumkan ramuan itu sampai habis.
Setelah habis ramuan itu kinasih membaringkan lagi pemuda itu seperti semula, setelah beberpa saat tubuh pemuda itu seperti kejang kejang, awalnya pelan lama lama kejangnya semakin cepat, bersamaan itu dari tubuhnya keluar cairan hitam bercampur biru sehingga tubuh pemuda itu seperti bermandikan darah kental bercampur dengan racun yang keluar dari pori pori tubuh pemuda itu.
Setelah beberpa lama iapun kembali tenang, dengan sabar kinasih membeesihkan tubuh pemuda itu dengan bau busuk yang menyengat hidung karena efek dari racun yang sudah lama di tubuh sanjaya.
__ADS_1
Badar Geni sementara mengumpulkan tenaga dalamnya dengan bersemedi sebentar, setelah selesai membuat ramuan pertamanya.
Kinasihpun mengecek aliran darah dari Sanjaya, ia merasakan kalau aliran darah pemuda itu sedikit normal detak jantungnya saja yang masih tak normal kadang kadang cepat kadang kadang lambat.