
Mereka berempat berjalan menelusuri lebatnya hutan belantara, mereka kini sudah terlihat akrab dalam perjalanan mereka kadang kadang bercanda,
"Saudara Bagus apa masih jauh padepokan Singa Emas, dan apa kalian sudah mendapatkan apa yang kalian cari," ucap Badar Geni pada Bagus Sajiwo yang berada di sampingnya.
"Saudara Badar untuk sampai di padepokan kami, munkin kalau tidak ada halangan lagi sebelum senja kita sudah sampai, tinggal melewati dua perkampungan lagi, kami sudah mendapatkan daun dan akar untuk membuat ramuan yang akan ku berikan pada tetua kami karena ini demi kesembuhan kakak pertama kami yang sudah beberapa purnama terbaring lemah," balas Bagus Sajiwo pada Badar Geni.
"Memangnya sebenarnya kakakmu itu sakit apa, dan kenapa bisa lemah seperti itu," ucap Badar Geni sambil berjalan dengan santai.
"Entahlah saudara Badar, kami belum tahu pastinya, semenjak kakaku sedang bertarung dengan aliran sesat beberpa purnama yang lalu tubuhnya semakin kurus saat kembali kepadepokan setelah beberapa hari dan kata tetua ataupun ketua padepokan kami kakaku terkena racun dari senjata yang ada pada salah satu pimpinan aliran sesat," balas Bagus Sajiwo menjelaskanya.
"Ooohhh,,, begitu ya, memang kakamu bisa bertarung dengan aliran sesat apa ada suatu masalah, apa kakamu bertarung sendiri saudara Bagus," ucap Badar Geni yang mengerutkan dahinya.
"Waktu itu padepokan kami di datangi padepokan aliran sesat, pertempuran pun terjadi dan kebanyakan dari para murid dan tetua banyak yang terluka parah, saat itu ketua padepokan kami sedang tidak berada di padepokan sedang berada di kerajaan mataram ada sesuatu yang penting yang harus di bahas dan di selesaikan, munkin mereka sudah memata matai padepokan kami karena ketua padepokan sedang tidak ada jadi mereka mengambil kesempatan ini untuk menyerang, memang padepokan itu selalu membuat masalah di padepokan kami, sepertinya ada masalah di masa lalu, tapi kami hanya menduganya saja sepertinya ada yang di sembunyikan dari para tetua dan ketua dari para murid muridnya saudara Badar," ucap Bagus Sajiwo yang masih terbayang pertempuran di padepokanya beberapa purnama yang lalu.
"Kalau begitu bolehkah nanti kami singgah lebih lama di padepikanmu saudara Bagus, dan aku akan mencoba untuk mengobati kakakmu, kebetulan aku sedikit tahu ilmu pengobatan, kalau menurutku mereka memang ada dendam di masa lalu entah dari para salah satu tetua atau ketua kalau mendengar ceritamu itu, dan munkin para tetua maupun ketua tidak ingin para muridnya tahu karena demi kebaikan, ya semoga dugaanku itu benar adanya," ucap badar geni yang mangut mangut mendengar cerita dari Bagus Sajiwo.
Merekapun kini sudah memasuki perkampungan yang tak ramai, dan desa itu terlihat biasa biasa saja dan hanya beberapa rumah yang terlihat, hanya beberapa orang yang sedang melakukan aktifitasnya masing masing.
__ADS_1
Mereka berempat terus berjalan, matahari semakin lama semakin panas, sebenarnya mereka ingin berhenti untuk mengisi perutnya yang kosong, tapi setelah bertanya pada salah satu penduduk tidak ada warung kecilpun, jadi mereka tetap berjalan keluar dari desa itu.
Badar Geni sebenarnya merasakan kalau dari awal Arum Sari selalu melirik ataupun dengan sembunyi sembunyi memperhatikanya, tapi Badar Geni cuek saja.
"Hhhmmm,,,, mengapa gadis itu selalu diam diam meliriku, pakek senyum senyum lagi, memang ada yang aneh dari wajah dan tubuhku ini, dasar gadis yang aneh," bhatin Badar Genimenggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kakang ku lihat kamu sedang memikirkan sesuatu, dari tadi ku perhatikan kamu seperti tidak tenang, apa kamu sedang memikirkan Arum Sari kakang, hhhhiiii," bisik Kinasih pada kakaknya dengan senyum meledeknya.
"Hussss,,,, ngawur,,,,, siapa yang memikirkan gadis itu, kenal saja barusan, aku lihat dari tadi tingkahnya aneh kinasih, ia senyum senyum sendiri saat gadis itu pemperhatikanku,apa wajahku ini terlihat aneh kinasih, apa otaknya jadi kesleo karena luka lukanya waktu pertarungan kemarin, dasar gadis yang aneh," balas bisik Badar Geni pada Kinasih dengan mengerutkan keningnya.
"Hhhhmmm,,,,, hhhheee,,,, ternyata kakang dengan tidak sadar juga memperhatikan Arum Sari, cie,,, cie,,, bukan aneh itu kakang itu namanya ada sesuatu di hatinya yang membuat gadis itu selalu memperhatikanmu, apa kakang tidak tahu, dasar kakang sedikit bodoh, hhhhiiiii," balas bisik kinasih sambil cengar cengir sendiri.
Kinasihpun masih cengar cengir melihat tingkah kakangnya dan merekapun mempercepat langkahnya karena hari menjelang senja.
Tak terasa mereka sudah berada di perkampungan lagi beda dengan peekampungan yang mereka temui, di perkampungan ini sedikit ramai walaupun masih terlihat akan menjelang sore.
Karena hari sudah sore merekapun bergegas untuk melanjutkan perjalanan, munkin cuma membutuhkan beberapa jam saja mereka akan sampai di padepokan Singa Emas.
__ADS_1
"Apa kalian tidak merasa lapar, dari tadi kuta belum sempat mengisi perut kita kan, katanya tinggal beberapa jam lagi sudah sampai di padepokanmu saudara Bagus Sajiwo, kalau begitu sebaiknya kita cari kedai, bagaimana apa kalian akan menahan rasa lapar, kalau kalian tidak mau aku akan cari tempat makan sendiri, hhhheee," ucap Badar Geni yang memegang perutnya sambil meringis.
"Hhhheeeee,,,,, kamu ini apa gak bisa menahan rasa laparmu itu kakang, padahal tinggal beberapa jam saja sudah sampai padepokan Singa Emas," ucap Kinasih pada Badar Geni dengan sedikit kesal.
"Hhhheeee,,,,, aku juga tahu kalian lapar jangan di tahan sebaiknya kita cari tempat makan," balas Badar Geni yang berjalan dengan tergesa gesa mencari kedai untuk mengisi perutnya.
Tak menunggu lama Badar Geni sudah berada di depan kedai yang sederhana, tempat itu terlihat hanya beberapa orang yang sedang menikmati hidangan yang mereka pesan.
Setelah duduk mereka berempat memesan pesanan masing masing, dan setelah menunggu beberapa menit hidangan sudah di hidangkan seorang wanita separuh baya.
Merekapun menikmati hidangan dengan perasaan senang, dalam waktu sekejap mereka sudah menghabiskan makanan yang mereka pesan,
Badar Genipun lekas membayar semua yang sudah di pesanya, setelah membayar mereka langsung berpamitan undur diri untuk melanjutkan perjalan lagi.
" Hhhheeee,,,, ternyata kalian juga lapar tadi kan, aku lihat kalian sangat cepat menikmati makanan yang kalian pesan tadi, seperti orang yang kesetanan,,,hhhhhiiii,,,,," ucap Badar Geni yang sudah berjalan agak jauh dari warung kedai, dengan terkekeh memandang ketiganya.
Wajah ketiganyapun terlihat memerah kedua gadis itu tak sadar kalu Badar Geni tadi menyempatkan diri milihat cara mereka menyantap makan.
__ADS_1
"Hhhhaaaaa,,,,, gak usah malu, kalau lapar bilang saja lapar, gitu saja kok repot," ucap Badar Geni dengan terkekeh melihat kedua gadis yang ada di belakangnya.
Merekpun masih bercanda dengan hal hal yang sepele, hari semakin sore mereka terus berjlan dengan cepat dan tak terasa beberapa jam sudah berlalu kini mereka sudah melihat Padepokan Singa Emas dari jauh.