Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
57. Akhirnya Huh


__ADS_3

Badar Geni masih memicingkan matanya mendongak ke atas ke arah suara yang begitu di kenalinya, ada tiga orang sepuh yang melayang di angkasa, merekapun lekas turun dan dalam waktu singkat sudah menginjak tanah tak jauh dari Badar Geni berdiri.


"Sebenarnya dari tadi aku sudah mendengar ada pertarungan disini, tanpa kau sadari aku sudah melihat ataupun mendengar apa yang kalian perdebatkan anak muda, sekarang kamu sudah memberi pelajaran pada pemuda itu, lepaskanlah aku juga sudah merasakan kalau ia sudah terlihat tak berdaya, untuk itu maafkan kami atas ketidak nyamanan atas sambutan dari salah satu murid di sini anak muda, baru sampai di tempat ini saja kamu sudah mendapatkan perlakuan yang menyinggungmu anak muda, budi baikmu saja belum sempat kami membalasnya, sekali lagi maaf atas kesalahan kami," ucap Ketua Padepokan Singa Emas pada Badar Geni yang masih tak bergeming dari tempat ia berdiri, sambil mencengkram leher Sapto yang terlihat semakin pucat.


"Ketua, mohon maaf apa aku tak salah dengar apa yang ketua ucapkan, mengapa malah membela bocah itu, kamu lihat sendiri ia berniat untuk mengacau di padepokan ini, apalagi dia sudah membuat murid kesayanganku jadi tak berdaya, bukanya dia salah satu murid baru di tempat ini, dan apa maksud ketua berkata seperti itu," ucap Tetua dari kelompok berbagai jurus senjata dengan mengeerutkan keningnya.


"Tetua Dirjo, kau salah besar kalau menggap pemuda itu salah satu murid baru disini, bukanya semua tahu ini belum saatnya penerimaan murid baru, masih satu purnama lagi, pemuda itu sebenarnya adalah tamu di padepokan, kau tahu kenapa tetua Dirjo, pemuda itu yang sudah mengobati Sanjaya dalam beberapa jam saja,sekarang Sanjaya sudah sadar, dalam tahap pemulihan fisiknya, kau tentu tahu tetua dan murid belum tentu bisa menyembuhkan dalam waktu singkat, bahkan aku sendiripun belum mampu, dan tak kusangka selain ilmu pengobatanya yang luar biasa, ilmu kanuraganyapun sudah di tahap sempurna," ucap ketua Braja Musti menjelaskan tentang pemuda yang sudah melepaskan cengraman di leher Sapto.


"Aaa,,, aaapaa,,,, dalam waktu beberapa jam saja Sanjaya sudah sadar, benarkah yang tetua katakan, tapi siapa sebenarnya pemuda itu ketua, aku juga sempat memperhatikan sebentar kemampuanya, tapi tetap saja bocah itu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah di lakukanya pada muridku," jawab tetua Dirjo yang terkejut mendengar penjelasan dari ketuanya sendiri.


"Tetua,,,, ini hanya kesalah pahaman saja, munkin kalau saya menahan diri setuasinya tidak akan seperti ini, sekali lagi maafkan saya yang sudah membuat onar di sini, maafkan saya ketua dan tetua tetua, kalau memang saya salah jangan sungkan untuk menghukum saya, saya akan mempertanggung jawabkan apa yang telah saya lakukan," ucap Badar Geni yang melangkah meninggalkan Sapto ke arah ketua dan tetua berdiri sambil membukuk minta maaf.


"Itu bukan kesalahanmu anak muda, memang banyak murid murid yang arogan yang sifatnya semena mena dan sudah merasa ilmu kanuragaanya sudah tak tertandingi, seperti yang kamu buktikan sendiri, untuk masalah ini tidak usah di bahas lagi, kalau ada yang merasa keberatan biar berhadapan langsung denganku, kamu dan adikmu adalah tamu di padepokan ini anak muda," ucap Tetua Braja Musti yang melirik ke arah tetua Dirjo yang sedang mengobati Sapto murid kesayanganya.


Para muridpun merasa kagum dengan sosok badar geni, apalagi sepasang mata selalu mengawasi di kerumunan para murid yang masih melihat di tempat itu,

__ADS_1


Kinasihpun sebenarnya juga sudah tahu akan pertarungan dengan beberapa pemuda yang arogan itu, sebenarnya ia berniat untuk membantunya, tapi ia percaya dengan kemampuan yang di miliki kakaknya itu ia mengurungkan niatnya untuk membantunya.


Sementara Tetua Dirjo menyepitkan matanya kearah muridnya yang pucat basi, iapun terlihat sangat geram, tapi dalam hatinya tak mau bertindak gegabah,


Baru beberapa langkah mereka berjalan Tetua Dirjo berteriak lantang.


"Bocah apa yang kau lakukan pada muridku ini, aku merasakan kalau tenaga dalamnya sudah tidak ada lagi, apa kau memusnahkan tenaga dalamya bocah," teriak Tetua Dirjo dengan mengepalkan kedua tanganya dengan geram.


"Aaahhh,,,, soal itu maaf tetua tadi tanpa sadar aku sudah memusnahkanya, tapi jangan kuatir kalau dia tak arogan lagi dan giat berlatih dari awal tenaga dalamya pelan pelan akan kembali lagi, tapi memerlukan waktu yang lama, hhheee,,, maaf tetua biar murid anda bisa mengerti tingginya gunung dan dalamya samudra, jangan ajari dan terlalu memanjakanya, biar muridmu itu tak seperti ini lagi, sekali lagi saya,minta maaf atas kesalah pahaman ini tetua," ucap Badar Geni yang membalikan tubuhnya dan mendekat dan berhadapan dengan tetua Dirjo dan Sapto muridnya.


"Sudahlah Tetua, ini semua demi kebaikan kita, aku sudah minta maaf, kalau tetua tak terima tersrah saja, sekarang aku akan kembali menjenguk Sanjaya, aku harap tetua pikirkan apa yang telah terjadi ini, semoga tidak ada dendam bila kita bertemu lagi, saya undur diri tetua, sekali lagi maaf atas kesalahpahaman ini," balas Badar Geni juga dengan lirih pada tetua Dirjo.


Badar Genipun melangkah pergi ke arah para ketua dan tetua yang masih berdiri menunggu Badar Geni,


Para murid muridpun pada membubarkan diri atas perintah tetua, dari jauh terlihat Kinasih dan Arum Sari mulai mendekati Badar Geni maupun Ketua dan Tetua.

__ADS_1


"Kakang,, apa kamu baik baik saja, hhhheee,,,, sepertinya ada yang terlalu mengawatirkan dirimu, wajahmya tadi sedikit pucat saat Golok yang pemuda lancarkan tadi mengenaimu, apa kamu tak mendengar jetitanya hhhheeeee," bisik Kinasih yang sudah berada di sampingnya yang menyenggol bahu Arum Sari dengan tersenyum mengejek.


"Kirain,,,, kamu belum bangun Kinasih, apa yang kamu katakan tadi, memang ada orang mengawatirkanku, kamu selalu bercanda kinasih, hhhheeee,,,, kalau ada berarti otaknya sudah sedikit mau putus, hhhhiiii,,, kau ini mengada ada saja," bisik Badar Geni pada kinasih adiknya dengan terkekeh.


Arum Sari malah mendengus kesal mendengar perkataan dari Badar Geni.


"Dasar pemuda Bodoh, apa memang otaknya terbuat dari batu, masak tak tahu kalau aku selalu khawatir saat ia sedang bertarung, huuhhh,,,, sungguh bikin kesal saja, dasar pemuda bodoh," bhatin Arum Sari dengan mendengus kesal.


Kinasihpun cuma cengar cengir melihat Arum Sari yang terlihat kesal.


Kini tak terasa mereka sudah berada di kamar Sanjaya, dan hanya ada Bagus Sajiwo yang sedang merawat kakaknya itu dengan penuh kesabaran, sebenarnya ia juga mendengar pertarungan, tapi mengurungkan niatnya untuk melihat pertarungan itu karena kakanya lebih penting, beda denga Arum Sari ia langsung lari melihat pertarungan itu.


BAGAIMANA KISAHNYA TETAP DUKUNG YA MELALU VOTE, LIKE, ATAUPUN COMEN, DAN SEMOGA TETAP TERHIBUR.


KALIAN YANG TERBAIK

__ADS_1


THANKS


__ADS_2