Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
67. Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Setelah menjelaskan permasalahan pada Sanjaya, Badar Genipun sudah merasa lega, begitu juga dengan Sanjaya walaupun sedikit kecewa karena wadah tenaga dalamnya sudah tak ada isinya tapi ia juga sangat berterima kasih pada Badar Geni.


"Saudara Badar,,,, terima kasih atas semua yang kamu lakukan terhadapku juga terhadap padepokan ini, hutang nyawa dan hutang budi ini munkin tak bisa kami bayar, entah kalau adik adiku tidak bertemu denganmu, munkin aku akan terbaring lemah entah sampai kapan, sekali lagi terima kasih saudara Badar, akan selalu ku ingat kalau kamu yang sudah menyembuhkanku," ucap Sanjaya yang sudah duduk di depan Badar Geni.


"Baiklah kalau begitu semoga wadah tenaga dalamu lekas terisi,sekalian aku dan adiku ingin berpamitan, kami akan ke tempat ketua dan tetua untuk minta ijin meninggalkan padepokan ini, suatu hari lagi aku dan adiku akan mampir ke padepokan ini lagi, jaga dirimu saudara Sanjaya, sekarang aku pamit ya," jawab Badar Geni pada Sanjaya dengan senyum.


"Kalau memang itu sudah jadi keputusanmu aku tidak bisa berbuat apa apa, semoga kamu dan adikmu bisa menemukan apa yang kalian cari, semoga suatu hari aku dan saudara sadariku dapat membalas kebaikanmu ini saudara Badar, berhati hatilah dalam setiap langkahmu," ucap Sanjaya yang berdiri sambil memeluk Badar geni sambil penepuk pundaknya.


Setelah itu Badar Geni keluar dari ruangan Sanjaya, di ikuti sanjaya di belakangnya, setelah itu di ruang tamu masih terlihat mereka yang duduk diam tak ada suara apapun.


"Mengapa kalian pada diam begitu, apa ada masalah, sehingga raut wajah kalian kayak orang yang lagi nahan ketut, hhhheeee,,,,, untuk kondisi kakakmu jangan khawatir, aku sudah memberitahu semuanya, kalau dia berlatih lagi dia akan menjadi murid yang berbakat, selagi hari masih pagi aku akan ke tenpat ketua Brajamusti dan para tetua untuk berpamitan, perjalanku masih sangat jauh, semoga kita nanti bisa bertemu lagi, sekarang aku pamit pada kalian," ucap Badar Geni pada Bagus Sajiwo dan Arum Sari dengan senyum.


"Apa saudara Badar dan saudari Kinasih akan benar meninggalkan padepokan ini hari ini juga," balas Bagus Sajiwo dengan wajah yang sedikit cemberut.


"Iya,,, aku dan adiku akan berangkat pagi ini juga, kalau begitu jaga diri kalian masing masing disini, aku dan adiku akan menemua ketua Brajamusti dan para tetua, jangan lupa beri motifasi pada kakakmu biar dia lebih semangat untuk berlatih lagi, aku pamit dulu," ucap Badar geni dengan senyum.


"Kakang Badar,,,apa kamu benar benar tak mempunyai perasaan padaku, baru beberapa hari disini sudah mau pergi meninggalkan kami, kalau begitu aku ingin ikut bersamamu saja," ucap Arum Sari yang dari tadi menunduk langsung berdiri memandang Badar Geni dengan memanyunkan bibirnya.


"Hhhhmmmm,,,,, Saudari Arum,, sudah aku katakan dari awal kalau perjalananku akan sangat panjang, masih ada yang harus kami selesaikan, memang kamu mempunyai perasaan apa ya padaku,,,, kamu ini mengada ada kan saudari Arum, ngapain harus mengikuti kita, tugasmu disini kan untuk menuntuk ilmu kanuragan, jangan karena kita ilmu kanuragaanmu akan berhenti disini, sebaiknya kamu fokus untuk berlatih disini, kalau tugasku sudah selesai suatu hari aku akan mampir lagi ke padepokan ini, kasihan kakang kakangmu, di luar sana kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ilmu kanuragaanku saja masih belum bisa menjagamu, kalau ada apa apa kita juga gak mau disalahkan nantinya," balas Badar Geni yang memandang Arum sari sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


Arum Saripun hanya diam dan duduk lagi setelah mendengar penjelasan dari Badar Geni dengan manyun dengan wajah yang terlihat sedih, Bagus Sajiwopun mengerutkan keningnya dan memberi pengertian pada Arum Sari adiknya itu,


Kinasihpun juga hanya senyum cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tanganya, ia hanya memandang Arum Sari dan memandang Badar Geni sambil geleng gekeng kepala,


Arum Saripun cuma menunduk, walaupun begitu ia sebenarnya tidak iklas Badar Geni melanjutkan perjalanan tapi demi tugasnya iapun hanya memendam perasaanya pada Badar Geni dan dalam hatinya suatu hari ia dapat bertemu lagi.


Setelah berpamitan kepada Sanjaya dan adiknya, Badar dan Kinasihpun lekas menemui para tetua setelah itu iapun menemui Ketua Brajamusti di ruanganya.


Setelah mengetuk pintu dan menyuruh masuk Badar Geni dan Kinasih tetua Brajamustipun mempersilahkan duduk di ruangan itu.


"Nak mas Badar dan nimas Kinasih ada sesuatu yang sangat pentingkah hingga pagi ini berkunjung di kediamanku ini, ada yang bisa saya bantu nak mas," ucap tetua braja musti yang duduk di hadapan badar geni.


"Hhhmmm,,,, apa secepat ini kalian akan melanjutkan perjalanan lagi, apa sudah tidak betah tinggal di sini beberapa hari lagi, masih banyak sebenarnya yang ingin aku tanyanyakan padamu nak mas, tapi sepertinya pekerjaanku ini membuat aku jarang keluar dari kediamanku ini srkalugus ruang kerjaku ini, kalau kalian memang ingin melanjutkan perjalanan lagi, orang tua ini hanya bisa memberikan doa restu saja, semoga dalam perjalananmu ini bisa membawa kedamaian di tanah jawata ini nak, kalau sempat setelah pengembaraanmu selesai mampirlah ke padepokan ini, pintu padepokan sangat terbuka lebar untuk kalian, dan terima kasih telah menyembuhkan muridku dan melenyapkan ilmu hitam, hati hati di jalan, terimalah pemberianku ini yang tak berharga ini, sebagai tanda persaudaraan," ucap Tetua Brajamusti yang memberikan sebuah tombak kecil kepada Badar Geni maupun Kinasih


"Ketua kami tidak mengharapkan apapun, ini sungguh senjata yang berharga bagi ketua Brajamusti kami tidak akan menerimanya, suatu hari pasti kami akan mampir ke sini ketua kami mohon pamit," balas Badar geni yang menelungkupkan tanganya dan menunduk tanda hormat pada ketua brajamusti.


"Nak mas kalau kamu tak mau menerima pemberian orang tua ini tidak akan menggap sebagai saudara lagi, ambilah,,,, senjata ini memang hanya senjata biasa tapi kalau kalian merawatnya kekuatanya tidak kalah dengan senjata pusaka kalian, hhhheeee,,,, hanya untuk menjalin persaudaraan nak mas," ucap ketua brajamusti yang mengambil senjata itu diberikan lagi pada Badar Geni dan Kinasih.


"Aaaahhh,,,,, Ketua Brajamusti jadi membuatku jadi tidak bisa menolaknya hhhheeee,,,, baiklah akan aku rawat tombak ini ketua, terima kasih,,,, kami berangkat dulu.

__ADS_1


Mereka berduapun kemudian berjalan keluar dari kediaman ketua braja musti, ternyata Sanjaya, Bagus sajiwo dan Arum sari sudah menunggu di depan pintu.


"Mengapa kalian malah di sini, apa ingin bertemu dengan ketua Brajamusti," ucap Badar Geni dengan mengerutkan keningnya.


"Kami memang sengaja menunggu kalian berdua di sini, apa tidak boleh kami mengantar sampai di pintu gerbang saudaraku,,,," ucap Bagus Sajiwo dengan senyum masam.


Merekapun mengekor Badar Geni dan Kinasih mengantar sanpai di luar pintu gerbang.


Terlihat wajah dari Sanjaya, Bagus Sajiwo dan Arum Sari sedikit memerah mengeluarkan air mata memandang Badar Geni yang sudah melangkah meninggalkan padepokan Singa Emas.


"Kakanggggg,,,,,, akuuuu menungguuuumuuu di siniiiii, cepat kembaliiii kakanggggg," teriak Arum Sari pada Badar Geni dengan melambaikan tanganya.


Badar Geni hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan hanya tersenyum, kinasihpun cuma cengar cengir saja.


**Maaf kalau updatanya agak lama karena ada sesuatu hal yang bikin tertunda cersil ini**


**Semoga tetap terhibur jangan lupa like, vote, ataupun sedikit memberikan hadiah**


"Kalian yang terbaik"

__ADS_1


__ADS_2