Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
39. Sampai di Lereng Gunung Merapi


__ADS_3

Setelah Rajawali Es mulai mengepakan sayapnya ke angkasa mereka berdua di suguhkan dengan pemandangan yang begitu indahnya dan terlihat hijau.


Setelah terbang di angkasa Rajawali es tak menambah kecepatanya karena mereka berdua ingin melihat lihat dulu pemandangan di angkasa yang baru pertama kalinya itu.


Hari itupun masih pagi sang suryapun terlihat indah di angkasa yang menyinari hutan di bawah, sinar kuning keemasaan membuat takjub mereka berdua, karena mereka jarang secara langsung melihat sinar dari angkasa secara langsung.


"Hhhmmm,,,,, benar benar suasana pagi yang begitu sangat indah baru kali ini aku melihat pemandangan dari atas awan," bhatin badar geni yang memandang kemana matanya bergerak.


Rajawali Es hanya diam dan mengepakan sayapnya lebih tinggi lagi udarapun semakin sidikit dingin, tapi itu tak berlaku untuk Rajawali Es,


Mereka berputar putar dengan wajah takjub melihat suasana di atas awan ataupun di bawah awan.


Setelah merasa puas Badar Geni menyuruhnya untuk turun dari ketinggian itu, Rajawali Espun mengerti apa yang di maksud tuanya itu.


Setelah di rasa pas dari terbangnya Badar Geni menunjukan arah ke tempat tinggalnya itu,


Rajawali es yang mengerti akan tuanya itu lekas turun tajam menukik ke arah yang di tunjukanya.


Karena kecepatan terbangnya yang begitu kencang dan kuat Badar geni membentuk segel pelindung untuk melindungi tubuhnya dan eyangnya itu, karena kecepatan Rajawali Es semakin kencang menukik turun.


Udarapun semakin terasa seperti di terpa angin tornado, dengan kecepatan Rajawali es yang ditunjukan.


Tak beberapa waktu Rajawali es memperlambat kecepatanya karena beberapa puluh meter lagi sudah mencapai tanah.

__ADS_1


Rajawali Espun memicingkan mata untuk mencari tempat untuk pendaratanya, setelah menemukan tempat yang agak lapang yang di kelilingi pohon iapun lekas mendarat dengan sangar sempurna.


"Akhirnya sampai juga ke gubuk kita lagi ngger, hhhheee,,,,," ucap Eyang Raga Runting dengan senyum yang turun duluan di punggung Rajawali Es.


"Iya Eyang, sudah berapa lama Badar meninggalkan tempat ini," balas Badar Geni yang menyusul turun dari punggung Rajawali Es juga.


Merekapun kemudian berjalan melangkah ke tempat yang menjadi tempat tinggalnya itu, sementara Rajawali Es sudah berubah bentuk menjadi kecil seukuran Rajawali biasa dan hinggap di pundak Badsr Geni.


Belum sampai ke tempat tinggalnya aura tenaga dalam yang besar terasa sangat familier, hanya Eyang Raga Runting yang tahu siapa yang mengenali aura itu.


"Eyang,,,, apa eyang tak merasakan ada seseorang yang melaju ke arah tempat ini, aura tenaga dalamnya sangat besar, apa jangan jangan akan ada bahaya yang sedang mengincar kita eyang," ucap badar geni pada eyangnya yang berjalan santai di sampingnya.


"Hhhheeeee,,,,, tidak perlu kamu kuatirkan ngger,,,, eyang tahu siapa yang akan berkunjung di tempat kita ini, nanti kamu akan tahu sendirilah, sebaiknya kita menunggu mereka di luar gubuk ini dan jangan melawan mereka, kamu akan tahu sendiri nanti ngger" balas Eyang Raga Runting yang sudah sampai di tempat tinggalnya.


"Mereka,,,, siapa yang eyang maksudkan dengan mereka, apa musuh eyang,hhhmmm, tapi kalau eyang kenapa napa Badar harus melawan mereka," ucap badar geni yang mengerutkan dahinya.


"Hhhhhiiiiii,,,,, hhhhhiiiiii,,,,,, Kakek peot aku datang terima seranganku ini hhhhhiiiii," teriak wanita bercadar yang suaranya juga sedikit serak yang terbang melayang yang sudah dekat dengan Eyang Raga Runting dan Badar Geni.


Jjjeeddduuummmm,,,,


jjjeedduummm,,,,


bbblllaaarrrr,,,,,,

__ADS_1


Eyang Raga Runtingpun tetap tenang menghindari serangan yang dialiri tenaga dalam yang kuat dari wanita bercadar itu dengan bersalto ke belakang.


Sementara Badar Geni tak bergeming dari ia berdiri, ia sudah melindungi tubuhnya dengan segel pelindung.


"Nenek peot,,,,, turunlah apa kau ingin bermain main denganku, kau sudah tua,,,, ingin melawan pemuda tanpan ini apa,,, hhhhhaaaa," teriak Eyang Raga Runting dengan terkekeh.


Badar Geni diam karena Eyangnya tak mengijinkan untuk melawan apapun yang terjadi.


Kini wanita bercadar itu sudah berdiri di awan bersama dengan seorang gadis yang bercadar pula dan keduanya mulai turun dengan sangat cepat dan berdiri di depan Eyang Raga Runting.


Keduanyapun memicingkan matanya ke arah Eyang Raga Runting dengan tatapan penuh selidik, tapi wanita yang sudah di panggil nenek peot yang bercadar itu tiba tiba tertawa terkekeh kekeh tanpa alasan.


"Hhhhhaaaaa,,,, apa kamu dari masa lalu hingga wajahmu sekarang seperti yang aku kenal puluhan tahun yang lalu kakang, hhhhhaaaaa,,,,,, uuuppsss,,,, apa pantas kamu kupanggil kakang kalau sekarang lebih muda dariku, hhhhhiiii," ucap wanita bercadar dengan menepuk jidatnya sendiri.


"Aaahhhh,,,,, walau bagaimanapun umurku lebih tua darimu nenek peot, apa kau iri dengan kakangmu ini, hhhhhaaaa,,,," balas Eyang Raga Runting dengan senyum dan tetkekeh


Badar Geni hanya tersenyum kecut mendengar ucapan mereka berdua, dan hanya menandang dengan tatapan penuh tanya,


Semoga masih tetap terhibur dengan cersil ini, jangan lupa like atau vote karena dukungan kalian semua buat author semangat untuk melanjutkan cerita ini


Dari Hati yang terdalam author mengucapkan


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H

__ADS_1


Minal Aidhin Walfaidhzin Mohon Maaf Lahir Dan Bathin


Maaf kalau dalam perkataan author yang sengaja maupun yang gak sengaja yang melukai hati kalian semua, author minta maaf di hari yang fitri ini


__ADS_2