
Orang yang bertopeng yang berjuluk Golok Iblis, penuh geram dan amarah, karena tekanan yang di berikan Eyang Raga Runting membuat ia tak bisa bergerak, seakan udara memadat dan seperti di timba beban yang sangat berat.
Eyang Raga Runtingpun dengan santai menghampiri golok iblis.
"Hhhhiiiii,,,,, kenapa kau masih mematung mana tadi bicaramu yang sok hebat, kalau kau mampu bergeraklah, kalau kau paksakan tulangmu akan patah, dan kau akan jadi lumpuh seumur hidupmu, sok jago kau berhadapan denganku kutu kupret, rasakan berani sesumbar denganku, sekali lagi aku katakan untuk apa kau berani mengacau di padepokan Macan Putih, kalau kau tak mau bicara tersrah kau saja, biar mampus mengenaskan di makan binatang buas," ucap eyang Raga Runting yang berjalan mengelilingi Golok Iblis,
"Sampai matipun aku tak akan mengatakan tujuanku, untuk apa kau tau, apa hubunganya kau dengan padepokan macan putih,siapa kau sebrnarnya bocah gemblung" jawab golok iblis yang bersikeras untuk tak mengatakan apapun tentang tujuanya.
"Kau memang keras kepala rupanya, gayamu pakek topeng, sudah persis kunyuk apa kau, apa jangan jangan kau memang beasal dari bangsa kunyuk kutu kupret, apa wajahmu memang buruk rupa hhhhiiii,,,, kau tak usah tau siapa aku, yang pasti sekarang aku malaikat pencabut nyawa yang akan mengirimu ke neraka kalau kau masih keras kepala tak mau mengatakan tujuanmu mengacau di padepokan Macan Putih" ucap eyang Raga Runting sambil memainkan tongkat kuningnya.
"Sudah aku katakan, aku takan mengatakan apapun, walaupun harus mati aku dan anak buahku akan menerimanya bocah gemblung," jawab golok iblis dengan senyum sinis.
"Kalau kau memang bersikeras tak mau mengatakanya, tersrah,,,, kau dan anak buahmu akan mati berlahan di hutan ini,dan tak akan bisa bergerak sedikitpun,aku tak akan membunuh mu dan moyet bodoh bawahanmu itu, biarlah alam yang menghukumu monyet bodoh,hhhheeee, selamat tinggal kunyuk kunyuk dungu," ucap eyang Raga Runting yang menotok tubuh gerombolan itu satu persatu di titik tertentu biar terkunci tidak bisa bergerak.
__ADS_1
Setelah menotok bagian tubuh para gerombolan hitam yang bertopeng eyang Raga Runting melangkah pergi meninggalkan mereka semua menuju ke tempat pendekar muda yang masih bersembunyi di semak semak,
Melihat eyang Raga Runting menghampiri mereka yang sedang bersembunyi para pendekar muda dari padepokan Macan Putih keluar dari persembunyianya.
"Sekarang urusanku sudah selesai tuan pendekar, carilah di tengah hutan itu mereka masih disana, mereka tak mau memberitahukan untuk apa membuat kekacauan di padepokan Macan Putih, sebaiknya tuan pendengar yang menanyakan langsung pada gerombolan hitam itu," ucap eyang Raga Runting kepada salah satu pendekar muda itu.
"Apa benar apa yang kisanak katakan, mengapa tak di bunuh saja kisanak, mereka itu begitu kejam, banyak teman teman kami di padepokan yang tewas dan terluka dengan geeombolan itu," jawab salah satu pendekar muda pada eyang Raga Runting.
"Silahkan di lihat sendiri saja tuan pendekar, mereka sudah tak bisa apa apa, mereka seperti patung tak bisa bergerak, carilah di tengah hitan itu tuan pendekar pasti menemukanya, sekarang saya akan melanjutkan perjalanan lagi tuan tuan pendekar, permisi," ucap eyang Raga Runting yang melangkah meninggalkan pendekar pendekar muda itu.
"Aku hanya pemuda biasa tuan tuan pendekar, hhhheeee,,,, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi tuan tuan pendekar, maaf kalau aku harus pergi, titip salaku saja untuk gurumu Braja Musti, katakan saja dapat salam dari seorang pengemis, gurumu pasti sudah mengerti tuan tuan pendekar," ucapnya sambil melangkah meninggalkan pendekar pendekar muda itu.
Karena jarak yang sudah sedikit jauh para pendekar pendekar muda itu itu hanya menggangguk saja dan mereka juga langsung pergi ke tempat yang di tunjukan eyang Raga Runting.
__ADS_1
Di dalam hutan para gerombolan itu masih mematung tak bisa digerakan,
"Sialan pemuda itu kalau ketemu lagi akan ku bunuh dengan pelan, siapa sebenarnya pemuda itu, aku terlalu percaya diri dan meremehkanya, sungguh sial, semua anak buahku juga dapat dikalahkan dengan mudah dengan seorang pemuda gembel," bhatin Golok Iblis yang masih berusaha bergerak.
Dari jauh terlihat para pendekar pendekar muda sudah berada di tempat itu agak jauh, mereka masih memicingkan matanya untuk mencari gerombolan hitam itu.
"Kakang,,,, itu mereka semuanya yang berdiri mematung, sebaiknya kita ke sana, sepertinya pemuda itu tidak berbohong kakang, kita bawa saja gerombolan ini ke padepokan kita, kita tanyakan apa tujuan mereka sebenarnya, biar semua yang ada di padepokan tau kakang," ucap salah satu pendekar muda pada salah seorang yang di anggap seniornya.
"Sebaiknya kita tanyakan dulu, kalau memang seperti yang di katakan pemuda itu mereka tak mau bicara lebih baik kita biarkan saja disini biar mati mengenaskan," ucap pendekar muda yang sudah srnior itu.
Merekapun akhirnya menghanpiri puluhan orang yang tak bisa bergerak, ada yang terluka parah, yang sedikit tak terluka hanya pimpinan gerombolan hitam yang memakai topeng hitam yang berjuluk golok iblis.
Masih tetap bersambung,
__ADS_1
Semoga tetap terhibur dengan cerita ini, jangan lupa like atau vote itu sudah jadi kebanggan bagi author.