
Hari semakin siang udara lereng gunung merapipun walaupun terlihat panas tapi tempat kediaman Eyang Raga Runting terasa masih sangat sejuk.
Merekapun masih berbicara panjang lebar, sementara badar geni berbicara di luar gubuk bersama adik kandungnya, ia begitu bahagia ternyata masih mempunyai seorang adik perempuan.
Setelah panjang lebar Badar Geni dan Kinasih pun mencari buruan ayam hutan untuk menganjal perutnya nanti,setelah memasuki hutan merekapun memuru ayam hutan ataupun kelinci liar,
Hampir dua jam lebih mereka berduapun akhirnya mendapat buruan, keduanya membawa 3 ayam hutan dan 3 kelinci liar, merekapun langsung membersihkan bulu bulu yang masih melekat di tubuh hewan tangkapanya.
Setelah bersih merekapun membawanya pulang untuk dimasak, merekapun akhirnya menikmati hidangan yang sudah di masak oleh nyi gandasari dan di bantu kinasih muridnya.
Tak terasa hari semakin senja, kini mereka masih berkumpul bersama di gubuk tua eyang Raga Runting yang ia tinggali selama ini dengan muridnya.
Tidak ada raut kesedihan saat bersama sama, tapi sebenarnya kesedihan di antara murid dan gurunya masih sangat terasa di hati mereka masing masing, tapi mereka saling menutupi kesedihan itu dengan canda tawa yang terlihat jelas dari guru dan muridnya.
Kini hari telah malam Eyang Raga Runting sudah bersemedi di atas pohon dekat gubuk tempat tinggalnya, begitu juga dengan Badar Geni yang juga bersemedi d sebuah batu tak jauh dengan gubuknya.
Sementara Nyi Gandasari dan Kinasih juga melakukan semedi di dalam Gubuk tempat tinggal dari Eyang Raga Runting dan Badar Geni.
Mereka sudah terbiasa kalau menjelang malam bersemedi untuk mengistirahatkan pikiranya masing masing karena bagi mereka itu pengganti dari rasa ngantuknya.
__ADS_1
Tak terasa hari mulai menjelang pagi, walaupun masih terlihat gelap, tapi langit sudah terlihat agak cerah.
Badar Geni pertama yang bangun dari semedinya, iapun kemudian melesat ke arah belakang gubuknya yang ada sebuah pancuran air tempat membersihkan tubuhnya, ia lekas membersihkan tubuhnya karena dari kemarin tak sempat untuk mandi.
Setelah selesai dan berganti baju iapun pergi ke hutan di belakang gubuknya, Rajawali Espun melihat tuanya yang sudah melesat langsung menyusulnya, ia mengerti kalau tuanya sedang berburu ayam hutan yang berada di sekitar hutan itu.
Dalam keadaan gelap Badar Geni mengandalkan indra penglihatanya dan di bantu dengan Rajawali Es yang ketajaman dalam penglihatan sangat luar biasa.
Dalam beberapa menit saja Rajawali Es sudah mendapatkan dua ayam hutan, begitu juga dengan badar geni ia juga mendapatkan dua ayam hutan,
Setelah itu merekapun kembali, tak menunggu lama mereka sudah berada di belakang gubuknya,
Setelah ada empat ayam hutan nyi Gandasari mulai mengilah keempat ayam hutan yang di dapatkan Badar Geni dan Rajawali Es.
Hari semakin pagi setelah dirasa masakanya telah matang, merekapun menikmati sarapan pagi.
Setelah menikmati sarapan pagi kini wajah wajah mereka begitu terlihat muram dan sedih.
"Tidak usah sedih,,,,, walaupun sebentar lagi kalian tak berada di sini orang tua ini selalu mendoakan agar kalian nanti bertemu dengan saudaramu,,,, Eyang dan Nyi Gandasari tetap akan mengawasi kalian,tempat ini juga tempatmu kalau kalian sudah menemukan sanak keluargamu kalian bisa singgah lagi di sini," ucap Eyang Raga Runting kepada Badar dan Kinasih yang masih duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Eyang Guru,,,, Nyi Guru,,,, kalian adalah guru kita, kalian lebih dari keluarga bagi kita, bagaimanapun Eyang dan Nyi Gandasari sudah membesarkan Badar dan Kinasih, sebenarnya ini berat bagi Badar, tapi demi menegakan keadilan dan mencari keluarga kita Badar akan berusaha tegar, dan Kami akan selalu mengingat Eyang dan Nyi Gandasari, suatu saat kami pasti akan kembali," balas Badar Geni dengan berkaca kaca.
"Kalian sudah dewasa sekarang, Eyang dan nyi Gandasari juga takan pernah melupakan mu ngger dan kamu kinasih,selagi hari masih pagi sebaiknya kalian turun gunung, pesan Eyang dan Nyi Gandasari, jangan gegabah dalam mengambil keputusan dan tetap rendah diri ngger, kalian juga sudah anggap sebagai cucuku sendiri, Eyang sangat bangga melihatmu sudah bertambah dewasa," ucap Eyang Raga Runting pada kedua muda mudi yang akan mencari jati dirinya.
"Badar, tolong jaga adikmu ngger, dan untuk kinasih jangan ngelawan apa yang dikatakan oleh kakangmu, semoga dalam perjalananmu nanti kalian lekas menemukan keluargamu, dan untuk kinasih Gurumu tak dapat memberikan apa apa padamu, hanya ini yang dapat Gurumu berikan gunakan saat kamu terdesak, selendang Sutra ini sudah menemani Gurumu selagi masih muda dulu," ucap Nyi Gandasari pada Badar dan kibasih sambil memberikan Selendang Sutra senjata andalan dari Nyi Gandasari selagi masih malang melintang di dunia persilatan.
"Guru,,,, bukanya ini Selendang Sutra pusaka Guru, gu guru ini milik guru satu satunya apa pantas kinasih menerima senjata pusaka milik guru satu satunya, Guru,,,, kinasih berjanji untuk merawat senjata pusaka ini dengan sebaik baiknya ini lebih dari segalanya Guru, terima kasih sudah merawat kinasih sampai saat ini," ucap kinasih yang sudah meneteskan air mata dan bersimpuh sujud di depan Nyi Gandasari.
Melihat adiknya bersimpuh di depan gurunya Badar Genipun ikut bersimpuh di depan Eyangnya, sebenarnya ia menawan untuk sujud di depan Eyangnya, tapi ia masih mencari waktu yang pas.
"Ngger,,,, begitu juga eyangmu yang tak bisa memberikan apa apa padamu, hanya Tongkat ini yang selalu menemani eyangmu sampai saat ini, sekarang ku serahkan tongkat ini padamu, gunakan sebaik baiknya ngger, dan ini harta terakhir yang Eyang dan Nyi Gandasari miliki, kamu bisa gunakan untuk keperluan dalam perjalananmu nanti," ucap Eyang Raga Runting yang menyerahkan tongkat pusakanya dan dua kantong keping emas pada Badar Geni.
"Eyang,,,, badar tak mau merepotkan eyang, bukanya tongkat ini senjata yang sangat berarti buat eyang, Badar sudah dapat senjata pusaka eyang, sebaiknya eyang yang bawa tongkat ini saja, Badar sudah sangat bersyukur memiliki Eyang," balas Badar Geni pada eyangnya.
"Hhhheeee,,,,, untuk apa eyang memakai tongkat ini, eyang sudah tak memerlukan lagi ngger, terimalah pemberian eyang ini, sebagai bentuk rasa kasih sayang eyang kepadamu ngger, terimalah cucuku," ucap Eyang Raga Runting.
Akhirnya Badar Geni menerima pemberian Eyang Raga Runting, haripun semakin pagi akhirnya dengan rasa sedih dan berat Badar dan Kinasih berpamitan dengan kedua Gurunya untuk mulai turun gunung, mereka saling berpelukan dengan perasaan yang penuh dengan air mata.
**Terima kasih yang selalu memberikan dukunganya melalui vote, like, dan komen yang membuat author menjadi tambah semangat, dan terima kasih cersil ini bisa menghibur para pembaca semuanya**
__ADS_1