Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
15.Padepokan Macan Putih


__ADS_3

Kini Eyang Raga Runting yang penampilanya seperti seorang pemuda yang berumur sekitar dua puluh tahun senyum senyum sendiri, ia teringat selalu dipanggil Nak,


Kalau tau umur yang sesungguhnya para warga bisa muntah darah, dan kalau mereka tau siapa sebenarnya para warga juga akan merasa bangga bisa bertemu dengan sosok eyang yang menolong tanpa pamprih.


Kini ia sudah meninggalkan desa yang di lewatinya dan sudah membuat desa itu mulai dengan aktifitasnya, para warga tentu akan selalu mengingat sesosok pemuda yang sudah menolong dari wabah penyakit yang sudah lebih dari satu purnama itu.


Eyang Raga Runting sudah berjalan jauh meninggalkan desa itu, kini ia berjalan santae karena perkiraanya besuk pagi ia sudah sampai di kediamanya di lereng gunung merapi,


Ia ingin menikmati setiap detiknya untuk menghirup udara yang sejuk, dan ingin menolong orang yang membutuhkan, ia terus berjalan sambil mengamati indahnya suara burung dan sejuknya udara pagi itu.


Sang surya kini sudah mulai menapkan diri, sinarnya begitu indah membuat pagi itu bertambah sejuk.


Dalam langkahnya ia perpapasan dengan segerombolan orang yang seperti pendekar pendekar muda, segerombolan itu tak begitu menghiraukan eyang Raga Runting, karena seperti biasa ia masih berpakaian seperti seorang pengemis,

__ADS_1


Setelah beberapa langkah segerombolan pendekar muda itu menghentikan langkahnya, karena mereka tanpa sadar sudah berpapasan dengan eyang Raga Runting.


"Anak muda, berhenti,,,,, " ucap salah satu gerombolan orang yang menyadari sudah berpapasan dengan eyang Raga Runting.


Eyang Raga Runtinpun masih tetap berjalan sanrai tak menghiraukan teriakan yang di tujukan kepadanya.


"Anak muda,,,,, berhenti,,,," ucapnya lagi.


Eyang Raga Runtingpun mendengar itu masih berjalan santae tapi ia menoleh ke belakang, karena ia tak sadar kalau teriakan itu di tujukan padanya, iapun akhirnya berhenti, dan salah satu segerombolan pendekar itu melangkah menghanpiri eyang Raga Runting dengan sedikit mempercepat langkahnya.


"Aaaaiiihhhh,,,,, hhhheeee,,,, maaf kalau tadi tak menghiraukanmu, aku kira orang lain yang kamu panggil tuan pendekar, hhheee,,,, sekali lagi maaf, dari tadi pagi saya tak pernah berpapasan dengan siapapun tuan pendekar, dan baru kali ini aku perpapasan dengan kalian semua,memang ada apa tuan pendekar, kok sepertinya ada yang sangat penting dan untuk apa mencari segerombolan yang berpakaian hitam hitam itu, kalau boleh tau tuan pendekar," jawab Eyang Raga Runting pada pendengar muda itu dengan sopan juga.


"Para gerombolan hitam itu sudah membuat keributan di padepokan kami, melihat ciri ciri gerombolan itu sepertinya dari aliran hitam, banyak teman teman kami di padepokan banyak yang terluka kisanak, entah apa yang mereka cari kami juga kurang mengeti, guru kami sedang melakukan pertapaan, jadi tidak bisa di gagu," ucap pemuda itu menjelaskanya.

__ADS_1


Tidak jauh di atas pohon pohon yang tinggi beberapa sosok yang berpakaian hitam sedang bersembunyi dan mengamati ke arah Eyang Raga Runting dan segerombolan pendekar muda.


"Waduhhhh,,,,, terus mereka lari kemana ya, dari tadi aku cuma berjalan sendiri tak pernah bertemu dengan segerombolan itu tuan pendekar," ucap Eyang Raga Runting yang sedikit merasakan ada yang mengawasi mereka dari jauh.


"Kalau begitu maaf sudah mengganggu perjalanmu kisanak, silahkan dilanjutkan, sekali lagi maaf kisanak, kami akan kembali memcari segetombolan itu karena mereka munkin belum terlalu jauh," balas pemuda itu yang mulai berjalan ke tempat teman temanya.


"Haaaiiittt,,, tunggu sebentar tuan pendengar, maaf sebelumnya ya, aku merasakan di tempat itu ada beberapa orang yang seperti tuan pendekar bicarakan tadi, jangan menoleh ke arah itu, biar mereka tak curiga tuan pendekar," bisik eyang Raga Runting ke telinga pemuda yang tak jadi melangkah ke arah teman teman yang sudah menunggunya.


Pemuda itu sedikit tersentak mendengar apa yang di katakan eyang Raga Runting sedikit tak percaya apa yang dikatakanya.


"Benarkah kisanak apa yang kamu ucapkan, aku tak merasakan apapun di tempat itu," ucap lirih di kuping Eyang Raga Runting sambil melirik ketempat segerombolan dengan kode matanya.


**Maaf kalau terlambat updatenya, munkin baru ada problem dengan noveltoon, dua chapter sebelumnya sudah update beberapa hari yang lalu, kami penulis sekali lagi minta maaf atas keterlambatan ini yang sedikit agak tetlambat**

__ADS_1


*Dan jangan lupa vote atau like saja itu sudah buat penulis merasa bangga dan senang, dan semoga cerita ini bisa menghibur para pembaca semuanya*


thanks


__ADS_2