Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
8.Siluman Ular Putih


__ADS_3

Pengemis tua yang tetap melangkahkan kakinya menelusuri lebatnya hutan dan gelapnya malam, ia tak perduli dengan keadaan siang atau malam dan tak perduli masih gelap atau sudah terang, ia tetap berjalan tanpa takut apa yang terjadi di depanya.


"Sepertinya sudah begitu larut malam, sudah berapa hutan yang aku lewati, sepertinya kakiku sudah sedikit lelah, lebih baik aku aku menginap di hutan ini menunggu pagi, biar besuk bisa melanjutkan perjalan kembali ke lereng gunung merapi melihat murid sinting itu sampai dimana batas kekuatanya itu hhhheee,,,,," ucap lirih pengemis tua itu yang langsung meloncat ke atas ranting yang paling besar.


Pikiranya kini teringat muridnya, tinggal satu langkah lagi muridnya satu satunya itu akan mewarisi semua ilmu kanuraganya,


"Sudah berapa lama aku meninggalkan si gendeng itu bertapa, semoga dia melebihi tua peot ini, puluhan tahun aku telah mendidikmu setelah kamu mampu menyerap tenaga dalam di kawah gunung merapi, dan hati dan jiwamu sudah bersih, tua bangka ini akan moksa, sudah terlalu tua ternyata aku ini," ucap kakek pengemis tua itu yang bersandar di atad batang pohon yang paling tinggi.


Ia terbayang cucunya itu, tanpa sadar kakek tua itu sudah memejamkan matanya, suasana hutan itu begitu sepi hanya binatang malam yang terdengar dari kejauhan.


Tak terasa hari menjelang pagi, begitu pulasnya kakek pengemis tua itu terlelap tidur di atas pohon.


Semakin lama sang surya mulai terlihat dan menapkan sinarnya menembus daun daun, tanpa sidari sebuah burung sudah hinggap di kepala kakek tua itu membuat ia terbangun.


"Sontoloyo,,,, emang rambutku ini sarangmu, enaknya kau acak acak rambutku sampai begini, aaaiiihhhh,,,, burung tak tau diri buang hajat di kepala orang tua ini, tak tau sopan santun dasar burung tak tau diri huh," ucap pengemis tua itu yang marah marah seperti memarai anak kecil.

__ADS_1


"Dasar burung, pergi sana kau,,,, aaahhh menggangu saja tidurku,, membuat kotor dan bau saja buang hajatmu itu ," ucapnya lagi dengan begitu kesal, sambil mengusap kepalanya yang sudah banyak kotoran dari burung yang sudah hinggap begitu lama di kepala pengemis tua itu.


Setelah itu Eyang Raga Runting turun dari batang pohon itu, iapun kemudian berjalan lagi sambil mengamati seperti seorang yang mencari anaknya.


"Gara gara terlambang bangun burung sialan itu membuat kepalaku jadi bau tak sedap, aaahhh,,,, dari tadi mencari sungai kecil juga tak menemukan, sungguh sial nasipku ini ya sang hiang widi," ucapnya lirih seberti bicara dengan seseorang.


Lama Eyang Raga Runting berjalan menelusuri lebatnya hutan dan setelah itu pendengaranya mendengar gemericik air yang mengalir.


"Akhirnya aku menemukanmu, huhhh,,, susah amat mencari kau air, air,,,, " ucap kakek tua itu sambil berjalan ke tempat yang di dengarnya itu.


"Waahhh,,,, airnya bening sekali sungai ini, lebih baik mandi sekalian sajalah, sudah kurang lebih setengah purnama tak mandi juga, ikanya juga kelihatan dari sini, gemuk gemuk, hhhiiii,,,, sabar ya ikan, sebentar lagi kau akan jadi sarapan pagiku, hhhheeee," ucap lirih pengemis tua itu yang sudah mulai membersihkan badanya.


Dari jauh sesok mata yang besar mengawasi di dalam sungai itu, berlahan sosok putih yang panjang mulai mendekati kakek pengemis tua itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang besar sedang mendekat ke arahku, auranya begitu sangat terasa, apa sungai ini ada penunggunya,aku harus berhati hati, sepertinya ada siluman di bawah air sungai ini," bhatin Eyang Raga Runting dengan waspada.

__ADS_1


Byuuuurrrrrrrr,,,,


Byuuuurrrrr,,,,


Dalam air keluar seperti ular berwarna putih yang sangat besar kurang lebih 40 meter panjangnya dan sangat besar.


"Siapa kau manusia peot yang berani datang ke tempatku ini, hhhhaaaa,,,, sudah lama aku tak merasakan daging manusia, tapi sepertinya kau sudah tak mempunyai daging, huh sialnya, aku mengira aku mau sarapan pagi yang enak, tapi malah terlihat dagingmu itu sudah tak enak, tapi sudah terlanjur, daripada aku tak sarapan pagi,hhhheeee," ucap siluman itu yang sudah mendongakan kepalanya dari dalam air sungai itu.


Hah,,,, wow,,,,, Aku kagetttt,,,,, aaaiiihhhhh,,,, ternyata benar apa yang aku rasakan, hhhheee,,,, ada siluman ular yang lagi kelaparan ternyata, hhhheeee,,,, apa kamu mau makan tubuh kakek peot ini siluman ular, tubuhku ini sudah tak enak tau, huh, dasar siluman bodoh kau rupanya, hhhhaaaa,,,, sepertinya dagingmu juga huenak ini bisa menambah tubuhku jadi lebih muda lagi, hhhhiiii,,,, apalagi kristal silumanmu akan sangat berguna untuk meningkatkan tenaga dalam, apa kau yakin siluman, kalau kamu yakin makanlah kalau kau mampu hhhhheeee," ucap Eyang Raga Runting dengan terkekeh tanpa terkejut.


BERSAMBUNG......


Semoga cerita ini bisa menghibur para pembaca, kalau suka kasih vote atau sedikit hadiah biar author bisa lebih semangat untuk terus melanjutkan cerita ini.


semoga sehat selalu.

__ADS_1


__ADS_2