
Setelah sukma Badar Geni masuk ke tubuhnya lagi dalam pertapaanya, iapun mulai membuka mata pelan pelan, saat membuka mata sudah terlihat kedua pedang itu sudah berada di depanya yang menancap di batu cadas di depanya, yang sekitar pertapaannya di kelilingi lahar gunung merapi.
Kedua pedang itu kemudian di ambil dan di selipkan di pundaknya walaupun tanpa tali penyangka pedang itu seperti mengerti pikiran tuanya, ia menempel di kanan kiri pundak Badar Geni.
"Hhhheeee,,,,, sepertinya kalian sudah mengerti apa yang ku pikirkan, baguslah kalau kalian memang tau pukiranku," ucap Badar Geni yang bicara lewat ranah jiwa kedua pedang itu.
"Hhhheeee,,,,tentu kami tau apa yang kau pikirkan tuan gemblung, satu lagi yang ingin ku beritahukan padamu tuanku, kami tidak akan terlihat walaupun di punggung tuan, dan baru terlihat kau tuan menyentuh kami, itulah salah satu kelebihan kami ini tuan gemblung, hhhheee," balas pedang itu dalam ranah jiwanya.
"Aaahhh,,, memang kalian selalu bisa membaca pikiranku ini, aku jadi lupa,,,, apa baru aku memegang ataupun menyentuhmu kalian baru bisa tetlihat, waaahhh,,,, sungguh pedang pusaka yang hebat, hhhhiiii,,,, kalau begitu aku takan begitu kawatir dengan kalian, siapa tau nanti kalian akan di perebutkan oleh manusia manusia yang serakah dan berambisi menguasai dunia persilatan, karena Eyangku pernah bilang dunia persilatan itu kejam, dan kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang besar pula," ucap Badar geni di ranah jiwa pedang itu.
Belum sampai pedang itu menjawab dari tuanya, udara di kawah gunung merapi itu tiba tiba berubah sangat panas, lahar mulai membentuk ombak ombak kecil, walaupun ombak kecil tapi bagi manusia awam takan berani untuk berada di kawah lahar yang apinya begitu panas.
__ADS_1
Dari atas langit tiba tiba terlihat cahaya putih yang turun ke dalam kawah gunung merapi itu, cahaya itu begitu menyilaukan mata, bahkan badar genipun sempat menutupi kedua matanya dengan tanganya,
Sesosok kakek tua yang berjenggot putih dengan pakaian putih tiba tiba berada di depan Badar Geni, auranyapun sangat besar, karena tubuh dari Badar Geni sudah di tempa dengan panasnya lahar gunung merapi dan kekuatanya sudah berkali kali lipat, Badar Geni masih tetap bisa bergerak sedikit leluasa.
Ia sedikt tersentak kaget karena dengan hilangnya cahaya putih itu kini di depanya ada seorang kakek tua.
"Eyang,,, siapakah eyang ini, tiba tiba mengagetkanku saja, untung jatungku tak putus uratnya, apa eyang selalu datang dengan mengagetkan, eyang ini siapa sih," ucap Badar Geni dengan memicingkan matanya, padahal juga sudah nampak jelas kakek tua itu.
Setelah tau siapa kakek tua itu Badar geni langsung bersujud di depanya, karena ia sudah di beritahu gurunya sebelum memulai pertapaanya, karena eyangnya yang tak lain Eyang Raga Runting sudah menceritakan kalau Eyang Guntur Sayekti tokoh yang sangat di hormati di eranya, muridnyapun moksa di tempat kawah gunung merapi itu sendiri.
Di eranya Muridnya sudah malang melintang membasmi keangkaramurkan, hingga ia memilih untuk moksa atau nyepi sampai ajal menjemputnya.
__ADS_1
"Eyang Buyut, Badar Geni memberi hormat pada, maafkan kalau Badar tak bisa mengenali Eyang Buyut, Badar Geni akan selalu di jalan kebenaran, dan akan badar jaga pedang kembar ini eyang Buyut, dan terima kasih sudah datang untuk menemui Badar Geni yang bodoh ini," ucap Badar geni yang bersujud di depan Eyang Resi Guntur Sayekti.
"Ooh,,, jadi namamu Badar Geni, ngger hhhheee,,,,bangunlah,,, jangan bersujud seperti itu, waktu Eyang tidak bisa lama lagi untuk berada di tempat ini ngger, untuk itu akan ku berikan pemahaman di pikiranmu tentang kitap Pedang Jiwa itu, bangunlah ngger Badar Geni, ini akan sedikit sakit, tapi setelah ini kamu pasti akan cepat memahaminya," balas Eyang Resi Guntur Sayekti membangunkan sujud badar geni.
Setelah itu Eyang Guntur Sayekti mengarahkan tanganya ke arah kening Badar Geni, setelah tulunjuk jari di arahkan di keningnya, terlihat cahaya ke emasan di tulunjuk Eyang Resi Guntur Sayekti masuk ke dalam kening Badar Geni.
Ia merasakan tenaga dalamnya makin bertambah, saat cahaya itu masuk ke dalam kening Badar Geni, iapun berusaha menahan rasa sakit, ia hanya menggertakan gigi giginya, padahal lahar gunung merapi saja masih bisa di atasi, tetapi untuk cahaya itu yang memasuki kening Badar Geni masih merasakan kesakitan,
Walaupun tanpa suara ia terus menahan rasa sakitnya, setelah selesai iapun kembali tenang, yang dirasakanya kini tubuhnya semakin ringan, dan kekuatanya juga bertambah, dalam pikiranya langsung terlihat jelas jurus jurus pedang jiwa, iapun sempat tak percaya, tapi ia hanya menepis rasa tak percayanya itu.
*Semoga tetap terhibur dengan cerita ini, jangan lupa like atau vote itu sudah bikin author semangat untuk meneruskan cerita ini,
__ADS_1
Thanks untuk dukungan kalian semua, semoga cerita ini bisa di terima di semua kalangan.