Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
11. Berubah


__ADS_3

Eyang Raga Runting masih menikmati daging siluman ular itu seperti orang yang lagi nyidam,


"Hhhmmm,,,, nikmat sekali daging siluman ular ini, tubuhku pelan pelan mulai terisi tenaga dalam lagi, sungguh luar biasa, keriput ini juga sedikit hilang, hhhiii,,,, aaahhh,,, ada apa dengan badanku ini, aiiihhhh,,,, " ucap lirih pengemis tua itu sambil memegang wajahnya dan kulitnya yang sedikit berubah.


Iapun masih begitu heran dengan perubahan badan dan wajahnya, pengemis tua itu masih mengacak acak wajahnya dengan sedikit bingung,


Karena begitu penasaran iapun lari ke sungai, ia berusaha untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh dan wajahnya.


Setelah menatap di air sungai yang jernih itu, Eyang Raga Runtingpun begitu kaget karena wajahnya seperti beberapa puluh tahun yang lalu,


"Aaaiiihhhh,,,, ternyata wajahku telah berubah seperti masih muda saja, hhhhiii,,,, memang kasiat daging siluman ular putih itu benar benar luar biasa, aku merasakan tenaga dalamku bertambah berkali kali lipat, asyeeekkk,,, hhhhiii,,,, semoga dengan wajah gantengku ini banyak yang tak mengenaliku," ucap eyang raga runting yang begitu senangnya.


Setelah beberapa menit menatap dari pantulan air yang jernih itu eyang Raga Runting kembali ke tempat membakar daging siluman itu.


"Dengan perubahan ini murid gemblung itu tidak akan mengenaliku, hhhhhiii,,,, tunggu saja setelah gurumu ini sampai di kawah gunung merapi,hhheee,,," ucap pengemis yang sudah kelihatan tidak tua tua amat itu dengan perasaan yang gembira.

__ADS_1


Setelah selesai memakan daging siluman ular itu eyang Raga Runting yang sudah berubah penampilanya menjadi muda segera melakukan perjalananya kembali, tongkat bambu kuningnya kini di masukan dalam cincin ruang dimensinya.


"Apa kata kata orang kalau tongkat ini ku bawa hhhhiiiii,,,, sudah tampan seperti ini masak masih memakai tongkat bisa bisa pamor kegantengan ini sirna," ucap eyang Raga Runting sambil menepuk jidatnya sendiri.


Iapun mulai meninggalkan tempat itu dengan santaenya, ia masih sedikit tak percaya dengan perubahan atas dirinya itu, ia terus meraba raba wajahnya seperti tak percaya.


"Sebaiknya aku melakukan perjalanan lagi, dengan sedikit wajah tua bangka ini yang sedikit tampan, hhhhiiii,,," ucap lirih eyang Raga Runting sambil berjalan membusungkan dadanya penuh percaya diri.


Eyang Raga Runtingpun terus melangkahkan kakinya menyusuri hutan belantara, setelah hari agak senja euang Raga Runting kini memasuki sebuah desa lagi.


"Aneh seperti desa tak berpenghuni saja, bener bener desa yang aneh, sebenernya apa yang terjadi desa ini, waktu turun dari lereng merapi desa ini begitu ramai, perubahan desa ini begitu cepatnya,sebaiknya aku tanya seseorang kalau nanti ketemu," ucap eyang Raga Runting sambil berjalan memicingkan matanya mengamati setiap rumah para penduduk.


******


Sementara di puncak gunung merapi udara begitu indah, awanpun begitu cerah, suasana sedikit panas di sekitar puncak gunung merapi itu sendiri,

__ADS_1


Duduk seorang pemuda yang menyilangkan kakinya, rambutnya memanjang lebih dari sebahu, pemuda itu hanya memakai celana panjang biru muda, badanya terlihat kekar, ia sedang bersemedi dekat kawah yang begitu panas.


Sudah hampir tiga purnama pemuda itu melakukan tapa brata atas perintah gurunya ataupun sebagai Eyangnya.


Badanya sudah penuh dengan keringat, terlihat seluruh tubuhnya di selimuti api biru keemasan,


Tulangnya tulangnya sudah di tempa di tempat kawah dengan api abadi, begitu juga penempaan hati dan jiwanya, hingga tubuhnya terlihat putih bersih,


Badar Geni pemuda murid dari Eyang Raga Runting yang sudah di latih dengan penuh keras, hingga ke tahap terakir penempaan tulang, tubuh, hati dan jiwanya,


Kalau merasa suka kasih like saja itu sudah suatu kebanggan bagi saya, biar bisa terus melanjutkan cerita ini, Maaf kalau updatenya agak lama, tapi saya usahakan update tiap hari


Semoga terhibur,


thanks

__ADS_1


__ADS_2