
Kini mereka saling berhadapan dengan kuda tarungnya masing masing.
Sapto pemuda arogan itu juga bersiap dengan senjata sebuah golok, ia mulai mengalirkan tenaga dalamnya ke senjatanya,
Aura Golok tersebut membuat tekanan udara yang berat, api hitam keluar dari goloknya, bagi Badar Geni aura itu tak berpengaruh sedikitpun, walaupun begitu ia tetap waspada,
Badar Geni hanya tersenyum sinis, melihat pemuda di depanya yang terlihat sudah mulai serius.
"Keluarkan semua kemampuanmu senior, jangan sungkan, ku berikan kau kesempatan untuk menyerang,hhhheee,,,, majulahhhh dengan semua kemampuaanmuuu," teriak Badar Geni yang juga sudah mengalirkan sedikit tenaga dalamnya ke dua telapak tangan dan kedua kakinya.
"Jangan terlalu jumawa kau, terimalah ini anak tengikkkk,,,, hhhhiiiiaaaattt," balas Sapto yang langsung menyerang dengan tebasan goloknya.
"Tebasan Golok Penghancur,"
"Matilah kau anak tengik,,,,
"Hhhhaaaaa,,,,,
Wwwuuusss,,,,,,
Badar Geni masih tetap tenang tak bergerak dari ia berdiri, ia juga ingin mencoba perisai atau segel pelindung yang sudah di persiapkan, karena Badar Geni sudah dapat mengukur kekuatan lawanya.
Jeddduuummmm,,,,,
Suara Golok dari tebasan dari Sapto sedikit mengguncang padepokan Singa Emas, para murid yang melihat dari jauh sudah dapat memastikan kalau pemuda yang menjadi lawan Sapto akan terluka parah, mereka tahu kalau Sapto memang murid yang berbakat di kelompoknya, tapi sifat aroganya yang membuat para murid lain jadi tak mau menyinggungnya.
__ADS_1
"Aku rasa pemuda itu akan terluka parah kawan, dengan jurusnya tidak akan ada yang bisa selamat, kalau selamat tidak akan hidup lebih lama, bagaimana menurutmu kawan," ucap salah satu murid yang menerka nerka akan serangan yang dahsyat yang di lancarkan Sapto.
"Menurutku apa yang kau katakan itu memang benar adanya temanku, bocah itu pasti tidak akan selamat, memang lagi apes tu pemuda baru itu," balas temanya yang ada di sebelahnya.
"Hhhhaaaa,,,,, apa kau sekarang tahu seberapa kuat kekuatanku bila menggunakan golok ini, kau tak akan bisa lolos dari tebasanku bocah tengik, hhhhaaaa,,,,,
Dengan tebasan itu asap berwarna tebal kehitaman menyelimuti Badar Geni saat Golok itu mengenainya.
Lama kelamaan asap tebal itu hilang di terpa angin, terlihat Badar Geni masih tak bergeming di tempat ia berdiri, ia hanya mengibas ngibaskan asap yang masih tersisa di sekelilingnya.
Mata Sapto terbelalak saat matanya menatap Badar Geni, bukanya terluka parah tapi teelihat Badar Geni masih baik baik saja, dan Badar Geni hanya tersenyum kecut berbalik menatap sapto yang masih memegang goloknya.
Mata para murid yang sempat menontonpun di buat tak percaya, banyak mata yang di kucek kucek, karena tak percaya melihat lawan dari Sapto masih berdiri dengan tanpa luka sedikitpun.
"Ba ba bagaimana bisa pemuda itu tak terluka sedikitpun, padahal serangan tebasanku daya hancurnya sangat luar biasa, bagaimana munkin ia bisa berdiri tegak," ucap lirih sapto yang masih melotot tak bisa percaya apa yang telah di lihatnya.
Badar Geni kini akan serius sedikit, iapun masih tak mengeluarkan tongkat kuningnya, ia tak mau identitasnya di ketahui oleh para murid, ia hanya ingin memberikan pelajaran pada Sapto murid yang arogan.
Ia tiba tiba menghilang tanpa di ketahui oleh Sapto, dalam kedipan mata Sapto masih memicingkan matanya mencari keberadaan Badar Geni,
Dalam tarikan nafas Badar Geni sudah mencengkram leher Sapto dan mengangkatnya, terlihat Sapto begitu terkejut dengan mata melotot, badanyapun juga sudah tidak dapat untuk di gerakan,
"Hhhheeee,,,,, mengapa matamu seperti mau keluar senior, kaget ya, hhhhhiiiii,,,,, baru mau pemanasan padahal, huh,,,, ternyata cuma omdo saja mulut baumu itu, kalau kau bisa lepas dari cengkramanku akan ku pertimbangkan untuk mengampunimu senior, tapi aku rasa sepertinya tak munkin deh, hhhhheeee," ucap Badar Geni yang mencengram leher dari Sapto,
Saptopun berusaha menggerakan badanya ataupun tanganya tapi tak mampu, kini terlihat keringat dingin mulai membasahi wajah Sapto.
__ADS_1
Padahal Badar Geni hanya sedikit mengeluarkan aura petarungnya, hanya beberapa persen saja.
"Sekarang rasakan ini senior,,,,,," Badar Geni sambil teriak dengan tangan kirinya sudah mengeluarkan api merah yang menyelimuti telapak tanganya.
Para murid yang sedang melihat itu sedikit ngeri saat telapak tangan Badar Geni sudah di selimuti api merah membara, mereka juga tak percaya kalau Sapto teelihat sangat panik, di sisi lain mereka sedikit senang karena dengan pertarungan ini bisa memberukan pelajaran pada orang yanv selalu menindas murid baru ataupun murid yang selalu di anggap lemah.
Saat akan melancarkan Tapak Api Merah, Badar Geni dapat merasakan Aura yang lebih besar mendekatinya, iapun tetap waspada.
"Bocah tengik kau berani melukai muridku, lepaskan cengkramanmu itu, jangan buat keonaran di kelompok berbagai senjata, akan ku beri pelajaran kau bocah, aku pastikan kau akan menerima akibatnya," ucap seorang berambut merah dan berjenggot putih dengan jubah merah melayang mendekati Badar Geni yang masih mencekram leher Sapto.
Badar Genipun masih mencengkram leher Sapto, yang semakin lama terlihat semakin lemah, sebenarnya ia akan memusnahkan ilmu kanuraganya, tapi keburu seseorang datang.
"Hhhheeee,,,, maaf pak tua, mengapa kau suruh aku untuk melepaskan pemuda ini, ia yang memaksaku untuk melakukan ini, dengan siapa gerangan saya bicara, hhhheeee," ucap Badar Geni yang menatap orang setengah tua itu.
"Kauuu,,,, tak tahu siapa aku ha, aku Tetua Dirjo dari kelompok berbagai senjata, aku tak pernah melihatmu di padepokan ini, apa kau anak baru bocah tengik, cepat lepaskan muridku itu atau akan aku yang akan bertindak keras kepadamu," teriak Tetua Dirjo dengan tatapan tajam pada Badar Geni.
Tetua Dirjopun mengeluarkan Aura petarungnya sambil melangkah mendekati Badar Geni, auranya begitu sangat menekan tapi Badar Geni masih bisa mengimbangi dengan Aura petarungnya
Baru beberpa langkah suara yang menekan terdengar sangat memekik telinga,
Terlihat ada Tiga kakek tua yang turun dari udara menghentikan langkah ataupun cengramannya Badar Geni,
Badar Genipun mendongak ke arah suara, ia mengenali suara itu dan orang yang ada di sebelahnya, hanya dua orang yang ia kenali saat mereka turun dan menginjak tanah.
SEMOGA TETAP MENGHIBUR, DAN JANGAN LUPA LIKE, VOTE, ATAUPUN SEKEDAR COMEN, DAN TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANYA SELALU,
__ADS_1
KALIAN YANG TERBAIK
THANKS