
Hari semakin siang udarapun semakin panas, di alun alun berdiri dua orang di dalam segel pelindung.
Kini Badar Genipun juga mengeluarkan aura yang lebih besar dari tetua Dirjo, iapun sempat menelisik kekuatan pemuda itu dengan tenaga dalamnya.
"Bagaimana mungkin bocah itu bisa memberi tekanan yang lebih besar, sepertinya ini akan semakin menarik, aku takan kalah darimu bocah tengik, hhhheeee," bhatin Tetua Dirjo yang masih dengan keyakinan bisa mengalahkan pemuda dihadapanya.
Tetua Dirjopun mengeluarkan tombak pusaka tingkat sucinya, senjata yang selalu malang melintang di dunia persilatan sewaktu muda dulu, senjata tingkat suci sudah jarang yang memilikinya, hanya segelintir para pendekar saja yang mempunyai senjata tingkat suci.
Aura dari senjata tingkat suci membuat tubuh tetua Dirjo bergejolak, aura dari keluarnya tombak sucinya menambah kekuatan tenaga dalam tetua Dirjo berkali kali lipat,
Iapun langsung melesat dengan kecepatan jurus jurus dengan pusaka tingkat sucinya, senjata itu sebuah tombak bercabang dua, mata tombak itu yang satu terlihat lurus dan mata tombak satunya melengkung seperti sebuah celurit kecil.
"Rasakan tombakku ini bocah, dengan ini sekali tebasan saja kau akan binasa, hhhhaaaa,,,,, Hhhhiiiaaatttttt," teriak Tetua dirjo dengan percaya diri menghantamkan tombaknya ke arah vital tubuh Badar Geni.
"Tusukan Tombak Menyayat Sukma,"
Wwwuuusss,,,,,,,
Mata tombak langsung mengeluarkan percikan percikan petir menghantam ke tubuh Badar Geni.
Jeduuuummmmm,,,,,,,,
Badar Genipun sebenarnya sudah sangat siap dan waspada, sebelum tetua Dirjo mengeluarkan Tompak tingkat sucinya, ia sudah membungkus tubuhnya dengan perisai tak kasat mata,
__ADS_1
Suara tombak yang di arahkan tetua Dirjopun terlihat menghantam ruang kosong,dan membuat gelombang kejut yang luar biasa seperti gempa, padahal beberapa detik sebelum melesatkan tombaknya masih terlihat Badar Geni, tetua Dirjo sangat yakin kalau dapat melukainya dengan hanya satu serangan yang sangat kuat.
Kepulan asap putih bercampur hitam menyelimuti tempat tombak itu menabrak segel pelindung,
Tetua Dirjopun mengira kalau Badar Genilah yang sudah terkena hantapan tombak tingkat sucinya itu.
"Hhhhaaaaa,,,, mampus kau bocah tengik kemampuan hanya seupil saja mau sudah berani melukai murid kesayanganku, hhhhaaaa,,,," teriak Terua Dirjo yang bersemangat setelah mengira Badar Geni dengan mudah dapat dilukai dengan senjata tingkat sucinya.
Asap yang menabrak segel pelindung itupun kini telah menghilang, Tetua Dirjopun memicingkan matanya memastikan kalau pemuda itu setidaknya akan terlihat terluka parah, tapi setelah asap itu benar benar menghilang mata tetua Dirjo sidikit melotot, jangankan terluka parah pemuda yang menjadi musuhnyapun terlihat sudah tak ada.
Sebenarnya Badar Geni saat beberapa detik sebelum tombak itu melesat ia menggunakan Ajian Langkah Dewanya, dan sudah berada di udara, ia cuma terkekeh di atas udara, melihat Tetua Dirjo linglung entah apa yang sedang di pikirkan.
Saat itulah Badar Geni melesat turun dari udara dengan sangat cepat, dan saat dekat dengan tetua Dirjo iapun baru menyadari kalau ada kekuatan yang mengarah padanya, dan belum sempat menengok ke arah tadi ia sudah terkena pukulan Badar Geni dengan sedikit tenaga dalamnya.
"Apa serangan tombaku ini yang membuat pemuda itu lenyap dan menjadi debu, tapi aku tak yakin kalau tombak ini yang melenyapkanya, tapiiii,,,,,," bhatin Tetua Dirjo yang mengerutkan keningnya.
"Hhheeeee,,,,, ku akui serangan tetua senior sungguh luar biasa, tapi kau melupakan satu hal, jangan terlalu fokus dan terlalu percaya diri, karena serangan balasan tak tahu kapan akan menyerang, hhhheeee," teriak Badar Geni yang hanya melihat tetua Dirjo sudah berdiri lagi dengan tatapan tajam.
"Bangsat kau bocah tengik, kau sudah mempermainkanku, dan kau sudah melukaiku, ternyata kemampuanmu juga lumayan, tapi jangan karena dapat membuatku terluka dapat mudah mengalahkanku, kau benar benar membuatku ingin menjadi mayat," balas tetua Dirjo yang mengelus pengelus pipinya yang terlihat merah saja.
"Senior, kau yang memaksaku untuk bertindak terlalu jauh, sebenarnya aku sangat menghormatimu, tapi sepertinya kau bernafsu untuk membunuhku, jangan harap junior ini juga ingin mengalah, kalau memang nyawaku lebih berarti ambilah,,,, kalau tetua senior mampu,,,, hhhhhiiiiii," ucap badar geni sambil terkekeh.
"Baiklah aku takan meremehkanmu bocah tengik, aku kira dengan satu seranganku kau akan langsung terluka parah, takan ku tahan lagi kekuatanku bersiaplah untuk serangan dari jurus tombaku ini bocah," jawab tetua Dirjo yang sudah siap dengan kuda kuda tarungnya lagi.
__ADS_1
Badar Geni sebenarnya akan memberi pelajaran pada tetua Dirjo, tapi melihat seranganya yang mematikan dan berusaha untuk membunuhnya iapun juga terlihat serius,
Iapun mengeluarkan tongkat kuning yang ada di pundaknya, ia juga sudah tak mau main main lagi.
"Hhhhheeeee,,,,,, Senior senjata pusaka tingkat sucimumu sungguh luar biasa, kalau begitu aku juga akan mengimbanginya dengan tongkatku ini, hhhheeee,,,," ucap Badar Geni dengan memegang tongkat kuningnya.
Tetua Wiratama dan beberapa tetua lainya yang menyaksikan di luar segel pelindung langsung melotot melihat Badar Geni mengeluarkan tongkat kuningnya yang tadi masih terbungkus kain putih di pundaknya.
"Siapa nak Badar itu sesungguhnya tetua, bukanya tongkat itu tongkat kuning yang sudah sangat melegenda, ada hubungan apa nak Badar dengan Pendekar Tongkat Kuning dari Gunung Merapi, salah satu dedengkot aliran putih yang begitu di hormati dan disegani kawan maupun lawan, aku jadi penasaran dengan pemuda itu tetua," ucap lirih tetua Wiratama pada salah satu tetua yang ada di sampingnya.
"Aku juga belum tahu pasti tetua, aku rasa pasti dia salah satu muridnya dan kini mewarisi tongkat kuning yang melegenda itu, kalau memang pemuda itu murid dari Eyang Raga Runting sudah di pastikan dalam beberapa serangan saja tetua Dirjo akan terluka parah tetua Wiratama," ucap tetua di samping tetua Wiratama.
"Aku rasa apa yang kamu katakan itu ada benarnya, kekawatiranku dari tadi kini sedikit tenang, aku sangat kawatir dengan pemuda itu,tapi apa munkin dia mememang murid dari Eyang Raga Runting setahuku Eyang Raga Runting tak pernah mengangkat satu muridpun, tapi melihat tongkat kuningnya kalau itu tongkat yang selalu di bawanya," balas tetua Wiratama pada tetua yang berada di sampingnya sambil melihat pertarungan.
Saat Badar Geni mengeluarkan tongkat kuningnya tetua Dirjopun juga sontak sangat terkejut, ia juga sangat hafal dengan tongkat kuning yang begitu familiar baginya.
"Bocah tengik,,,,,, siapa kau sebenarnya, dan dari mana kau mendapatkan tongkat kuning yang sudah melegenda di seluruh jawata ini ha," ucap Tetua Dirjo yang memicingkan matanya ke arah Badar Geni dengan sedikit gentar.
"Hhhheeeee,,,,, soal tongkat kuning ini mengapa malah kau tanyakan sekarang bukanya seimbang kau memakai tombak tingkat sucimu, dan aku hanya menggunakan tongkat kuning saja, apa ada yang salah dengan tongkat ini senior, hhhheeee,,,,," jawab Badar Geni dengan santai.
SEMOGA SELALU TERHIBUR, JANGAN LUPA LIKE, VOTE ATAUPUN COMEN,
MAAF KALAU SETIAP HARI HANYA BISA UPDATE 1 CHAPTER SAJA, DUKUNG TERUS YA, SIAPA TAHU KEDEPANYA NANTI BISA MENAMBAH BEBERAPA CHAPTER LAGI.
__ADS_1
KALIAN YANG TERBAIK
THANKS