Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
43. Sepasang Manusia Harimau


__ADS_3

Karena tak ingin mereka tampak terlihat sedih dan berat untuk meninggalkan orang yang membesarkan kedua kakak beradik itu cepat melesat berlari dengan di lambari tenaga dalam, wajah mereka masih meneteskan air mata,


Begitu juga dengan Eyang Raga Runting maupun Nyi Gandasari, wajah keduanyapun tak terasa meneteskan air mata.


Mereka berdua terus melaju kecepatan larinya tak terasa sudah sangat jauh dari lereng gunung merapi, setelah merasa jauh mereka berdua memperlambat larinya, di atas awan biru Rajawali selalu mengikuti Badar Geni,


Hari semakin siang, udarapun semakin panas kini mereka sudah berada di sebuah desa, desa itu sangat ramai, merekapun tetap berjalan dengan santai, walaupun wajah mereka masih belum bisa melupakan gurunya.


Baru mau keluar dari desa untuk melanjutkan perjalanan Badar Geni di kagetkan dengan suara keributan di tengah desa, karena penasaran merekapun menghentikan langkahnya.


"Hhhmmm,,,, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di desa ini, kinasih,,,, ada suara pertarungan di dalam desa ini, padahal tadi terlihat baik baik saja," ucap Badar Geni pada kinasih adiknya yang wajahnya tertutup cadar.


"Aku juga mendengar suara keributan, apa kita lihat, siapa tau ada yang membutuhkan bantuan kakang," balas kinasih yang berada di samping Badar Geni.


"Kalau begitu sebaiknya kita cepat ke arah keributan itu kinasih," ucap Badar Geni yang langsung melesat ke arah suara keributan di tengah desa.

__ADS_1


Kinasihpun mengikuti kakaknya dengan mengimbangi meringankan tubuhnya, dengan melompati rumah rumah penduduk dengan kecepatanya.


Kini mereka sudah berada di suara keributan di tengah desa itu, banyak para penduduk yang malah melihat dan berkerimun memadati tempat itu,


Badar Geni dan Kinasihpun mencoba berjalan di antara para penduduk yang mengelilingi tempat itu.


Dengan desak desakan akhirnya mereka berdua sampai di depan keributan yang terjadi, terlihat beberapa penduduk sudah terkabar penuh luka sayatan dan darah segar membasai tanah maupun pakaian mereka.


Tidak ada yang berani untuk mendekati ataupun mengecek keadaan para penduduk yang sedang terluka parah itu, Badar Genipun tak tega melihat semua itu iapun mendekati dan mengecek keadaan beberapa penduduk yang terluka parah itu.


Para penduduk masih hanya melihat saja, masih tak berani untuk mendekati para penduduk yang terluka,


Badar Geni dan Kinasih saling berpandangan melihat luka luka di tubuh para gadis dan pemuda, iapun kemudian menotok aliran darah, agar darah dari sayatan itu tak keluar terus menerus, karena akan sangat bahaya bila sampai kehabisan darah.


"Kakang,,,, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini, dalam waktu singkat saja mereka banyak yang terluka parah, sepertinya kita sedikit terlambat untuk menyelanatkan mereka, dari luka luka sayatan di tubuh mereka sepertinya ini perbuatan binatang buas kakang, ini cuma dugaan kinasih saja kakang, menurut kakang bagaimana," ucap Kinasih kepada Badar Geni yang duduk berjongkok mengamati luka luka sayatan yang sudah berhenti mengeluarkan darag.

__ADS_1


Belum sempat menjawab pertanyaan dari adiknya Badar Geni berdiri dari duduk jongkoknya dan berkata lantang pada para penduduk yang cuma melihat para penduduk yang terluka.


"Para kisanak, apa kalian hanya cuma ingin melihat orang yang terluka parah tanpa ada yang mempunyai hati untuk memberikab sedikit pertolongan, sebenarnya apa yang sedang terjadi di desa ini, apa kalian takut akan ancaman dan hanya bisa melihat saja saudara dan teman kalian yang terluka parah ini," ucap Badar Geni dengan lantang kepada para penduduk yang mengelilingi tempat itu.


"Dari arah belakang terlihat seorang setengah baya yang berjalan menerobos para penduduk.


"Kisanak, ini sudah terbiasa dalam waktu satu purnama yang lalu, banyak yang sudah menjadi korban seperti ini, dan siapapun yang menolong beberapa hari nanti pasti akan jadi korban selanjutnya kisanak," ucap orang setengah baya itu sambil mergetar tubuhnya.


"Apaaa,,,, terbiasa katamu kisanak,,,, berarti kalian tahu siapa yang membuat kekacauan ini bukan, katakan siapa yang membuat ini kisanak, sekarang obatilah mereka dan kuburkan yang sudah meninggal dengan layak," ucap badar geni pada orang setengah baya itu.


"Kisanak,,,, sepertinya kalian bukan dari desa ini, terlihat kalau kalian berdua belum mendengar kalau ada siluman Harimau yang sangat buah yang setiap tujuh hari selalu mencari korban, seperti yang kisanak lihat ini, mohon ampun kalau untuk mengobati kami tak berani apa lagi menguburkan mereka, nanti kami akan jadi korban selanjutnya," balas laki laki setengah baya itu yang menggigil ketakutan.


"Paman paman apa kalian tega melihat ini semua, dimana hati kalian semua, jangan kuatir aku dan adiku sementara akan singgah disini dulu menyelesaikan masalah ini biar tak memakan korban lagi, sekarang bawalah ke rumahnya masing masing para gadis dan pemuda ini yang terluka, setelah ini aku usahakan tidak ada yang akan terluka dan menjadi korban lagi," ucap Badar Geni pada para penduduk yang masih melihat dan mengelilingi tenpat itu.


Para penduduk pun saling pandang dengan yang lain, mereka nasih ragu untuk menolong yang terluka parah, di sisi lain ia tidak mau menjadi korban selanjutnya.

__ADS_1


**Bagaimana kisah selanjutnya ikuti terus cersil ini, dan jangan lupa like, vote atau sedikit memberikan hadiah, biar author semakin semangat untuk meneruskan cerita ini, semoga tetap terhibur, maaf kalau agak lama up nya, munkin dari pihak noveltoon masih sangat sibuk, harap maklum**


__ADS_2